Rektor ITN Malang, Awan Uji Krismanto, ST., MT., Ph.D., (jas hitam) berdampingan dengan Sekretaris Ditjen Penataan Ruang Laut KKP, Dr. Effin Martiana, SH., MH., beserta para peserta workshop.

Mantapkan Sistem Informasi Ruang Laut, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dan ITN Malang Gelar Workshop Finalisasi Data

Rektor ITN Malang, Awan Uji Krismanto, ST., MT., Ph.D., (jas hitam) berdampingan dengan Sekretaris Ditjen Penataan Ruang Laut KKP, Dr. Effin Martiana, SH., MH., beserta para peserta workshop. (Foto: Humas ITN Malang)


Malang, ITN.AC.ID – Kerja sama strategis antara Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) dan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus berlanjut. Setelah sebelumnya dipercaya menyusun Road Map Ocean Monitoring System (OMS), ITN Malang kini kembali digandeng oleh Direktorat Jenderal Penataan Ruang Laut (DJPRL) KKP untuk memantapkan integrasi basis data perencanaan ruang laut.

Sekretaris Ditjen Penataan Ruang Laut KKP, Dr. Effin Martiana, SH., MH., saat memberi sambutan di ITN MalangSekretaris Ditjen Penataan Ruang Laut KKP, Dr. Effin Martiana, SH., MH., bersama Rektor ITN Malang, Awan Uji Krismanto, ST., MT., Ph.D., saat memberi sambutan di ITN Malang. (Foto: Humas ITN Malang)

Langkah kolaboratif ini sekaligus menegaskan komitmen ITN Malang untuk hadir sebagai kampus yang berdampak nyata, di mana karya akademis dan riset perguruan tinggi dapat memberikan solusi konkrit bagi kebutuhan bangsa. Sinergi tersebut diwujudkan lewat gelaran koordinasi dan workshop finalisasi basis data serta mock-up Sistem Informasi DJPRL yang berlangsung di Ruang Workshop Lembaga Pengembangan Kerja Sama dan Usaha (LPKU) ITN Malang, pada Kamis (30/07/2026).

Rektor ITN Malang, Awan Uji Krismanto, ST., MT., Ph.D., menyampaikan apresiasi atas kepercayaan KKP memilih ITN Malang sebagai mitra strategis dalam pengolahan data spasial laut nasional.

“Mewakili seluruh sivitas akademika ITN Malang, kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Ditjen Penataan Ruang Laut atas kepercayaannya. Kami berharap kegiatan ini menjadi awal yang baik bagi kolaborasi kita kedepannya. Kami juga sudah menyiapkan tim ahli yang siap berkolaborasi langsung dengan kementerian,” ungkapnya.

Baca Juga: ITN Malang Gagas Road Map Ocean Monitoring System: Transformasi Digital Tata Ruang Laut Indonesia

Rektor menambahkan, ITN Malang memiliki berbagai program studi yang sangat relevan untuk menyokong kebutuhan KKP, mulai dari Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK), Teknik Geodesi, hingga Teknik Informatika, dan analisis data terkait cyber security.

“Harapannya, produk-produk yang dikembangkan bersama ini bisa memberikan kontribusi nyata bagi penataan ruang laut, khususnya bagi pengembangan wilayah laut Indonesia ke depan,” tambahnya.

Pada kesempatan yang sama, Sekretaris Ditjen Penataan Ruang Laut KKP, Dr. Effin Martiana, SH., MH., yang hadir langsung bersama timnya, menegaskan, pengembangan sistem terintegrasi ini merupakan arahan langsung dari pimpinan KKP demi memperkuat tata kelola ruang laut dari hulu ke hilir.

“Ini merupakan pengembangan dari sistem-sistem yang sudah ada di tempat kami sebelumnya agar semakin kuat dan besar. Arahan pimpinan, kami harus punya sistem sendiri yang terintegrasi. Alhamdulillah bisa bekerja sama dengan ITN Malang untuk membangun sistem yang mengakomodasi seluruh kegiatan tata ruang laut, mulai dari perencanaan hingga pengendalian,” jelas Effin.

Baca juga: Pemkab Mahakam Ulu Percayakan Kajian Lingkungan Hidup Strategis Dukung Penataan Ruang Long Lunuk ke ITN Malang

Tak berhenti di laut, Effin juga membeberkan rencana jangka panjang KKP yang akan merambah penataan perairan darat seperti sungai dan waduk. “Ke depan kami juga berencana menata ruang perairan darat. Sebab kalau perairan darat tidak ditata dengan tepat, kerusakannya akan berdampak ke laut juga. Kami berharap bisa terus bersinergi (dengan ITN), termasuk dengan Kementerian ATR/BPN,” tegasnya.

Sementara itu, tim ahli dari ITN Malang, Ir. Gatot Subroto, ST., M.Ars., menjelaskan, ini merupakan tindak lanjut konkret dari Nota Kesepahaman (MoU) antara ITN Malang dan KKP yang berlaku hingga tahun 2028. Fokus utama acara kali ini adalah memfinalisasi basis data tata ruang laut serta mematangkan mock-up sistem informasi.

Menariknya, sistem informasi hasil kolaborasi ITN Malang dan KKP ini ditargetkan rampung untuk diluncurkan pada ajang internasional bergengsi dalam waktu dekat.

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), dan ITN Malang gelar workshop finalisasi dataKementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), dan ITN Malang gelar workshop finalisasi data. (Foto: Humas ITN Malang)

“Secara prinsip, ITN mendampingi KKP dalam mengembangkan sistem tersebut yang nantinya akan di-launching pada bulan Oktober dalam acara Marine Spatial Planning Summit (MSP Summit). Acara tersebut rencananya akan dibuka langsung oleh Pak Menteri dan dihadiri beberapa negara sahabat,” terang Gatsu akrab disapa.

Dosen PWK ini berharap sistem yang dibangun tak sekadar menjadi alat bantu teknis, melainkan menjadi basis pengambilan keputusan yang efisien bagi para pemangku kepentingan.

“Targetnya, selain mengejar momen MSP Summit, kami ingin membuat sistem di Ditjen Penataan Ruang Laut ini benar-benar memudahkan stakeholder, dan mempermudah proses penataan ruang laut Indonesia di KKP. Harapannya, sistem ini bisa menjadi sarana pengambilan keputusan yang cepat, tepat, dan memudahkan para pengguna,” pungkasnya. (Mita/Humas ITN Malang)




Peserta paparan Laporan Antara Penyusunan Peta Dasar Provinsi Jawa Timur dari perwakilan DPRKPCK Pemprov Jatim bersama tim ahli ITN Malang

On the Track! Progres Peta Dasar RTRW Jatim Tembus 84 Persen, DPRKPCK Jatim Makin Mantap Kolaborasi dengan ITN Malang

Peserta paparan Laporan Antara Penyusunan Peta Dasar Provinsi Jawa Timur dari perwakilan DPRKPCK Pemprov Jatim bersama tim ahli ITN Malang. (Humas ITN Malang).


Malang, ITN.AC.ID – Proyek strategis pemutakhiran Peta Dasar Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi Jawa Timur yang dikawal oleh Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) menunjukkan perkembangan signifikan. Hanya berselang sebulan setelah laporan pendahuluan pada awal Juli lalu, progres pengerjaan pemetaan 38 kabupaten/kota di Jawa Timur kini telah mencapai angka 84 persen.

Kepastian ini terkuak dalam paparan Laporan Antara Penyusunan Peta Dasar Provinsi Jawa Timur yang digelar di Ruang Workshop Lembaga Pengembangan Kerjasama dan Usaha (LPKU) ITN Malang, Jumat (31/07/2026).

Staf Ahli ITN Malang dari Prodi Teknik Geodesi, Krishna Himawan Subiyanto, ST., M.Sc., menjelaskan, selain capaian fisik pemetaan yang hampir rampung, timnya juga bergerak cepat melakukan penyesuaian standar teknis terbaru dari Badan Informasi Geospasial (BIG).

Kepala LPKU ITN Malang, Ir. Ardiyanto Maksimilianus Gai, ST., M.Si., MM., (tengah) bersama Kepala Bidang Penataan Ruang Wilayah DPRKPCK Jatim, Dr. Priyo Nur Cahyo, ST., MT., (kanan)

Kepala LPKU ITN Malang, Ir. Ardiyanto Maksimilianus Gai, ST., M.Si., MM., (tengah) bersama Kepala Bidang Penataan Ruang Wilayah DPRKPCK Jatim, Dr. Priyo Nur Cahyo, ST., MT., (kanan) saat memberikan sambutan dalam Paparan Laporan Antara Penyusunan Peta Dasar Provinsi Jawa Timur di ITN Malang. (Humas ITN Malang)

“Target kami dalam laporan antara ini adalah menyampaikan progres pengerjaan pemetaan yang sudah menyentuh 84 persen untuk seluruh wilayah kabupaten/kota di Jawa Timur. Kemarin dari BIG ada penyamaan persepsi terkait standar pemetaan SNI yang mengalami updating. Karena kami sudah melakukan asistensi, ini jadi kesempatan untuk langsung menyesuaikan dengan standar terbaru mereka. Targetnya minggu depan penggambaran selesai dan September nanti semua rampung,” terang Krishna yang mengawal proyek ini bersama Ir. Gatot Subroto, ST., M.Ars., dari Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) ITN Malang.

Kelancaran dan ketepatan progres ini makin memperkuat kepercayaan Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman, dan Cipta Karya (DPRKPCK) Provinsi Jawa Timur terhadap kepakaran ITN Malang.

Kepala Bidang Penataan Ruang Wilayah DPRKPCK Jatim, Dr. Priyo Nur Cahyo, ST., MT., secara terbuka mengakui kapasitas akademisi ITN Malang dalam mengawal pekerjaan skala besar di tingkat provinsi.

Baca juga: Mantapkan Sistem Informasi Ruang Laut, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dan ITN Malang Gelar Workshop Finalisasi Data

“Kami dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur tidak ragu bekerja sama dengan ITN Malang. PWK di Jatim yang pertama berdiri itu di ITN, baru kampus lainnya mengikuti. Sebagai senior, saya yakin ITN bisa mengawal kegiatan skala provinsi,” puji Priyo.

Priyo juga menyoroti sinergi lintas sektor yang dimiliki ITN Malang, termasuk kolaborasi kampus bersama Ditjen Penataan Ruang Laut KKP. Menurutnya, tata ruang darat dan laut memang sudah seharusnya saling melengkapi.

Dari laporan yang disampaikan untuk peta dasar RTRW Jatim, Priyo menilai seluruh proses pengerjaan sudah on the track dan sesuai Kerangka Acuan Kerja (KAK) yang disepakati, termasuk asistensi teknis bersama BIG yang sudah berjalan tiga kali. Melihat performa positif ini, DPRKPCK Jatim bahkan sudah bersiap memperluas jangkauan kerja sama dengan ITN Malang, mulai dari tahap Peninjauan Kembali (PK) RTRW hingga peluang pelaksanaan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) bagi para ASN.

Suasana paparan Laporan Antara Penyusunan Peta Dasar Provinsi Jawa Timur dihadiri oleh tim ahli ITN Malang serta perwakilan dari DPRKPCK Provinsi Jatim di Ruang Workshop LPKU ITN MalangSuasana paparan Laporan Antara Penyusunan Peta Dasar Provinsi Jawa Timur dihadiri oleh tim ahli ITN Malang serta perwakilan dari DPRKPCK Provinsi Jatim di Ruang Workshop LPKU ITN Malang (Foto: Humas ITN Malang)

“Gayung bersambut, kami di pemerintahan dituntut memenuhi sertifikat minimal 20 JPL per tahun. Kami mengidentifikasi kebutuhan diklat seperti penilaian perwujudan RDTR dan peruntukan tata ruang. Harapan kami, ini bisa kita dikerjasamakan kembali dengan ITN Malang,” tambah Priyo.

Menanggapi kepercayaan besar tersebut, Kepala LPKU ITN Malang, Ir. Ardiyanto Maksimilianus Gai, ST., M.Si., MM., menegaskan komitmen penuh institusi untuk mengawal proyek hingga tuntas, termasuk memastikan peta dasar tersebut mengantongi rekomendasi resmi dari BIG.

Baca juga: Percayakan Peta Dasar RTRW Jatim ke ITN Malang, DPRKPCK Wanti-Wanti Soal Reklamasi Ilegal

“Terima kasih atas kepercayaan Pemprov Jatim kepada ITN Malang. Bapak Rektor secara khusus berpesan dan berkomitmen mengawal kegiatan ini karena level tanggung jawabnya sangat besar. Kami pastikan tim tidak hanya menyerahkan peta jadi, tetapi akan terus mendampingi prosesnya sampai rekomendasi resmi dari BIG keluar,” tegas Ardiyanto.

Keterlibatan ITN Malang dalam pemutakhiran peta dasar Jawa Timur hingga penyiapan SDM daerah ini semakin mengukuhkan peran ITN Malang sebagai kampus yang berdampak nyata, di mana keahlian akademis dan riset perguruan tinggi memberikan solusi riil dan kontribusi langsung bagi pembangunan daerah. (Mita/Humas ITN Malang)




Dosen PWK ITN Malang menjadi co-host, dan pembicara dalam perayaan World Rural Development Day 2026

Bawa Konsep “Future Village Ecosystem” ke Panggung Dunia, ITN Malang Jadi Co-Host Helatan World Rural Development Day

Dosen PWK ITN Malang menjadi co-host, dan pembicara dalam perayaan World Rural Development Day 2026. (Humas ITN Malang)


Malang, ITN.AC.ID – Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) kembali membuktikan eksistensinya di kancah internasional. Kampus teknologi dan inovasi ini didapuk menjadi co-host dalam perayaan World Rural Development Day bersanding dengan institusi global seperti ARMTI Nigeria, USTM Meghalaya, dan Global Forum for Sustainable Rural Development (GFSRD). Kehadiran ITN Malang dalam forum ilmiah ini menjadi penegasan bahwa kontribusi pemikiran dari Indonesia diakui dunia luar dalam mengawal masa depan pembangunan kawasan perdesaan secara berkelanjutan.

Gagasan Visioner Future Village Ecosystem Framework Dosen PWK ITN MalangGagasan Visioner Future Village Ecosystem Framework Dosen PWK ITN Malang

Kontribusi Strategis Akademisi PWK di Kancah Global

Keterlibatan strategis ini tidak lepas dari peran aktif para akademisinya di Prodi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) yakni Dr. Maria Christina Endarwati, ST., MIUEM., dan Dr. Ir. Agustina Nurul Hidayati, MT. Posisi aktif ITN di tingkat global diperkuat oleh rekam jejak Maria sebagai salah satu pendiri Asia Pacific Country Director di lembaga GFSRD. Sementara, Agustina Nurul Hidayati dalam kesempatan tersebut turut menjadi pembicara.

“Awal mula ITN bisa bersanding dikarenakan saya adalah salah satu founder GFSRD dan juga direktur untuk wilayah Asia Pasifik, sehingga ITN merupakan salah satu institusi yang sangat aktif terlibat dalam kegiatan pembangunan perdesaan,” ungkap Maria saat dihubungi lewat sambungan WhatsApp beberapa waktu lalu.

Maria menambahkan, keterwakilan ini mencerminkan komitmen penuh Prodi PWK ITN Malang untuk mempromosikan implementasi pembangunan berkelanjutan. “Sebagai co-host, tentunya keterlibatan kami mencerminkan bahwa PWK ITN Malang berkomitmen terlibat aktif dalam mempromosikan bagaimana kampus mengimplementasikan pembangunan berkelanjutan dengan men-sharing pengalaman-pengalaman kami,” tuturnya.

 Rekam Jejak Internasional dan Rencana Aksi Pasca-Simposium

Baca juga: Rancang Kota Baru Pariwisata Wawiyai, ITN Malang dan Pemkab Raja Ampat Resmi Teken MoU

Rekam jejak ITN Malang di panggung internasional memang bukan hal baru. Sebelum perhelatan akbar ini, Maria juga dipercaya menjadi pembicara utama dalam ajang International Webinar pada 16 Mei 2026 yang diselenggarakan atas kolaborasi bersama The Federal Polytechnic Offa Nigeria serta GFSRD. Melalui jembatan ini pula, ITN Malang mengambil peran ganda, membawa nama Indonesia di tingkat global sekaligus mempromosikan peran aktif kampus dalam mengawal ruang hidup perdesaan.

Menurut Maria, bagi Prodi PWK ITN Malang sendiri, simposium ini menjadi wadah untuk menyuarakan tiga pilar utama mereka ke level Asia-Afrika, yakni hasil riset tata ruang di Jawa Timur dan NTT, integrasi kurikulum berbasis SDGs, serta aksi nyata lewat KKN Tematik di desa binaan. Dampaknya, pemikiran-pemikiran dari ITN Malang mulai dilirik secara global, terbukti dengan diundangnya Maria secara langsung sebagai pembicara seminar internasional di Ilorin University, Afrika.

Ditambahkan, melangkah pasca-simposium, pihaknya sudah menyiapkan target yang konkret. Sebagai pemegang mandat GFSRD-Asia Indonesia, ITN berencana mengadaptasi 2-3 model desa tangguh dari Nigeria dan India untuk diterapkan di 5 desa binaan di Malang Raya. Selain itu, ada target besar untuk mendirikan GFSRD-Asia Hub di ITN Malang sebagai pusat data perdesaan se-Asia Tenggara, sekaligus menyusun kurikulum bersama (Rural Development Planning) lintas negara dengan USTM dan ARMTI. Kemitraan masa depan ini akan membuka peluang emas bagi mahasiswa dan dosen lewat program joint research serta student exchange ke luar negeri.

Gagasan Visioner Future Village Ecosystem Framework

Baca juga: Sinergi ITN Malang Hasilkan Produk Hukum Legalitas Industri Kecil dan Menengah Manggarai Timur

Sementara pada simposium kali ini, Dr. Ir. Agustina Nurul Hidayati, MT., memaparkan sebuah artikel ilmiah yang menawarkan gagasan visioner bertajuk “Future Village Ecosystem Framework”. Kerangka kerja ekosistem desa masa depan ini dirancang sebagai model terintegrasi yang menggabungkan pertumbuhan hijau (green growth), pengembangan endogen berbasis potensi lokal, pemberdayaan masyarakat, hingga inovasi digital. Melalui model ini, komunitas perdesaan didorong untuk berubah dari wilayah pinggiran menjadi motor penggerak utama pembangunan berkelanjutan yang memiliki dampak global.

Nurul, yang biasa akrab disapa menjelaskan, penelitian yang dibawakannya merupakan akumulasi dari pengabdian panjang rekan-rekan dosen ITN Malang. Riset tersebut mencakup studi di kawasan perbatasan Kecamatan Entikong (Kabupaten Sanggau) dan perdesaan Long Apari (Kabupaten Mahakam Ulu), Nusa Tenggara Timur, hingga pendampingan kampung kota serta desa di Malang Raya.

“Saya menyampaikan pengalaman yang pernah saya dan teman-teman dosen lakukan dalam penelitian dan pengembangan pada beberapa kawasan perdesaan. Pada simposium yang akan datang, saya berharap teman-teman dosen  ITN Malang dapat berbagi pengalaman penelitian, rencana pengembangan dan pengabdian masyarakat pada kawasan perdesaan, secara langsung,” tutur Nurul penuh harap.

Ia juga menambahkan bahwa materi-materi berharga yang didapat dari simposium internasional ini akan  diintegrasikan untuk memperkaya mata kuliah penting di PWK, seperti Community Development, Perencanaan Perdesaan, Perencanaan Kawasan, hingga Pengelolaan Kawasan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)




Ir. Maranatha Wijayaningtyas, S.T., M.MT., Ph.D., IPU., ASEAN Eng., saat memberikan materi pada Seminar Nasional ARITEKIN 2026 yang digelar secara daring (2)

Bakteri Penyembuh Beton hingga AI: Dosen ITN Malang Kupas Wajah Baru Konstruksi Masa Depan di ARITEKIN 2026

Ir. Maranatha Wijayaningtyas, S.T., M.MT., Ph.D., IPU., ASEAN Eng., saat memberikan materi pada Seminar Nasional ARITEKIN 2026 yang digelar secara daring. (Foto: Istimewa)


Malang, ITN.AC.ID – Bayangkan beton yang bisa “sembuh” sendiri saat retak berkat bantuan bakteri khusus, atau aspal jalan raya yang dibuat dari campuran limbah kantong plastik. Tren teknologi konstruksi ramah lingkungan inilah yang menjadi bahasan utama saat dosen Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang), Ir. Maranatha Wijayaningtyas, S.T., M.MT., Ph.D., IPU., ASEAN Eng., hadir sebagai salah satu pembicara dalam Seminar Nasional ARITEKIN 2026 yang digelar secara daring pada Rabu (15/07/2026).

Maranatha membawakan materi bertajuk “Inovasi Material dan Teknologi Konstruksi untuk Mewujudkan Infrastruktur Tangguh & Berkelanjutan”. Di hadapan hampir seratus peserta yang terdiri dari akademisi, praktisi, mahasiswa, hingga perwakilan pemerintah, ia memaparkan bagaimana dunia konstruksi global kini dipaksa untuk mengubah haluan akibat krisis iklim. Menurutnya, industri konstruksi tidak bisa lagi berjalan dengan cara-cara lama yang boros energi dan berdampak negatif pada lingkungan.

Ir. Maranatha Wijayaningtyas, S.T., M.MT., Ph.D., IPU., ASEAN Eng., saat memberikan materi pada Seminar Nasional ARITEKIN 2026 yang digelar secara daringIr. Maranatha Wijayaningtyas, S.T., M.MT., Ph.D., IPU., ASEAN Eng., saat memberikan materi pada Seminar Nasional ARITEKIN 2026 yang digelar secara daring. (Foto: Istimewa)

“Saat ini kita sedang menghadapi tantangan global yang nyata, mulai dari perubahan iklim yang membuat infrastruktur lebih cepat mengalami degradasi, menyusutnya material alam, hingga keharusan menekan emisi karbon. Kita harus menggeser paradigma dari konstruksi konvensional menuju konstruksi hijau, digital, cerdas, dan adaptif,” ujar Maranatha saat ditemui di Kampus 1 ITN Malang pada Kamis (16/07/2026).

Dalam paparannya, Maranatha menjelaskan peta jalan evolusi teknologi konstruksi yang sedang bergerak menuju masa depan yang lebih tangguh (resilient). Mulai dari pemanfaatan limbah industri seperti fly ash untuk menekan emisi semen, penggunaan material berbasis alam seperti bambu rekayasa dan Cross Laminated Timber (CLT), hingga pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (AI) dan sensor Internet of Things (IoT) untuk mendeteksi kerusakan jembatan secara dini.

Baca juga: “Suntikan Dana Institusi Dongkrak Gairah Dosen ITN Malang Ikut Review Proposal Litabmas 2026

Riset global dari perguruan tinggi terkemuka dunia seperti TU Delft dan MIT mengenai smart material juga tak luput dari pembahasannya. Mulai dari self-healing concrete (beton yang mampu menutup retakan secara mandiri menggunakan bakteri) hingga conductive concrete yang dapat menghantarkan listrik untuk membantu mencairkan es di permukaan jalan. Bahkan, penelitian sejenis juga telah dilakukan oleh tim Teknik Sipil S-1 ITN Malang.

Menariknya, meskipun dikenal sebagai dosen Program Studi Arsitektur S-1, Maranatha menilai bahwa pembahasan mengenai infrastruktur dan teknologi konstruksi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari disiplin arsitektur modern. Menurutnya, arsitektur saat ini tidak hanya berbicara tentang estetika bangunan, tetapi juga menyangkut performa, material, keberlanjutan, serta integrasi teknologi dalam lingkungan binaan.

“Arsitektur dan teknik sipil memiliki irisan yang sangat kuat. Seorang arsitek perlu memahami bagaimana sebuah bangunan dan infrastruktur bekerja, mulai dari material, sistem konstruksi, hingga aspek keberlanjutannya. Apalagi, saat ini pendekatan yang berkembang adalah built environment, yang mengintegrasikan arsitektur, teknik sipil, teknologi digital, dan perencanaan wilayah untuk menciptakan lingkungan yang lebih baik,” jelasnya.

Ia menambahkan, keterlibatannya dalam berbagai forum teknik juga sejalan dengan latar belakang keilmuan dan riset yang selama ini banyak berfokus pada manajemen konstruksi, infrastruktur berkelanjutan, serta transformasi digital dalam sektor konstruksi.

Baca juga: “Perzpective” di ITN Malang: Kupas Rumah Sehat & Material Arsitektur Berkelanjutan

Bagi Maranatha secara pribadi, keterlibatannya dalam Seminar Nasional ARITEKIN 2026 ini bukan sekadar menjalankan peran sebagai pemateri. ARITEKIN (Asosiasi Riset Ilmu Teknik Indonesia) merupakan salah satu wadah pengelola jurnal dan komunitas akademik di bidang teknik di Indonesia, yang telah diikutinya sejak tahun 2024.

“ARITEKIN ini tergolong baru karena berdiri pada tahun 2023, dan saya bergabung setahun setelahnya. Meskipun baru, agendanya sangat aktif dengan rutin menggelar seminar setiap bulan. Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi kami para dosen,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa forum ilmiah daring semacam ini menjadi jembatan yang efektif untuk mempertemukan ide-ide riset teknik dari berbagai penjuru Indonesia, sekaligus menjadi sarana untuk memperkuat jejaring akademik lintas disiplin.

“Selain menjadi wadah berbagi ide, disini semua anggota memiliki kesempatan yang sama untuk berbagi pengalaman dan hasil riset. Ini sangat baik untuk mendukung kinerja dosen, khususnya dalam penguatan penelitian, kolaborasi, dan pengabdian kepada masyarakat,” pungkasnya. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)




WhatsApp Image 2026-07-15 at 4.26.53 PM

Satu Hari Bersama Program Studi Teknik Lingkungan ITN Malang

Tanya-tanya dan ngobrol langsung untuk melihat bagaimana mahasiswa belajar menghadirkan solusi bagi berbagai tantangan lingkungan.

🗓️ Kamis, 16 Juli 2026
📍 Live Instagram dan TikTok Pukul 13.00 WIB

Jangan lewatkan kesempatan untuk mengenal lebih dekat dunia Teknik Lingkungan yang berkontribusi bagi kualitas hidup masyarakat.