Heribertus Nahak Seran, lulusan terbaik Teknik Geodesi S-1, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP), ITN Malang pada wisuda ke 57 periode 1 tahun 2026

Bermimpi Dirikan Jasa Surveyor di NTT, Pemuda Atambua Ini Buktikan Diri Jadi Lulusan Terbaik Teknik Geodesi ITN Malang

Heribertus Nahak Seran, lulusan terbaik Teknik Geodesi S-1, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP), ITN Malang pada wisuda ke 57 periode 1 tahun 2026. (Foto: Yanuar/Humas ITN Malang)


Malang, ITN.AC.ID – Siapa sangka, pemuda yang dulunya sempat ragu untuk kuliah ini justru pulang ke Atambua dengan predikat mentereng. Heribertus Nahak Seran baru saja dinobatkan sebagai lulusan terbaik Teknik Geodesi S-1, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP), Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang).

Perjalanan Heri biasa disapa menjadi lulusan terbaik pada wisuda ke-75 periode I tahun 2026, dengan IPK 3.33 sebenarnya tidak terduga. Awalnya, ia tidak berencana melanjutkan studi. Namun, restu dan dorongan orang tua membuatnya nekat merantau ke Kota Malang bersama kawan-kawannya.

“Ke Teknik Geodesi itu sebenarnya tidak ada planning. Sempat cari-cari di Google juga dan sempat ragu. Tapi karena orang tua mengharuskan kuliah, dan dulu waktu SMA nilai Geografi saya bagus serta didukung guru, akhirnya saya ambil pemetaan (Teknik Geodesi),” kenang alumnus SMA Seminari Santa Maria Immaculata Lalian Atambua, Nusa Tenggara Timur ini.

Selama di Kota Malang, Heri bukan tipikal mahasiswa yang hanya berdiam diri di kelas. Ia bergabung dengan Paduan Suara Mahasiswa (PSM), Vox Coeleistis Choir (VCC) ITN Malang. Tak main-main, ia bersama timnya sukses menyabet Gold Medal 2nd Place pada ajang The 17th National Folklore Festival (NFF) tahun 2023 di Universitas Indonesia.

Baca Juga : Jadi “Rumah” Bagi Surveyor, ITN Malang Gelar Uji Kompetensi Kadaster Perdana

Menariknya, Heri juga tak segan melakoni pekerjaan rumah tangga demi kemandirian. Ia pernah berinisiatif membantu ibu kosnya membersihkan area kost untuk menambah uang saku. “Lumayan uangnya bisa untuk menutupi kebutuhan selama di kos,” ujarnya santai. Bagi Heri, ini adalah bagian dari proses hidup yang harus dijalani dengan jujur.

Mudik ke NTT Tiga Kali Demi Skripsi

Jiwa putra daerahnya muncul saat menyusun skripsi. Heri meneliti fenomena erosi di tanah kelahirannya melalui judul: “Estimasi Bahaya Erosi Menggunakan Metode USLE dan E30 pada Daerah Aliran Sungai (DAS) Talau, Kabupaten Belu”.

Lokasi penelitian mahasiswa Teknik Geodesi ITN Malang, Heribertus Nahak Seran di Daerah Aliran Sungai (DAS) Talau, Kabupaten BeluLokasi penelitian mahasiswa Teknik Geodesi ITN Malang, Heribertus Nahak Seran di Daerah Aliran Sungai (DAS) Talau, Kabupaten Belu. (Foto: Istimewa)

DAS Talau di Atambua memang dikenal rawan longsor. Heri merasa terpanggil memberikan kontribusi teknis untuk daerahnya. Namun, perjuangannya tidak mudah. Ia harus mudik tiga kali ke NTT hanya untuk mencari data dari berbagai instansi seperti BMKG, dinas kehutanan, dinas pekerjaan umum, dan balai besar wilayah sungai (BBWS) provinsi.

“Tantangannya data di sana minim sekali. Sempat putus asa dan panik sampai seminar hasil tertunda. Tapi saya bertekad dalam hati harus selesai,” ungkap putra pasangan Nikolaus Nahak Seran, dan Helena Dautae ini.

Dalam penelitian di bawah bimbingan Feny Arafah, ST., MT., dan Alifah Noraini, ST., MT., Heri membandingkan dua metode pemetaan erosi. Hasilnya menunjukkan bahwa metode USLE memiliki akurasi lebih tinggi, yakni 82,35%, dalam menggambarkan kondisi aktual di lapangan. Data ini ia harap bisa menjadi acuan Pemerintah Kabupaten Belu dalam mitigasi bencana.

Mimpi Membangun KJSB di Belu

Melihat alat-alat praktikum di Teknik Geodesi ITN Malang yang lengkap, mulai dari Total Station hingga peralatan hidrografi, Heri merasa bekal lapangannya sudah cukup kuat.

Baca Juga : Kampus 2 ITN Malang Jadi “Laboratorium Raksasa” Pemetaan SMKN 1 Singosari

Ke depan, ia punya mimpi besar. Heri ingin mendirikan Kantor Jasa Surveyor Berlisensi (KJSB) di NTT, khususnya di tingkat kabupaten yang saat ini masih sangat jarang.

“Ini sebuah keberuntungan, saya tidak percaya jadi wisudawan terbaik karena saya merasa tidak pintar-pintar amat. Tapi saya percaya pada proses, dukungan orang tua, dan selalu melibatkan Tuhan. Intinya jangan keluar jalur dari proses yang sudah kita tentukan dari awal,” tutupnya dengan rendah hati. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)




Momen kebersamaan Himpunan Mahasiswa Geodesi dengan para dosen saat Ramadan

Ketulusan Tanpa Sekat di Balik Pembagian Paket Buka Puasa Mahasiswa Geodesi ITN Malang

Momen kebersamaan Himpunan Mahasiswa Geodesi dengan para dosen saat Ramadan. (Foto: Istimewa)


Malang, ITN.AC.ID – Ada pemandangan hangat di depan Kampus 1 ITN Malang pada Jumat sore (13/03/2026). Di tengah hiruk pikuk kendaraan yang mengejar waktu berbuka, belasan mahasiswa Teknik Geodesi S-1, Institut Teknologi Nasional Malang tampak sibuk membagikan paket takjil kepada para pengendara dan pejalan kaki. Aksi sosial ini wujud nyata solidaritas mahasiswa yang melampaui batas perbedaan agama.

Anicentus Efrem Bu’u, ketua pelaksana, mengungkapkan, antusiasme anggota Himpunan Mahasiswa Geodesi (HMG) kali ini sangat luar biasa. Tak hanya mahasiswa muslim, mahasiswa non-muslim pun terjun langsung mulai tahap persiapan hingga turun ke jalanan membagikan takjil. Bagi mereka, perbedaan keyakinan justru menjadi motor penggerak untuk mensukseskan acara ini.

Baca Juga : Mandat Kompak HMA ITN Malang: Dari Bagi-Bagi Takjil di Jalan Hingga Bukber Lintas Angkatan

“Kami di Geodesi tidak membeda-bedakan. Teman-teman non-muslim sangat semangat membantu, karena kami merasa senang bisa mendukung saudara-saudara yang sedang menjalankan ibadah puasa. Ini soal kebersamaan,” ungkap mahasiswa semester 6 tersebut.

Hanya dalam waktu singkat sekitar 200 takjil yang dipersiapkan ludes dibagikan. Isinya pun beragam, mulai dari air mineral, roti, hingga es teh dingin yang segar. Paket-paket ini merupakan hasil kolaborasi antara HMG, dukungan program studi, hingga kontribusi dari Ikatan Alumni Teknik Geodesi.

Mahasiswa Teknik Geodesi ITN Malang membagikan takjil di depan Kampus 1 ITN Malang. (2)Mahasiswa Teknik Geodesi ITN Malang membagikan takjil di depan Kampus 1 ITN Malang. (Foto: Mita/Humas)

Senada dengan itu, Ketua HMG Reynaldo Antonio Bokilia menegaskan bahwa keberagaman adalah kekuatan utama di jurusannya. “Motivasi kami mensukseskan acara ini tanpa membeda-bedakan latar belakang. Di Geodesi, mahasiswa kami tidak hanya yang muslim, tapi juga ada dari agama lain. Kami yang non-muslim pun merasa sangat antusias menyambut Ramadan dengan berbagi takjil, karena kami senang bisa membantu saudara-saudara yang sedang berpuasa,” jelasnya.

Salah satu momen yang cukup menyentuh adalah saat seorang bapak pemulung menerima paket tersebut dengan mata berkaca-kaca. Beliau memberikan doa tulus agar para mahasiswa ini kelak menjadi insinyur yang sukses dan tetap rendah hati. Momen-momen seperti inilah yang membuat tantangan mengatur lalu lintas di depan kampus terasa tidak seberapa dibandingkan kebahagiaan yang didapat.

Baca Juga : Teknik Geodesi ITN Malang Terima Hibah Laser Scanner Standar Industri Tambang dari PT Saptaindra Sejati (SIS)

Tahun ini, jumlah paket yang dibagikan meningkat dibanding tahun lalu yang berjumlah 150 paket. Reynaldo berharap kegiatan bertema “Berbagi Kebaikan, Menjalin Kebersamaan di Bulan Suci Ramadan” ini bisa terus konsisten dan menjadi agenda rutin tahunan.

“Setelah berbagi takjil kami juga mengadakan buka bersama untuk semakin meningkatkan rasa kebersamaan antar anggota HMG dan juga dosen,” pungkasnya.

Ke depan, HMG berencana memperluas jangkauan manfaat dengan menggandeng himpunan mahasiswa jurusan lain di lingkungan ITN Malang. Harapannya agar kepedulian sosial mahasiswa semakin terasah dan solidaritas antar sesama semakin kokoh, baik di dalam maupun di luar kampus. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)




Prodi Teknik Geodesi S-1 ITN Malang menerima hibah laser scanner standar industri tambang dari PT Saptaindra Sejati (SIS).

Teknik Geodesi ITN Malang Terima Hibah Laser Scanner Standar Industri Tambang dari PT Saptaindra Sejati (SIS)

Prodi Teknik Geodesi S-1 ITN Malang menerima hibah laser scanner standar industri tambang dari PT Saptaindra Sejati (SIS). (Foto: Mita/Humas ITN Malang)


Malang, ITN.AC.ID – Teknologi pemetaan tingkat tinggi kini hadir langsung di laboratorium Teknik Geodesi S-1, Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang). Meski bukan unit baru gres dari pabrik, dua unit Laser Scanner Riegl VZ 1000 resmi dihibahkan oleh PT Saptaindra Sejati (SIS) ke kampus pada Selasa (24/02/2026). Alat yang harga barunya bisa mencapai angka 2 hingga 5 miliar ini diserahkan langsung kepada Kaprodi Teknik Geodesi S-1, Dedy Kurnia Sunaryo, ST., MT.

Langkah ini menjadi bukti nyata kepedulian alumni Teknik Geodesi terhadap almamaternya. Sosok di balik hibah ini adalah Dofiq Munawar (Section Head Surveyor), angkatan 1999, dan Saiful Muklas (Supervisor Survey), angkatan 2012 yang kini berkarir di salah satu kontraktor pertambangan terbesar di Indonesia tersebut.

Baca Juga Jadi “Rumah” Bagi Surveyor, ITN Malang Gelar Uji Kompetensi Kadaster Perdana

Bagi kampus swasta, pengadaan alat high-end seperti laser scanner memang tantangan besar karena harganya yang tidak murah. Itulah mengapa hibah alat yang masih sangat layak pakai, dan mumpuni ini menjadi sangat berharga untuk proses belajar.

“Jujur saja, kalau kampus swasta harus beli baru, harganya cukup berat. Alhamdulilah, adanya hibah ini memudahkan mahasiswa praktikum. Apalagi sekarang eranya Project Based Learning (PBL), alat ini bisa dipakai untuk memetakan area heritage hingga monitoring struktur bangunan secara 3D,” ujar DK Sunaryo, sapaan akrab Dedy Kurnia Sunaryo, yang juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada PT Saptaindra Sejati.

Kaprodi Teknik Geodesi S-1, Dedy Kurnia Sunaryo, ST., MT., (kiri) bersama Saiful Muklas, Supervisor Survey dari PT Saptaindra Sejati (SIS)Kaprodi Teknik Geodesi S-1, Dedy Kurnia Sunaryo, ST., MT., (kiri) bersama Saiful Muklas, Supervisor Survey dari PT Saptaindra Sejati (SIS). (Foto: Mita/Humas ITN Malang)

Ia, menjelaskan bahwa alat seberat 15 kg ini akan mengubah cara mahasiswa belajar. Di era 3D dan Building Information Modeling (BIM) sekarang, mahasiswa tidak lagi sekadar menarik garis, tapi mengolah jutaan titik koordinat (point cloud).

“Harapan kami, alumni yang bekerja di tambang bisa menghibahkan alat yang sudah waktunya regenerasi di perusahaannya untuk digunakan adik-adiknya di sini,” tuturnya.

Kehadiran laser scanner ini tidak hanya akan dinikmati mahasiswa Geodesi. Prodi Teknik Geodesi berencana membuka pintu kolaborasi dengan prodi lain di Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP), seperti Arsitektur, Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK), Teknik Sipil, hingga Teknik Lingkungan.

Hibah ini terasa spesial karena ada faktor “ikatan batin” di baliknya. Saiful Muklas yang mengantarkan alat tersebut menyampaikan, hibah alat bukan kali pertama, sebelumnya alumni juga telah menghibahkan total station, dan kini mereka meningkatkan levelnya dengan memberikan laser scanner.

“Ini bentuk bakti kami ke kampus. Kami ingin berkontribusi secara bertahap dengan menghibahkan alat-alat yang masih sangat layak pakai, agar adik-adik kelas punya insight teknologi yang digunakan di industri,” ujar Saiful.

Baca Juga : Kampus 2 ITN Malang Jadi “Laboratorium Raksasa” Pemetaan SMKN 1 Singosari

Saiful menjelaskan, alat ini berfungsi untuk mengambil data topografi dalam bentuk point cloud 3D. Cara kerjanya adalah dengan memindai seluruh area sekitar hingga menangkap jutaan titik koordinat yang kemudian menyatu menjadi model tiga dimensi yang presisi.

“Keunggulan utamanya ada pada akurasi data point cloud-nya. Alat ini punya jangkauan pindai mulai dari 500 meter hingga maksimal 1 kilometer. Hasilnya berupa kumpulan titik 3D yang sangat detail,” terang alumnus asal Kabupaten Malang ini.

Tak berhenti di hibah alat, PT SIS juga membuka kesempatan untuk mempererat kerja sama di masa depan seperti opsi magang. Jadi, mahasiswa tidak hanya jago mengoperasikan alatnya di laboratorium, tapi juga punya jalur langsung untuk merasakan aplikasinya di lapangan kerja sesungguhnya.

“Kami ingin adik-adik punya insight tentang alat yang benar-benar dipakai di industri pertambangan saat ini,” pungkasnya. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)