Imanuel Ardiemas Sindhunata S., mahasiswa Arsitektur S-1, ITN Malang Juara 2 Sayembara Gagasan Desain Altar GKJW Tunjungsekar Malang 2026

Sentuhan Budaya Jawa Timur di Altar GKJW, Mahasiswa Arsitektur ITN Malang Raih Juara 2 Sayembara Desain

Imanuel Ardiemas Sindhunata S., mahasiswa Arsitektur S-1, ITN Malang Juara 2 Sayembara Gagasan Desain Altar GKJW Tunjungsekar Malang 2026. (Foto: Yanuar/Humas ITN Malang)


Malang, ITN.AC.ID – Membawa nafas budaya Jawa Timur ke dalam ruang suci, Imanuel Ardiemas Sindhunata S., mahasiswa Arsitektur S-1, Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang), sukses meraih posisi Juara 2 dalam Sayembara Gagasan Desain Altar GKJW Tunjungsekar Malang 2026. Kompetisi tingkat Jawa Timur ini mencapai puncaknya pada sesi awarding yang digelar untuk merayakan perayaan ulang tahun ke-30 gereja tersebut, Minggu (12/04/2026).

Langkah Sindu, sapaan akrabnya menuju podium juara tidaklah mudah. Dari total 69 pendaftar, ia berhasil menembus babak 4 besar dan bersaing ketat di final melawan peserta dari UPN “Veteran” Jawa Timur yang meraih Juara 1, serta Petra Christian University Surabaya yang membawa pulang gelar Juara Favorit. Menariknya, ITN Malang sebenarnya loloskan dua wakil di final, namun rekan Sindu, Nuhi Mahendra, harus puas menempati urutan keempat.

Baca Juga : Nippon Paint Ajak Mahasiswa Arsitektur ITN Malang Unjuk Gigi di AYDA Awards 2026

Meski Sindu penganut Katolik, ia merasa tertantang menerjemahkan identitas teologis Kristen Protestan (GKJW) ke dalam desainnya. Ia mengusung tema “Sabda Kang Madhangi lan Nunggali Ing Tanah Jawi”. Pesan yang ingin disampaikan sangat dalam. Yakni, meski Yesus tidak lahir di tanah Jawa, namun firman dan kehadiran-Nya menyatu serta diterima sepenuhnya oleh masyarakat Jawa.

“Desain saya mencoba menyatukan simbolisme budaya Jawa Timur dengan tradisi Kekristenan tanpa mengaburkan makna teologis altar itu sendiri,” ungkap Sindu saat ditemui di Kampus 1 ITN Malang, Selasa (14/04/2026).

Desain altar GKJW Tunjungsekar Malang karya mahasiswa Arsitektur ITN MalangDesain altar GKJW Tunjungsekar Malang karya mahasiswa Arsitektur ITN Malang. (Foto: Yanuar/Humas ITN Malang)

Visualisasi ini ia tuangkan dalam bentuk pusat altar yang berundak. Mengadopsi konsep “Meru” dari adat Jawa. Meru merupakan simbol kehidupan spiritual yang kian menguat dan bijak seiring usia. Di sisi kiri dan kanan, terdapat 12 tiang kayu yang melambangkan para rasul setia Kristus.

“Karena di gereja Kristen tidak menggunakan patung, saya menghadirkan representasi Yesus melalui salib dengan kain putih yang ikonik,” kata mahasiswa angkatan 2024 ini.

Menurutnya, proses final terasa cukup menegangkan. Sindu harus mempresentasikan karyanya selama 10 menit di depan lima juri lintas disiplin. Mulai dari praktisi Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) yang juga alumni ITN Malang, pakar DKV dari Petra dan Binus, hingga dua orang pendeta. Sesi tanya jawab pun berlangsung dinamis selama 15 menit tanpa batasan jumlah pertanyaan, dan disaksikan langsung oleh para jemaat gereja.

Imanuel Ardiemas Sindhunata S., mahasiswa Arsitektur S-1, ITN Malang saat presentasi lomba Sayembara Gagasan Desain Altar GKJW Tunjungsekar Malang 2026Imanuel Ardiemas Sindhunata S., mahasiswa Arsitektur S-1, ITN Malang saat presentasi lomba Sayembara Gagasan Desain Altar GKJW Tunjungsekar Malang 2026. (Foto: Yanuar/Humas ITN Malang)

“Tantangan tersendiri bagi saya ada di bagian struktur dan interior yang harus benar-benar matang agar selaras dengan bangunan gereja yang sudah ada,” tuturnya jujur.

Amar Rizqi Afdholy, ST., MT., dosen pembimbing saat ditemui di waktu yang sama memberikan apresiasi tinggi atas pencapaian anak didiknya. Menurutnya, konsep yang dibawa Sindu sudah sangat jelas dan kuat. Amar hanya menekankan pentingnya teknik penyajian data agar visualisasi desain semakin menarik di masa depan.

Baca Juga : ITN Malang dan GKJW Jalin Kemitraan Strategis untuk Digitalisasi dan Pengembangan SDM

“Desain para finalis sebenarnya rata bagusnya. Saya selalu berpesan, khususnya untuk mahasiswa Arsitektur, perbanyaklah mengikuti sayembara untuk mengasah mental dan kreativitas,” pungkas Amar. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)




Nippon Paint sosialisasikan AYDA Awards 2026 di Prodi Arsitektur S-1 ITN Malang.

Nippon Paint Ajak Mahasiswa Arsitektur ITN Malang Unjuk Gigi di AYDA Awards 2026

Nippon Paint sosialisasikan AYDA Awards 2026 di Prodi Arsitektur S-1 ITN Malang. (Foto: Mita/Humas ITN Malang)


Malang, ITN.AC.ID – Pernah menyabet posisi tiga besar nasional melawan kampus-kampus ternama seperti UGM tentu bukan prestasi kaleng-kaleng. Kenangan manis itulah yang ingin diulang kembali oleh Prodi Arsitektur S-1, Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) lewat sosialisasi AYDA Awards (Asia Young Designer Awards) 2026 bersama Nippon Paint, yang digelar di Studio 4A, Gedung FTSP, Selasa (07/04/2026).

“Kita ini kampus swasta dari Jawa Timur, tapi waktu itu bisa tembus 5 besar bahkan juara 3 nasional bersaing dengan UGM. Jadi, jangan kecil hati. Buktikan kalau kalian bisa!” seru Sekprodi Arsitektur S-1, ITN Malang, Hamka, ST., MT., di depan para mahasiswa yang hadir.

Hamka menekankan bahwa kompetisi ini tidak harus dimulai dari nol. Mahasiswa yang sedang menggarap tugas akhir atau studio Perancangan Arsitektur (PA) 5 bisa mengikutsertakan karyanya, asalkan substansinya disesuaikan dengan TOR (Term of Reference) yang diminta.

Baca Juga : Nata Karya 6.0 ITN Malang, Eksplorasi Arsitektur dari Akulturasi Budaya hingga Instalasi Jam Pasir Futuristik

Tahun ini, AYDA Awards mengangkat tema: “Converge: Embracing Hyperlocal”. Menurut Assistant Marketing Manager Nippon Paint, Alun Citra Sari Hutoyo, tema ini menantang desainer muda untuk kembali ke akar, dengan menonjolkan kekhasan daerah, memakai material lokal, hingga mengangkat teknik bangunan tradisional tanpa meninggalkan sentuhan desain modern yang inovatif.

“AYDA bukan sekadar kompetisi desain. Ini adalah jembatan buat kalian untuk membangun networking dengan para profesional dan mahasiswa arsitektur dari berbagai daerah, bahkan berbagai negara (bila memang tingkat nasional),” jelas Alun.

Mahasiswa Arsitektur S-1 ITN Malang antusias bertanya seputar AYDA Awards 2026Mahasiswa Arsitektur S-1 ITN Malang antusias bertanya seputar AYDA Awards 2026. (Foto: Mita/Humas ITN Malang)

Alur kompetisinya pun dibuat sangat suportif. Setelah karya terkumpul, para pemilik Top Ten akan diminta membuat video konsep. Dari sana disaring lagi menjadi 5 finalis yang akan diterbangkan ke Jakarta. Menariknya, di Jakarta mereka tidak langsung bertanding, tapi justru dipertemukan dengan para juri ahli untuk mendapatkan masukan langsung.

“Setelah dari Jakarta, finalis punya waktu memperbaiki karyanya sebelum masuk ke babak final. Disana juga ada sesi pelatihan langsung dari para expert,” tambah Alun.

Baca Juga : Bukan Sekedar Estetika, Arsitek Harus Paham Material: Serunya Platinum Ceramics Goes to Campus di ITN Malang

Selain memperebutkan posisi Top 3, keuntungan ikut ajang ini juga sangat terasa untuk personal branding. Karya peserta bakal dipublikasikan di media sosial secara luas, dan jika tembus ke level internasional peserta punya kesempatan langka untuk bertemu serta berdiskusi dengan sesama arsitek muda dan profesional dari berbagai belahan dunia. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)




Makin kompak. Himpunan Mahasiswa Arsitektur ITN Malang usai membagikan takjil di Kawasan Mulyoagung, Dau.

Mandat Kompak HMA ITN Malang: Dari Bagi-Bagi Takjil di Jalan Hingga Bukber Lintas Angkatan

Makin kompak. Himpunan Mahasiswa Arsitektur ITN Malang usai membagikan takjil di Kawasan Mulyoagung, Dau. (Foto: Istimewa)


Malang, ITN.AC.ID – Kesegaran es buah racikan mahasiswa Arsitektur seketika mencairkan suasana di sekitar kawasan Waroeng Tani, Mulyoagung, Dau, Malang, Jumat sore (13/3/2026). Di tengah hiruk-pikuk lalu lintas jelang berbuka, sekitar 10 mahasiswa dari Himpunan Mahasiswa Arsitektur (HMA), Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) tampak sigap membagikan paket takjil kepada para pengguna jalan.

Kegiatan bertajuk “HMA Berbagi” ini memang sengaja memilih menu es buah yang isinya lengkap. Mulai dari melon, semangka, nanas, jelly, hingga nata de coco, karena rasanya yang segar paling pas untuk membatalkan puasa setelah seharian menahan dahaga. Sebanyak 125 cup takjil yang dibeli dari hasil donasi kolektif mahasiswa dan dosen ini ludes hanya dalam waktu 30 menit.

Baca Juga : PSHT ITN Malang Bersama Puluhan Pendekar PSHT Malang Raya Turun ke Jalan Berbagi Takjil

Yuni Purwatiningsih, ketua pelaksana menceritakan bahwa persiapan berbagi takjil tahun ini terasa lebih matang. “Tahun lalu takjilnya masih sedikit dan cuacanya kurang mendukung. Alhamdulillah tahun ini jumlahnya lebih banyak dan cuacanya cerah, jadi semuanya berjalan jauh lebih lancar,” ungkap mahasiswa semester 6 ini.

Proses pembagian yang berlangsung singkat itu menyisipkan banyak cerita hangat. Ada interaksi manis saat mahasiswa menyapa warga dengan ramah. Reaksi masyarakat pun sangat positif, bukan sekadar menerima pemberian, banyak dari mereka yang berhenti sejenak untuk memberikan doa dan ucapan terima kasih kepada anak-anak muda ini. Antusiasme warga sempat membuat arus lalu lintas sedikit padat, namun semangat kerja sama tim membuat segalanya tetap terkendali.

Pemilihan lokasi di dekat Waroeng Tani juga bukan tanpa alasan. Lokasi ini dipilih agar setelah aksi berbagi selesai, para mahasiswa bisa langsung berkumpul untuk buka puasa bersama tanpa harus bolak-balik berpindah tempat.

Himpunan Mahasiswa Arsitektur ITN Malang membagikan takjil di kawasan Mulyoagung Dau MalangHimpunan Mahasiswa Arsitektur ITN Malang membagikan takjil di kawasan Mulyoagung Dau Malang. (Foto: Istimewa)

Setelah aksi bagi takjil usai, acara berlanjut ke sesi internal di Waroeng Tani. M. Wahyu Arif Hidayat menuturkan, momen buka bersama ini menjadi wadah penting untuk mempererat tali silaturahmi antar angkatan mahasiswa Arsitektur.

“Kami ingin menjaga hubungan sosial dan meningkatkan rasa kebersamaan di bulan yang penuh berkah ini. Harapannya, mahasiswa Arsitektur bisa makin kompak ke depannya,” ujar Wahyu.

Baca Juga : Bukan Sekedar Estetika, Arsitek Harus Paham Material: Serunya Platinum Ceramics Goes to Campus di ITN Malang

Kegiatan rutin tahunan ini tidak hanya sekadar membagi makanan, tapi juga menjadi cara HMA ITN Malang untuk mengasah kepekaan sosial sekaligus memperkuat solidaritas di internal himpunan. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)




Kaprodi Arsitektur S-1 ITN Malang, Ir. Gaguk Sukowiyono, MT., saat membuka acara Platinum Ceramics Goes to Campus di ITN Malang

Bukan Sekedar Estetika, Arsitek Harus Paham Material: Serunya Platinum Ceramics Goes to Campus di ITN Malang

Kaprodi Arsitektur S-1 ITN Malang, Ir. Gaguk Sukowiyono, MT., saat membuka acara Platinum Ceramics Goes to Campus di ITN Malang. (Foto: Yanuar/Humas ITN Malang)


Malang, ITN.AC.ID – Menjadi arsitek ternyata bukan hanya soal jago menggambar atau membuat desain yang estetik. Ada realita lapangan yang jauh lebih kompleks, mulai dari urusan beban vertikal lantai sampai urusan “berdamai” dengan tukang bangunan. Pesan kuat itulah yang dibawa dalam acara Platinum Ceramics Goes to Campus yang digelar di Studio Arsitektur Lantai 4, Gedung Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP), Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang), Selasa (10/03/2026).

Mengusung tema “Designed to Align”, puluhan mahasiswa arsitektur lintas angkatan berkumpul untuk mendengarkan rahasia industri yang jarang tersentuh di bangku kuliah. Bersama narasumber dari Platinum Ceramics, dan alumni Arsitektur ITN Malang.

Jembatan Teori Kampus dan Realita Industri

Kaprodi Arsitektur S-1 ITN Malang, Ir. Gaguk Sukowiyono, MT., memberikan sentilan menarik saat membuka acara. Menurutnya, pemahaman material adalah harga mati bagi calon arsitek. “Mungkin buat kalian ini hanya sekedar keramik. Tapi kalau salah pilih material, pembangunannya pasti bermasalah. Sederhananya begini, ada keramik dinding motifnya bagus, tapi malah kalian pakai buat lantai. Padahal lantai ada beban vertikalnya. Akhirnya? Rusak. Jangan cuma kejar indahnya saja,” tegas Gaguk.

Baca Juga : “Perzpective” di ITN Malang: Kupas Rumah Sehat & Material Arsitektur Berkelanjutan

Hal senada disampaikan Ahmad Muzaki dari pihak Platinum Ceramics. Ia menekankan bahwa material adalah “nyawa” yang membuat bangunan terasa berbeda. Melalui program ini, PT Platinum Ceramics Industry ingin menjembatani jarak antara dunia akademik dan realita industri.

Ahmad Muzaki dari Platinum Ceramics memberi wawasan kepada mahasiswa terkait material keramik (2)Ahmad Muzaki dari Platinum Ceramics memberi wawasan kepada mahasiswa terkait material keramik. (Foto: Yanuar/Humas ITN Malang)

Zaki akrab disapa menjelaskan, agenda ini memiliki misi khusus, yakni memberikan edukasi mengenai perkembangan teknologi keramik, menjembatani dunia akademik dengan industri, serta mendorong kreativitas mahasiswa dalam mengeksplorasi ide penggunaan material.

“Keunggulan Platinum diproduksi dengan standar SNI dan EN sehingga kualitas dan ketahanan terjamin.

Selebihnya di teknologi modern dan desain bervariatif,” katanya. Mahasiswa juga diperkenalkan dengan teknologi terbaru seperti superstop technology dan rectified edges yang menjamin presisi potongan tepi keramik.

Ia pun menaruh harapan besar agar mahasiswa mendapatkan wawasan baru sehingga mampu memahami material yang tepat untuk desain mereka. Dengan begitu, akan terbentuk calon profesional arsitektur yang paham betul gambaran kebutuhan dunia kerja, terutama soal material bangunan.

Platinum Goes to Campus ini harapannya bisa menjadi wadah teman-teman belajar hal yang tidak didapat waktu di universitas. Tentunya dengan menghadirkan praktisi atau profesional di bidang arsitektur/interior,” tambahnya.

Mendesain dengan Empati dan Solusi Lapangan

Suasana semakin hangat saat Ar. Akhmad Fatah Yasin, IAI, alumnus Arsitektur ITN Malang angkatan 1998 menyapa mahasiswa. Sosok yang akrab disapa Afis ini sekarang sukses mengelola biro “Imajiner Arsitek” di Kota Batu.

Baca Juga : Siapkan Mahasiswa Hadapi Mata Kuliah Baru, Informatika ITN Malang Gelar Kuliah Tamu Artificial Intelligence

Menariknya, Afis mengaku dulunya tidak punya cita-cita jadi arsitek. Namun, perjalanan membawanya jatuh cinta pada dunia ini hingga aktif mengikuti berbagai sayembara desain untuk mengukur kemampuan diri. Ia juga menceritakan bagaimana ia membangun studionya sendiri dengan konsep open house menggunakan bahan-bahan bekas yang murah namun tetap fungsional.

“Arsitektur itu penyelarasan antara ide, material, dan pembangunan. Masalah yang sering muncul di lapangan adalah ketika gambar tidak bisa dilaksanakan karena material berubah atau biaya terbatas. Di situlah arsitek harus putar otak jadi problem solver,” ujar Afis.

Ia juga berpesan agar mahasiswa tidak hanya “jago kandang” di depan software. “Sering-sering main ke proyek, belajar dari tukang. Jangan malu, meskipun mereka tidak sekolah tinggi, pengalaman lapangan mereka luar biasa. Mendesainlah dengan empati,” tambahnya.

Bagi mahasiswa, kegiatan ini seperti mendapat “suplemen” ilmu tambahan. Asrah Ardiansyah, mahasiswa semester IV, mengaku sangat terinspirasi. “Kami jadi punya gambaran nyata dunia kerja dari senior sekaligus tahu update material dari vendor langsung. Ini wawasan yang tidak kami dapat di kelas,” ungkapnya.

Selain edukasi, Platinum juga menantang kreativitas mahasiswa melalui Platinum Architectural Design Competition yang tahun ini memasuki tahun keempat.

Acara ditutup dengan harapan agar kolaborasi antara kampus dan praktisi seperti ini terus berlanjut. Sebab, arsitektur yang baik bukan hanya yang selaras dengan ide, tapi juga selaras dengan alam, budaya masyarakat, dan tentu saja, teknis di lapangan. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)

Ar. Akhmad Fatah Yasin, IAI, alumnus Arsitektur ITN Malang angkatan 1998 memberikan motivasi kepada mahasiswa.Ar. Akhmad Fatah Yasin, IAI, alumnus Arsitektur ITN Malang angkatan 1998 memberikan motivasi kepada mahasiswa. (Foto: Yanuar/Humas ITN Malang)