Ketua Program Studi Teknik Geodesi S-1, Dedy Kurnia Sunaryo, ST., MT., saat membuka sesi Trial Class Satu Hari Bersama Program Studi Teknik Geodesi

Bisa Jalan-Jalan Digaji Besar, Pakar ITN Malang Sebut Lulusan Teknik Geodesi Tidak Bakal Tergantikan Robot

Ketua Program Studi Teknik Geodesi S-1, Dedy Kurnia Sunaryo, ST., MT., saat membuka sesi Trial Class: Satu Hari Bersama Program Studi Teknik Geodesi. (screenshot zoom meeting)


Malang, ITN.AC.ID – Kalau kamu tipe orang yang gampang bosan duduk diam di balik meja ruang kantor, dan suka bertualang, jurusan yang satu ini bisa jadi pilihan. Tidak hanya seru karena kerjaannya sering jalan-jalan ke berbagai daerah, lulusan bidang ini ternyata punya prospek karir yang sangat menjanjikan dengan gaji kompetitif, baik di instansi pemerintah, sektor swasta, hingga perusahaan multinasional.

Gambaran seru inilah yang terkuak dalam acara Trial Class: Satu Hari Bersama Program Studi Teknik Geodesi, Teknik Geodesi S-1, Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) yang digelar secara daring melalui Zoom Meeting, Kamis (25/06/2026). Lewat agenda ini, para peserta diajak mengintip bagaimana peta dibuat dan bagaimana teknologi canggih masa kini digunakan untuk mengukur serta memetakan permukaan bumi secara akurat.

Ketua Program Studi Teknik Geodesi S-1, Dedy Kurnia Sunaryo, ST., MT., membuka acara dengan menceritakan sejarah panjang Prodi Teknik Geodesi. Berdiri sejak tahun 1985, Teknik Geodesi ITN Malang merupakan pionir karena menjadi yang pertama di Jawa Timur kala itu. Saat ini, prodi tersebut telah mengantongi akreditasi “Baik Sekali” dari LAM Teknik dan meluluskan lebih dari 1.500 alumni yang banyak menduduki jabatan strategis.

Baca juga: Pengalaman Lembur di Kampus Jadi Modal Saipul Muklas Taklukkan Industri Pertambangan

“Kuncinya sederhana kalau kuliah di sini, ikuti perkuliahan dengan baik, kerjakan tugas, dan langsung buat laporan sehabis praktek lapangan. Kalau itu semua dijalani, pasti lulus tepat waktu,” ujar pria yang akrab disapa DK Sunaryo tersebut.

Tidak Perlu Takut AI, Robot Tidak Bisa Gantikan Surveyor di Lapangan

Menjawab kekhawatiran anak muda jaman sekarang soal ancaman Artificial Intelligence (AI), DK Sunaryo justru melihatnya sebagai peluang emas. ITN Malang sendiri sudah mengintegrasikan AI ke dalam kurikulum geodesi dan geomatika, khususnya pada tren teknologi penginderaan jauh dan pemrograman (coding). Tujuannya agar seluruh output yang dihasilkan mahasiswa ke depan berbasis pada data science.

Ia pun sangat optimis kalau profesi di bidang geodesi tidak akan bisa digantikan oleh robot karena ada aspek sentuhan manusia dan kondisi lapangan nyata yang tidak bisa ditiru mesin.

Lulusannya pun punya spektrum karier yang sangat luas. “Lulusan bisa bekerja sebagai ASN di kementerian, di industri tambang minyak, bergabung dengan TNI/Polri, wirausaha, konsultan, hingga menjadi teknisi dan surveyor ahli. Banyak sekali instansi yang butuh tenaga teknik geodesi,” tambahnya.

Krishna Himawan Subiyanto, ST., MSc., dosen Teknik Geodesi ITN Malang sekaligus pemateri Trial Class.Krishna Himawan Subiyanto, ST., MSc., dosen Teknik Geodesi ITN Malang sekaligus pemateri Trial Class. (screenshot zoom meeting)

Dari Pemetaan Laut Dalam hingga Batas Tanah yang Legal

Krishna Himawan Subiyanto, ST., MSc., sebagai pemateri menjelaskan, Teknik Geodesi dan Geomatika pada dasarnya adalah ilmu yang mengawinkan teknologi, matematika, dan metode pengukuran untuk memetakan bumi. Bidang ini merupakan pondasi utama dari lahirnya teknologi sehari-hari yang sering kita pakai, seperti GPS dan pemetaan digital.

“Secara umum, keilmuan ini dibagi ke dalam tiga matra: darat, laut, dan udara, yang kemudian dipecah lagi menjadi 6 bidang fokus,” ujarnya. Menariknya, Krishna menyebut mahasiswa cukup fokus dan ahli di salah satu bidang saja untuk bisa sukses di dunia kerja.

Keenam bidang tersebut meliputi: terestrial, kadastral, penginderaan jauh, hidrografi, fotogrametri, dan Sistem Informasi Geografis (SIG). Terestrial, fokus pada pengukuran langsung di atas permukaan tanah menggunakan alat canggih seperti total station hingga laser scanner yang bisa menghasilkan gambar 3D lingkungan sekitar. Keahlian ini dipakai untuk mendesain jalan, gedung, dan proyek sipil.

Kadastral berhubungan dengan pengukuran batas tanah yang sah secara hukum. Lulusannya bisa langsung jadi konsultan Badan Pertanahan Nasional (BPN) untuk urusan sertifikat tanah atau penyelesaian sengketa lahan.

Baca juga: Jadi “Rumah” Bagi Surveyor, ITN Malang Gelar Uji Kompetensi Kadaster Perdana

“Penginderaan jauh dengan memanfaatkan sensor satelit atau pesawat untuk memantau bumi dari atas. Aplikasinya sangat luas, mulai dari analisis tata ruang, memantau kebakaran hutan, polusi udara, hingga pertumbuhan wilayah,” jelasnya.

Hidrografi, fokus pada pemetaan kawasan laut dan air. Sektor ini dikenal menggunakan alat-alat ukur bawah air yang paling canggih dan mahal.

“Dari semua bidang ilmu yang dipelajari di Teknik Geodesi ini, ada satu hal yang pasti: pekerjaannya selalu membutuhkan kita untuk jalan-jalan ke berbagai tempat,” kelakar Krishna di akhir sesi, memotivasi peserta yang ingin merasakan dunia kerja yang dinamis dan tidak membosankan. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)




Ar. Rani Yuni Wulandari, IAI., Director MDS Architects, sekaligus alumnus Arsitektur S-1, ITN Malang angkatan 2013.

Arsitek vs AI: Alumnus Arsitektur ITN Malang Rani Yuni Wulandari Tegaskan Sentuhan Manusia Tak Tergantikan

Ar. Rani Yuni Wulandari, IAI., Director MDS Architects, sekaligus alumnus Arsitektur S-1, ITN Malang angkatan 2013. (Foto: Yanuar/Humas ITN Malang)


Malang, ITN.AC.ID – Kecerdasan buatan atau AI memang berkembang sangat pesat, namun dalam hal merancang bangunan, sentuhan serta kepekaan seorang arsitek tetap memiliki sisi personal yang tidak mudah digantikan. Pesan inilah yang membakar semangat mahasiswa dalam gelaran Nata Karya 7.0 yang diadakan oleh Prodi Arsitektur S-1, Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) pada Selasa, (23/06/2026). Berpusat di Studio 4A Gedung Arsitektur sesi talkshow sukses menjadi magnet, tidak hanya bagi seluruh angkatan mahasiswa arsitektur, tetapi juga dikunjungi mahasiswa dari kampus lain.

Nata Karya 7.0 Arsitektur ITN MalangNata Karya 7.0 Arsitektur ITN Malang. (Foto: Istimewa)

Hadir sebagai narasumber, Ar. Rani Yuni Wulandari, IAI., alumnus Arsitektur S-1, ITN Malang angkatan 2013 yang kini menahkodai Monarc Design Studio (MDS Architects). Di hadapan para juniornya, arsitek yang berbasis di Pasuruan ini membedah topik hangat yang sedang dihadapi dunia profesional saat ini, yakni bagaimana arsitek harus berdampingan dengan teknologi tanpa kehilangan jati diri.

“Kami banyak melakukan percobaan pakai AI untuk tata ruang atau mencari konsep fasad. Apalagi sekarang klien kami sering meminta satu tipe rumah dengan lima fasad berbeda, AI sangat membantu mempercepat proses generate itu. Tapi, ada hal yang tidak bisa digantikan oleh AI secanggih apapun, yaitu psikologi manusia dan rasa (feeling). Di dunia kerja nyata, analisis keilmuan dan kepekaan rasa kitalah yang memenangkan desainya,” ungkap Rani terbuka.

Rani juga membagikan tips menghadapi tantangan klasik arsitek, yaitu ketika menghadapi klien yang menuntut proyek “murah, bagus, dan cepat,” atau bahkan mereka yang mempertanyakan mengapa tarif desain arsitek mahal padahal sekarang sudah ada AI.

Baca Juga: Konsep Kedai Kopi Sukun dan Sentuhan Harley Davidson Hidupkan Pameran Nata Karya 7.0 Arsitektur ITN Malang

“Kuncinya, arsitek harus percaya diri dengan apa yang akan disampaikan. Edukasi klien sejak awal. Kalau sudah punya sertifikasi, kita bisa pakai itu sebagai nilai tawar, kalau belum ya lewat kesepakatan-kesepakatan yang jelas,” tambahnya.

Membagikan perjalanan karirnya, Rani mengaku sudah mulai curi start dengan menjadi freelancer sejak kuliah semester 3 dan 4 demi mencari pengalaman. Mulai dari proyek kecil tak dibayar hingga menggarap rumah tinggal berukuran besar. Lulus tahun 2017, ia sempat bekerja sebagai Fasilitator Teknik di Dinas PUPR Kabupaten Pasuruan (2018-2019), bergabung di PT Archimetric (2019-2020), hingga kini menjabat sebagai Senior Arsitek di PT Patraland Group sejak 2023. Sambil terus bekerja di perusahaan, setelah mendapatkan sertifikasi pada tahun 2021 ia mendirikan MDS bersama rekan sesama alumni ITN Malang.

“Awalnya Monarc Design Studio terdiri dari 4 anggota tim yang tersebar di Jawa Timur. Di usia produktif, memang paling berat menyamakan visi dan misi di tengah jalan, sampai akhirnya berbeda arah. Tapi kami tetap berhubungan baik, dan kemudian pada tahun 2023  resmi melakukan rebranding sebagai MDS Architects dengan personel baru 5 orang yang tersebar di Jawa Timur dan Kalimantan Selatan,” ungkap Rani.

Ar. Rani Yuni Wulandari, IAI., Director MDS Architects, saat memberi materi pada Nata Karya 7.0. Arsitektur ITN Malang (2)Ar. Rani Yuni Wulandari, IAI., Director MDS Architects, saat memberi materi pada Nata Karya 7.0. Arsitektur ITN Malang. (Foto: Yanuar/Humas ITN Malang)

Saat ini timnya tengah menggarap proyek masif Master Plan Real Estate Mutiara Land Residence seluas 6,8 hektare. Hebatnya, rata-rata tim MDS masih melakoni double job dan kerap lembur di depan komputer hingga rapat malam hari demi membangun relasi dan memperluas jaringan.

Pesan Rani untuk mahasiswa saat ini sangat jelas dengan memanfaatkan teknologi, dan menjadikannya mitra berdampingan. Mahasiswa arsitektur zaman sekarang dituntut memiliki kemampuan berpikir kritis (critical thinking), rajin ikut sayembara, aktif di seminar, dan peka terhadap isu teknologi agar cepat beradaptasi saat masuk dunia kerja nanti.

“Perjalanan arsitek itu panjang, mahasiswa harus tahan banting dan punya semangat juang. Untuk branding sekarang sudah gampang, tinggal tunjukkan kemampuan lewat media sosial,” tegasnya.

Inspirasi ini ditangkap oleh peserta, salah satunya Casmira Carla Ina Prada, mahasiswi angkatan 2025 asal Larantuka, Flores, Nusa Tenggara Timur. Carla sengaja merantau jauh ke Malang dengan misi besar, ingin membawa perubahan di daerah asalnya.

Baca Juga: Dari Tambang hingga Dunia Pendidikan, Alumni Teknik Industri ITN Malang Buktikan Lulusan Teknik Industri Bisa Masuk ke Semua Sektor

“Di Flores, profesi arsitek belum begitu dipercaya masyarakat, mereka lebih percaya tukang. Bahkan ada yang aslinya arsitek tapi akhirnya terpaksa mencari kerja ke Jawa atau Bali. Saya ingin mempelajari bagaimana caranya agar karya arsitek lokal bisa diterima di sana,” tutur Carla.

Carla lalu bercerita tentang awal mulanya terdampar di kampus ITN Malang. Ia menyukai dunia gambar sejak SMA karena impiannya bisa bekerja dari rumah, namun sempat kebingungan mencari kampus arsitektur. “Waktu lagi scroll TikTok, saya tidak sengaja melihat live TikTok ITN Malang. Begitu tahu ada prodi Arsitektur, saya langsung putuskan kuliah di sini, padahal awalnya saya sama sekali tidak tahu Kota Malang itu ada di sebelah mana,” kenangnya sambil tertawa.

Masuk ke dunia perkuliahan sempat mematahkan ekspektasinya. Carla awalnya mengira gambar arsitektur harus sangat estetik dan penuh seni tingkat tinggi. “Ternyata tidak begitu. Yang paling penting dari gambar arsitek adalah bagaimana orang lain bisa paham pesan dan maksud yang ingin kita sampaikan,” pungkasnya optimis. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)




Aisyah Salsabila Ni'mah meraih penghargaan sebagai Best Paper ke-3 dalam Seminar Nasional “Call for Paper PADMA EKAPITA 2026” UPN Veteran Jawa Timur

Bawa Isu Ekonomi Hijau Kebun Teh Wonosari, Mahasiswi PWK ITN Malang Sabet Gelar Best Paper di UPN Veteran Jatim

Aisyah Salsabila Ni’mah mahasiswa PWK ITN Malang meraih penghargaan Best Paper ke-3 dalam Seminar Nasional “Call for Paper PADMA EKAPITA 2026” UPN Veteran Jawa Timur. (Foto: Yanuar/Humas ITN Malang)

 


Malang, ITN.AC.ID – Kabar membanggakan datang dari Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK), Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang). Aisyah Salsabila Ni’mah baru saja sukses meraih penghargaan sebagai Best Paper ke-3 dalam Seminar Nasional “Call for Paper PADMA EKAPITA 2026” yang digelar oleh UPN Veteran Jawa Timur. Bukan hanya membawa pulang gelar juara, artikel ilmiah hasil buah pikirannya ini juga dipastikan bakal diterbitkan di JDEP (Journal Dinamika Ekonomi Pembangunan) yang sudah terakreditasi Sinta 4.

Baca juga: Borong 8 Medali, Mahasiswa ITN Malang Unjuk Gigi di Malang Edu Fest 2026

Kompetisi ilmiah yang berlangsung daring lewat Zoom Meeting pada 19–21 Mei 2026 lalu ini terbilang ketat. Aisyah harus bersaing dengan peserta dari berbagai kampus di penjuru Indonesia. Prosesnya pun panjang, mulai dari seleksi abstrak, penyusunan makalah utuh, hingga harus melewati meja reviewer yang membedah kualitas isi, dan metodologi penelitian sebelum akhirnya diizinkan presentasi di hadapan dewan juri.

Alhamdulillah, sangat senang ketika mengetahui penelitian yang saya susun mendapat apresiasi sebagai best paper urutan ke-3,” ungkap Aisyah saat ditemui beberapa waktu lalu.

Dalam risetnya, Aisyah sengaja mengangkat Kebun Teh Wonosari, Kabupaten Malang sebagai objek kajian. Di matanya, destinasi wisata populer ini punya potensi komplit: mulai dari wisata alam, sektor perkebunan, hingga edukasi. Penggalian potensi ini didasari oleh realitas bahwa pengembangan agrowisata di pedesaan seringkali dihadapkan pada tantangan besar untuk menyeimbangkan antara eksploitasi ekonomi dan konservasi lingkungan. Melalui penelitian deskriptif kualitatif, Aisyah menggunakan analisis SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats) untuk memetakan kondisi eksisting, serta analisis Value Chain (Rantai Nilai) guna mengukur potensi penambahan nilai ekonomi bagi masyarakat lokal.

Aisyah Salsabila Ni'mah mahasiswa PWK ITN Malang meraih penghargaan Best Paper ke-3 dalam Seminar Nasional “Call for Paper PADMA EKAPITA 2026” UPN Veteran Jawa TimurAisyah Salsabila Ni’mah mahasiswa PWK ITN Malang meraih penghargaan Best Paper ke-3 dalam Seminar Nasional “Call for Paper PADMA EKAPITA 2026” UPN Veteran Jawa Timur. (Foto: Yanuar/Humas ITN Malang)

Sayangnya, menurut Aisyah, urusan aksesibilitas, infrastruktur, dan pengelolaan lingkungan di sana dirasa masih butuh banyak polesan. Nah, disinilah ia masuk dengan pendekatan ekonomi hijau agar aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan di Kebun Teh Wonosari bisa berjalan seimbang demi mewujudkan model pengembangan agrowisata berkelanjutan yang mampu memperkuat ekonomi pedesaan.

Menariknya, ia menawarkan sebuah model integrasi yang mengawinkan peran pengelola perkebunan (PTPN), pemerintah, dan warga lokal dalam menciptakan ekosistem pariwisata yang tidak hanya mengejar keuntungan semata, tetapi juga memulihkan ekosistem sekitar. Konsep nyata yang ia tawarkan meliputi pemanfaatan energi terbarukan skala mikro, pengelolaan limbah organik menjadi kompos, serta penerapan sistem pertanian rendah karbon. Integrasi ekonomi hijau dalam inisiatif agrowisata ini terbukti mampu meningkatkan pendapatan desa, menciptakan lapangan kerja ramah lingkungan (green jobs), dan memastikan ketahanan pangan melalui sistem diversifikasi tanaman.

Aisyah mengakui tantangan tersulit dari riset ini adalah mematahkan stigma. Ia harus bisa membuktikan secara ilmiah bahwa ekonomi hijau itu tidak hanya soal merawat alam, tapi juga bisa membuat perekonomian masyarakat sekitar semakin membaik, sekaligus mendukung ketahanan pangan. Solusinya, ia menekankan pentingnya diversifikasi tanaman dan pengolahan limbah agar nilai tambah produknya terdongkrak.

Baca juga: Esai Inklusif Mahasiswa PWK ITN Malang Sabet Juara 3 Nasional Geo Science 2025 UM

Melalui studi ini, ia menyimpulkan bahwa transisi menuju ekonomi hijau di tingkat desa merupakan faktor kunci dalam menghadapi era ketidakpastian global, di mana sinergi multisektoral di Kebun Teh Wonosari diharapkan dapat menjadi motor penggerak utamanya.

Dalam menyusun esai ilmiah tersebut, langkah Aisyah juga tidak lepas dari kolaborasi dan dukungan rekan-rekannya. Ia dibantu oleh Aura Eka Pratami, sesama mahasiswi PWK ITN Malang, serta Kevie Desderius, Asisten Dosen Studio Kota PWK ITN Malang

Lewat pencapaian manis ini, Aisyah punya pesan sederhana untuk teman-teman sesama mahasiswa yang masih ragu untuk memulai menulis.

“Menurut saya, jangan takut untuk memulai. Banyak ide bagus justru datang dari masalah sederhana yang ada di sekitar kita. Menang itu bonus, tetapi pengalaman dan pembelajaran yang didapat adalah hal yang paling berharga,” pungkasnya mantap. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)




ITN Malang digandeng Bappelitbangda Mahakam Ulu untuk menyiapkan tiga kajian strategis untuk mendongkrak infrastruktur daerah (2) (1)

Gandeng ITN Malang, Bappelitbangda Mahakam Ulu, Siapkan Tiga Kajian Strategis untuk Dongkrak Infrastruktur Daerah

Kepala Bappelitbangda Kabupaten Mahulu, Yohanes Andi Abeh, S.Sos., M.Si., memberi sambutan pada acara pemaparan laporan pendahuluan untuk tiga kajian strategis di ITN Malang. (Foto: Yanuar/Humas ITN Malang)


Malang, ITN.AC.ID – Kerja sama antara Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) dan Pemerintah Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu), Kalimantan Timur makin solid. Setelah berjalan lebih dari lima tahun, sinergi ini kembali berlanjut lewat pemaparan laporan pendahuluan untuk tiga kajian strategis yang berfokus pada perencanaan wilayah dan infrastruktur. Pertemuan penting ini digelar di Ruang Workshop Lembaga Pengembangan Kerjasama dan Usaha (LPKU) Kampus I ITN Malang pada Rabu (17/06/2026).

Dr. Ir. Agustina Nurul Hidayati, MT., ahli infrastruktur wilayah ITN Malang saat presentasi Penyusunan Rencana Induk Infrastruktur Kawasan Strategis Daerah (KSD). (1)Dr. Ir. Agustina Nurul Hidayati, MT., ahli infrastruktur wilayah ITN Malang saat presentasi Penyusunan Rencana Induk Infrastruktur Kawasan Strategis Daerah (KSD). (Foto: Mita/Humas ITN Malang)

Kepala Bappelitbangda Kabupaten Mahulu, Yohanes Andi Abeh, S.Sos., M.Si., datang langsung bersama jajarannya. Ia menyampaikan apresiasi kepada tim ahli ITN Malang yang telah mendampingi Bappelitbangda dalam beberapa kajian pada tahun-tahun sebelumnya, serta telah merampungkan laporan pendahuluan untuk tiga kajian di bidang infrastruktur wilayah.

“Kehadiran Bapak Rektor bersama seluruh tim di sini adalah sebuah kebanggaan bagi kami. Laporan pendahuluan ini baru tahapan awal dari tiga kajian yang akan digarap. Kami berharap teman-teman dari Bappelitbangda bisa memberikan masukan komprehensif agar penyusunan dokumen ini bisa selesai tepat waktu, berjalan sesuai rencana dan bermanfaat untuk pembangunan wilayah Kabupaten Mahakam Ulu,” ujar Yohanes.

Ia juga menambahkan bahwa kerja sama ini menjadi langkah nyata dalam meningkatkan kualitas pembangunan di Mahulu demi menyukseskan program prioritas RPJMD.

Baca juga: Jaga Sinergi, ITN Malang dan Mahakam Ulu, Kaltim Lanjutkan Komitmen Bangun Daerah untuk Mahulu Melaju

Komitmen senada juga ditegaskan oleh Rektor ITN Malang, Awan Uji Krismanto, ST., MT., Ph.D. Di tengah tantangan kondisi fiskal yang dihadapi pemerintah daerah hingga pusat saat ini, ITN Malang tetap berkomitmen penuh mengawal pembangunan Mahulu.

“Terima kasih atas kepercayaan yang diberikan selama lebih dari lima tahun ini. Saya selalu menekankan kepada tim ahli ITN untuk bekerja dengan baik, tertib administrasi sesuai kontrak, tepat waktu, dan menjaga kualitas. Kami yakin Mahulu bisa berkembang menjadi kabupaten terdepan dan menjadi percontohan di Kalimantan Timur,” ungkap Rektor optimis.

Pada kesempatan yang sama, Kepala LPKU ITN Malang, Ir. Ardiyanto Maksimilianus Gai, ST., M.Si., MM., menjelaskan, karena sifatnya masih laporan pendahuluan, pembahasan belum masuk ke substansi yang sangat detail. Fokus utama pertemuan ini adalah menyepakati ruang lingkup, metodologi, dan tahapan kerja ke depan.

Untuk menuntaskan agenda besar ini, LPKU ITN Malang menerjunkan tiga pakar terbaiknya dari Prodi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK): Rencana Penyelenggaraan Pengelolaan Perkotaan (RP2P), digarap oleh Dr. Ir. Ibnu Sasongko, MT (pakar perancangan perkotaan); Penyusunan Rencana Induk Infrastruktur Kawasan Strategis Daerah (KSD), ditangani oleh Dr. Ir. Agustina Nurul Hidayati, MT (ahli infrastruktur wilayah); dan Pengembangan Daya Dukung Lahan dan Infrastruktur Wilayah, dianalisis oleh Dr. Mohammad Reza, ST., MURP.

ITN Malang digandeng Bappelitbangda Mahakam Ulu untuk menyiapkan tiga kajian strategis untuk mendongkrak infrastruktur daerah (3) (1)ITN Malang digandeng Bappelitbangda Mahakam Ulu untuk menyiapkan tiga kajian strategis untuk mendongkrak infrastruktur daerah. (Foto: Mita/Humas ITN Malang)

Ardiyanto menargetkan dokumen yang disusun ini tidak hanya menjadi pajangan, tapi bisa menjadi instrumen kuat untuk mendatangkan pembiayaan infrastruktur ke Mahulu. “Apalagi tahun ini tim ITN juga sedang membantu Kementerian ATR dalam menyusun rencana tata ruang Kawasan Strategis Nasional. Mahulu harus bersiap menyambut perubahan besar ini agar potensi aksesnya bisa dimaksimalkan,” tambahnya.

Sementara itu, Dr. Ir. Agustina Nurul Hidayati, MT membeberkan, tantangan terbesar di lapangan adalah keterbatasan data primer dan adanya aturan adat setempat yang khas. Karakteristik ini membuat tim tidak bisa memakai standar umum begitu saja dalam menyusun rencana infrastruktur di delapan kawasan strategis kabupaten. Terlebih lagi, beberapa di antaranya berbatasan langsung dengan kawasan strategis nasional, sehingga membutuhkan klastering dalam menyusun Rencana Induk Infrastruktur Kawasan Strategis Kabupaten Mahulu.

Untuk menyempurnakan perencanaan, perlu dilakukan kajian mengenai kearifan lokal masyarakat setempat yang memiliki aturan adat, tapi belum ada pembakuan tertulis soal kepemilikan tanah adat atau pola ruang adat. Data ini diharapkan dapat dihimpun bersamaan dengan survei yang akan dilakukan.

“Data dari hasil survei lapangan kami nanti justru akan menjadi sumber data baru yang sangat berharga bagi pemda setempat. Masukan dari analisis daya dukung lahan Pak Reza juga akan saya padukan untuk menyusun perencanaan yang benar-benar sesuai kondisi riil untuk menyusun Rencana Induk Infrastruktur Kawasan Strategis Kabupaten,” jelas Nurul akrab disapa.

Baca juga: RTRW Selaras – Lahan Pangan Terkendali, ITN Malang Dampingi Kabupaten Nganjuk Matangkan Revisi RTRW

Nurul menambahkan, melalui analisis dari Pak Ibnu Sasongko, Rencana Penyelenggaraan Pengelolaan Perkotaan (RP2P) akan direncanakan untuk wilayah ibu kota dan sekitarnya. Dokumen tersebut bakal menjadi bagian penting bagi pemda dalam menyempurnakan RPJM, menentukan prioritas pembangunan, serta mengelola anggaran daerah maupun dana pusat secara lebih terukur.

Setelah pemaparan laporan pendahuluan ini selesai, tim ahli ITN Malang dijadwalkan segera turun ke lapangan untuk melakukan survei. Mereka akan memperbarui kebijakan makro yang berlaku sekaligus mengagendakan asistensi khusus ke Kemendagri terkait regulasi pengelolaan perkotaan yang baru. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)




Mahasiswa Arsitektur ITN Malang foto bersama Ar. Andy Rahman, IAI, Principle Andyrahman Architect

Mahasiswa Arsitektur ITN Malang Bedah Inovasi Bata Andyrahman Architect hingga Eksotika Kota Tua Surabaya

Mahasiswa Arsitektur ITN Malang foto bersama Ar. Andy Rahman, IAI, Principle Andyrahman Architect. (Foto: Istimewa)


Malang, ITN.AC.ID – Beda dari biasanya, gelaran Archi Tour 3.0 kali ini membawa rombongan mahasiswa Arsitektur S-1, Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) keluar dari zona nyaman. Jika sebelumnya mereka hanya mengunjungi di dalam Kota Malang, maka pada pekan pertama Juni 2026 kemarin, sebanyak 24 mahasiswa dari berbagai angkatan bertolak ke Surabaya. Perjalanan lintas kota ini jelas jauh lebih kompleks, tapi setara dengan ilmu yang didapat setelah menyusuri studio arsitek kondang, masjid unik, hingga sudut-sudut kota tua.

Mahasiswa Arsitektur ITN Malang mengunjungi Andyrahman ArchitectMahasiswa Arsitektur ITN Malang mengunjungi Andyrahman Architect. (Foto: Istimewa)

Daya tarik utama perjalanan ini adalah kesempatan melihat langsung dapur perancangan Andyrahman Architect. Koordinator kegiatan dari Himpunan Mahasiswa Arsitektur (HMA), Muhammad Arif Wahyu Hidayat, mengungkapkan, biro ini sengaja dipilih karena rekam jejaknya yang kuat dalam mengawinkan arsitektur tropis kontemporer dengan napas Nusantara.

Insight terbesar yang ingin kami capai adalah memahami bagaimana material lokal yang sederhana seperti bata dapat dieksplorasi secara inovatif dan kontekstual di era modern tanpa kehilangan akar nilai Nusantaranya,” ujar Wahyu akrab disapa saat dihubungi lewat sambungan WhatsApp beberapa waktu lalu.

Secara praktis, Wahyu menambahkan, lewat kunjungan ini mahasiswa ingin mempelajari cara mengolah material tersebut agar mampu merespons iklim tropis dengan baik. Seperti mengoptimalkan pencahayaan alami, ventilasi silang (cross ventilation), dan sirkulasi udara, serta melihat langsung penerapan konsep desain biophilic dalam ruang kerja profesional.

Baca juga: Belajar Survive di Dunia Kerja, Mahasiswa Arsitektur ITN Malang “Ngaji” Proyek ke Biro Alumni

“Eksplorasi bata inovatif tersebut kami saksikan langsung wujud terbangunnya saat mengunjungi Masjid Lego (Masjid Al-Fattah), Ambarteja, dan Larasrasa House. Di Masjid Lego, kamu melihat sistem konstruksi ramah lingkungan menggunakan bata interlock yang disusun presisi tanpa proses pembakaran untuk menekan emisi karbon,” bebernya.

Setelah puas membedah material modern, perjalanan mereka bergeser ke arah sejarah dan tata kota dengan mengunjungi Museum Siola dan kawasan Kota Tua Surabaya. Museum Siola memberi potret utuh mengenai perkembangan regulasi dan tata ruang Kota Pahlawan, sementara kawasan Kota Tua menjadi laboratorium visual terbuka yang kaya dengan koridor bangunan kolonial abad ke-18 hingga ke-20.

Bagi Nafila Azzalia, salah satu peserta, momen di studio Andyrahman dan penjelajahan kota tua menjadi yang paling berkesan. “Momen yang paling berkesan adalah saat berkunjung ke Andyrahman Architect, terutama ketika diajak melihat langsung laboratorium dan beberapa hasil eksperimen material yang mereka kembangkan,” tuturnya.

Rombongan mahasiswa Arsitektur ITN Malang berpose di Kota Tua SurabayaRombongan mahasiswa Arsitektur ITN Malang berpose di Kota Tua Surabaya. (Foto: Istimewa)

Sementara saat keliling kota tua, Nafila dan rombongan belajar tentang sejarah bangunan yang ada di sana, dan mencoba sirup jadul yang katanya pabrik sirup pertama yang didirikan oleh Belanda.

Kunjungan Studio Andyrahman ini pun sukses memicu motivasi belajarnya setelah melihat langsung ekosistem kerja profesional.

“Setelah melihat langsung suasana kerjanya, saya semakin termotivasi untuk menjadi arsitek. Saya melihat profesi arsitek tidak hanya tentang menggambar desain yang menarik, tetapi juga tentang berpikir kritis, bekerja sama dalam tim, dan mencari solusi untuk berbagai permasalahan yang ada di lapangan. Itu membuat saya sadar bahwa kemampuan yang harus dimiliki arsitek sangat luas,” urai Nafila.

Ia juga mendapat sudut pandang baru mengenai fleksibilitas bahan bangunan lokal yang ternyata sangat dinamis. Salah satunya terkait material bangunan. “Di sana saya melihat bagaimana material bata dapat dikembangkan menjadi berbagai bentuk yang lebih inovatif, seperti bentuk segitiga, modul seperti lego, dan bentuk lainnya yang tidak biasa. Dari situ saya belajar bahwa material juga bisa menjadi bagian dari eksplorasi desain yang kreatif dan mempertimbangkan bahan baku material yang digunakan,” tambahnya.

Baca juga: Intip Pengolahan Air High Rate dan PLTSa Benowo, Mahasiswa Teknik Lingkungan ITN Malang Bedah Teknologi IPAM Modern dan Manajemen Sampah Surabaya

njungan akademik ini dirancang secara umum untuk menunjang Studio Perancangan Arsitektur di kampus, serta sangat membantu mata kuliah Teknologi Bahan Bangunan, Arsitektur Nusantara, Arsitektur Tropis, hingga Kritik Arsitektur. Untuk luaran langsungnya, HMA mewajibkan seluruh peserta membuat karya sketsa dan fotografi real-time di lokasi yang nantinya juga akan dilombakan.

Menurut Nafila, perjalanan ini menyisakan kehangatan tersendiri bagi internal organisasi. “Yang paling berkesan bagi saya adalah kebersamaan selama perjalanan. Mulai dari berangkat bersama, berdiskusi tentang bangunan yang dikunjungi, hingga bercanda bersama teman-teman. Momen-momen sederhana seperti makan bersama, dan selama kegiatan membuat hubungan antar anggota HMA menjadi lebih dekat,” tutup Nafila. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)