Dr. Ir. Roland Martin Simatupang, ST., MT., M.Sc., saat memberikan materi pada kuliah tamu ECIVE 2026 di Teknik Sipil ITN Malang

Jadi “Detektif” Konstruksi: Mahasiswa Sipil ITN Malang Kupas Tuntas Forensic Engineering

Kuliah Tamu ECIVE 2026 Himpunan Mahasiswa Sipil (HMS), ITN Malang mengangkat tema “Peran Forensic Engineering dalam Mewujudkan Infrastruktur Aman dan Berkelanjutan”. (Foto: Yanuar/Humas ITN Malang)


Malang, ITN.AC.ID – Ketika sebuah bangunan retak atau jembatan runtuh, siapakah yang paling dicari? Di dunia teknik sipil, mereka adalah Forensic Engineer alias detektifnya dunia konstruksi. Peran menantang inilah yang dikupas dalam Kuliah Tamu ECIVE 2026 yang digelar Himpunan Mahasiswa Sipil (HMS), Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) di Aula Kampus 1 pada Rabu (20/5/2026).

Menghadirkan Dr. Ir. Roland Martin Simatupang, ST., MT., M.Sc. (Dosen Teknik Sipil UB), acara ini menjadi bagian dari Civil Engineering Festival (CEF) 2026. Mengangkat tema penting, “Peran Forensic Engineering dalam Mewujudkan Infrastruktur Aman dan Berkelanjutan”.

Kuliah Tamu ECIVE 2026 Himpunan Mahasiswa Sipil (HMS), ITN Malang mengangkat tema Peran Forensic Engineering dalam Mewujudkan Infrastruktur Aman dan BerkelanjutanKuliah Tamu ECIVE 2026 Himpunan Mahasiswa Sipil (HMS), ITN Malang mengangkat tema “Peran Forensic Engineering dalam Mewujudkan Infrastruktur Aman dan Berkelanjutan”. (Foto: Yanuar/Humas ITN Malang)

Ketua Pelaksana, Dr. Ir. Vega Aditama, ST., MT., IPM., menjelaskan, kompetensi ini sengaja dikenalkan sejak dini agar mahasiswa paham cara mengaudit struktur bangunan eksisting.

“Mahasiswa atau lulusan kita nanti harus tahu apa yang harus dilakukan kalau menemui bangunan yang rusak struktur. Kita perlu investigasi dulu lewat analisis struktur sebelum merencanakan perkuatan (retrofitting). Termasuk kalau ada rencana penambahan lantai, kekuatan struktur lamanya wajib dicek total,” jelas Vega.

Baca Juga: Ajang CEF Teknik Sipil ITN Malang Jadi Ruang Kreativitas dan Berburu Beasiswa DPP Up To 100% Pelajar Jawa-Bali

Perencana vs Detektif Struktur

Dalam paparannya, Roland mengajak peserta melihat teknik sipil dari dua sisi berbeda. Jika insinyur perencana (design engineer) fokus mendesain bangunan baru untuk masa depan, maka insinyur forensik justru bergerak ke masa lalu untuk membongkar misteri kegagalan struktur

“Ketika terjadi kerusakan bangunan, di situlah insinyur forensik masuk melakukan investigasi ilmiah untuk mencari akar masalahnya (root cause analysis) berdasarkan bukti lapangan,” urai Roland.

Ia menambahkan, kegagalan bangunan biasanya terjadi karena kombinasi banyak faktor, mulai dari kesalahan desain, korosi, kecerobohan pelaksanaan di lapangan, beban berlebih, hingga faktor alam seperti gempa bumi.

Modal dan Roadmap Karier

Menurutnya, menjadi detektif struktur tentu butuh modal kuat. Selain paham kode standar (SNI, ASTM, dll) dan mahir menggunakan tools analisis seorang insinyur forensik wajib memiliki integritas moral yang tinggi.

“Insinyur forensik itu harus objektif, independen, dan siap menjadi saksi ahli (expert witness),” tegasnya.

Kuliah tamu ini sukses membuka mata para calon insinyur baru ITN Malang bahwa setiap kegagalan bangunan selalu meninggalkan jejak teknis. Dari kegagalan itulah, dunia teknik sipil justru belajar banyak untuk menciptakan infrastruktur masa depan yang jauh lebih aman. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)

Baca Juga: Borong Juara di ECIVE ITN Malang 2026: Pembuktian Ketangguhan Siswa SMK Sore Tulungagung dan SMAN 1 Pamekasan




Teknik Sipil S1 ITN Malang gelar Dies Natalis ke 75 tahun

Masuk Usia 57 Tahun, Teknik Sipil S1 ITN Malang Incar Akreditasi Unggul di 2029

Teknik Sipil S1 ITN Malang gelar Dies Natalis ke 75 tahun. (Foto: Yanuar/Humas ITN Malang)


Malang, ITN.AC.ID – Di usia yang ke-57 tahun, Program Studi Teknik Sipil S-1, Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) membuktikan diri bukan hanya sekadar prodi senior, namun juga prodi yang sarat prestasi. Salah satu bukti teranyarnya dibeberkan langsung oleh Wakil Rektor 3 ITN Malang, Dr. Hardianto, ST., MT. Dari ratusan prodi Teknik Sipil negeri dan swasta se-Indonesia, ITN Malang berhasil menembus jajaran elit 26 kampus yang lolos sebagai finalis Kompetisi Jembatan Indonesia (KJI) dan Kompetisi Bangunan Gedung Indonesia (KBGI).

“Kalau mahasiswanya mengikuti lomba, masuk finalis terus. Dari sekitar 253 prodi Teknik Sipil di Indonesia, hanya 26 yang masuk finalis KJI dan KBGI, salah satunya Teknik Sipil ITN Malang,” ujar Hardianto bangga di hadapan para siswa SMA/SMK peserta lomba, dan sivitas Teknik Sipil.

Kepala Prodi Teknik Sipil S-1, ITN Malang, Dr. YosimsonPetrus Manaha, ST., MT., memotong tumpeng dan menyerahkan kepada purna tugas TeknikSipil

Kepala Prodi Teknik Sipil S-1, ITN Malang, Dr. Yosimson Petrus Manaha, ST., MT., memotong tumpeng dan menyerahkan kepada purna tugas Teknik Sipil. (Foto: Yanuar/Humas ITN Malang)

Pernyataan tersebut disampaikan Hardianto saat menghadiri syukuran Dies Natalis ke-57 Teknik Sipil S1 ITN Malang pada Rabu (20/05/2026). Digelar di Aula Kampus 1, perayaan tahun ini dikemas secara sederhana namun sarat makna. Momen ini juga menjadi puncak dari rangkaian Civil Engineering Festival (CEF) 2026 sekaligus sesi awarding bagi para pemenang lomba Education of Civil Engineering (ECIVE) 2026.

Suasana hangat makin terasa dengan kehadiran para dosen purna tugas yang mengawal prodi rintisan ini sejak awal. Sebagai simbol rasa syukur dan harapan ke depan, acara diisi dengan pemotongan tumpeng serta prosesi unik “Pohon Harapan”. Di pohon ini, seluruh sivitas akademika Teknik Sipil menempelkan kertas berisi doa dan impian mereka untuk prodi tercinta.

Kepada para siswa peserta lomba ECIVE, Hardianto juga meyakinkan bahwa mereka tidak akan salah pilih jika kelak melanjutkan kuliah di ITN. “Hari ini peringatan Dies Natalis Teknik Sipil ke-57. Sangat wajar kalau prestasinya banyak sekali karena prodi ini termasuk prodi rintisan yang usianya sudah sangat matang,” imbuhnya.

Kepala Prodi Teknik Sipil S-1, ITN Malang, Dr. Yosimson Petrus Manaha, ST., MT., bersama sivitas dan purna tugas Teknik Sipil ITN Malang.

Kepala Prodi Teknik Sipil S-1, ITN Malang, Dr. Yosimson Petrus Manaha, ST., MT., bersama sivitas dan purna tugas Teknik Sipil ITN Malang. (Foto: Yanuar/Humas ITN Malang)

Target Akreditasi Unggul dan Penguatan SDM

Sementara itu, Kepala Prodi Teknik Sipil S-1, ITN Malang, Dr. Yosimson Petrus Manaha, ST., MT., merefleksikan perjalanan panjang prodi yang dipimpinnya. Selama hampir enam dekade, Teknik Sipil ITN Malang telah melahirkan ribuan lulusan yang kini tersebar di seluruh Indonesia, baik di jajaran pemerintahan maupun sektor swasta.

Tak hanya serapan kerja yang luas, performa akademik mahasiswa di dalam kampus juga terus digenjot. Yosimson menyebutkan, saat ini sudah banyak mahasiswa yang berhasil lulus cepat dalam waktu 3,5 tahun dan mayoritas lulus tepat waktu 4 tahun.

Baca juga: Jadi “Detektif” Konstruksi: Mahasiswa Sipil ITN Malang Kupas Tuntas Forensic Engineering

“Untuk tahun ini, target lulusan tepat waktu kami patok di atas 40 persen. Ini bagian dari strategi besar kami untuk mengejar akreditasi Unggul di tahun 2029 nanti,” jelasnya.

Untuk memuluskan target akreditasi Unggul tersebut, pembenahan total dilakukan di berbagai lini. Tidak hanya fokus menambah jumlah doktor pada tahun 2029, peningkatan kualitas Tenaga Kependidikan (Tendik) juga jadi prioritas.

“Kami juga mengejar kualifikasi laboran. Lab kita memang lengkap, tapi SDM laborannya juga dinilai. Jadi, laboran harus lulusan S1 dan mengantongi sertifikasi resmi. Kualitas dosen dan tendik harus sama-sama kita benahi,” tegasnya.

Baca juga: Borong Juara di ECIVE ITN Malang 2026: Pembuktian Ketangguhan Siswa SMK Sore Tulungagung dan SMAN 1 Pamekasan

Menutup momen bahagia ini, Yosimson menyampaikan apresiasi mendalam kepada seluruh pihak yang telah membesarkan Teknik Sipil ITN Malang.

“Terima kasih kepada bapak ibu dosen, rekan-rekan teknik sipil, para purna tugas, dan seluruh mahasiswa yang sudah bahu-membahu membawa prodi ini terus bergerak maju. Selamat ulang tahun Teknik Sipil, semoga semakin berkembang, kaya inovasi, dan selalu dipercaya oleh masyarakat,” pungkasnya. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)




Pemenang kategori AutoCAD Drafting Competition (ADC), Education of Civil Engineering (ECIVE) 2026 Teknik Sipil ITN Malang

Borong Juara di ECIVE ITN Malang 2026: Pembuktian Ketangguhan Siswa SMK Sore Tulungagung dan SMAN 1 Pamekasan

Pemenang kategori AutoCAD Drafting Competition (ADC), Education of Civil Engineering (ECIVE) 2026 Teknik Sipil ITN Malang. (Foto: Yanuar/Humas ITN Malang)


Malang, ITN.AC.ID – Kompetisi Education of Civil Engineering (ECIVE) 2026 yang digelar Teknik Sipil S-1, Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) akhirnya mencapai puncaknya. Setelah melalui seleksi ketat, para jawara baru di bidang ketekniksipilan resmi lahir. Kompetisi ECIVE yang menjadi bagian dari Civil Engineering Festival (CEF) 2026 ini berlangsung selama dua hari, Selasa-Rabu (19-20/05/2026) di Kampus 1 ITN Malang.

Pemenang Kategori Balsa Bridge Competition (BBC), Education of Civil Engineering (ECIVE) 2026 Teknik Sipil ITN Malang

 Pemenang Kategori Balsa Bridge Competition (BBC), Education of Civil Engineering (ECIVE) 2026 Teknik Sipil ITN Malang. (Foto: Yanuar/Humas ITN Malang)

Di kategori AutoCAD Drafting Competition (ADC), didominasi oleh SMK Sore Tulungagung, diraih oleh Galih Ardhan Fernanda, dan Kaka Dewa Jagad Dhita yang sukses mengamankan podium juara 1 dan 2. Sementara pada ajang Balsa Bridge Competition (BBC), Tim Gladak Anyar dari SMAN 1 Pamekasan berhasil memboyong piala juara 1 setelah jembatan kayu balsa rakitan mereka kokoh menahan beban maksimal.

Koordinator Panitia Mahasiswa, Muhammad Ramdan Nurfauzi, menjelaskan, ajang bertema “Designing the Future Through Civil Engineering Unity” ini diikuti oleh 29 pendaftar dari berbagai sekolah di Jawa Timur. Setelah melewati babak penyisihan secara online selama sebulan, di mana peserta BBC mengirimkan maket jembatan dan peserta ADC mengirimkan desain gedung ke panitia, terpilihlah 7 finalis ADC dan 5 tim finalis BBC untuk bertanding secara langsung di kampus.

Baca juga: Ajang CEF Teknik Sipil ITN Malang Jadi Ruang Kreativitas dan Berburu Beasiswa DPP Up To 100% Pelajar Jawa-Bali

“Tantangan terbesar bagi sekolah memang di babak final yang dilakukan secara offline, terutama bagi sekolah yang lokasinya cukup jauh untuk mengirimkan delegasinya. Namun, kami bersyukur antusiasmenya luar biasa. Semoga kompetisi ini bisa terus memotivasi adik-adik SMA/SMK untuk tidak ragu melanjutkan kuliah di dunia Teknik Sipil,” ujar Ramdan.

Apresiasi luar biasa pun sudah disiapkan oleh kampus untuk menghargai kerja keras para pemenang. ITN Malang memberikan bonus beasiswa berupa potongan Dana Pengembangan Pendidikan (DPP). Untuk semua kategori lomba, bagi juara 1 kampus menggratiskan DPP 100%. Sementara untuk juara 2 berhak mendapatkan potongan DPP sebesar 75%, dan juara 3 mendapatkan potongan 50%.

Kemenangan Galih di kompetisi desain bangunan 2 lantai ini terbilang dramatis. Meski sudah sering ikut lomba serupa, ia mengaku sempat kelimpungan dengan durasi lomba yang sangat mepet.

Baca juga: Kembali Digelar, FTSP Cup 2026 Jadi Magnet Semangat di Kampus 1 ITN Malang

“Nggak nyangka sama sekali bisa juara 1, soalnya hampir semua peserta termasuk saya tidak sampai menyelesaikan semua gambar. Di sini aplikasinya beda dan harus gambar satu-satu,” cerita Galih antusias.

Tantangan waktu juga diakui oleh Kaka, sang juara dua yang juga rekan satu sekolah Galih. Jika biasanya saat latihan mereka punya waktu 6 jam untuk menyelesaikan 8 gambar, di final ECIVE ini mereka dipaksa memeras otak dan kecepatan tangan untuk menghasilkan 12 gambar hanya dalam waktu 3 jam. Namun, kerja keras itu terbayar lunas.

Melengkapi posisi tiga besar ADC, Wildan Faza Pamungkas dari SMKN 2 Kraksaan Probolinggo keluar sebagai juara 3. Baginya, melesetnya beberapa grid gambar karena terburu bukan masalah besar. Pengalaman bertanding di ITN Malang justru menjadi portofolio berharga untuk bekalnya masuk ke perguruan tinggi nanti.

*Kejutan dari Siswa SMA di Arena Jembatan Balsa*

Jika lomba AutoCAD dikuasai anak SMK, kejutan besar justru terjadi di kategori Balsa Bridge Competition (BBC). Tim Gladak Anyar dari SMAN 1 Pamekasan, yang beranggotakan Tulus Firmansyah (Firman), Mohammad Dhorif Aflah Faisal (Dhorif), dan Bintang Achmad Fauzani, sukses menyingkirkan peserta lain.

Ketegangan sempat menyelimuti tim saat memasuki fase uji pembebanan jembatan. Dhorif bercerita bahwa mereka baru bisa bernapas lega dan tersenyum lebar saat melihat timer terus berjalan dan jembatan mereka sanggup bertahan paling lama. Rahasia kekompakan tim kelas 11 ini terletak pada pembagian tugas yang tepat. Firman memegang kendali penuh pada perhitungan dimensi, Dhorif bertugas memotong kayu balsa, dan Bintang mengeksekusi proses pengeleman.

“Triknya ada di pengeleman. Antar sambungan kayu balsa itu sama sekali tidak boleh ada celah atau bolong sedikit pun,” ungkap mereka membagikan kunci kemenangan.

Keberhasilan SMAN 1 Pamekasan makin lengkap karena Tim Jagoan Mama (juga dari SMAN 1 Pamekasan) sukses mengamankan Juara 2 dengan nilai 934.91, tepat di bawah Tim Gladak Anyar yang meraih skor tertinggi 1095.14. Sedangkan Juara 3 diraih oleh Tim Dinaya dari SMKN 1 Singosari dengan total nilai 895.28.

Di balik gelar juara dari SMAN 1 Pamekasan ini, ada cerita unik dari Riski Saputra, guru pembina. Siapa sangka, mentor tim jembatan balsa tangguh ini sebenarnya adalah seorang guru Bahasa.

“Ini ilmu yang benar-benar baru buat saya. Basic saya guru bahasa, tapi saya belajar engineering secara otodidak selama 3 tahun ini demi memfasilitasi anak-anak ekskul yang penasaran dengan struktur kayu balsa,” ujar Riski. Ia berharap kompetisi seperti ini terus konsisten diadakan setiap tahun oleh ITN Malang sebagai sarana regenerasi bagi siswa SMA yang tertarik dengan dunia teknik. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)

Balsa Bridge Competition (BBC), Education of Civil Engineering (ECIVE) 2026 Teknik Sipil ITN Malang

Balsa Bridge Competition (BBC), Education of Civil Engineering (ECIVE) 2026 Teknik Sipil ITN Malang. (Foto: Yanuar/Humas ITN Malang)




WhatsApp Image 2026-05-22 at 8.07.01 AM

Ajang CEF Teknik Sipil ITN Malang Jadi Ruang Kreativitas dan Berburu Beasiswa DPP Up To 100% Pelajar Jawa-Bali

Ketua Pelaksana Civil Engineering Festival (CEF) 2026, Ir. Vega Aditama, ST., MT., IPM. (Foto: Yanuar/Humas ITN Malang)


Malang, ITN.AC.ID – Ada cara menarik yang dilakukan Program Studi Teknik Sipil S-1, Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) untuk menyambut calon mahasiswa baru. Tak tanggung-tanggung, didukung institusi, Prodi Teknik Sipil menyiapkan Dana Beasiswa Pengembangan Pendidikan (DPP) hingga 100 persen bagi para pelajar SMA/SMK se-Jawa-Bali yang berhasil menjuarai ajang Civil Engineering Festival (CEF) 2026.

Gelaran bergengsi yang mengkolaborasikan kompetisi ECIVE (Education of Civil Engineering), dan perayaan Dies Natalis Teknik Sipil ke-57 ini berlangsung meriah. Berpusat di Kampus 1 ITN Malang, kegiatan digelar selama dua hari, Selasa-Rabu (19-20/05/2026),

Ketua Pelaksana CEF 2026, Ir. Vega Aditama, ST., MT., IPM, menjelaskan, daya tarik beasiswa ini bukan tanpa alasan. Pihak kampus memang ingin menjaring bibit-bibit muda terbaik yang punya akurasi, kecepatan, dan kreativitas tinggi di bidang ketekniksipilan. Bagi juara 1 di semua kategori lomba, ITN menggratiskan DPP 100%. Sementara untuk juara 2 mendapat potongan DPP 75%, dan juara 3 sebesar 50%.

Wakil Dekan 3 FTSP ITN Malang, Ida Soewarni, ST., MT., saat memberi sambutan pada pembukaan Civil Engineering Festival (CEF) 2026 Prodi Teknik Sipil S-1, ITN Malang.Wakil Dekan 3 FTSP ITN Malang, Ida Soewarni, ST., MT., saat memberi sambutan pada pembukaan Civil Engineering Festival (CEF) 2026 Prodi Teknik Sipil S-1, ITN Malang. (Foto: Yanuar/Humas ITN Malang)

“Tujuan utamanya kami ingin mengenalkan lingkungan akademik dan dunia perguruan tinggi secara langsung. Kami ingin siswa SMA/SMK lebih dekat dengan ITN Malang lewat kompetisi yang edukatif sekaligus aplikatif,” ujar Vega, di Ruang Workshop 2 LPKU ITN Malang, Selasa (19/05/2026).

Untuk tahun ini, CEF mengusung konsep 3-in-1. Selain kompetisi ECIVE yang mempertandingkan AutoCAD Drafting Competition (ADC), dan Balsa Bridge Competition, acara juga diisi dengan kuliah tamu bertajuk Forensic Engineering (Rekayasa Forensik), serta ditutup dengan syukuran potong tumpeng dalam keakraban Dies Natalis ke-57 Prodi Teknik Sipil S-1.

Baca juga: Creation 3.0 Teknik Sipil: Uji Pembebanan Jadi Bukti Ketangguhan Desain Jembatan Balsa Mahasiswa 

Vega menambahkan, suksesnya acara ini berkat kerja keras bersama antara prodi dan Himpunan Mahasiswa Sipil (HMS). “Keterlibatan aktif dari prodi dan arahan pimpinan membuat koordinasi jadi makin cepat, sehingga acara bisa eksekusi dengan lancar. Bagi mahasiswa kami sendiri, ini menjadi ruang terbaik untuk melatih manajerial organisasi, memupuk solidaritas, dan kreativitas,” imbuhnya.

Apresiasi tinggi juga datang dari Wakil Dekan 3 Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) ITN Malang, Ida Soewarni, ST., MT. Di hadapan para peserta dan guru pendamping, Ida memuji keberanian para pelajar yang datang dari berbagai daerah.

Baca juga: Sempat Ingin Jadi Arsitek, Ismatul Khasanah Justru Jadi Lulusan Terbaik Teknik Sipil ITN Malang dengan Skripsi “Anti-Telat” Proyek

“Kalian adalah generasi muda yang luar biasa. Berani mengambil keputusan dan melangkah ke sini sudah menunjukkan kualitas jati diri kalian. Soal menang atau kalah itu urusan kesekian, yang penting lakukan tugas sebaik mungkin,” ungkap Ida menyemangati.

Dalam sambutannya, Ida juga sempat mengenalkan sekilas bahwa FTSP ITN Malang saat ini menaungi lima program studi sarjana, yakni Teknik Sipil, Arsitektur, Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK), Teknik Lingkungan, dan Teknik Geodesi. Ia meyakinkan para peserta bahwa mereka berada di tempat yang tepat, mengingat rekam jejak Teknik Sipil ITN Malang yang sangat disegani di level kompetisi mahasiswa.

Siswa berbagai sekolah mengikuti Civil Engineering Festival (CEF) 2026 Teknik Sipil S-1 ITN MalangSiswa berbagai sekolah mengikuti Civil Engineering Festival (CEF) 2026 Teknik Sipil S-1 ITN Malang. (Foto: Yanuar/Humas ITN Malang)

“Prestasi Teknik Sipil kita ini luar biasa, tidak hanya nasional tapi internasional. Di ajang Kompetisi Jembatan Indonesia (KJI) kami selalu langganan masuk 10 besar. Begitu juga di Kompetisi Bangunan Gedung Indonesia (KBGI), tim ITN selalu berhasil tembus hingga babak finalis. Jadi, selamat bertanding dan berikan yang terbaik!” pungkasnya. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)




Mahasiswa Arsitektur S-1 ITN Malang, talkshow bersama Ar. Ir. Jully Prihandinie, IAI., owner CV Safira Mitrano. (1)

Belajar Survive di Dunia Kerja, Mahasiswa Arsitektur ITN Malang “Ngaji” Proyek ke Biro Alumni

Mahasiswa Arsitektur S-1 ITN Malang, talkshow bersama Ar. Ir. Jully Prihandinie, IAI., owner CV Safira Mitrano. (Foto: Istimewa)


Malang, ITN.AC.ID – Bagi mahasiswa arsitektur, melihat langsung bagaimana sebuah coretan sketsa bertransformasi menjadi bangunan nyata adalah sebuah keberuntungan. Sadar bahwa teori di ruang kelas saja tidak cukup, Himpunan Mahasiswa Arsitektur (HMA), Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) menggelar Architour 2026, pada Sabtu (16/5/2026).

Mahasiswa Arsitektur S-1, ITN Malang mengunjungi CV Safira Mitrano biro desain dan kontraktor di Malang (2)Mahasiswa Arsitektur S-1, ITN Malang mengunjungi CV Safira Mitrano biro desain dan kontraktor di Malang. (Foto: Istimewa)

Menariknya, kunjungan kali ini terasa spesial karena 31 mahasiswa dari berbagai angkatan menyambangi CV Safira Mitrano. Biro desain dan kontraktor besar di Malang tersebut didirikan oleh alumnus Arsitektur S-1 ITN Malang, yaitu Ar. Ir. Jully Prihandinie, IAI.

Memilih CV Safira Mitrano sebagai jembatan belajar tentu bukan tanpa alasan. Pasalnya, biro ini dipimpin oleh arsitek perempuan yang sukses. Ia berhasil membangun biro mandiri yang melayani desain arsitektural, interior, hingga lanskap. Tempat ini menjadi role model yang sempurna bagi para mahasiswa. Terlebih lagi fasilitas yang dimiliki terbilang lengkap. Terdiri dari studio berlantai tiga yang dilengkapi dengan workshop produksi interior di dalamnya.

Ketua Pelaksana Architour 2026, Khaldi Jibran Maulana, mengungkapkan, acara ini menjadi sangat penting karena mahasiswa membutuhkan insight segar mengenai manajemen biro, dan cara bertahan di industri profesional. Mereka juga mendapatkan hal-hal yang jarang dikupas tuntas di bangku kuliah.

Baca Juga : Alumnus Arsitektur ITN Malang: Arsitek Harus Padukan Seni dan Keteknikan demi Hadapi Persaingan Global

“Kami ingin mahasiswa tahu cara survive di dunia kerja, belajar ilmu desain langsung dari praktisi, dan yang tidak kalah penting menjaga hubungan baik dengan alumni. Serta kedepannya membuka peluang relasi kerja atau magang,” ujar mahasiswa angkatan 2023 ini saat dihubungi lewat sambungan WhatsApp pada Senin (18/05/2026).

Menurut Khaldi, HMA mengemas acara ini dengan konsep yang interaktif. Sesi sharing disulap menjadi obrolan santai berkonsep live podcast. Jully Prihandinie bersama timnya membagikan kisah jatuh bangun merintis biro, cara mencari klien, hingga trik menghadapi dinamika proyek.

“Pada sesi room tour studio, dan workshop interior kami diajak berkeliling melihat proses kerja harian menggunakan aplikasi desain terkini, melihat berbagai sampel material, hingga teknis pengerjaan detail interior yang sedang diproduksi,” lanjutnya.

Baca Juga : Serunya Mahasiswa Arsitektur ITN Malang “Menyulap” Sekolah di Dusun Kuso Jadi Lebih Ceria

Pengalaman langsung ini membuka mata para peserta, salah satunya Casmira Carla Ina Prada, mahasiswi angkatan 2025. Carla mengaku awalnya mengira kunjungan ini hanya akan berisi penjelasan singkat dan mengamati ruangan saja.

“Ternyata jauh di luar ekspektasi. Di sini kami belajar bagaimana membangun CV yang diminati, mengatasi masalah di lapangan, dan membentuk karakter yang stabil di industri. Jujur, setelah melihat langsung, saya merasa realita kerja arsitek itu jauh lebih kompleks, tentang bagaimana proses berpikir dan tanggung jawab dalam tim,” cerita Carla antusias.

Carla juga menambahkan bahwa pesan yang paling membekas baginya adalah soal disiplin pada hal-hal kecil. Di dunia profesional, keteledoran kecil pada detail desain bisa berdampak besar pada hasil akhir bangunan. Lewat ritme kerja cepat yang dilihatnya, ia sadar bahwa skill komunikasi, manajemen waktu, dan penguasaan software harus dikejar selagi masih kuliah.

Mahasiswa Arsitektur S-1, ITN Malang mengunjungi CV Safira Mitrano biro desain dan kontraktor di MalangMahasiswa Arsitektur S-1, ITN Malang mengunjungi CV Safira Mitrano biro desain dan kontraktor di Malang. (Foto: Istimewa)

Pulang dari kunjungan ini, Carla mengaku termotivasi untuk belajar, dan cepat lulus. Ke depan, ia berharap HMA bisa lebih sering mengadakan Architour dengan destinasi yang semakin beragam, seperti konsultan desain skala besar atau langsung terjun meninjau proyek pembangunan yang sedang berjalan. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)