Makin kompak. Himpunan Mahasiswa Arsitektur ITN Malang usai membagikan takjil di Kawasan Mulyoagung, Dau.

Mandat Kompak HMA ITN Malang: Dari Bagi-Bagi Takjil di Jalan Hingga Bukber Lintas Angkatan

Makin kompak. Himpunan Mahasiswa Arsitektur ITN Malang usai membagikan takjil di Kawasan Mulyoagung, Dau. (Foto: Istimewa)


Malang, ITN.AC.ID – Kesegaran es buah racikan mahasiswa Arsitektur seketika mencairkan suasana di sekitar kawasan Waroeng Tani, Mulyoagung, Dau, Malang, Jumat sore (13/3/2026). Di tengah hiruk-pikuk lalu lintas jelang berbuka, sekitar 10 mahasiswa dari Himpunan Mahasiswa Arsitektur (HMA), Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) tampak sigap membagikan paket takjil kepada para pengguna jalan.

Kegiatan bertajuk “HMA Berbagi” ini memang sengaja memilih menu es buah yang isinya lengkap. Mulai dari melon, semangka, nanas, jelly, hingga nata de coco, karena rasanya yang segar paling pas untuk membatalkan puasa setelah seharian menahan dahaga. Sebanyak 125 cup takjil yang dibeli dari hasil donasi kolektif mahasiswa dan dosen ini ludes hanya dalam waktu 30 menit.

Baca Juga : PSHT ITN Malang Bersama Puluhan Pendekar PSHT Malang Raya Turun ke Jalan Berbagi Takjil

Yuni Purwatiningsih, ketua pelaksana menceritakan bahwa persiapan berbagi takjil tahun ini terasa lebih matang. “Tahun lalu takjilnya masih sedikit dan cuacanya kurang mendukung. Alhamdulillah tahun ini jumlahnya lebih banyak dan cuacanya cerah, jadi semuanya berjalan jauh lebih lancar,” ungkap mahasiswa semester 6 ini.

Proses pembagian yang berlangsung singkat itu menyisipkan banyak cerita hangat. Ada interaksi manis saat mahasiswa menyapa warga dengan ramah. Reaksi masyarakat pun sangat positif, bukan sekadar menerima pemberian, banyak dari mereka yang berhenti sejenak untuk memberikan doa dan ucapan terima kasih kepada anak-anak muda ini. Antusiasme warga sempat membuat arus lalu lintas sedikit padat, namun semangat kerja sama tim membuat segalanya tetap terkendali.

Pemilihan lokasi di dekat Waroeng Tani juga bukan tanpa alasan. Lokasi ini dipilih agar setelah aksi berbagi selesai, para mahasiswa bisa langsung berkumpul untuk buka puasa bersama tanpa harus bolak-balik berpindah tempat.

Himpunan Mahasiswa Arsitektur ITN Malang membagikan takjil di kawasan Mulyoagung Dau MalangHimpunan Mahasiswa Arsitektur ITN Malang membagikan takjil di kawasan Mulyoagung Dau Malang. (Foto: Istimewa)

Setelah aksi bagi takjil usai, acara berlanjut ke sesi internal di Waroeng Tani. M. Wahyu Arif Hidayat menuturkan, momen buka bersama ini menjadi wadah penting untuk mempererat tali silaturahmi antar angkatan mahasiswa Arsitektur.

“Kami ingin menjaga hubungan sosial dan meningkatkan rasa kebersamaan di bulan yang penuh berkah ini. Harapannya, mahasiswa Arsitektur bisa makin kompak ke depannya,” ujar Wahyu.

Baca Juga : Bukan Sekedar Estetika, Arsitek Harus Paham Material: Serunya Platinum Ceramics Goes to Campus di ITN Malang

Kegiatan rutin tahunan ini tidak hanya sekadar membagi makanan, tapi juga menjadi cara HMA ITN Malang untuk mengasah kepekaan sosial sekaligus memperkuat solidaritas di internal himpunan. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)




Momen kebersamaan Himpunan Mahasiswa Geodesi dengan para dosen saat Ramadan

Ketulusan Tanpa Sekat di Balik Pembagian Paket Buka Puasa Mahasiswa Geodesi ITN Malang

Momen kebersamaan Himpunan Mahasiswa Geodesi dengan para dosen saat Ramadan. (Foto: Istimewa)


Malang, ITN.AC.ID – Ada pemandangan hangat di depan Kampus 1 ITN Malang pada Jumat sore (13/03/2026). Di tengah hiruk pikuk kendaraan yang mengejar waktu berbuka, belasan mahasiswa Teknik Geodesi S-1, Institut Teknologi Nasional Malang tampak sibuk membagikan paket takjil kepada para pengendara dan pejalan kaki. Aksi sosial ini wujud nyata solidaritas mahasiswa yang melampaui batas perbedaan agama.

Anicentus Efrem Bu’u, ketua pelaksana, mengungkapkan, antusiasme anggota Himpunan Mahasiswa Geodesi (HMG) kali ini sangat luar biasa. Tak hanya mahasiswa muslim, mahasiswa non-muslim pun terjun langsung mulai tahap persiapan hingga turun ke jalanan membagikan takjil. Bagi mereka, perbedaan keyakinan justru menjadi motor penggerak untuk mensukseskan acara ini.

Baca Juga : Mandat Kompak HMA ITN Malang: Dari Bagi-Bagi Takjil di Jalan Hingga Bukber Lintas Angkatan

“Kami di Geodesi tidak membeda-bedakan. Teman-teman non-muslim sangat semangat membantu, karena kami merasa senang bisa mendukung saudara-saudara yang sedang menjalankan ibadah puasa. Ini soal kebersamaan,” ungkap mahasiswa semester 6 tersebut.

Hanya dalam waktu singkat sekitar 200 takjil yang dipersiapkan ludes dibagikan. Isinya pun beragam, mulai dari air mineral, roti, hingga es teh dingin yang segar. Paket-paket ini merupakan hasil kolaborasi antara HMG, dukungan program studi, hingga kontribusi dari Ikatan Alumni Teknik Geodesi.

Mahasiswa Teknik Geodesi ITN Malang membagikan takjil di depan Kampus 1 ITN Malang. (2)Mahasiswa Teknik Geodesi ITN Malang membagikan takjil di depan Kampus 1 ITN Malang. (Foto: Mita/Humas)

Senada dengan itu, Ketua HMG Reynaldo Antonio Bokilia menegaskan bahwa keberagaman adalah kekuatan utama di jurusannya. “Motivasi kami mensukseskan acara ini tanpa membeda-bedakan latar belakang. Di Geodesi, mahasiswa kami tidak hanya yang muslim, tapi juga ada dari agama lain. Kami yang non-muslim pun merasa sangat antusias menyambut Ramadan dengan berbagi takjil, karena kami senang bisa membantu saudara-saudara yang sedang berpuasa,” jelasnya.

Salah satu momen yang cukup menyentuh adalah saat seorang bapak pemulung menerima paket tersebut dengan mata berkaca-kaca. Beliau memberikan doa tulus agar para mahasiswa ini kelak menjadi insinyur yang sukses dan tetap rendah hati. Momen-momen seperti inilah yang membuat tantangan mengatur lalu lintas di depan kampus terasa tidak seberapa dibandingkan kebahagiaan yang didapat.

Baca Juga : Teknik Geodesi ITN Malang Terima Hibah Laser Scanner Standar Industri Tambang dari PT Saptaindra Sejati (SIS)

Tahun ini, jumlah paket yang dibagikan meningkat dibanding tahun lalu yang berjumlah 150 paket. Reynaldo berharap kegiatan bertema “Berbagi Kebaikan, Menjalin Kebersamaan di Bulan Suci Ramadan” ini bisa terus konsisten dan menjadi agenda rutin tahunan.

“Setelah berbagi takjil kami juga mengadakan buka bersama untuk semakin meningkatkan rasa kebersamaan antar anggota HMG dan juga dosen,” pungkasnya.

Ke depan, HMG berencana memperluas jangkauan manfaat dengan menggandeng himpunan mahasiswa jurusan lain di lingkungan ITN Malang. Harapannya agar kepedulian sosial mahasiswa semakin terasah dan solidaritas antar sesama semakin kokoh, baik di dalam maupun di luar kampus. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)




Kaprodi Arsitektur S-1 ITN Malang, Ir. Gaguk Sukowiyono, MT., saat membuka acara Platinum Ceramics Goes to Campus di ITN Malang

Bukan Sekedar Estetika, Arsitek Harus Paham Material: Serunya Platinum Ceramics Goes to Campus di ITN Malang

Kaprodi Arsitektur S-1 ITN Malang, Ir. Gaguk Sukowiyono, MT., saat membuka acara Platinum Ceramics Goes to Campus di ITN Malang. (Foto: Yanuar/Humas ITN Malang)


Malang, ITN.AC.ID – Menjadi arsitek ternyata bukan hanya soal jago menggambar atau membuat desain yang estetik. Ada realita lapangan yang jauh lebih kompleks, mulai dari urusan beban vertikal lantai sampai urusan “berdamai” dengan tukang bangunan. Pesan kuat itulah yang dibawa dalam acara Platinum Ceramics Goes to Campus yang digelar di Studio Arsitektur Lantai 4, Gedung Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP), Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang), Selasa (10/03/2026).

Mengusung tema “Designed to Align”, puluhan mahasiswa arsitektur lintas angkatan berkumpul untuk mendengarkan rahasia industri yang jarang tersentuh di bangku kuliah. Bersama narasumber dari Platinum Ceramics, dan alumni Arsitektur ITN Malang.

Jembatan Teori Kampus dan Realita Industri

Kaprodi Arsitektur S-1 ITN Malang, Ir. Gaguk Sukowiyono, MT., memberikan sentilan menarik saat membuka acara. Menurutnya, pemahaman material adalah harga mati bagi calon arsitek. “Mungkin buat kalian ini hanya sekedar keramik. Tapi kalau salah pilih material, pembangunannya pasti bermasalah. Sederhananya begini, ada keramik dinding motifnya bagus, tapi malah kalian pakai buat lantai. Padahal lantai ada beban vertikalnya. Akhirnya? Rusak. Jangan cuma kejar indahnya saja,” tegas Gaguk.

Baca Juga : “Perzpective” di ITN Malang: Kupas Rumah Sehat & Material Arsitektur Berkelanjutan

Hal senada disampaikan Ahmad Muzaki dari pihak Platinum Ceramics. Ia menekankan bahwa material adalah “nyawa” yang membuat bangunan terasa berbeda. Melalui program ini, PT Platinum Ceramics Industry ingin menjembatani jarak antara dunia akademik dan realita industri.

Ahmad Muzaki dari Platinum Ceramics memberi wawasan kepada mahasiswa terkait material keramik (2)Ahmad Muzaki dari Platinum Ceramics memberi wawasan kepada mahasiswa terkait material keramik. (Foto: Yanuar/Humas ITN Malang)

Zaki akrab disapa menjelaskan, agenda ini memiliki misi khusus, yakni memberikan edukasi mengenai perkembangan teknologi keramik, menjembatani dunia akademik dengan industri, serta mendorong kreativitas mahasiswa dalam mengeksplorasi ide penggunaan material.

“Keunggulan Platinum diproduksi dengan standar SNI dan EN sehingga kualitas dan ketahanan terjamin.

Selebihnya di teknologi modern dan desain bervariatif,” katanya. Mahasiswa juga diperkenalkan dengan teknologi terbaru seperti superstop technology dan rectified edges yang menjamin presisi potongan tepi keramik.

Ia pun menaruh harapan besar agar mahasiswa mendapatkan wawasan baru sehingga mampu memahami material yang tepat untuk desain mereka. Dengan begitu, akan terbentuk calon profesional arsitektur yang paham betul gambaran kebutuhan dunia kerja, terutama soal material bangunan.

Platinum Goes to Campus ini harapannya bisa menjadi wadah teman-teman belajar hal yang tidak didapat waktu di universitas. Tentunya dengan menghadirkan praktisi atau profesional di bidang arsitektur/interior,” tambahnya.

Mendesain dengan Empati dan Solusi Lapangan

Suasana semakin hangat saat Ar. Akhmad Fatah Yasin, IAI, alumnus Arsitektur ITN Malang angkatan 1998 menyapa mahasiswa. Sosok yang akrab disapa Afis ini sekarang sukses mengelola biro “Imajiner Arsitek” di Kota Batu.

Baca Juga : Siapkan Mahasiswa Hadapi Mata Kuliah Baru, Informatika ITN Malang Gelar Kuliah Tamu Artificial Intelligence

Menariknya, Afis mengaku dulunya tidak punya cita-cita jadi arsitek. Namun, perjalanan membawanya jatuh cinta pada dunia ini hingga aktif mengikuti berbagai sayembara desain untuk mengukur kemampuan diri. Ia juga menceritakan bagaimana ia membangun studionya sendiri dengan konsep open house menggunakan bahan-bahan bekas yang murah namun tetap fungsional.

“Arsitektur itu penyelarasan antara ide, material, dan pembangunan. Masalah yang sering muncul di lapangan adalah ketika gambar tidak bisa dilaksanakan karena material berubah atau biaya terbatas. Di situlah arsitek harus putar otak jadi problem solver,” ujar Afis.

Ia juga berpesan agar mahasiswa tidak hanya “jago kandang” di depan software. “Sering-sering main ke proyek, belajar dari tukang. Jangan malu, meskipun mereka tidak sekolah tinggi, pengalaman lapangan mereka luar biasa. Mendesainlah dengan empati,” tambahnya.

Bagi mahasiswa, kegiatan ini seperti mendapat “suplemen” ilmu tambahan. Asrah Ardiansyah, mahasiswa semester IV, mengaku sangat terinspirasi. “Kami jadi punya gambaran nyata dunia kerja dari senior sekaligus tahu update material dari vendor langsung. Ini wawasan yang tidak kami dapat di kelas,” ungkapnya.

Selain edukasi, Platinum juga menantang kreativitas mahasiswa melalui Platinum Architectural Design Competition yang tahun ini memasuki tahun keempat.

Acara ditutup dengan harapan agar kolaborasi antara kampus dan praktisi seperti ini terus berlanjut. Sebab, arsitektur yang baik bukan hanya yang selaras dengan ide, tapi juga selaras dengan alam, budaya masyarakat, dan tentu saja, teknis di lapangan. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)

Ar. Akhmad Fatah Yasin, IAI, alumnus Arsitektur ITN Malang angkatan 1998 memberikan motivasi kepada mahasiswa.Ar. Akhmad Fatah Yasin, IAI, alumnus Arsitektur ITN Malang angkatan 1998 memberikan motivasi kepada mahasiswa. (Foto: Yanuar/Humas ITN Malang)




Ikatan Alumni Teknik Sipil (IATS) ITN Malang melakukan aksi sosial pembagian takjil di bulan Ramadan.

Kompak! Alumni Teknik Sipil ITN Malang “Turun Jalan” Bagikan Takjil di Depan Kampus 1

Ikatan Alumni Teknik Sipil (IATS) ITN Malang melakukan aksi sosial pembagian takjil di bulan Ramadan. (Foto: Istimewa)


Malang, ITN.AC.ID – Wajah depan Kampus 1, Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) kini tampak lebih segar dan berbeda. Memanfaatkan momen bulan suci ini, alumni ITN Malang yang tergabung dalam Ikatan Alumni Teknik Sipil (IATS) memutuskan untuk “kembali ke rumah” melalui aksi sosial pembagian takjil bertajuk “Mari Berbagi di Bulan yang Penuh Berkah”.

Kegiatan ini dijadwalkan berlangsung sebanyak empat kali selama Ramadan 1447 H, yakni pada hari Minggu, 22 Februari, 1 Maret, dan 8 Maret, serta ditutup pada Sabtu, 14 Maret 2026. Setiap sore mulai pukul 16.30 WIB, sebanyak 200 paket takjil disiapkan untuk diberikan kepada pengguna jalan, mulai dari ojek online, mahasiswa, hingga masyarakat umum yang melintas di depan gerbang Kampus 1 ITN Malang.

Baca Juga : “Dalam Doa Kita Setara”: Saat Alumni IKA Surya ITN Malang Memeluk Hangat Anak-Anak Istimewa di Gresik

Koordinator kegiatan, Ir. Bambang Wedyantadji, MT., menjelaskan, bahwa misi utama IATS adalah berbagi kenikmatan bagi mereka yang sedang menjalankan ibadah puasa. “Selain itu, harapan kami sebagai alumni keberadaan kampus ITN Malang, khususnya Teknik Sipil, semakin dikenal luas dan dekat di hati masyarakat,” ujar alumnus angkatan 1978 ini saat dihubungi lewat sambungan whatsapp pada Senin (02/03/2026).

Ada cerita menarik di balik pemilihan lokasi pembagian. Salah satu pengurus IATS, menceritakan bahwa awalnya sempat ada rencana membagi tim di dua titik. Namun, setelah mempertimbangkan berbagai hal, diputuskan untuk fokus di depan kampus 1.

“Harapannya, masyarakat dan pengguna jalan bisa lebih memperhatikan wajah ITN Malang yang sekarang sedang berbenah dan tampil beda. Dana kegiatan ini pun murni hasil patungan para donatur alumni Teknik Sipil sendiri,” ungkapnya.

Diguyur hujan Ikatan Alumni Teknik Sipil (IATS) ITN Malang membagikan takjil di depan kampus 1 ITN MalangDiguyur hujan Ikatan Alumni Teknik Sipil (IATS) ITN Malang membagikan takjil di depan kampus 1 ITN Malang. (Foto: Istimewa)

Meski cuaca sempat tidak menentu, seperti pada hari pertama yang diguyur hujan, semangat para alumni tidak luntur. “Namanya sudah niat, ya kami jalankan sesuai rencana. Alhamdulillah pada pembagian hari kedua kemarin cuaca sangat cerah. Isian takjilnya pun kami buat beda-beda setiap hari, seperti kemarin ada tiga macam kue, dan air mineral,” tambahnya.

Uniknya, IATS sengaja memilih hari libur (Sabtu dan Minggu) agar tidak mengganggu jadwal kerja para alumni yang berprofesi beragam, mulai dari kontraktor hingga dosen. Setiap aksi bagi takjil juga melibatkan mahasiswa aktif. Tujuannya agar tidak ada sekat antara senior dan junior, sehingga mahasiswa merasa lebih dekat dengan para pendahulunya.

Baca Juga : Lab Transportasi dan Jalan Raya ITN Malang Resmi Mandiri, Siap Genjot Kerja Sama Industri dan Skill Mahasiswa

Setelah bagi-bagi takjil selesai, acara biasanya dilanjut dengan buka puasa bersama. Momen ini menjadi ruang diskusi santai bagi para alumni yang jarang bisa berkumpul karena kesibukan masing-masing. Melalui gerakan ini, IATS berharap bisa memantik semangat alumni lain untuk ikut berpartisipasi dalam Bulan Ramadan, dan kembali menengok “almamater biru” yang kini sedang terus bersolek. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)