Anita Claudia Novedy, lulusan terbaik Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) S-1, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP), ITN Malang pada wisuda ke-75 periode I tahun 2026

Gali Kedalaman Materi: Resep Anita Claudia Jadi Lulusan Terbaik PWK ITN Malang

Anita Claudia Novedy, lulusan terbaik Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) S-1, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP), ITN Malang pada wisuda ke-75 periode I tahun 2026. (Foto: Yanuar/Humas ITN Malang)


Malang, ITN.AC.ID — Bagi Anita Claudia Novedy, menjadi lulusan terbaik Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) S-1, Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) bukan hanya mengejar nilai ijazah. Gadis asal Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah ini mempunyai prinsip sederhana tapi sangat tajam, “gali kedalaman materi”. Alih-alih langsung menutup buku begitu kelas usai, Anita terbiasa mengulang kembali setiap detail, mulai dari apa, mengapa, hingga bagaimana materi yang baru saja ia terima hari itu.

Kiat tersebut terbukti ampuh. Putri pasangan Tarah, dan Rani ini sukses meraih IPK 3.76 dengan masa studi 3,5 tahun. Bahkan ia berhasil menjadi lulusan terbaik di lingkungan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP), dan akan ikut diwisuda pada Wisuda ke-75 Periode I Tahun 2026, pada 25 April 2026 mendatang. Bagi Anita, memahami materi sampai ke akar-akarnya adalah modal utama agar bisa tetap “nyambung” saat bertukar pikiran di kelas, sekaligus memastikan setiap tugas yang dikerjakan hasilnya maksimal

Ketertarikan Anita pada dunia geografi dan kebumian memang sudah muncul sejak kecil. Tak heran jika saat lulus SMA Negeri 2 Sampit, ia langsung memantapkan diri memilih PWK ITN Malang. “Kurikulum dan dosen-dosen yang kompeten di sini benar-benar mewadahi minat saya,” kenangnya.

Baca Juga : Jauh-Jauh dari Banjarbaru, Siswa SMAIT Ar Rahman Intip Masa Depan Lewat Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) ITN Malang

Selama kuliah, Anita juga aktif diorganisasi. Ia pernah menjabat sebagai sekretaris Himpunan Mahasiswa PWK (HMPWK) selama dua periode, serta bergabung dalam Ikatan Mahasiswa Perencanaan Indonesia (IMPI) Korwil Jatim-Bali-NTB. Pengalaman ini melatihnya dalam hal kepemimpinan, kerja sama tim, hingga membangun koneksi yang berguna untuk dunia kerja nanti.

Bicara prestasi, ceritanya cukup panjang. Anita pernah menyabet Juara II Nasional Poster Competition di UGM (2023) hingga meraih penghargaan Karya Ilmiah Terbaik kategori Circular Blue Economy Development di East Java Plano Summit 2024. Baginya, ikut lomba adalah cara paling asyik untuk menguji kemampuan berpikir dan kreativitas dalam menyelesaikan masalah dari berbagai perspektif.

Anita Claudia Novedy, bersama tim mahasiswa PWK ITN Malang saat mengikuti East Java Plano Summit 2024Anita Claudia Novedy  (dua dari kanan), bersama tim mahasiswa PWK ITN Malang saat mengikuti East Java Plano Summit 2024. (Foto: Istimewa)

Tugas akhir atau skripsinya pun tak kalah menarik. Dalam skripsinya, Anita mengangkat topik yang sangat relevan dengan dinamika pembangunan saat ini, yaitu identifikasi aglomerasi perkotaan di Provinsi Kalimantan Timur. Di bawah bimbingan Dr. Ir. Ibnu Sasongko, MT, dan Endratno Budi Santosa, ST., MT, ia menggunakan model Intersection-Based Clustered Network (iCN). Metode ini tergolong baru dan mampu memotret interaksi ruang melalui titik persimpangan jalan tanpa terpatok pada batas administratif.

Anita menjelaskan, ketersediaan dan keterhubungan jaringan jalan adalah faktor kunci agar aktivitas perkotaan berlangsung efektif, apalagi dengan adanya transformasi masif akibat penetapan Ibu Kota Nusantara (IKN). Menggunakan data shapefile jaringan jalan eksisting dan rencana, ia mengolahnya dengan Nearest Neighbor Analysis dan metode DBSCAN untuk melihat di mana saja klaster pertumbuhan terbentuk.

“Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkembangan wilayah Kaltim cenderung berekspansi ke arah IKN, tepatnya di Kecamatan Sepaku dan Samboja. Sejalan dengan itu, muncul juga klaster-klaster pertumbuhan baru di wilayah lain yang posisinya ternyata sejalan dengan rencana sistem pusat permukiman dalam RTRW,” jelasnya.

Baca Juga : Lulus Bukan Berarti Putus: FTSP ITN Malang Lepas 56 Calon Wisudawan di Yudisium Periode I

Menurut Anita, penggunaan data sekunder dalam penelitiannya cukup memudahkan karena data diperoleh langsung melalui pihak kedua atau instansi penyedia data spasial. Namun, bukan berarti tanpa kendala. Tantangan muncul saat ia harus berhadapan dengan birokrasi perizinan di instansi pemerintahan, di mana proses administrasi dan permohonan data memakan waktu cukup lama. Situasi ini menuntutnya untuk pintar mengelola waktu antara mengejar progres skripsi dan mengejar jadwal sidang. Meski begitu, bagi Anita temuan ini sangat positif karena mengindikasikan adanya pemerataan ekonomi dan layanan di wilayah penyangga.

Tentu, perjalanan ini tak selalu mulus. Ada kalanya Anita merasa kewalahan saat tugas kuliah, urusan organisasi, dan target kompetisi menumpuk jadi satu, apalagi harus sambil memutar otak mengelola keuangan sebagai anak kos. Namun, didikan kemandirian dan kejujuran dari orang tuanya sejak kecil membuatnya tetap tangguh di perantauan.

“Motivasi terbesar saya adalah Tuhan dan keluarga. Harapan dan doa orang tua selalu jadi pengingat bagi saya untuk memberikan yang terbaik,” pungkas Anita yang kini tengah bersiap melanjutkan studi ke jenjang S-2. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)




PWK ITN Malang menerima kunjungan Studi Pengembangan Diri Tingkat Akhir SMA Islam Terpadu (SMAIT) Ar Rahman, Banjarbaru, Kalimantan Selatan

Jauh-Jauh dari Banjarbaru, Siswa SMAIT Ar Rahman Intip Masa Depan Lewat Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) ITN Malang

PWK ITN Malang menerima kunjungan Studi Pengembangan Diri Tingkat Akhir SMA Islam Terpadu (SMAIT) Ar Rahman, Banjarbaru, Kalimantan Selatan. (Foto: HMPWK)


Malang, ITN.AC.ID – Suasana Ruang PWK 2 Kampus 1, Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) tampak berbeda pada Jumat siang (23/01/2026). Sebanyak 26 siswa kelas 12 dari SMA Islam Terpadu (SMAIT) Ar Rahman, Banjarbaru, Kalimantan Selatan, hadir membawa semangat baru. Kunjungan ini bukan sekadar jalan-jalan biasa, melainkan bagian dari program Studi Pengembangan Diri Tingkat Akhir (SPDA) bertajuk “Pembelajaran Sehari di Kampus”.

Kehadiran angkatan ke-3 ini disambut hangat oleh Kepala Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) ITN Malang, Dr. Agung Witjaksono, ST., MT. Dalam sambutannya, Agung memaparkan betapa luasnya cakupan ilmu PWK yang mungkin selama ini belum banyak diketahui siswa SMA. Dimana PWK termasuk bidang multidisiplin.

“Pada dasarnya, teman-teman di PWK adalah ahli menata kota/kabupaten. Mulai dari skala kecil seperti kawasan perumahan, kawasan pariwisata, kawasan pesisir dan kawasan industri, hingga skala besar seperti provinsi maupun nasional. Kami mempelajari kondisi fisik seperti jenis tanah, kelerengan, ketinggian, iklim, dll. Dan juga mempelajari transportasi, utilitas, jumlah penduduk, hingga ekonomi wilayah tersebut,” jelas Agung. Ia juga berharap kunjungan ini membuat para siswa merasa nyaman dan jatuh cinta dengan atmosfer akademik di ITN Malang.

Baca Juga : Wahyu Hidayat Pimpin Ika ITN Malang Masa Bakti 2025-2030, Siap Sinergikan Alumni dan Almamater

Agung menyatakan harapannya, agar kunjungan ini menjadi pembuka jalan bagi kerja sama yang lebih erat antara ITN Malang dan Yayasan Cahaya Ar Rahman. Pihak PWK menyatakan kesiapannya jika sewaktu-waktu diminta menjadi pemateri untuk mengisi kegiatan di SMAIT Ar Rahman di Banjarbaru.

“Kami tunggu kehadiran adik-adik sebagai bagian dari keluarga besar PWK ITN Malang tahun depan,” tutupnya.

Berawal dari Cerita Alumni di Sekolah

Menariknya, pilihan SMAIT Ar Rahman untuk berkunjung ke ITN Malang bukan tanpa alasan. Wakil Yayasan Cahaya Ar Rahman, Ustadz Muhammad Hashfi Abdurrahman, S.K.M., yang juga sebagai Wakil Kepala Sekolah SMAIT Ar Rahman mengungkapkan bahwa ada “magnet” tersendiri yang menarik mereka ke sini. Yakni, Ariwibowo, alumnus PWK ITN Malang angkatan 2002 yang kini mengabdi menjadi guru di bawah yayasan yang sama di Kalimantan.

a437c640f5a5405f86e076865b4f7d10Kaprodi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) ITN Malang, Dr. Agung Witjaksono, ST., MT., (kanan), dan Wakil Yayasan Cahaya Ar Rahman, Ustadz Muhammad Hashfi Abdurrahman, S.K.M.

“Kami sering mendengar cerita dan pengalaman seru kuliah di PWK ITN Malang dari alumni PWK yang mengajar di yayasan kami. Cerita-cerita itulah yang menjadi motivasi bagi para siswa sehingga kami sangat tertarik datang langsung ke sini,” ujar Ustadz Hashfi yang hadir didampingi guru pendamping Ahmad Norman Rifansyah, S.Kom., dan Aida, S.Pd.

Ustadz Hashfi menambahkan, tujuan utama kunjungan lintas kota (Surabaya, Jogja, Jakarta, hingga Malang) ini adalah untuk membekali siswa agar tidak ragu lagi memilih jurusan. “Kami kaget juga, awalnya kami pikir tata ruang itu hanya soal daratan, ternyata sampai menyentuh tata ruang laut juga. Ini wawasan baru yang sangat berharga,” tambahnya.

Baca Juga : ITN Malang-Ditjen Penataan Ruang Laut, Kementerian Kelautan dan Perikanan Teken Kerja Sama Strategis, Perkuat Tata Kelola Ruang Laut

Dari Teori ke Praktik SketchUp

Tak hanya sekedar mendengarkan paparan, para siswa juga mendapatkan materi mendalam dari Dr. Ir. Agustina Nurul Hidayati, MT., serta sharing santai bersama kakak-kakak Himpunan Mahasiswa PWK (HMPWK). Puncaknya, para siswa diajak langsung mencoba aplikasi SketchUp di Ruang Studio GIS untuk merasakan pengalaman nyata bagaimana seorang perencana kota merancang sebuah kawasan.

SMA Islam Terpadu Ar Rahman, Banjarbaru, belajar SketchUp di PWK ITN MalangSMA Islam Terpadu Ar Rahman, Banjarbaru, belajar SketchUp di PWK ITN Malang. (Foto: Mita/Humas ITN Malang)

Nabil Mustofa, salah satu perwakilan siswa kelas IPA mengaku terkesan dengan pengalaman singkat ini. Meski sebelumnya pernah mendengar istilah “Planologi” dari dosen PWK ITN Malang Pak Arif yang sempat berkunjung ke sekolahnya, baru kali ini ia paham inti dari PWK.

“Ternyata seru dan asik! Membangun kota besar itu ternyata perlu ilmu yang kompleks, harus tahu kondisi lingkungan sampai budayanya juga. Harapannya, ilmu yang didapat hari ini bisa bermanfaat, dan siapa tahu tahun depan ada di antara kami yang bisa kuliah di sini,” kata Nabil antusias. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)