Yudisium FTSP ITN Malang Periode II Tahun 2026 para peserta mengenakan pakaian adat

Bukan Hanya Rayakan Kelulusan, Peserta Yudisium FTSP ITN Malang Tampil Unik Pakai Baju Adat dari Papua hingga Dayak

Yudisium FTSP ITN Malang Periode II Tahun 2026 para peserta mengenakan pakaian adat. (Foto: Humas ITN Malang)


Malang, ITN.AC.ID – Suasana Aula Kampus 1 Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) Sabtu (22/08/2026) terasa beda dari biasanya. Tidak hanya diwarnai rona bahagia para calon wisudawan, Yudisium Periode II Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) ITN Malang ini justru tampak semarak layaknya parade budaya. Sebanyak 221 lulusan hadir mengenakan beragam pakaian adat nusantara dari daerah asalnya masing-masing.

Penggunaan busana daerah ini bukan sekadar gaya-gayaan. Momen ini menjadi simbol melepas para lulusan untuk kembali ke daerah asal atau melangkah ke dunia kerja setelah menimba ilmu di kampus teknik ternama di Kota Malang ini.

Dekan FTSP ITN Malang, Dr. Debby Budi Susanti, ST., MT., mengungkapkan, tradisi mengenakan pakaian adat ini punya makna emosional tersendiri. Setiap mahasiswa baru saat diterima di kampus melalui Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB), selalu disambut dengan nuansa keberagaman. Kini saat lulus, mereka dilepas kembali dengan semangat yang sama.

“Kalian yudisium saat ini memakai pakaian adat, saat masuk PKKMB dulu juga memakai pakaian adat. Ini untuk mengenalkan dari mana asal daerah kalian. Hari ini, kami melepas kalian kembali ke daerah asal masing-masing,” tutur Debby di hadapan para peserta yudisium.

Dekan FTSP ITN Malang, Dr. Debby Budi Susanti, ST., MT., saat memberikan sambutan pada Yudisium FTSP ITN Malang

Dekan FTSP ITN Malang, Dr. Debby Budi Susanti, ST., MT., saat memberikan sambutan pada Yudisium FTSP ITN Malang. (Foto: Humas ITN Malang)

Gelaran yudisium kali ini sengaja dilaksanakan lebih awal dari jadwal. Langkah ini diambil pihak fakultas agar para lulusan punya waktu jeda untuk mudik dan membagikan kabar bahagia secara langsung kepada keluarga di kampung halaman sebelum prosesi wisuda pertengahan September 2026 mendatang.

Meski demikian, Dekan mengingatkan agar para mahasiswa tidak terlena dan tetap menyelesaikan seluruh administrasi kampus.

“Kita laksanakan yudisium hari ini lebih awal untuk memberi kalian kesempatan bisa pulang (mudik) sebelum wisuda. Menyampaikan ke keluarga bahwa kalian sudah lulus. Tapi jangan lupa diselesaikan dulu semua kewajiban akademik dan laporan-laporannya, sehingga setelah wisuda kalian bisa pulang bersama orang tua membawa ijazah. Walaupun sudah wisuda, kalau ada yang belum beres maka belum bisa pulang membawa ijazah,” tegasnya.

Baca juga: Tim Debat Mahasiswa Arsitektur ITN Malang Juara 3 Lomba Debat Malang Architecture Week (MAW) 2024

Ia menambahkan, bagi mahasiswa yang sudah menyelesaikan seluruh berkas dan kewajiban laporan, Surat Keterangan Lulus (SKL) sudah bisa diambil mulai minggu depan. Debby juga menekankan pentingnya menjaga nama baik almamater serta kontribusi nyata lulusan di masyarakat. Sebagai kampus yang berfokus pada keberdampakan publik, ilmu yang didapat di bangku kuliah merupakan bekal awal untuk menjawab tantangan dunia kerja yang dinamis.

“Setelah ini kita bukan berpisah, tapi tetap menjadi keluarga besar ITN Malang. Dimanapun kalian berkarya, tolong jaga nama baik almamater. Di sini kalian sudah dibekali oleh bapak ibu dosen, ilmu-ilmu yang kalian dapat menjadi dasar. Namun ilmu yang Anda dapat belum ada apa-apanya dibanding nanti di lapangan”, serunya.

Debby juga mengingatkan lulusan untuk mengisi tracer study, karena ini penting untuk membantu akreditasi prodi masing-masing. “Kalau kalian melamar kerja, instansi atau perusahaan pasti menanyakan lulusan dari kampus mana, prodi apa, dan bagaimana akreditasinya,” imbuhnya.

Luluskan 221 Mahasiswa, Arsitektur Cetak Lulusan Terbaik Fakultas

Pada periode ini, FTSP ITN Malang meluluskan sebanyak 221 mahasiswa yang tersebar di lima program studi S-1, yaitu: Teknik Sipil 84 lulusan, Arsitektur 41 lulusan, Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) 48 lulusan, Teknik Geodesi 35 lulusan, dan Teknik Lingkungan 13 lulusan. Predikat Lulusan Terbaik Fakultas sekaligus Terbaik Prodi Arsitektur diraih oleh Muchammad Alif Romdhoni dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3.94.

Mahasiswa yang akrab disapa Doni ini mengaku bersyukur atas pencapaian tersebut. Meski begitu, ia menyikapi raihan ini dengan tenang karena baginya proses kerja keras jauh lebih penting daripada sekadar angka di atas kertas.

Baca juga: Kolaborasi Manis Sipil-Arsitektur ITN Malang, Sabet Juara 2 di Undip Berkat Desain Hunian Darurat Multifungsi

“Sebetulnya saya tidak terlalu euforia karena selama ini kerja keras sudah terbayar. Kembali ke kinerja ya, nilai bukan suatu hal yang saya buru. Tapi betul-betul semua saya maksimalkan, nilai itu hanya angka yang dihasilkan di akhir,” ungkap Doni.

Saat ditanya rahasia manajemen waktunya selama berstatus mahasiswa, Doni membeberkan prinsip hidup yang selalu ia pegang teguh. “Cara membagi waktu ketika di perkuliahan, saya mematok motivasi tidak boleh setengah-setengah. 100 persen kuliah ya kuliah, ketika di pekerjaan juga harus 100 persen,” jelasnya.

Muchammad Alif Romdhoni lulusan terbaik FTSP ITN Malang sekaligus Terbaik Prodi Arsitektur S-1, dengan IPK 3.94 mendapat apresiasi dari Dekan FTSP.Muchammad Alif Romdhoni lulusan terbaik FTSP ITN Malang sekaligus Terbaik Prodi Arsitektur S-1, dengan IPK 3.94 mendapat apresiasi dari Dekan FTSP. (Foto: Humas ITN Malang)

Selain Doni, FTSP ITN Malang juga mengumumkan deretan wisudawan terbaik dari masing-masing program studi, antara lain:

  • Khoyru Nisya Salsabila Putri, Teknik Sipil – IPK: 3,81
  • Athikah Nadia Nur Baiti, Teknik Lingkungan – IPK: 3,59
  • Stabita Ashabul Millah, Perencanaan Wilayah dan Kota – IPK: 3.68
  • Sungsang Bagus Nugroho, Teknik Geodesi – IPK: 3.75

Ajang Busana Adat Terbaik: Dari Suku Biak Papua hingga Dayak Bahau

Guna menambah keseruan, pihak fakultas juga memberikan apresiasi khusus bagi lulusan dengan penampilan pakaian adat terbaik. Kategori pakaian adat putri terbaik dimenangkan oleh Ananda Puspita dari Teknik Geodesi. Ia tampil mempesona mengusung kebudayaan Suku Biak dari Papua, lengkap dengan hiasan kepala berbulu khas, penutup dada tradisional, serta riasan wajah etnik yang menarik perhatian.

Sementara itu, penghargaan busana adat pria terbaik jatuh kepada Fransisko Edwin Sanjaya G., dari PWK. Mahasiswa asal Kabupaten Mahakam Ulu ini tampil gagah mengenakan pakaian adat Suku Dayak Bahau.

“Saya membawanya langsung dari rumah. Karena waktu pengenalan mahasiswa baru dulu dilaksanakan secara online, jadi baru bisa saya pakai saat yudisium ini. Sangat senang saat yudisium memakai pakaian adat, bisa untuk mengenalkan daerah asal masing-masing. Ini juga bentuk melestarikan dan wujud kecintaan kami kepada pakaian adat daerah,” tutur Edwin dengan dengan bangga. (Mita/Humas ITN Malang)




Pengabdian Masyarakat Dppm 2026 ITN Malang Penguatan Keberlanjutan Wisata Aeng

Penguatan Keberlanjutan Wisata Aeng melalui Integrasi Filtrasi Air Sungai untuk MCK dengan Energi Terbarukan Panel Surya dan Manajemen Digitalisasi Promosi

Pengabdian Masyarakat Dppm 2026 ITN Malang Penguatan Keberlanjutan Wisata Aeng. (Foto: Istimewa)


Malang, ITN.AC.ID – Masalah pasokan air bersih yang sering tersendat akibat pemadaman listrik, dan promosi wisata yang belum konsisten kini bukan lagi penghalang bagi pengelola Wisata Aeng Hamid Rusdi, Kelurahan Wonokoyo, Kedungkandang, Kota Malang, Jawa Timur. Tim pengabdian masyarakat dari Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) hadir membawa terobosan Teknologi Tepat Guna (TTG) berupa instalasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang terintegrasi dengan filtrasi air sungai, dan manajemen promosi digital menggunakan aplikasi Buffer.

Langkah kolaboratif ini menjadi bukti nyata komitmen kampus berdampak dalam mendampingi masyarakat lokal, meningkatkan kualitas sanitasi, serta memacu pertumbuhan ekonomi UMKM sekitar kawasan wisata. Program ini sendiri merupakan hibah tahun kedua yang merupakan wujud keberlanjutan dari kegiatan pengabdian pada tahun 2025 lalu. Jika pada kegiatan tahun 2025 tim ITN Malang fokus membuat sistem filtrasi air sungai untuk kebutuhan MCK serta digitalisasi promosi dasar melalui pembuatan konten media sosial, maka pada tahun 2026 ini program ditingkatkan ke tahap penguatan.
Ketua Tim Pengabdian Masyarakat ITN Malang, Deddy Rudhistiar, S.Kom., M.Cs., mengungkapkan bahwa inovasi yang dihadirkan berangkat langsung dari kebutuhan mitra pengelola.
“Kawasan Wisata Aeng Hamid Rusdi ini punya potensi besar, tapi persoalan mendasar seperti ketersediaan air bersih untuk fasilitas MCK sering terganggu ketika ada pemadaman listrik. Melalui integrasi panel surya dan sistem monitoring berbasis web, kami ingin memastikan kebutuhan air bersih tetap terjamin secara mandiri, stabil, dan ramah lingkungan,” ujar Deddy saat dihubungi lewat sambungan WhatsApp, Rabu (19/08/2026).
Ia menambahkan, penguatan fasilitas fisik tersebut juga diimbangi dengan pembenahan tata kelola promosi. “Bila tahun lalu digitalisasi masih sebatas pembuatan konten di media sosial, di tahun kedua ini kami tingkatkan ke manajemen konten terstruktur, termasuk menjadwalkan pembuatan dan publikasi konten secara teratur,” lanjut dosen S-1 Teknik Informatika ITN Malang tersebut.

Momen penyerahan cendera mata dari Ketua Tim Abdimas ITN Malang, Deddy Rudhistiar, kepada Lurah Wonokoyo, Bagus Vavan Setiawan di balai kelurahanMomen penyerahan cendera mata dari Ketua Tim Abdimas ITN Malang, Deddy Rudhistiar, kepada Lurah Wonokoyo, Bagus Vavan Setiawan di balai kelurahan. (Foto: Istimewa)

Menurut Deddy, pada program tahun kemarin sistem filtrasi air Sungai Wonokoyo untuk fasilitas MCK masih bergantung pada listrik PLN, sehingga saat pemadaman listrik pasokan air hanya mampu menyuplai air bersih berkisar 400–500 liter per hari (sekitar 40–50% dari kebutuhan ideal) dan pelayanan sanitasi berada di angka 65%. Kini, melalui keberlanjutan program di tahun 2026, sistem filtrasi telah beralih menggunakan pasokan energi terbarukan berupa PLTS terintegrasi yang dilengkapi modul surya 360 Wp, MPPT, baterai, serta pompa DC. Sistem kini sanggup mengisi tandon berkapasitas 1.050 liter hanya dalam waktu 4 jam secara mandiri. Pasokan air bersih pun meningkat stabil hingga 1.000 liter per hari, sehingga proyeksi tingkat kelayakan sanitasi dan kesehatan kawasan melonjak hingga 90%.

Baca Juga : Revitalisasi Wisata Aeng Hamid Rusdi, ITN Malang Bangun Sistem Filtrasi Air Sungai dan Digitalisasi Promosi

Sistem energi bersih ini disempurnakan dengan website monitoring berbasis Laravel buatan tim ITN Malang yang memungkinkan pengelola memantau tegangan, arus, daya, dan riwayat pemakaian energi secara real time. Di sisi manajemen, tim ITN Malang mengenalkan aplikasi Buffer untuk menyusun kalender konten, mengatur tema, serta menjadwalkan publikasi media sosial. Dampaknya sangat signifikan, di mana hasil evaluasi menunjukkan tingkat pemahaman dan keterampilan Pokdarwis dalam mengelola promosi digital melonjak tajam dari baseline awal 52,12% menjadi 90,30%.

Secara terpisah, Lurah Wonokoyo, Bagus Vavan Setiawan, ST., MM., memberikan apresiasi atas kontribusi nyata akademisi ITN Malang bagi wilayahnya. “Kehadiran tim ITN Malang sangat membantu kami. Masalah air di fasilitas umum yang dulunya sering dikeluhkan pengunjung kini sudah ada solusinya dengan tenaga surya. Ditambah lagi, pemuda Pokdarwis sekarang makin mahir mengemas konten promosi digital, sehingga Wisata Aeng bisa lebih dikenal masyarakat luas,” ungkap Bagus.

Baca Juga : Solusi Praktis Efisiensi Air, Tim Abdimas ITN Malang Pasang Irigasi Sprinkler Otomatis di SMKN 1 Singosari

Senada dengan Lurah Wonokoyo, Ketua Pokdarwis Kelurahan Wonokoyo, Fajar Isnaini, juga merasa bersyukur atas pendampingan berkelanjutan dari akademisi dan mahasiswa kampus teknik terkemuka di Kota Malang ini. “Dulu kalau listrik mati, pompa mati, air MCK langsung habis dan kami bingung. Sekarang dengan adanya PLTS dan tandon yang selalu terisi, operasional jadi jauh lebih lancar. Pelatihan promosi digitalnya juga praktis, kami jadi tahu cara menjadwalkan konten Instagram dan website tanpa repot,” tutur Fajar.

Tim mahasiswa ITN Malang tengah merangkai instalasi kelistrikan PLTS di atap bangunan lokasi pengabdian masyarakat Kelurahan Wonokoyo

Tim mahasiswa ITN Malang tengah merangkai instalasi kelistrikan PLTS di atap bangunan lokasi pengabdian masyarakat Kelurahan Wonokoyo. (Foto: Istimewa)

Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan oleh tim multidisiplin yang terdiri dari tiga dosen, yakni Deddy Rudhistiar, S.Kom., M.Cs. (Teknik Informatika S-1), Ir. Deviany Kartika, MT (Teknik Sipil S-1), dan Emmalia Adriantantri, ST., MM. (Bisnis Digital S-1), serta dibantu oleh 5 mahasiswa lintas prodi (Rifki Andhika, Moch. Huda, Aldo Eka Pratama Putra, Shabrina Dwiputri, dan Arliza Nurazizah) yang turut mendapatkan rekognisi SKS.

Sebagai informasi, program pengabdian ini terselenggara berkat dukungan pendanaan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat Tahun Pendanaan 2026. (Mita/Humas ITN Malang)




Dosen PWK ITN Malang Dr. Ir. Ardiyanto Maksimilianus Gai, ST., M.Si., MM., bersama keluarga setelah meraih gelar doktor dari IPB University

Kembangkan Model Spasial Dinamis untuk Penanggulangan Kemiskinan Multidimensi, Dosen PWK ITN Malang Ardiyanto Maksimilianus Gai Raih Doktor dari IPB University

Dosen PWK ITN Malang Dr. Ir. Ardiyanto Maksimilianus Gai, ST., M.Si., MM., bersama keluarga setelah meraih gelar doktor dari IPB University. (Foto: Istimewa)


Malang, ITN.AC.ID – Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) S-1, Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) resmi menambah tenaga pengajar bergelar doktor. Dr. Ir. Ardiyanto Maksimilianus Gai, ST., M.Si., MM., berhasil menyelesaikan studi doktor pada bidang Ilmu Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Perdesaan di IPB University.

Dalam menyelesaikan studi doktornya, Ardiyanto dibimbing oleh tim promotor yang terdiri atas Prof. Dr. Ir. Ernan Rustiadi, M.Agr., pakar Ilmu Perencanaan Pembangunan Wilayah; Prof. Dr. Ir. Baba Barus, M.Sc., pakar Penginderaan Jauh dan Informasi Spasial; serta Prof. Dr. Akhmad Fauzi, M.Sc., pakar Pemodelan Ekonomi Sumber Daya dan Lingkungan.

Dosen ITN Malang Dr. Ir. Ardiyanto Maksimilianus Gai, ST., M.Si., MM., saat menjalani sidang terbuka di IPB University.

Dosen ITN Malang Dr. Ir. Ardiyanto Maksimilianus Gai, ST., M.Si., MM., saat menjalani sidang terbuka di IPB University. (Foto: Istimewa)

Pria kelahiran Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) ini mengangkat persoalan kemiskinan yang hingga kini masih menjadi tantangan pembangunan nasional maupun wilayah, khususnya di tanah kelahirannya. Kabupaten Manggarai Barat dipilih sebagai lokus penelitian dengan mempertimbangkan dinamika pembangunan wilayah yang berlangsung pesat, terutama setelah Labuan Bajo ditetapkan sebagai salah satu Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP).

Menurut Ardiyanto, pembangunan dan pertumbuhan aktivitas ekonomi di Labuan Bajo telah membawa perubahan bagi wilayah. Namun, manfaat pembangunan tersebut belum sepenuhnya menjawab persoalan kemiskinan secara signifikan dan merata.

“Perubahan yang terjadi di Labuan Bajo tentu memberikan dampak. Namun, dalam konteks penanggulangan kemiskinan, dampaknya belum sepenuhnya signifikan dan merata. Kondisi inilah yang mendorong saya untuk melihat persoalan kemiskinan secara lebih mendalam, bukan hanya dari sisi pendapatan, tetapi juga dari berbagai dimensi kehidupan dan karakteristik wilayah,” ungkap Ardiyanto saat ditemui di Kampus 1 ITN Malang, Rabu (11/08/2026).

Melihat Kemiskinan dari Perspektif Multidimensi dan Spasial

Menurut Ardiyanto, salah satu tantangan dalam penanggulangan kemiskinan adalah kecenderungan melihat kemiskinan secara umum dan menerapkan intervensi kebijakan yang relatif seragam. Padahal, faktor penyebab kemiskinan dapat berbeda antara satu wilayah dengan wilayah lainnya.

Kemiskinan, lanjutnya, tidak semata-mata berkaitan dengan aspek finansial. Kondisi tersebut juga dipengaruhi berbagai dimensi kehidupan masyarakat, seperti kualitas sumber daya manusia, kondisi sosial, sumber daya alam, infrastruktur dan aksesibilitas, serta kemampuan finansial rumah tangga, dan masyarakat.

“Selama ini kemiskinan seringkali dilihat terutama dari perspektif finansial. Padahal, kondisi finansial berkaitan dengan berbagai faktor lain yang membentuk kemiskinan multidimensi. Sudah banyak penelitian mengenai kemiskinan multidimensi, tetapi masih diperlukan pendekatan yang mampu menghubungkan faktor-faktor penyebab kemiskinan dengan karakteristik wilayah, ruang, dan heterogenitas spasialnya,” papar alumni PWK ITN Malang angkatan 2006 tersebut.

Menurutnya, desa-desa yang sama-sama menghadapi persoalan kemiskinan belum tentu memiliki akar permasalahan yang sama. Karakteristik wilayah, potensi sumber daya, aksesibilitas, kualitas sumber daya manusia, kondisi sosial, hingga keterkaitan dengan wilayah disekitarnya dapat membentuk determinan kemiskinan yang berbeda.

Baca juga: Kutai Barat Gandeng ITN Malang Petakan Kawasan Linggang Bigung, Targetkan Tata Ruang Presisi

“Pertanyaan mendasarnya adalah, apakah dua desa yang sama-sama miskin disebabkan oleh faktor yang sama? Belum tentu. Karakteristik wilayah dan determinan kemiskinannya dapat berbeda. Bahkan, kondisi suatu desa dapat memiliki keterkaitan dengan desa di sekitarnya. Karena itu, kebijakan penanggulangan kemiskinan tidak semestinya menggunakan pendekatan one-size-fits-all,” tegasnya.

Berangkat dari persoalan tersebut, Ardiyanto melalui disertasinya yang berjudul *“Model Strategi Sustainable Rural Livelihood Approach dalam Penanggulangan Kemiskinan di Kabupaten Manggarai Barat”* mengembangkan pendekatan yang mengintegrasikan dimensi penghidupan masyarakat, karakteristik spasial wilayah, dan pemodelan dinamis.

Lima modal penghidupan dalam kerangka Sustainable Livelihood Approach yang menjadi perhatian meliputi human capital, social capital, natural capital, physical capital, dan financial capital. Kelima modal tersebut dianalisis dengan mempertimbangkan karakteristik dan heterogenitas spasial wilayah untuk memahami faktor-faktor yang mempengaruhi kemiskinan pada tingkat desa.

Dosen ITN Malang Dr. Ir. Ardiyanto Maksimilianus Gai, ST., M.Si., MM., bersama Rektor ITN Malang dan isteri

Dosen ITN Malang Dr. Ir. Ardiyanto Maksimilianus Gai, ST., M.Si., MM., bersama Rektor ITN Malang dan isteri. (Foto: Istimewa)

Pendekatan tersebut selanjutnya dikembangkan melalui pemodelan System Dynamics untuk melihat hubungan antara faktor sekaligus mensimulasikan berbagai alternatif intervensi kebijakan. Dengan pendekatan ini, strategi penanggulangan kemiskinan dapat dirancang secara lebih adaptif berdasarkan karakteristik wilayah dan determinan kemiskinan masing-masing desa.

Lahirkan SURULIA GAI Poverty Alleviation Model

Riset tersebut kemudian melahirkan SURULIA GAI Poverty Alleviation Model (Model SURULIA GAI), sebuah model penanggulangan kemiskinan yang dirancang untuk mendukung penyusunan strategi kebijakan yang adaptif, inklusif, dan berbasis karakteristik wilayah.

“Model ini oleh tim promotor direkomendasikan untuk diberi nama SURULIA GAI Model. Model berbasis System Dynamics ini dikembangkan untuk merumuskan strategi penanggulangan kemiskinan yang adaptif dan inklusif dengan mempertimbangkan variasi karakteristik serta faktor penyebab kemiskinan di setiap desa,” terangnya.

Kebaruan penelitian ini terletak pada integrasi pendekatan penghidupan berkelanjutan, karakteristik dan heterogenitas spasial wilayah, serta pemodelan System Dynamics untuk merumuskan strategi penanggulangan kemiskinan yang sesuai dengan determinan kemiskinan pada masing-masing wilayah.

Model tersebut tidak berhenti pada upaya mengidentifikasi wilayah yang menghadapi kemiskinan, tetapi diarahkan untuk menjawab pertanyaan yang lebih mendasar: Mengapa suatu wilayah mengalami kemiskinan, faktor apa yang dominan mempengaruhinya, bagaimana keterkaitan spasial antar wilayah berperan, serta intervensi apa yang berpotensi memberikan dampak paling efektif.

Melalui simulasi System Dynamics, berbagai skenario intervensi dapat diuji sebelum diterapkan menjadi kebijakan. Pemerintah daerah dapat membandingkan kemungkinan dampak dari setiap skenario sekaligus menentukan prioritas intervensi berdasarkan karakteristik dan faktor penyebab kemiskinan pada masing-masing wilayah.

Baca juga: ITN Malang Kembali Digandeng Hingga 2031, Pemkab Timor Tengah Selatan Fokus Garap Tata Ruang dan SDM

Dengan pendekatan tersebut, desa yang persoalan utamanya terletak pada kualitas sumber daya manusia tidak harus memperoleh strategi penanganan yang sama dengan desa yang kemiskinannya lebih banyak dipengaruhi oleh keterbatasan infrastruktur, akses terhadap sumber daya, kondisi sosial, maupun kemampuan finansial.

“Model ini diharapkan membantu pemerintah tidak hanya mengetahui lokasi dan tingkat kemiskinan, tetapi juga memahami faktor penyebabnya. Dari sana dapat disimulasikan intervensi apa yang lebih tepat, bagaimana kemungkinan dampaknya, dan strategi mana yang dapat diprioritaskan sesuai karakteristik wilayah,” jelas Kepala Lembaga Kerja Sama dan Usaha (LPKU) ITN Malang tersebut.

Diuji Wakil Gubernur NTT dan Peneliti Ahli Utama BRIN

Kebaruan dan relevansi kebijakan dari penelitian Ardiyanto turut menjadi perhatian dalam sidang ujian doktornya. Hadir sebagai penguji luar, antara lain Wakil Gubernur NTT yang juga Ketua Tim Penanggulangan Kemiskinan Daerah NTT, Irjen Pol. (P) Dr. Johni Asadoma, M.Hum., serta Peneliti Ahli Utama Bidang Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Kota Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Dr. Agr. Didit Okta Pribadi, M.Si.

Dalam persidangan, salah satu hal yang mengemuka adalah kemungkinan Model SURULIA GAI yang dikembangkan dengan studi kasus Kabupaten Manggarai Barat untuk direplikasi di wilayah lain di NTT yang memiliki karakteristik, potensi, dan persoalan kemiskinan berbeda.

“Salah satu pertanyaannya adalah apakah model yang saya kembangkan di Manggarai Barat dapat direplikasi di kabupaten lain di NTT. Jawabannya sangat memungkinkan karena kerangka modelnya bersifat adaptif. Indikator maupun bentuk intervensinya dapat disesuaikan dengan karakteristik wilayah dan faktor penyebab kemiskinan di masing-masing daerah,” jelas Ardiyanto.

Baca juga: Pemkab Mahakam Ulu Percayakan Kajian Lingkungan Hidup Strategis Dukung Penataan Ruang Long Lunuk ke ITN Malang

Kemampuan adaptasi tersebut menjadi salah satu nilai strategis Model SURULIA GAI. Model ini tidak dirancang untuk menghasilkan satu resep kebijakan yang diberlakukan sama bagi seluruh daerah, melainkan menyediakan kerangka yang dapat disesuaikan dengan kondisi dan determinan kemiskinan lokal.

Dari proses ujian tersebut juga muncul harapan agar rekomendasi yang dihasilkan tidak berhenti sebagai kajian akademik. Model dan strategi yang dikembangkan diharapkan dapat menjadi salah satu referensi bagi pemerintah daerah dalam merumuskan kebijakan penanggulangan kemiskinan yang lebih tepat sasaran, adaptif, inklusif, dan berkelanjutan.

Bagi Ardiyanto, penelitian doktoralnya sekaligus menjadi bagian dari kontribusi perguruan tinggi dalam menjawab persoalan nyata di masyarakat. Riset tidak hanya ditujukan untuk pengembangan keilmuan, tetapi juga diharapkan mampu menjembatani ilmu perencanaan wilayah dengan kebutuhan pengambilan kebijakan pembangunan.

Dosen ITN Malang Dr. Ir. Ardiyanto Maksimilianus Gai, ST., M.Si., MM., bersama Wakil Gubernur NTT, Irjen Pol. (P) Dr. Johni Asadoma, M.Hum., usai sidang promosi doktor

Dosen ITN Malang Dr. Ir. Ardiyanto Maksimilianus Gai, ST., M.Si., MM., bersama Wakil Gubernur NTT, Irjen Pol. (P) Dr. Johni Asadoma, M.Hum., usai sidang promosi doktor. (Foto: Istimewa)

Hal tersebut sejalan dengan semangat kampus berdampak yang mendorong hasil penelitian perguruan tinggi memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan pemerintah. Selain menghasilkan model yang berorientasi pada kebijakan, rangkaian penelitian disertasi Ardiyanto juga menghasilkan publikasi ilmiah pada jurnal internasional terindeks Scopus dan jurnal nasional terakreditasi Sinta 1, serta dipresentasikan dalam konferensi internasional di Singapura.

Melalui capaian doktor dan pengembangan Model SURULIA GAI, Ardiyanto berharap hasil penelitiannya dapat terus dikembangkan dan diuji pada wilayah dengan karakteristik yang lebih beragam. Dengan demikian, pendekatan penanggulangan kemiskinan tidak lagi semata-mata bertumpu pada kebijakan yang seragam, tetapi semakin mempertimbangkan siapa yang mengalami kemiskinan, apa faktor penyebabnya, di mana kemiskinan tersebut terjadi, bagaimana keterkaitan spasialnya, serta intervensi apa yang paling sesuai dengan karakteristik wilayah. (Humas ITN Malang)




Dr. Ir. Vega Aditama, ST., MT., IPM., (baju batik) bersama Ir. Hadi Surya Wibawanto Sunarwadi, ST., MT., IPP., saat acara Laporan Pendahuluan Penyusunan Dokumen HSPK dan ASB Tahun 2027 di Aula Utama Kan

Kunci Efisiensi APBD, ITN Malang dan Pemkab Lembata Petakan Standar Biaya Hingga ke Desa

Dr. Ir. Vega Aditama, ST., MT., IPM., (baju batik) bersama Ir. Hadi Surya Wibawanto Sunarwadi, ST., MT., IPP., saat acara Laporan Pendahuluan Penyusunan Dokumen HSPK dan  ASB Tahun 2027 di Aula Utama Kantor Bupati Lembata. (Foto: Istimewa)


Malang, ITN.AC.ID – Membangun proyek infrastruktur di wilayah kepulauan seperti Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), jelas memiliki tantangan tersendiri. Wilayah yang terdiri dari 9 kecamatan dan 151 desa/kelurahan ini memiliki akses geografis serta ketersediaan bahan bangunan yang berbeda-beda. Memakai satu patokan harga material atau upah untuk seluruh wilayah jelas tidak masuk akal, dan rawan memicu ketimpangan anggaran.

Melihat hal ini, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lembata menggandeng Tim Pakar Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) dari Teknik Sipil S-1 untuk menyusun dokumen Harga Satuan Pokok Kegiatan (HSPK) dan Analisis Standar Belanja (ASB) Tahun Anggaran 2027. Kolaborasi ini menjadi wujud nyata kiprah kampus dalam mendampingi tata kelola keuangan daerah berbasis data riil.

“Tantangan utamanya bukan sekadar mendapatkan daftar harga, melainkan membangun standar biaya yang objektif, terukur, adaptif, dan dapat dipertanggungjawabkan,” ujar Dr. Ir. Vega Aditama, ST., MT., IPM., saat dihubungi lewat sambungan whatsapp usai lawatannya ke Lembata dalam rangka Laporan Pendahuluan Penyusunan Dokumen HSPK dan ASB Tahun 2027 pada akhir Juli 2026 lalu, bersama Ir. Hadi Surya Wibawanto Sunarwadi, ST., MT., IPP.

Dr. Ir. Vega Aditama, ST., MT., IPM., (baju batik) saat memberikan Laporan Pendahuluan Penyusunan Dokumen HSPK dan ASB Tahun 2027 di Aula Utama Kantor Bupati Lembata
Dr. Ir. Vega Aditama, ST., MT., IPM., (baju batik) saat memberikan Laporan Pendahuluan Penyusunan Dokumen HSPK dan  ASB Tahun 2027 di Aula Utama Kantor Bupati Lembata. (Foto: Istimewa)
Fondasi Teknis & Pemetaan Geografis Berbasis Satelit

Menurut Vega, kondisi geografis Lembata menuntut pendekatan penganggaran yang tidak kaku. Selama ini, banyak pertokoan dan distributor material berada di kawasan perkotaan. Jika biaya pengangkutan ke kecamatan terpencil tidak diperhitungkan secara cermat, pembangunan di lapangan bisa mangkrak atau kualitasnya merosot.

Untuk memastikan data di lapangan benar-benar akurat, tim survei ITN Malang turun langsung ke sembilan kecamatan. Mereka tidak hanya mendatangi toko bangunan, tapi juga menyerap aspirasi distributor, kontraktor, hingga warga lokal.

Diceritakan Vega, pemantauan survei dilakukan secara real-time menggunakan teknologi pemetaan digital Google Earth. Setiap titik pengambilan data dilengkapi foto dan koordinat geotagging. Langkah ini memastikan seluruh sampel wilayah terwakili dengan bukti lokasi yang transparan dan dapat ditelusuri.

Baca juga: Mantapkan Sistem Informasi Ruang Laut, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dan ITN Malang Gelar Workshop Finalisasi Data

“Dengan dokumen ini, penyusunan RKA-SKPD tidak lagi hanya perkiraan atau kebiasaan anggaran tahun sebelumnya. Setiap usulan memiliki dasar perhitungan yang lebih seragam, transparan, dan dapat diverifikasi,” tegas Vega.

Penyusunan instrumen mengacu pada PP No. 12/2019 dan Permendagri No. 77/2020. Landasan hukum ini memastikan standar harga dan ASB menjadi pedoman resmi yang dituangkan dalam Peraturan Bupati (Perbup) serta diintegrasikan ke SIPD RI.

Pengendalian Anggaran Nonfisik dan Keberlanjutan Sinergi

Tidak hanya menyasar proyek fisik konstruksi, tim ITN Malang juga merumuskan standar untuk kegiatan non fisik di setiap OPD, seperti rapat koordinasi, pelatihan, sosialisasi, hingga kegiatan event.

Hadi Surya Wibawanto Sunarwadi, menjelaskan, kegiatan nonfisik diolah menggunakan pendekatan berbasis aktivitas (Activity-Based Approach). Tim mengelompokkan data historis menjadi tujuh kelompok aktivitas yang homogen untuk menemukan faktor pendorong biaya (cost driver), seperti jumlah peserta, durasi hari, hingga jumlah lokasi.

Baca juga: Kutai Barat Gandeng ITN Malang Petakan Kawasan Linggang Bigung, Targetkan Tata Ruang Presisi

“ASB merupakan alat pengendalian untuk membedakan biaya yang benar-benar dipengaruhi kondisi lapangan dengan biaya yang tidak memiliki dasar memadai,” jelas Hadi. Pendekatan ini efektif mencegah risiko overpricing maupun alokasi anggaran yang terlalu rendah (under quoting) yang kerap merusak fungsi dan mutu kegiatan.

Menurutnya, respon dari pihak Pemkab Lembata pun sangat positif. Sekretaris Daerah Kabupaten Lembata, Paskalis Ola Tapobali, AP., MT., mengapresiasi hadirnya standar biaya yang adaptif ini agar OPD memiliki panduan yang wajar dan transparan saat menyusun anggaran.

Pemantauan real-time lokasi survei HSPK dan ASB Kabupaten Lembata menggunakan teknologi pemetaan digital Google Earth oleh tim survey ITN Malang

Pemantauan real-time lokasi survei HSPK dan ASB Kabupaten Lembata menggunakan teknologi pemetaan digital Google Earth oleh tim survey ITN Malang.

“Kami berharap sinergi ini tidak berhenti setelah dokumen HSPK dan ASB selesai. Tahap berikutnya dapat mencakup pendampingan implementasi dalam SIPD, peningkatan kapasitas aparatur, hingga pemutakhiran standar secara berkala,” pungkas Hadi.

Sinergi antara akademisi ITN Malang dan Pemkab Lembata ini diharapkan menjadi pijakan kokoh agar tata kelola APBD Kabupaten Lembata Tahun Anggaran 2027 semakin mandiri, akuntabel, dan memberikan manfaat langsung bagi efisiensi pembangunan daerah. (Mita/Humas ITN Malang)




Abdullah Fawwaz, Khaldi Jibran Maulana, dan M. Ilham Maulana, mahasiswa Arsitektur S1, ITN Malang, Angkatan 2023

Mahasiswa Arsitektur ITN Malang Ciptakan Inovasi Keranda Lipat Ergonomis Berbasis Nilai Syariat Islam

Abdullah Fawwaz, Khaldi Jibran Maulana, dan M. Ilham Maulana, mahasiswa Arsitektur S1, ITN Malang, Angkatan 2023. (Foto: Istimewa)


Malang – Kami, tiga mahasiswa Program Studi Arsitektur S-1, Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) berhasil menghadirkan inovasi desain keranda jenazah yang mengedepankan aspek ergonomi, efisiensi, serta penghormatan terhadap jenazah sesuai syariat Islam. Inovasi tersebut kami beri nama KRETA, singkatan dari Keranda Ringkas, Ergonomis, Tangguh, dan Adaptif, sebagai jawaban atas kebutuhan akan pengembangan desain keranda yang lebih relevan dengan perkembangan zaman.

Desain Kranda karya Abdullah Fawwaz, Khaldi Jibran Maulana, dan M. Ilham Maulana, mahasiswa Arsitektur S1, ITN Malang, Angkatan 2023Desain KRANDA karya Abdullah Fawwaz, Khaldi Jibran Maulana, dan M. Ilham Maulana, mahasiswa Arsitektur S1, ITN Malang, Angkatan 2023. (Foto: Istimewa)

Tim kami beranggotakan 3 mahasiswa Arsitektur angkatan 2023, yaitu Abdullah Fawwaz, Khaldi Jibran Maulana, dan M. Ilham Maulana. Sebagai mahasiswa Arsitektur kami memang sering kali diuji untuk merancang bangunan, ruang, atau lanskap. Namun, lewat Sayembara Desain Keranda Jenazah yang diadakan oleh Masjid Raya Sheikh Zayed Solo baru-baru ini, kami ingin membuktikan kalau ilmu arsitektur sebenarnya bisa hadir lebih dekat untuk menyelesaikan masalah nyata para pengurus jenazah.

Keresahan di lapangan menjadi titik awal lahirnya gagasan dan inovasi kami. Kami melihat bahwa keranda jenazah pada umumnya disimpan di gudang dan membutuhkan ruang penyimpanan yang cukup besar. Selain itu, proses penggunaan dan mobilitasnya juga masih kurang efisien karena harus diangkat dari posisi rendah, sehingga membebani para penggotong.

Berangkat dari permasalahan tersebut, kami menghadirkan sebuah inovasi keranda lipat yang dapat disimpan secara ringkas tanpa memerlukan proses bongkar-pasang, sehingga lebih praktis dan siap digunakan kapan saja. Kami juga mengintegrasikan roda yang berfungsi ganda, yaitu sebagai media mobilitas saat keluar-masuk mobil jenazah, sekaligus sebagai kaki penyangga keranda ketika akan diberangkatkan. Dengan demikian, posisi keranda tetap berada pada ketinggian yang ideal sehingga para penggotong tidak perlu lagi mengangkatnya dari bawah.

Baca juga: Arsitektur Sebagai Sarana Pelestarian Rumah Adat: Interaksi Budaya Lintas Generasi Menembus Ruang dan Peradaban (Beyond Interaction)

Kami memandang bahwa Sayembara Desain Keranda Jenazah ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan mendesak akan desain keranda yang lebih ergonomis, ringan, serta adaptif untuk digunakan di berbagai kondisi medan. Melalui serangkaian observasi, diskusi, dan pengembangan desain, kami berhasil merancang sebuah sarana pemulasaraan jenazah yang menawarkan pendekatan baru terhadap kemudahan penggunaan dan efisiensi penyimpanan.

Mobilitas keranda harus dapat diakomodasi oleh desain keranda itu sendiri yang tidak menyusahkan para pengguna dan tetap dalam konsep penghormatan terhadap jenazah. Dalam proses perancangannya, kami tidak hanya berfokus pada aspek visual dan teknis semata. Kami terlebih dahulu melakukan diskusi mendalam mengenai adab memperlakukan jenazah berdasarkan syariat Islam. Menurut kami, penghormatan terhadap jenazah tidak berhenti setelah proses pemandian dan pengafanan, tetapi harus terus dijaga hingga jenazah dimakamkan. Atas dasar tersebut, desain KRETA dirancang agar tetap mempertahankan nilai kesederhanaan, kebersihan, fungsi, serta penghormatan terhadap jenazah dalam setiap proses pemulasaraan.

Setelah merumuskan landasan filosofis tersebut, tim kami mulai mengembangkan konsep teknis. Hasilnya adalah keranda yang dapat dilipat sehingga lebih mudah disimpan, dipindahkan, maupun dipersiapkan sebelum digunakan. Struktur utama menggunakan material aluminium alloy yang ringan namun kokoh, dipadukan dengan roda karet, panel aluminium perforated, serta kain mesh untuk mengurangi bobot tanpa mengurangi kekuatan struktur.

Baca juga: Lebih dari Sekadar Koneksi: Urgensi Duta Kampus dalam Membangun Citra dan Identitas Mahasiswa

Tidak hanya menghadirkan kemudahan penyimpanan, KRETA juga dirancang agar lebih nyaman bagi para pengusung jenazah. Posisi pegangan, distribusi beban, serta tinggi alas keranda disesuaikan dengan postur pengguna sehingga proses mengangkat, mendorong, maupun bermanuver menjadi lebih aman dan ergonomis. Selain itu, keranda ini dapat digunakan mulai dari lingkungan masjid hingga area pemakaman dengan sistem penguncian yang dirancang untuk menjaga keamanan selama proses pemindahan jenazah.

Melalui inovasi ini, kami berharap desain KRETA dapat menjadi alternatif pengembangan keranda jenazah di Indonesia yang tidak hanya mengedepankan inovasi teknologi, tetapi juga tetap menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan syariat Islam. Kami meyakini bahwa inovasi dalam bidang desain tidak selalu harus menghadirkan sesuatu yang sepenuhnya baru, tetapi mampu memberikan solusi nyata terhadap kebutuhan masyarakat dengan tetap mempertahankan nilai-nilai yang telah menjadi landasannya.

Penulis: Abdullah Fawwaz, Khaldi Jibran Maulana, dan M. Ilham Maulana, Mahasiswa Arsitektur S1, ITN Malang, Angkatan 2023.