Prodi Teknik Geodesi S-1 ITN Malang menerima hibah laser scanner standar industri tambang dari PT Saptaindra Sejati (SIS).

Teknik Geodesi ITN Malang Terima Hibah Laser Scanner Standar Industri Tambang dari PT Saptaindra Sejati (SIS)

Prodi Teknik Geodesi S-1 ITN Malang menerima hibah laser scanner standar industri tambang dari PT Saptaindra Sejati (SIS). (Foto: Mita/Humas ITN Malang)


Malang, ITN.AC.ID – Teknologi pemetaan tingkat tinggi kini hadir langsung di laboratorium Teknik Geodesi S-1, Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang). Meski bukan unit baru gres dari pabrik, dua unit Laser Scanner Riegl VZ 1000 resmi dihibahkan oleh PT Saptaindra Sejati (SIS) ke kampus pada Selasa (24/02/2026). Alat yang harga barunya bisa mencapai angka 2 hingga 5 miliar ini diserahkan langsung kepada Kaprodi Teknik Geodesi S-1, Dedy Kurnia Sunaryo, ST., MT.

Langkah ini menjadi bukti nyata kepedulian alumni Teknik Geodesi terhadap almamaternya. Sosok di balik hibah ini adalah Dofiq Munawar (Section Head Surveyor), angkatan 1999, dan Saiful Muklas (Supervisor Survey), angkatan 2012 yang kini berkarir di salah satu kontraktor pertambangan terbesar di Indonesia tersebut.

Baca Juga Jadi “Rumah” Bagi Surveyor, ITN Malang Gelar Uji Kompetensi Kadaster Perdana

Bagi kampus swasta, pengadaan alat high-end seperti laser scanner memang tantangan besar karena harganya yang tidak murah. Itulah mengapa hibah alat yang masih sangat layak pakai, dan mumpuni ini menjadi sangat berharga untuk proses belajar.

“Jujur saja, kalau kampus swasta harus beli baru, harganya cukup berat. Alhamdulilah, adanya hibah ini memudahkan mahasiswa praktikum. Apalagi sekarang eranya Project Based Learning (PBL), alat ini bisa dipakai untuk memetakan area heritage hingga monitoring struktur bangunan secara 3D,” ujar DK Sunaryo, sapaan akrab Dedy Kurnia Sunaryo, yang juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada PT Saptaindra Sejati.

Kaprodi Teknik Geodesi S-1, Dedy Kurnia Sunaryo, ST., MT., (kiri) bersama Saiful Muklas, Supervisor Survey dari PT Saptaindra Sejati (SIS)Kaprodi Teknik Geodesi S-1, Dedy Kurnia Sunaryo, ST., MT., (kiri) bersama Saiful Muklas, Supervisor Survey dari PT Saptaindra Sejati (SIS). (Foto: Mita/Humas ITN Malang)

Ia, menjelaskan bahwa alat seberat 15 kg ini akan mengubah cara mahasiswa belajar. Di era 3D dan Building Information Modeling (BIM) sekarang, mahasiswa tidak lagi sekadar menarik garis, tapi mengolah jutaan titik koordinat (point cloud).

“Harapan kami, alumni yang bekerja di tambang bisa menghibahkan alat yang sudah waktunya regenerasi di perusahaannya untuk digunakan adik-adiknya di sini,” tuturnya.

Kehadiran laser scanner ini tidak hanya akan dinikmati mahasiswa Geodesi. Prodi Teknik Geodesi berencana membuka pintu kolaborasi dengan prodi lain di Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP), seperti Arsitektur, Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK), Teknik Sipil, hingga Teknik Lingkungan.

Hibah ini terasa spesial karena ada faktor “ikatan batin” di baliknya. Saiful Muklas yang mengantarkan alat tersebut menyampaikan, hibah alat bukan kali pertama, sebelumnya alumni juga telah menghibahkan total station, dan kini mereka meningkatkan levelnya dengan memberikan laser scanner.

“Ini bentuk bakti kami ke kampus. Kami ingin berkontribusi secara bertahap dengan menghibahkan alat-alat yang masih sangat layak pakai, agar adik-adik kelas punya insight teknologi yang digunakan di industri,” ujar Saiful.

Baca Juga : Kampus 2 ITN Malang Jadi “Laboratorium Raksasa” Pemetaan SMKN 1 Singosari

Saiful menjelaskan, alat ini berfungsi untuk mengambil data topografi dalam bentuk point cloud 3D. Cara kerjanya adalah dengan memindai seluruh area sekitar hingga menangkap jutaan titik koordinat yang kemudian menyatu menjadi model tiga dimensi yang presisi.

“Keunggulan utamanya ada pada akurasi data point cloud-nya. Alat ini punya jangkauan pindai mulai dari 500 meter hingga maksimal 1 kilometer. Hasilnya berupa kumpulan titik 3D yang sangat detail,” terang alumnus asal Kabupaten Malang ini.

Tak berhenti di hibah alat, PT SIS juga membuka kesempatan untuk mempererat kerja sama di masa depan seperti opsi magang. Jadi, mahasiswa tidak hanya jago mengoperasikan alatnya di laboratorium, tapi juga punya jalur langsung untuk merasakan aplikasinya di lapangan kerja sesungguhnya.

“Kami ingin adik-adik punya insight tentang alat yang benar-benar dipakai di industri pertambangan saat ini,” pungkasnya. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)




FTSP ITN Malang melepas 56 Calon Wisudawan di Yudisium periode I tahun 2026

Lulus Bukan Berarti Putus: FTSP ITN Malang Lepas 56 Calon Wisudawan di Yudisium Periode I

FTSP ITN Malang melepas 56 Calon Wisudawan di Yudisium periode I tahun 2026


Malang, ITN.AC.ID – Momen yudisium selalu punya rasa yang beda. Bagi 56 mahasiswa dari lima prodi di lingkup Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP), Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang), yudisium bukan sekadar seremoni tanda lulus.

Namun, gerbang awal untuk terjun ke dunia profesional yang sesungguhnya. Menariknya, bekal yang mereka bawa bukan hanya teori, namun lewat berbagai praktikum dan kerja sama industri selama kuliah, para lulusan ini dipersiapkan untuk langsung terjun di lapangan.

Dekan FTSP, Dr. Debby Budi Susanti, ST., MT., menyapa para peserta dengan hangat di Aula Kampus 1, pada Jumat (20/02/2026) kemarin. “Selamat! Kalau kalian sudah duduk di sini, artinya 96 persen studi kalian sudah beres,” ujarnya.

Baca Juga : Jadi “Rumah” Bagi Surveyor, ITN Malang Gelar Uji Kompetensi Kadaster Perdana

Namun, Debby juga mengingatkan masih ada kewajiban administratif yang tidak boleh dilupakan, seperti laporan jurnal. Bagi yang membutuhkan Surat Keterangan Lulus (SKL) untuk melamar kerja, Debby berpesan agar segera mengambilnya ke bagian admin fakultas sebelum ijazah resmi terbit saat wisuda pada April nanti.

Di sela-sela arahannya, Debby memberikan pesan yang sangat personal, dan sesuai dengan kondisi mental anak muda jaman sekarang. Ia meminta para lulusan untuk tetap percaya diri dengan jalurnya masing-masing.

“Jangan pernah membandingkan pencapaian kalian dengan teman yang lain. Tetap semangat dan jangan pantang menyerah. Kami berharap kalian tidak hanya menjadi pencari kerja, tapi justru pembuka lapangan kerja baru,” tambahnya.

Dekan FTSP, Dr. Debby Budi Susanti, ST., MT., memberi apresiasi pada lulusan terbaik masing-masing program studiDekan FTSP, Dr. Debby Budi Susanti, ST., MT., memberi apresiasi pada lulusan terbaik masing-masing program studi. (Foto: Yanuar/Humas ITN Malang)

Ia juga menegaskan, meski statusnya berubah menjadi alumni, ikatan dengan ITN Malang tidak akan putus. Sebagai bagian dari keluarga besar Ika ITN Malang, para lulusan diminta untuk membawa nama baik almamater, dan menceritakan hal-hal baik selama menimba ilmu di ITN Malang.

Deretan nama lulusan terbaik tiap prodi juga disampaikan saat yudisium. Nama Anita Claudia Novedy menjadi sorotan setelah berhasil meraih IPK tertinggi 3,76 dari Prodi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK). Menariknya, Anita mengaku tidak mempunyai ekspektasi muluk sejak awal kuliah. Ia hanya mencoba konsisten mengerjakan tugas semaksimal mungkin.

Baca Juga : ITN Malang Bantu Siapkan Masterplan RSUD Waibakul Sumba Tengah untuk Wujudkan Pelayanan Fasilitas Kesehatan yang Terstandardisasi dan Komprehensif

Rahasia sukses Anita “manajemen waktu”. Di tengah kesibukannya sebagai Sekretaris Umum Himpunan PWK (HMPWK), dan pengurus Ikatan Mahasiswa Perencanaan Indonesia (IMPI) wilayah Jatim-Bali-NTB, Anita punya prinsip tegas: tugas hari ini harus selesai dalam 1-2 hari.

“Jujur, teman-teman lain juga punya IPK tinggi. Bagi saya, lulus ini bukan akhir, tapi jenjang untuk melangkah ke tahap berikutnya. Tetap semangat buat teman-teman yang masih berjuang dengan skripsi!” pesannya.

Selain Anita, ada beberapa nama yang mencatatkan prestasi membanggakan sebagai lulusan terbaik di masing-masing program studi. Di antaranya adalah:

  • Anita Claudia Novedy, IPK 3,76 (Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota)
  • Deslyano Miyola Pratama, IPK 3,69 (Teknik Lingkungan)
  • Ismatul Khasanah, IPK 3,67 (Teknik Sipil)
  • Heribertus Nahak Seran, IPK 3,33 (Teknik Geodesi)
  • Aden Putra Bakti, IPK 3,23 (Arsitektur)

Acara ditutup dengan suasana penuh haru dan optimisme. FTSP ITN Malang secara resmi melepas para talenta muda ini untuk berkarya dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat melalui bekal ilmu teknik dan perencanaan yang sudah mereka kuasai. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)




Sivitas Teknik Sipil ITN Malang di depan Lab Transportasi dan Jalan Raya (2)

Lab Transportasi dan Jalan Raya ITN Malang Resmi Mandiri, Siap Genjot Kerja Sama Industri dan Skill Mahasiswa

Sivitas Teknik Sipil ITN Malang di depan Lab Transportasi dan Jalan Raya. (Foto: Mita/Humas ITN Malang)

Malang. ITN.AC.ID – Kabar segar datang dari Prodi Teknik Sipil S-1, Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang). Laboratorium Transportasi dan Jalan Raya kini resmi memiliki “rumah” sendiri yang lebih representatif. Lab Transportasi dan Jalan Raya hadir sebagai penunjang utama dalam proses pendidikan, penelitian, serta pelatihan bagi dosen, mahasiswa, maupun stakeholder terkait. Fasilitas ini membingkai berbagai kegiatan mulai dari belajar mengajar, praktikum, hingga bimbingan teknis di bidang transportasi dan jalan raya.

Lewat acara syukuran sederhana namun khidmat pada Rabu (12/02/2026), pengembangan laboratorium ini menandai babak baru dalam meningkatkan kualitas praktikum mahasiswa, sekaligus memperkuat jalinan kerja sama dengan pihak eksternal seperti Bina Marga, dan para kontraktor di bidang jalan raya.

Acara syukuran ini juga dihadiri oleh Wakil Rektor II, ITN Malang, Dr. Ir. Nusa Sebayang, MT., serta sejumlah dosen purna tugas. Kehadiran para senior ini bukan tanpa alasan, jaringan kuat yang dimiliki para dosen senior akan terus diberdayakan untuk mendukung operasional institut melalui kerja sama eksternal.

Syukuran Lab Transportasi & Jalan Raya ITN MalangSyukuran Lab Transportasi & Jalan Raya ITN Malang. Ki-ka: Kaprodi Teknik Sipil S-1, Dr. Yosimson Petrus Manaha, ST., MT., Kepala Lab Transportasi dan Jalan Raya, Annur Ma’ruf, ST., MT., dan Sekprodi Teknik Sipil, Nenny Roostrianawaty, ST., MT. (Foto: Mita/Humas ITN Malang)

Menurut Kaprodi Teknik Sipil S-1 ITN Malang, Dr. Yosimson Petrus Manaha, ST., MT., selama ini Lab Transportasi dan Jalan Raya masih bergabung dengan Lab Bahan Konstruksi (Beton). Langkah pemisahan ini bukan sekadar urusan pindah ruangan. Dengan adanya ruang mandiri, mahasiswa kini punya privasi dan fasilitas yang lebih fokus untuk mendalami praktikum perkerasan jalan maupun rekayasa lalu lintas.

“Harapannya jelas, agar kegiatan praktikum tidak lagi bercampur dengan lab lain. Selain itu, ini adalah syarat penting untuk memenuhi standar akreditasi yang mewajibkan adanya laboratorium transportasi dan jalan raya yang berdiri sendiri,” ujar Yosimson.

Baca Juga : ITN Malang Kawal Pembangunan Berkelanjutan di Kabupaten Timor Tengah Selatan, Perda RTRW 20 Tahun Mendatang Siap Disesuaikan

Hal serupa juga disampaikan oleh Kepala Lab Transportasi dan Jalan Raya, Annur Ma’ruf, ST., MT. Menurutnya, laboratorium ini akan menjadi pusat bagi mahasiswa untuk memahami karakteristik aspal dan material jalan. Mahasiswa tidak hanya belajar teori, tapi benar-benar menguji campuran pengerasan jalan agar siap saat terjun ke proyek lapangan nanti.

Kepala Lab Transportasi dan Jalan Raya, Annur Ma'ruf, ST., MT., bersama mahasiswa di Lab Transportasi dan Jalan Raya.Kepala Lab Transportasi dan Jalan Raya, Annur Ma’ruf, ST., MT., bersama mahasiswa di Lab Transportasi dan Jalan Raya. (Foto: Mita/Humas ITN Malang)

“Secara keilmuan, bahan jalan itu masuk dalam rekayasa transportasi. Sekarang, meski secara administratif sudah terpisah dari Lab Beton, kami tetap menjaga kolaborasi. Intinya adalah memberikan pelayanan maksimal untuk pendidikan mahasiswa ITN,” jelas Annur.

Saat ini, lab sudah mengakomodasi dua cabang praktikum besar, yakni Manajemen/Rekayasa Lalu Lintas, dan Praktikum Bahan Perkerasan Jalan (termasuk campuran aspal).

Menariknya, pengembangan laboratorium tersebut juga diproyeksikan sebagai mesin penggerak kerja sama industri. Selama ini Teknik Sipil ITN Malang dikenal mempunyai reputasi kuat, dan dipercaya oleh pihak luar dalam urusan uji pengerasan aspal. Dengan fasilitas yang lebih lengkap dan bertahap akan terus ditambah alat-alat baru, ITN ingin memperluas jangkauan layanan kepada kontraktor bidang jalan raya, dan Dinas Pekerjaan Umum (PU) Bina Marga.

Baca Juga : PUPR Pasuruan Perkuat Laboratorium, Gandeng ITN Malang dalam Pelatihan Teknis

“Ke depan, Lab Transportasi dan Jalan Raya tidak hanya menjadi tempat belajar, tapi juga pusat pelatihan terkait jalan raya yang terbuka bagi masyarakat luas dan stakeholder,” pungkas Annur. Dengan status sebagai salah satu lab unggulan di Teknik Sipil, ITN Malang semakin memantapkan posisinya sebagai mitra strategis dalam pembangunan infrastruktur nasional. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)




Muhammad Rafiqy Farhan, alumnus Teknik Sipil S-1 ITN Malang, angkatan 2021

Bukan Sekadar Kuliah, Farhan Buktikan Skill Sipil dan “Common Sense” Jadi Kunci Cepat Diserap Dunia Kerja

Muhammad Rafiqy Farhan, alumnus Teknik Sipil S-1 ITN Malang, angkatan 2021. (Foto: Mita/Humas ITN Malang)


Malang, ITN.AC.ID – Bertemu Muhammad Rafiqy Farhan di tengah acara Sharing Session Creation 3.0 Himpunan Mahasiswa Sipil (HMS), Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) pada Januari 2026 lalu, kita akan melihat sosok alumnus yang tidak hanya mengandalkan ijazah. Baru saja diwisuda pada September 2025, Farhan kini tengah disibukkan dengan perannya sebagai Junior Engineer di PT Surya Tripta Rekayasa, sebuah konsultan perencana ternama di Kota Malang.

Alumnus Teknik Sipil S-1, angkatan 2021 ini memang bukan mahasiswa “biasa”. Saat masih di kampus, namanya langganan masuk daftar mahasiswa berprestasi. Tapi baginya, IPK 3,36 berkat Beasiswa Kaltim Tuntas sejak semester 3 hanyalah satu sisi mata uang. Sisi lainnya adalah jam terbang lapangan yang ia geluti sejak dibangku kuliah.

Baca Juga : Persiapan Mepet Bawa Mahasiswa Teknik Sipil ITN Malang Raih Juara 3 National Tender Competition

Skill gambar kerja dan bikin RAB itu sudah saya asah jauh sebelum lulus,” kenang alumnus SMAN 1 Samarinda ini. Bayangkan saja, di tahun 2023 saat baru selesai menjabat di himpunan, Farhan bersama tim sudah dipercaya menggarap proyek sanitasi di Papua. Ia juga sering dilibatkan oleh kerja sama ITN Malang untuk proyek-proyek strategis di Kalimantan Timur, dan Nusa Tenggara Timur, hingga pembangunan tiga rest area.

Belajar Hal yang Tak Diajarkan di Kelas

Saat kuliah Farhan juga dipercaya sebagai asisten Lab. Aplikasi Rekayasa Teknik Sipil, dan Lab. Manajemen Konstruksi. Bagi pria yang pernah menjadi asisten dosen mata kuliah Struktur Bangunan, dan Struktur Baja ini, dunia kerja saat ini juga bersinggungan dengan disiplin ilmu lainnya seperti arsitektur, mekanikal, elektrikal, dan lain-lain. Hal-hal tersebut terkadang tidak detail dibahas di bangku kuliah sipil.

“Kita harus rajin baca standar seperti SNI dan pedoman-pedoman lainnya. Kadang kita harus punya inisiatif buat belajar sendiri di luar posisi kita. Di proyek, kita bakal ketemu tim lain, jadi common sense dan kompetensi relevan itu harga mati kalau mau posisi strategis, karena kita sering diminta untuk mengambil keputusan dengan cepat,” tegasnya. Common sense adalah kemampuan untuk membuat keputusan yang baik berdasarkan pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki.

Muhammad Rafiqy Farhan, saat memberikan Sharing Session Creation 3.0 di Himpunan Mahasiswa Sipil (HMS) S-1, ITN MalangMuhammad Rafiqy Farhan, saat memberikan Sharing Session Creation 3.0 di Himpunan Mahasiswa Sipil (HMS) S-1, ITN Malang. (Foto: Mita/Humas ITN Malang)

Pengalaman Farhan terasah di meja kompetisi, dan bukan main-main. Ia pernah menyabet Juara 3 National Tender Competition CENS UI 2024, dan finalis kompetisi jembatan di UNY 2025. Baginya, ikut lomba tender adalah simulasi nyata dunia kerja. Di sana ia belajar kerumitan birokrasi dan dokumen administrasi proyek yang sangat kompleks.

Pesan untuk Mahasiswa: “Jangan Pasif!”

Aktif di organisasi selama dua periode di HMS hingga menjadi Ketua Pelaksana Kuliah Lapangan 2023, Farhan punya pesan kuat untuk adik tingkatnya. Ia mewanti-wanti agar mahasiswa jangan hanya jadi “kupu-kupu” (kuliah pulang-kuliah pulang).

Baca Juga : Creation 3.0 Teknik Sipil: Uji Pembebanan Jadi Bukti Ketangguhan Desain Jembatan Balsa Mahasiswa 

“Empat tahun itu singkat. Cari pengalaman di luar kelas karena masalah nyata ada di sana. Jangan pasif, cari exposure biar kelihatan. Perlu diingat, tidak semua lowongan kerja itu dipublikasikan secara umum, mencarinya butuh exposure, merawatnya butuh networking/relasi,” tambahnya berbagi tips.

Kedepannya, pria yang memilih Teknik Sipil karena prospeknya yang luas di bidang SDA, Struktur, hingga Manajemen Konstruksi ini, tidak mau berhenti belajar. Sambil meniti karir sebagai engineer, Farhan sudah memasang target tinggi untuk melanjutkan studi lanjut.

Bagi Farhan, perjalanan dari Samarinda ke Malang bukan sekadar mencari gelar, tapi membangun pondasi kuat untuk masa depan konstruksi Indonesia. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)




ITN Malang gelar Uji Kompetensi Kadaster perdana, kerja sama dengan LSP Kadaster Indonesia, Ikatan Alumni Teknik Geodesi, dan MASKI Jawa Timur

Jadi “Rumah” Bagi Surveyor, ITN Malang Gelar Uji Kompetensi Kadaster Perdana

ITN Malang gelar Uji Kompetensi Kadaster perdana, kerja sama dengan LSP Kadaster Indonesia, Ikatan Alumni Teknik Geodesi, dan MASKI Jawa Timur. (Foto: istimewa)


Malang, ITN.AC.ID – Profesi surveyor pemetaan bukan hanya soal pegang alat ukur di lapangan, tapi juga soal tanggung jawab moral dan hukum. Menyadari pentingnya legalitas profesi tersebut, Prodi Teknik Geodesi S-1, Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) menjadi Tempat Uji Kompetensi Sewaktu (TUKS) untuk Uji Kompetensi Bidang Kadaster.

Uji kompetensi dilakukan oleh Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Kadaster Indonesia selama dua hari pada Kamis-Jumat (5-6/02/2026). Kegiatan tersebut terselenggara berkat kerja sama dengan Ikatan Alumni Teknik Geodesi ITN Malang, dan Masyarakat Ahli Surveyor Kadastral Indonesia (MASKI) Jawa Timur. Menariknya, ini adalah kali pertama Teknik Geodesi menjadi tuan rumah khusus untuk Uji Kompetensi Bidang Kadaster.

Baca Juga : ITN Malang Jadi Tuan Rumah Forum Ilmiah Tahunan Ikatan Surveyor Indonesia (FIT ISI) 2025: Dorong Kolaborasi Geospasial Berbasis AI

Ketua TUKS, Ali Swastanta Hadijaya, ST., sekaligus pimpinan KJSB Ali Swastanta Hadijaya dan Rekan menekankan, bahwa surveyor kadastral adalah mitra strategis ATR/BPN dalam pembuatan peta bidang tanah. Sertifikasi ini menjadi filter agar tidak ada kesalahan prosedur yang merugikan masyarakat atau negara.

“Kompetensi ini menguji pengalaman dan pengetahuan, mulai dari teknis hingga kode etik. Itu penting supaya mereka tidak salah langkah dan punya tanggung jawab ke BPN maupun masyarakat,” ujar Ali, yang juga merupakan alumnus Teknik Geodesi ITN Malang, angkatan 1996.

Praktik lapangan Uji Kompetensi Kadaster di ITN MalangPraktik lapangan Uji Kompetensi Kadaster di ITN Malang. (Foto: Yanur/Humas ITN Malang)

Sebanyak 40 peserta dari berbagai daerah seperti Malang, Lumajang, hingga Bojonegoro mengikuti ujian ini. Pesertanya beragam, mulai dari lulusan SMK hingga sarjana, yang terbagi dalam jenjang 2, 3, 4 (Asisten Surveyor Kadastral), serta jenjang 6 dan 7 (Surveyor Kadastral).

Kaprodi Teknik Geodesi S-1 ITN Malang, Dedy Kurnia Sunaryo, ST., MT., menyambut baik kegiatan ini sebagai langkah rutin ke depan. Ia berharap Teknik Geodesi ITN bisa menjadi tempat untuk uji kompetensi secara kontinu, mengingat kebutuhan sertifikat kadastral di Indonesia mencapai angka ribuan.

Kaprodi Teknik Geodesi S-1 ITN Malang, Dedy Kurnia Sunaryo, ST., MT., saat memberi sambutan pada acara Uji Kompetensi Kadaster di ITN MalangKaprodi Teknik Geodesi S-1 ITN Malang, Dedy Kurnia Sunaryo, ST., MT., saat memberi sambutan pada acara Uji Kompetensi Kadaster di ITN Malang. (Foto: Istimewa)

“Kami ingin mahasiswa Teknik Geodesi ITN punya bekal lengkap saat lulus, ada ijazah, transkrip, dan sertifikat kompetensi. Jadi mereka bisa langsung terjun ke masyarakat dan bekerja,” tutur DK Sunaryo akrab disapa.

Ia juga membidik peserta jenjang 3 dan 4 agar tertarik melanjutkan studi ke jenjang sarjana di Teknik Geodesi ITN Malang melalui fasilitas Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL).

Ujian yang dilakukan pun tidak main-main. Menurut Nyodi Prayitno, ST., dari LSP Kadaster Indonesia, ujian kompetensi mencakup portofolio, tes tulis, tes wawancara, hingga praktik lapangan. Bahkan untuk jenjang 7 yang paling berat, peserta dituntut memiliki pengalaman minimal 15 tahun, atau sudah memegang kompetensi jenjang 6 selama 3 tahun dengan fokus manajerial.

Baca Juga : Teknik Geodesi S-1 ITN Malang Gelar Trial Class “Smart Mapping, Smart Future”: Cetak Insan Geospasial Kompeten

“Sertifikat ini adalah syarat mutlak untuk mendapatkan lisensi di BPN. Kami memastikan tiga aspek: knowledge, skill, dan attitude. Pintar saja tidak cukup jika tidak jujur, karena pekerjaan ini bersinggungan langsung dengan hak milik masyarakat,” tegas Nyodi.

Ia juga memuji fasilitas di ITN Malang yang dinilai sangat layak sebagai TUKS, mulai dari ketersediaan benchmark untuk praktik, peralatan yang lengkap, hingga fasilitas pendukung seperti ruang ujian yang luas, dan mushola yang memadai. Rencananya, uji kompetensi serupa akan kembali digelar setelah lebaran mendatang untuk memenuhi tingginya permintaan pasar tenaga kerja di bidang survei dan pemetaan. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)