Pameran Nata Karya 6.0 Arsitektur ITN Malang 2025 (2)

Nata Karya 6.0 ITN Malang, Eksplorasi Arsitektur dari Akulturasi Budaya hingga Instalasi Jam Pasir Futuristik

Pameran Nata Karya 6.0 Arsitektur ITN Malang 2025. (Foto: Yanuar/Humas ITN Malang)


Malang, ITN.AC.ID – Program Studi Arsitektur S-1, Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) kembali menyuguhkan estetika visual melalui gelaran Nata Karya 6.0. Pameran karya arsitektur mahasiswa ini diselenggarakan di Taman Demo, Kampus 1 ITN Malang, pada Selasa (13/01/2026).

Bukan sekadar pameran, Nata Karya merupakan agenda rutin setiap semester yang berfungsi sebagai ajang apresiasi sekaligus penilaian publik terhadap karya-karya mahasiswa arsitektur. Puluhan karya mulai dari maket, poster desain, hingga instalasi bangunan dengan bentuk-bentuk unik terpajang rapi. Karya-karya ini menunjukkan kemampuan mahasiswa dalam merespons ruang dan bentuk.

Baca juga : Alumnus Arsitektur ITN Malang: Arsitek Harus Padukan Seni dan Keteknikan demi Hadapi Persaingan Global

Representasi Tugas dan Kebutuhan Riil

Amar Rizqi Afdholy, ST., MT., dosen Arsitektur S-1 ITN Malang menjelaskan, pameran ini merupakan hasil akhir dari beberapa tugas mata kuliah inti, di antaranya Estetika Bentuk, Perancangan Arsitektur (PA) 2, PA 4, dan Bangunan Portabel.

“Meskipun berasal dari beberapa mata kuliah saja, karya yang dihasilkan sangat banyak, dan beragam. Mahasiswa angkatan 2025, misalnya berfokus pada tugas perubahan bentuk Trimatra dan Dwimatra. Ada tugas individu mingguan berskala kecil, hingga tugas kelompok berupa instalasi Trimatra skala besar,” jelas Amar.

Amar Rizqi Afdholy, ST., MT., dosen Arsitektur S-1 ITN Malang (berkacamata) bersama tim Gapura Rupa Tanpa Suara karya mahasiswa semester 1 Arsitektur ITN Malang

Amar Rizqi Afdholy, ST., MT., dosen Arsitektur S-1 ITN Malang (berkacamata) bersama tim “Gapura Rupa Tanpa Suara” karya mahasiswa semester 1 Arsitektur ITN Malang. (Foto: Yanuar/Humas ITN Malang)

Lebih lanjut, Amar memaparkan progres di tingkat semester. Semester 3 (PA 2) mahasiswa ditantang membuat rumah tinggal dua lantai dengan fungsi ganda sebagai rumah profesi. Mereka diharuskan mencari klien untuk menyesuaikan desain dengan kebutuhan pengguna.

“Ini mengajarkan mereka untuk menekan ego arsitek, dan lebih mendengarkan keinginan klien sebagai gambaran dunia kerja nyata,” tambahnya.

Pada semester 5 (PA 4), di bawah bimbingan dosen Hamka, ST., MT., dan Ar. Moh. Syahru Romadhon Sholeh, ST., M.Ars., IAI., mahasiswa merancang bangunan multifungsi (mixed-use) berlantai banyak seperti hotel dan mal yang disajikan dalam bentuk poster.

Amar menilai kreativitas mahasiswa di setiap angkatan menunjukkan grafik yang meningkat. “Setiap angkatan memiliki karakter sendiri-sendiri. Mereka mampu menangkap arahan dosen dengan sangat baik. Kreativitas yang dihadirkan saat ini jauh lebih eksploratif dibanding (Nata Karya) sebelumnya,” pungkasnya.

Filosofi Akulturasi Budaya dan Jam Pasir

Di antara puluhan instalasi, karya kelompok mahasiswa semester 1 menarik perhatian karena kedalaman filosofinya. Salah satu karya yang mencuri perhatian adalah “Gapura Rupa Tanpa Suara”. Kelompok mereka terdiri dari Mazza, Riko, Rio, Candra, Syahrul, Tama, dan Rayhan yang mengusung konsep akulturasi budaya Indonesia dalam balutan modernitas.

“Karya kami bernama Gapura Rupa Tanpa Suara karena ia menjadi saksi bisu pembelahan zaman dari tradisional ke era metropolitan/siber,” ujar Mazza.

Baca juga : Gapura Bertema Industrial “Harmoni dalam Perubahan” ITN Malang Sabet Juara 1 Sayembara Gapura Kota Batu 2025

Desain gapura ini menggabungkan elemen visual dari berbagai daerah, seperti Rumah Tongkonan (Sulawesi), motif Batik Kawung (Jawa), Penjor (Bali), Tombak (Papua), hingga atap Rumah Gadang (Sumatra). Untuk memberikan sentuhan futuristik, mereka menggunakan material kepingan DVD bekas untuk menciptakan refleksi cahaya yang dinamis.

Karya lainnya “Jam Waktu”. Tim yang beranggotakan Azeva, Bintang, Artha, Lalu, Rifki, dan Roy ini menghadirkan instalasi berbentuk jam pasir. Azeva menjelaskan, karya mereka menekankan pada konsep waktu yang berharga.

Tim “Jam Waktu” bersama instalasi “Jam Pasir” karya mahasiswa semester 1 Arsitektur ITN Malang
Tim “Jam Waktu” bersama instalasi “Jam Pasir” karya mahasiswa semester 1 Arsitektur ITN Malang. (Foto: Mita/Humas ITN Malang)

“Bagian atas menggunakan unsur kupu-kupu yang melambangkan keindahan. Pesannya adalah keindahan akan datang pada waktunya. Di bagian tengah, terdapat elemen berlian yang menyala sebagai titik pusat perubahan yang menjadi sudut pandang manusia,” urai Azeva.

Struktur ini dibangun menggunakan rangka besi sebagai penopang utama, diperkuat dengan triplek, karton, dan PVC foam board yang tahan air, serta benang pancing transparan untuk memberikan efek melayang pada elemen jam pasir. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)




Mahasiswa Arsitektur ITN Malang foto bersama pemateri usai mengikuti Talk Show Nata Karya 6.0

Alumnus Arsitektur ITN Malang: Arsitek Harus Padukan Seni dan Keteknikan demi Hadapi Persaingan Global

Mahasiswa Arsitektur ITN Malang foto bersama pemateri usai mengikuti Talk Show Nata Karya 6.0. (Foto: Yanuar/Humas ITN Malang)


Malang, ITN.AC.ID – Menjadi seorang arsitek tidak hanya sekadar bergelut di bidang seni, namun juga wajib menguasai sisi keteknikan agar karya yang dihasilkan terukur dan fungsional. Hal ini ditegaskan oleh Ar. Adhi Firman Hidayat, IAI, alumnus Arsitektur S-1, Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) angkatan 94. Pemaparan tersebut disampaikan Adhi dalam acara Talk Show Nata Karya 6.0 yang diselenggarakan oleh Prodi Arsitektur S-1 pada Selasa (13/01/2026) di Kampus 1 ITN Malang.

Pendiri Selasar Kiwari Studio ini hadir untuk berbagi perspektif mengenai bekal yang harus dikuasai mahasiswa agar lebih mudah berproses saat terjun ke dunia profesional. Ia menilai bahwa kurikulum di ITN Malang saat ini telah mumpuni karena mengakomodir standar dari Asosiasi Pendidikan Tinggi Arsitektur Indonesia (APTARI) guna menjawab kebutuhan pasar industri.

Dalam sesinya, Adhi mengingatkan mahasiswa untuk waspada terhadap ketatnya daya saing di masa depan. Berbeda dengan era dahulu, saat ini jumlah perguruan tinggi yang memiliki jurusan arsitektur semakin banyak, yang berbanding lurus dengan meningkatnya jumlah lulusan sarjana arsitektur di Indonesia.

Baca juga : “Perzpective” di ITN Malang: Kupas Rumah Sehat & Material Arsitektur Berkelanjutan

“Daya saing sekarang jauh lebih tinggi. Mahasiswa harus meningkatkan kompetensi sejak dini. Apa yang diberikan di kampus harus dijalani dan dieksplorasi lebih dalam agar nanti lebih adaptif. Ingat, tools (perangkat lunak desain) bisa diakses siapa saja, namun mentalitas untuk terus belajar dan tidak menyerah adalah kunci utamanya,” ujar Adhi.

Ar. Adhi Firman Hidayat, IAI, alumnus Arsitektur S-1, ITN Malang memberikan materi pada Talk Show Nata Karya 6.0 Arsitektur ITN Malang

Ar. Adhi Firman Hidayat, IAI, alumnus Arsitektur S-1, ITN Malang memberi materi pada Talk Show Nata Karya 6.0 di Prodi Arsitektur ITN Malang. (Foto: Yanuar/Humas ITN Malang)

Lebih lanjut, Adhi mengamati saat ini tren area kerja arsitek sangat luas. Menurutnya, ada yang fokus pada pemrograman (programming) hingga menjadi konseptor dan ahli visualisasi. Banyak pula arsitek yang bergerak di bidang architecture engineering untuk menerjemahkan bangunan secara teknis. Beberapa di antaranya bahkan mengkhususkan diri pada sisi engineering dengan bekerja di sektor kontraktor, manajemen konstruksi, hingga pengawas lapangan.

“Ada juga yang memilih berhenti hanya di dunia desain. Namun, saya melihat akan sangat bagus jika seorang arsitek bisa menggeluti keduanya (desain dan teknik). Secara pribadi, saya memilih untuk mengambil keduanya,” tambah Adhi.

Ia juga menjelaskan batasan mendasar antara arsitektur dan seni murni. Meski keduanya dibekali ilmu dasar seni dan estetika bentuk, arsitektur memiliki fokus yang lebih spesifik pada massa bangunan (building design).

Baca juga : ITN Malang-UTAR Malaysia Gelar International Real Estate Development Forum, Bahas Inovasi & Keberlanjutan

“Mahasiswa arsitektur diajarkan masalah keteknikan agar mampu menciptakan suatu seni yang terukur. Baik terukur kemudahannya, kenyamanannya, hingga aksesnya. Fokus utama arsitektur adalah menciptakan ruang bagi makhluk hidup. Tidak hanya soal visual, tapi juga kenyamanan, sirkulasi, serta perasaan luas atau sempitnya sebuah ruang,” bebernya.

Sebagai praktisi yang sukses, Adhi Firman Hidayat melalui Selasar Kiwari Studio bersama rekan satu almamaternya Muhammad Chottob W, IAI, telah melahirkan berbagai karya ikonik di berbagai daerah, di antaranya: fasilitas umum Pasar Pon Trenggalek, Kantor Cipta Karya Provinsi Jawa Timur, taman kota, taman lansia, Taman Sekar Gadung, dll. Juga ada berbagai proyek private house di Bandung dan Kalimantan.

Melalui sharing session ini, diharapkan mahasiswa Arsitektur ITN Malang dapat lebih termotivasi untuk mengasah kepekaan desain sekaligus ketelitian teknik sebagai modal utama menjadi arsitek profesional yang adaptif terhadap perubahan zaman. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)