Deslyano Miyola Pratama lulusan terbaik Teknik Lingkungan S-1, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP), ITN Malang pada wisuda ke-75 periode I tahun 2026

Bawa Reaktor Pakai Motor ke Mojokerto, Deslyano Miyola Jadi Lulusan Terbaik Teknik Lingkungan ITN Malang

Deslyano Miyola Pratama lulusan terbaik Teknik Lingkungan S-1, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP), ITN Malang pada wisuda ke-75 periode I tahun 2026. (Foto: Yanuar/Humas ITN Malang)


Malang, ITN.AC.ID – Siapa sangka, di balik gelar lulusan terbaik Teknik Lingkungan S-1, Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang), ada cerita perjuangan unik dari Deslyano Miyola Pratama. Pemuda asli Wonogiri, Jawa Tengah ini rela menempuh perjalanan Malang-Mojokerto naik sepeda motor sambil membawa reaktor grease trap dan tumpukan botol sampel demi menyelesaikan skripsinya.

Kerja keras mahasiswa Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) ini terbayar tuntas. Cowok yang akrab disapa Ano tersebut lulus dalam waktu 3,5 tahun, dengan IPK 3,69. “Waktu itu saya bawa reaktor, bak penampung, sampai botol-botol sampel semuanya naik motor ke lokasi penelitian. Memang agak repot, tapi itu bagian dari proses. Saya dibantu teman ke sana,” kenangnya saat ditemui di Kampus 1 ITN Malang beberapa waktu lalu. Ano akan turut diwisuda pada wisuda ke-75 periode I tahun 2026, Sabtu (25/04/2026) nanti.

Solusi untuk Limbah Keripik Usus

Ketertarikan Ano pada isu lingkungan bukan sekadar ikut-ikutan. Ia punya misi besar ingin memperbaiki lingkungan salah satunya kualitas air bersih yang semakin terbatas. Hal ini ia buktikan lewat skripsi berjudul “Pemisahan Minyak Lemak dan TSS pada Air Limbah Pabrik Kripik Usus Ayam dengan Reaktor Grease Trap Skala Laboratorium”.

Baca Juga : SMA Wijaya Putra Surabaya Raih Juara 1 LKTI Elvion 34 ITN Malang, Tawarkan Solusi Kangkung untuk Limbah Sungai Benowo

Penelitiannya dilakukan di UD Ratna, Mojosari, Mojokerto. Ia melihat limbah pabrik keripik usus di sana sering menyumbat pipa karena kandungan minyak yang tinggi. Ano pun berinisiatif membuat alat pemisah minyak (grease trap) untuk membantu efektivitas pengolahan limbah. Ano mendapat bimbingan dari dosen Dr. Evy Hendriarianti, ST., M.MT.,  dan Candra Dwiratna Wulandari, ST., MT.

Deslyano Miyola Pratama mahasiswa ITN Malang saat melakukan penelitian di UD Ratna, pabrik keripik usus MojokertoDeslyano Miyola Pratama mahasiswa ITN Malang saat melakukan penelitian di UD Ratna, pabrik keripik usus Mojokerto. (Foto: Istimewa)

“Di sana pengolahan sedimentasinya sudah ada, tapi pemisah minyaknya belum. Akhirnya saya uji dengan tiga variasi kecepatan aliran. Hasilnya, kecepatan 2 meter/jam paling efektif menyisihkan minyak lemak sampai 88 persen,” jelas putra pasangan Mijo Tomosetiko, dan Sriyati ini.

Meski masih perlu penelitian lebih lanjut agar benar-benar sesuai baku mutu, hasil risetnya ini sudah berhasil menembus jurnal Sinta 4 di International Journal of Science and Environment (IJSE).

Aktif di Organisasi dan Penelitian Dosen

Selama kuliah, alumnus SMA Negeri 1 Wonogiri ini tidak hanya jadi “kupu-kupu” (kuliah-pulang). Ano aktif di Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan (HMTL) dan menjadi asisten Laboratorium Teknik Lingkungan. Pengalamannya makin kaya karena ia dilibatkan dalam penelitian dosen yang kelanjutan dari Proyek “Brantas Clean Industry Initiative” di Mojokerto, tempat dimana penelitian skripsinya dilakukan. Selain itu terlibat dalam kegiatan hasil kerja sama ITN Malang dengan Pemerintah Kabupaten Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) di bidang air limbah domestik, dan air minum.

Menurutnya, bergabung dalam penelitian atau proyek dosen adalah salah satu cara mahasiswa untuk menambah wawasan dan pengalaman praktik di lapangan. “Kalau ada tawaran proyek atau penelitian dari dosen, jangan ditolak. Terima saja, karena ilmunya sangat bermanfaat. Syukur-syukur bisa buat skripsi, bahkan kadang dibantu finansial juga,” saran Ano.

Baca Juga : ITN Malang Menjadi TUK, Fasilitasi Sertifikasi Kompetensi Kerja Tenaga Ahli Bidang Tata Lingkungan

Menurutnya, pengalaman ikut lomba juga sangat penting. Ano bersama tim sempat menyabet Juara 3 LKTI Creanomic 2024 di Universitas Brawijaya. Sertifikat-sertifikat seperti ini menurutnya sangat penting untuk memperkuat CV saat melamar kerja nanti sebagai pendamping ijazah.

Ditanya soal rahasia lulus 3,5 tahun dengan IPK cumlaude (dengan pujian), Ano punya kebiasaan sederhana tapi konsisten. Ia selalu mencatat atau menandai agenda yang akan dilakukan keesokan harinya agar waktunya terbagi rata antara organisasi dan kuliah.

“Satu lagi, jangan bolos kuliah. Nikmati saja prosesnya,” tuturnya, yang terkenang saat-saat sulit seperti praktikum kimia lingkungan di awal semester yang membuatnya sempat sulit beradaptasi.

Kini, dengan bekal ilmu pengolahan limbah dan pengalaman lapangan yang ia miliki, Ano siap melangkah ke dunia profesional untuk mewujudkan mimpinya menjaga kelestarian lingkungan Indonesia. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)




Anita Claudia Novedy, lulusan terbaik Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) S-1, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP), ITN Malang pada wisuda ke-75 periode I tahun 2026

Gali Kedalaman Materi: Resep Anita Claudia Jadi Lulusan Terbaik PWK ITN Malang

Anita Claudia Novedy, lulusan terbaik Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) S-1, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP), ITN Malang pada wisuda ke-75 periode I tahun 2026. (Foto: Yanuar/Humas ITN Malang)


Malang, ITN.AC.ID — Bagi Anita Claudia Novedy, menjadi lulusan terbaik Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) S-1, Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) bukan hanya mengejar nilai ijazah. Gadis asal Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah ini mempunyai prinsip sederhana tapi sangat tajam, “gali kedalaman materi”. Alih-alih langsung menutup buku begitu kelas usai, Anita terbiasa mengulang kembali setiap detail, mulai dari apa, mengapa, hingga bagaimana materi yang baru saja ia terima hari itu.

Kiat tersebut terbukti ampuh. Putri pasangan Tarah, dan Rani ini sukses meraih IPK 3.76 dengan masa studi 3,5 tahun. Bahkan ia berhasil menjadi lulusan terbaik di lingkungan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP), dan akan ikut diwisuda pada Wisuda ke-75 Periode I Tahun 2026, pada 25 April 2026 mendatang. Bagi Anita, memahami materi sampai ke akar-akarnya adalah modal utama agar bisa tetap “nyambung” saat bertukar pikiran di kelas, sekaligus memastikan setiap tugas yang dikerjakan hasilnya maksimal

Ketertarikan Anita pada dunia geografi dan kebumian memang sudah muncul sejak kecil. Tak heran jika saat lulus SMA Negeri 2 Sampit, ia langsung memantapkan diri memilih PWK ITN Malang. “Kurikulum dan dosen-dosen yang kompeten di sini benar-benar mewadahi minat saya,” kenangnya.

Baca Juga : Jauh-Jauh dari Banjarbaru, Siswa SMAIT Ar Rahman Intip Masa Depan Lewat Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) ITN Malang

Selama kuliah, Anita juga aktif diorganisasi. Ia pernah menjabat sebagai sekretaris Himpunan Mahasiswa PWK (HMPWK) selama dua periode, serta bergabung dalam Ikatan Mahasiswa Perencanaan Indonesia (IMPI) Korwil Jatim-Bali-NTB. Pengalaman ini melatihnya dalam hal kepemimpinan, kerja sama tim, hingga membangun koneksi yang berguna untuk dunia kerja nanti.

Bicara prestasi, ceritanya cukup panjang. Anita pernah menyabet Juara II Nasional Poster Competition di UGM (2023) hingga meraih penghargaan Karya Ilmiah Terbaik kategori Circular Blue Economy Development di East Java Plano Summit 2024. Baginya, ikut lomba adalah cara paling asyik untuk menguji kemampuan berpikir dan kreativitas dalam menyelesaikan masalah dari berbagai perspektif.

Anita Claudia Novedy, bersama tim mahasiswa PWK ITN Malang saat mengikuti East Java Plano Summit 2024Anita Claudia Novedy  (dua dari kanan), bersama tim mahasiswa PWK ITN Malang saat mengikuti East Java Plano Summit 2024. (Foto: Istimewa)

Tugas akhir atau skripsinya pun tak kalah menarik. Dalam skripsinya, Anita mengangkat topik yang sangat relevan dengan dinamika pembangunan saat ini, yaitu identifikasi aglomerasi perkotaan di Provinsi Kalimantan Timur. Di bawah bimbingan Dr. Ir. Ibnu Sasongko, MT, dan Endratno Budi Santosa, ST., MT, ia menggunakan model Intersection-Based Clustered Network (iCN). Metode ini tergolong baru dan mampu memotret interaksi ruang melalui titik persimpangan jalan tanpa terpatok pada batas administratif.

Anita menjelaskan, ketersediaan dan keterhubungan jaringan jalan adalah faktor kunci agar aktivitas perkotaan berlangsung efektif, apalagi dengan adanya transformasi masif akibat penetapan Ibu Kota Nusantara (IKN). Menggunakan data shapefile jaringan jalan eksisting dan rencana, ia mengolahnya dengan Nearest Neighbor Analysis dan metode DBSCAN untuk melihat di mana saja klaster pertumbuhan terbentuk.

“Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkembangan wilayah Kaltim cenderung berekspansi ke arah IKN, tepatnya di Kecamatan Sepaku dan Samboja. Sejalan dengan itu, muncul juga klaster-klaster pertumbuhan baru di wilayah lain yang posisinya ternyata sejalan dengan rencana sistem pusat permukiman dalam RTRW,” jelasnya.

Baca Juga : Lulus Bukan Berarti Putus: FTSP ITN Malang Lepas 56 Calon Wisudawan di Yudisium Periode I

Menurut Anita, penggunaan data sekunder dalam penelitiannya cukup memudahkan karena data diperoleh langsung melalui pihak kedua atau instansi penyedia data spasial. Namun, bukan berarti tanpa kendala. Tantangan muncul saat ia harus berhadapan dengan birokrasi perizinan di instansi pemerintahan, di mana proses administrasi dan permohonan data memakan waktu cukup lama. Situasi ini menuntutnya untuk pintar mengelola waktu antara mengejar progres skripsi dan mengejar jadwal sidang. Meski begitu, bagi Anita temuan ini sangat positif karena mengindikasikan adanya pemerataan ekonomi dan layanan di wilayah penyangga.

Tentu, perjalanan ini tak selalu mulus. Ada kalanya Anita merasa kewalahan saat tugas kuliah, urusan organisasi, dan target kompetisi menumpuk jadi satu, apalagi harus sambil memutar otak mengelola keuangan sebagai anak kos. Namun, didikan kemandirian dan kejujuran dari orang tuanya sejak kecil membuatnya tetap tangguh di perantauan.

“Motivasi terbesar saya adalah Tuhan dan keluarga. Harapan dan doa orang tua selalu jadi pengingat bagi saya untuk memberikan yang terbaik,” pungkas Anita yang kini tengah bersiap melanjutkan studi ke jenjang S-2. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)




Heribertus Nahak Seran, lulusan terbaik Teknik Geodesi S-1, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP), ITN Malang pada wisuda ke 57 periode 1 tahun 2026

Bermimpi Dirikan Jasa Surveyor di NTT, Pemuda Atambua Ini Buktikan Diri Jadi Lulusan Terbaik Teknik Geodesi ITN Malang

Heribertus Nahak Seran, lulusan terbaik Teknik Geodesi S-1, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP), ITN Malang pada wisuda ke 57 periode 1 tahun 2026. (Foto: Yanuar/Humas ITN Malang)


Malang, ITN.AC.ID – Siapa sangka, pemuda yang dulunya sempat ragu untuk kuliah ini justru pulang ke Atambua dengan predikat mentereng. Heribertus Nahak Seran baru saja dinobatkan sebagai lulusan terbaik Teknik Geodesi S-1, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP), Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang).

Perjalanan Heri biasa disapa menjadi lulusan terbaik pada wisuda ke-75 periode I tahun 2026, dengan IPK 3.33 sebenarnya tidak terduga. Awalnya, ia tidak berencana melanjutkan studi. Namun, restu dan dorongan orang tua membuatnya nekat merantau ke Kota Malang bersama kawan-kawannya.

“Ke Teknik Geodesi itu sebenarnya tidak ada planning. Sempat cari-cari di Google juga dan sempat ragu. Tapi karena orang tua mengharuskan kuliah, dan dulu waktu SMA nilai Geografi saya bagus serta didukung guru, akhirnya saya ambil pemetaan (Teknik Geodesi),” kenang alumnus SMA Seminari Santa Maria Immaculata Lalian Atambua, Nusa Tenggara Timur ini.

Selama di Kota Malang, Heri bukan tipikal mahasiswa yang hanya berdiam diri di kelas. Ia bergabung dengan Paduan Suara Mahasiswa (PSM), Vox Coeleistis Choir (VCC) ITN Malang. Tak main-main, ia bersama timnya sukses menyabet Gold Medal 2nd Place pada ajang The 17th National Folklore Festival (NFF) tahun 2023 di Universitas Indonesia.

Baca Juga : Jadi “Rumah” Bagi Surveyor, ITN Malang Gelar Uji Kompetensi Kadaster Perdana

Menariknya, Heri juga tak segan melakoni pekerjaan rumah tangga demi kemandirian. Ia pernah berinisiatif membantu ibu kosnya membersihkan area kost untuk menambah uang saku. “Lumayan uangnya bisa untuk menutupi kebutuhan selama di kos,” ujarnya santai. Bagi Heri, ini adalah bagian dari proses hidup yang harus dijalani dengan jujur.

Mudik ke NTT Tiga Kali Demi Skripsi

Jiwa putra daerahnya muncul saat menyusun skripsi. Heri meneliti fenomena erosi di tanah kelahirannya melalui judul: “Estimasi Bahaya Erosi Menggunakan Metode USLE dan E30 pada Daerah Aliran Sungai (DAS) Talau, Kabupaten Belu”.

Lokasi penelitian mahasiswa Teknik Geodesi ITN Malang, Heribertus Nahak Seran di Daerah Aliran Sungai (DAS) Talau, Kabupaten BeluLokasi penelitian mahasiswa Teknik Geodesi ITN Malang, Heribertus Nahak Seran di Daerah Aliran Sungai (DAS) Talau, Kabupaten Belu. (Foto: Istimewa)

DAS Talau di Atambua memang dikenal rawan longsor. Heri merasa terpanggil memberikan kontribusi teknis untuk daerahnya. Namun, perjuangannya tidak mudah. Ia harus mudik tiga kali ke NTT hanya untuk mencari data dari berbagai instansi seperti BMKG, dinas kehutanan, dinas pekerjaan umum, dan balai besar wilayah sungai (BBWS) provinsi.

“Tantangannya data di sana minim sekali. Sempat putus asa dan panik sampai seminar hasil tertunda. Tapi saya bertekad dalam hati harus selesai,” ungkap putra pasangan Nikolaus Nahak Seran, dan Helena Dautae ini.

Dalam penelitian di bawah bimbingan Feny Arafah, ST., MT., dan Alifah Noraini, ST., MT., Heri membandingkan dua metode pemetaan erosi. Hasilnya menunjukkan bahwa metode USLE memiliki akurasi lebih tinggi, yakni 82,35%, dalam menggambarkan kondisi aktual di lapangan. Data ini ia harap bisa menjadi acuan Pemerintah Kabupaten Belu dalam mitigasi bencana.

Mimpi Membangun KJSB di Belu

Melihat alat-alat praktikum di Teknik Geodesi ITN Malang yang lengkap, mulai dari Total Station hingga peralatan hidrografi, Heri merasa bekal lapangannya sudah cukup kuat.

Baca Juga : Kampus 2 ITN Malang Jadi “Laboratorium Raksasa” Pemetaan SMKN 1 Singosari

Ke depan, ia punya mimpi besar. Heri ingin mendirikan Kantor Jasa Surveyor Berlisensi (KJSB) di NTT, khususnya di tingkat kabupaten yang saat ini masih sangat jarang.

“Ini sebuah keberuntungan, saya tidak percaya jadi wisudawan terbaik karena saya merasa tidak pintar-pintar amat. Tapi saya percaya pada proses, dukungan orang tua, dan selalu melibatkan Tuhan. Intinya jangan keluar jalur dari proses yang sudah kita tentukan dari awal,” tutupnya dengan rendah hati. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)