PWK ITN Malang menerima kunjungan Studi Pengembangan Diri Tingkat Akhir SMA Islam Terpadu (SMAIT) Ar Rahman, Banjarbaru, Kalimantan Selatan

Jauh-Jauh dari Banjarbaru, Siswa SMAIT Ar Rahman Intip Masa Depan Lewat Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) ITN Malang

PWK ITN Malang menerima kunjungan Studi Pengembangan Diri Tingkat Akhir SMA Islam Terpadu (SMAIT) Ar Rahman, Banjarbaru, Kalimantan Selatan. (Foto: HMPWK)


Malang, ITN.AC.ID – Suasana Ruang PWK 2 Kampus 1, Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) tampak berbeda pada Jumat siang (23/01/2026). Sebanyak 26 siswa kelas 12 dari SMA Islam Terpadu (SMAIT) Ar Rahman, Banjarbaru, Kalimantan Selatan, hadir membawa semangat baru. Kunjungan ini bukan sekadar jalan-jalan biasa, melainkan bagian dari program Studi Pengembangan Diri Tingkat Akhir (SPDA) bertajuk “Pembelajaran Sehari di Kampus”.

Kehadiran angkatan ke-3 ini disambut hangat oleh Kepala Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) ITN Malang, Dr. Agung Witjaksono, ST., MT. Dalam sambutannya, Agung memaparkan betapa luasnya cakupan ilmu PWK yang mungkin selama ini belum banyak diketahui siswa SMA. Dimana PWK termasuk bidang multidisiplin.

“Pada dasarnya, teman-teman di PWK adalah ahli menata kota/kabupaten. Mulai dari skala kecil seperti kawasan perumahan, kawasan pariwisata, kawasan pesisir dan kawasan industri, hingga skala besar seperti provinsi maupun nasional. Kami mempelajari kondisi fisik seperti jenis tanah, kelerengan, ketinggian, iklim, dll. Dan juga mempelajari transportasi, utilitas, jumlah penduduk, hingga ekonomi wilayah tersebut,” jelas Agung. Ia juga berharap kunjungan ini membuat para siswa merasa nyaman dan jatuh cinta dengan atmosfer akademik di ITN Malang.

Baca Juga : Wahyu Hidayat Pimpin Ika ITN Malang Masa Bakti 2025-2030, Siap Sinergikan Alumni dan Almamater

Agung menyatakan harapannya, agar kunjungan ini menjadi pembuka jalan bagi kerja sama yang lebih erat antara ITN Malang dan Yayasan Cahaya Ar Rahman. Pihak PWK menyatakan kesiapannya jika sewaktu-waktu diminta menjadi pemateri untuk mengisi kegiatan di SMAIT Ar Rahman di Banjarbaru.

“Kami tunggu kehadiran adik-adik sebagai bagian dari keluarga besar PWK ITN Malang tahun depan,” tutupnya.

Berawal dari Cerita Alumni di Sekolah

Menariknya, pilihan SMAIT Ar Rahman untuk berkunjung ke ITN Malang bukan tanpa alasan. Wakil Yayasan Cahaya Ar Rahman, Ustadz Muhammad Hashfi Abdurrahman, S.K.M., yang juga sebagai Wakil Kepala Sekolah SMAIT Ar Rahman mengungkapkan bahwa ada “magnet” tersendiri yang menarik mereka ke sini. Yakni, Ariwibowo, alumnus PWK ITN Malang angkatan 2002 yang kini mengabdi menjadi guru di bawah yayasan yang sama di Kalimantan.

a437c640f5a5405f86e076865b4f7d10Kaprodi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) ITN Malang, Dr. Agung Witjaksono, ST., MT., (kanan), dan Wakil Yayasan Cahaya Ar Rahman, Ustadz Muhammad Hashfi Abdurrahman, S.K.M.

“Kami sering mendengar cerita dan pengalaman seru kuliah di PWK ITN Malang dari alumni PWK yang mengajar di yayasan kami. Cerita-cerita itulah yang menjadi motivasi bagi para siswa sehingga kami sangat tertarik datang langsung ke sini,” ujar Ustadz Hashfi yang hadir didampingi guru pendamping Ahmad Norman Rifansyah, S.Kom., dan Aida, S.Pd.

Ustadz Hashfi menambahkan, tujuan utama kunjungan lintas kota (Surabaya, Jogja, Jakarta, hingga Malang) ini adalah untuk membekali siswa agar tidak ragu lagi memilih jurusan. “Kami kaget juga, awalnya kami pikir tata ruang itu hanya soal daratan, ternyata sampai menyentuh tata ruang laut juga. Ini wawasan baru yang sangat berharga,” tambahnya.

Baca Juga : ITN Malang-Ditjen Penataan Ruang Laut, Kementerian Kelautan dan Perikanan Teken Kerja Sama Strategis, Perkuat Tata Kelola Ruang Laut

Dari Teori ke Praktik SketchUp

Tak hanya sekedar mendengarkan paparan, para siswa juga mendapatkan materi mendalam dari Dr. Ir. Agustina Nurul Hidayati, MT., serta sharing santai bersama kakak-kakak Himpunan Mahasiswa PWK (HMPWK). Puncaknya, para siswa diajak langsung mencoba aplikasi SketchUp di Ruang Studio GIS untuk merasakan pengalaman nyata bagaimana seorang perencana kota merancang sebuah kawasan.

SMA Islam Terpadu Ar Rahman, Banjarbaru, belajar SketchUp di PWK ITN MalangSMA Islam Terpadu Ar Rahman, Banjarbaru, belajar SketchUp di PWK ITN Malang. (Foto: Mita/Humas ITN Malang)

Nabil Mustofa, salah satu perwakilan siswa kelas IPA mengaku terkesan dengan pengalaman singkat ini. Meski sebelumnya pernah mendengar istilah “Planologi” dari dosen PWK ITN Malang Pak Arif yang sempat berkunjung ke sekolahnya, baru kali ini ia paham inti dari PWK.

“Ternyata seru dan asik! Membangun kota besar itu ternyata perlu ilmu yang kompleks, harus tahu kondisi lingkungan sampai budayanya juga. Harapannya, ilmu yang didapat hari ini bisa bermanfaat, dan siapa tahu tahun depan ada di antara kami yang bisa kuliah di sini,” kata Nabil antusias. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)




Kampus 2 ITN Malang menjadi lokasi Program Project Based Learning (PBL) SMKN 1 Singosari untuk pembuatan peta skala besar

Kampus 2 ITN Malang Jadi “Laboratorium Raksasa” Pemetaan SMKN 1 Singosari

Kampus 2 ITN Malang menjadi lokasi Program Project Based Learning (PBL) SMKN 1 Singosari untuk pembuatan peta skala besar. (Foto: Yanuar/Humas ITN Malang)


Malang, ITN.AC.ID – Kampus 2, Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) selama dua pekan penuh mulai 19-31 Januari 2026 bertransformasi menjadi area kerja nyata bagi 68 siswa kelas 12 Teknik Geomatika SMKN 1 Singosari. Lahan seluas 10 hektar milik kampus dari total 65 hektar ini dipilih menjadi lokasi Program Project Based Learning (PBL) untuk pembuatan peta skala besar.

Kaprodi Teknik Geodesi S-1 ITN Malang, Dedy Kurnia Sunaryo, ST., MT., menyambut bangga dipilihnya ITN sebagai lokasi proyek. Menurutnya, Geodesi dan Geomatika berada dalam satu akar keilmuan yang sama, sehingga sinergi ini sangat tepat.

ITN Malang saat menyambut kedatangan SMKN 1 Singosari untuk menjalankan program PBLITN Malang saat menyambut kedatangan SMKN 1 Singosari untuk menjalankan program PBL. (Foto: Yanuar/Humas ITN Malang)

DK Sunaryo akrab disapa menekankan, Teknik Geodesi ITN Malang sebagai salah satu prodi tertua di Jawa Timur terus berevolusi mengikuti zaman. Ia mengingatkan para siswa agar mulai bersiap menghadapi pergeseran industri ke arah Artificial Intelligence (AI).

“Sekarang kalian belajar pakai Total Station dan drone, tapi ke depan semuanya akan berbasis AI. Data drone akan langsung diolah otomatis. Kita tidak boleh menghindari teknologi, tapi harus menguasainya,” tegasnya.

Baca Juga : Hadapi Tantangan Baru Era Digital dan AI, Siswa SMAN 4 Malang Belajar Bersama Pakar di ITN Malang

Bersama jajaran pimpinan, DK Sunaryo menyambut kedatangan para siswa pada hari pertama. Ia juga menambahkan bahwa riset di Teknik Geodesi tidak hanya terbatas di darat, tapi mencakup tiga matra termasuk pemetaan laut melalui laboratorium lapangan di Sendang Biru.

Sementara itu, Widya Prajna, ST., Kepala Konsentrasi Keahlian Teknik Geomatika SMKN 1 Singosari, menjelaskan bahwa PBL kali ini bukan sekadar praktik biasa, melainkan simulasi perusahaan. Siswa dibagi ke dalam struktur organisasi mulai dari manajer proyek hingga surveyor.

“Kami memilih ITN karena sudah ada kerja sama, jadi secara administrasi mudah dan, juga jaraknya dekat. Harapannya, para dosen Geodesi ITN bisa menguji langsung anak-anak kami nanti setelah laporannya selesai, sehingga mereka punya pengalaman presentasi di depan ahli yang belum mereka kenal,” ujar Widya.

bc5df436e8004ab68b00580f6b5454f4Kepala Konsentrasi Keahlian Teknik Geomatika SMKN 1 Singosari, Widya Prajna, ST., bersama para siswanya saat PBL di Kampus 2 ITN Malang. (Foto: Yanuar/Humas ITN Malang)

Menurutnya, Kampus 2 ITN Malang untuk keperluan pembelajaran sangat representatif, karena banyaknya gedung, jalan, lapangan, tanah kosong, serta naungan pohon yang memberikan tantangan lebih kepada para siswa. Proyek ini nantinya akan menghasilkan produk akhir berupa foto udara, peta topografi, hingga peta 3D modeling Kampus 2 ITN Malang yang detail.

Bagi para siswa, tantangan praktik di Kampus 2 ITN ternyata jauh melampaui apa yang pernah mereka jalani di sekolah. Jika di sekolah mereka hanya berkutat dengan lahan sempit, di sini mereka harus menaklukkan area seluas 10 hektar.

Amelia Susanti, yang bertugas memegang alat Total Station menceritakan betapa tingginya tingkat ketelitian yang dibutuhkan. “Tantangannya kalau koreksi datanya nggak masuk, ya terpaksa harus mengulang lagi pengukurannya dari awal,” katanya. Belum lagi faktor cuaca yang tidak menentu, jika hujan turun pengambilan data otomatis terhenti total.

Baca Juga : Sinergi ITN Malang dan SMKN 1 Singosari: Terjunkan Siswa Geomatika dalam Proyek Pemetaan Nyata di Kampus 2

Namun, kendala teknis bukan satu-satunya ujian. Salma Awanis, sebagai Project Manager mengaku bahwa tantangan terbesarnya justru datang dari sesama siswa. “Mengatur ego teman-teman itu yang paling susah. Tiap hari kami harus ada evaluasi untuk cari solusi kalau ada progres yang macet agar tim tetap jalan,” ungkap Salma.

Meski harus berpanas-panasan dan terkadang terkendala hujan, para siswa termasuk tim KKN (Kerangka Kontrol Horizontal) seperti Maya, Azril, dan Silvi mengaku sangat menikmati suasana pengambilan data di ITN. Kampusnya yang sejuk membantu mereka lebih nyaman mengambil data, dan tidak membosankan.

Lebih dari sekadar praktik lapangan, kolaborasi ini adalah ‘pemanasan’ bagi para siswa sebelum terjun ke dunia kerja yang sesungguhnya. Dengan fasilitas laboratorium yang mumpuni dan kurikulum yang terus mengikuti perkembangan teknologi, Teknik Geodesi ITN Malang memposisikan diri sebagai rumah bagi lulusan SMK yang ingin serius terjun menjadi profesional di industri pemetaan global. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang).




Sipil Satu, Satu Sipil! Creation 3.0 Himpunan Mahasiswa Sipil S-1 ITN Malang

Creation 3.0 Teknik Sipil: Uji Pembebanan Jadi Bukti Ketangguhan Desain Jembatan Balsa Mahasiswa

Sipil Satu, Satu Sipil! Creation 3.0 Himpunan Mahasiswa Sipil S-1 ITN Malang. (Foto: HMS)


Malang, ITN.AC.ID – Wajah tegang para peserta tidak dapat disembunyikan saat bertahap batu split dimasukkan ke dalam drum plastik yang tergantung pada rangka jembatan kayu balsa. Suara benturan batu yang jatuh ke dasar drum, dan getaran halus kayu balsa yang mulai tertekan beban menjadi pusat perhatian, hingga dalam hitungan detik jembatan patah karena telah mencapai batas maksimal kekuatannya.

Baca Juga : Inovatif, Mahasiswa ITN Malang Rancang Jembatan Prototipe Berteknologi Ramah Lingkungan

Uji pembebanan yang dilakukan di Laboratorium Bahan Konstruksi, Teknik Sipil S-1, Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang), pada Kamis (22/01/2026) ini menjadi momen penting untuk menentukan ketangguhan desain struktur jembatan sebelum akhirnya mencapai titik patah.

Uji fisik ini merupakan puncak dari rangkaian Balsa Bridge Design Competition (BBDC) dalam gelaran “Creation 3.0: Creativity and Education” Himpunan Mahasiswa Sipil (HMS) S-1. Diikuti puluhan peserta, kegiatan digelar selama dua hari Rabu-Kamis (21-22/01/2026). Creation merupakan kegiatan yang bertujuan untuk memperkenalkan lingkungan kampus ITN Malang khususnya Program Studi Teknik Sipil, dan sosialisasi hal – hal yang berkaitan dengan teknik sipil.

Uji pembebanan desain jembatan balsa mahasiswa Teknik Sipil ITN MalangUji pembebanan desain jembatan balsa mahasiswa Teknik Sipil ITN Malang. (Foto: Mita/Humas ITN Malang).

Selain BBDC, rangkaian kegiatan juga ada pengenalan HMS, pengenalan Forum Komunikasi Mahasiswa Teknik Sipil Indonesia (FKMTSI), pengenalan lomba KJI/KBGI, sharing session bersama alumni HMS sekaligus alumni berprestasi Teknik Sipil yang pernah mengharumkan nama kampus, dan lain-lain.

Sebelum masuk ke tahap uji pembebanan setiap tim terlebih dahulu melakukan presentasi di Aula Kampus 1. Secara bergantian tiap anggota kelompok memaparkan konsep, dimensi, dan rasio kekuatan desain mereka di hadapan juri.

“Tahun lalu lomba ini hanya sampai pada tahap desain saja. Namun tahun ini, mahasiswa wajib merangkai jembatan dan melakukan uji pembebanan secara langsung. Kami ingin memvalidasi apakah desain yang mereka buat di software benar-benar sesuai dengan pengaplikasian fisiknya,” jelas Alan Aldino Jefry, Ketua HMS, ITN Malang.

Sesuai dengan nama kegiatannya, Kreatif dan Edukasi (Creation), panitia sebelumnya juga memberikan workshop AutoCAD sebagai bekal fundamental. Peserta mahasiswa semester satu ini diajarkan mendesain denah rumah satu lantai ukuran 6 x 3 meter.

Presentasi Balsa Bridge Design Competition (BBDC) Creation 3.0 Teknik Sipil ITN MalangPresentasi Balsa Bridge Design Competition (BBDC) Creation 3.0 Teknik Sipil ITN Malang. (Foto: Mita/Humas ITN Malang)

“Ini adalah bentuk edukasi agar mereka tidak asing lagi saat menempuh mata kuliah tersebut di semester selanjutnya. Kami juga memberikan study club khusus untuk menjelaskan karakteristik kayu balsa, mulai dari jenis soft, medium, hingga hard, serta teknik penggunaannya yang tepat,” tambah Alan.

Sebagai ketua pelaksana kegiatan, Benediktus Diky Dore Beda merasakan langsung perubahan positif pada rekan-rekan adik tingkatnya. Mahasiswa asal Flores, NTT ini menjelaskan bahwa salah satu tujuan utama Creation 3.0 adalah membangun integritas dan jiwa kepemimpinan mahasiswa sejak dini.

“Sebelum kegiatan ini, mahasiswa baru cenderung merasa asing dengan kakak tingkat (kating) dan sering duduk sendiri-sendiri tanpa saling sapa. Harapan kami, melalui acara ini pola komunikasi antar-angkatan berubah. Sekarang mereka jadi lebih ramah, kompak, dan memiliki keberanian untuk tampil di depan publik,” ungkap Diky.

Ia menambahkan bahwa dengan membangun relasi yang kuat sejak di bangku kuliah, mahasiswa akan memiliki jaringan yang solid untuk menunjang masa depan profesional mereka kelak.

Baca Juga : Belajar Bersama Pakar, Siswa SMAN 4 Malang Eksplorasi 6 Program Studi di ITN Malang

“Dengan selesainya Creation 3.0, mahasiswa Teknik Sipil ITN Malang diharapkan mahir dalam menggunakan aplikasi desain, dan juga memiliki integritas, jiwa kepemimpinan, dan relasi yang kuat sebagai modal utama di dunia kerja,” tutupnya. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang).




Sinergi ITN Malang dan SMKN 1 Singosari lewat Project Based Learning di Kampus 2 ITN Malang

Sinergi ITN Malang dan SMKN 1 Singosari: Terjunkan Siswa Geomatika dalam Proyek Pemetaan Nyata di Kampus 2

Sinergi ITN Malang dan SMKN 1 Singosari lewat Project Based Learning di Kampus 2 ITN Malang. (Foto: Yanuar/Humas)


Malang, ITN.AC.ID – Ruang Amphi Mesin Kampus 2 Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) tampak semarak pada Senin pagi (19/01/2026). Sebanyak 68 siswa SMKN 1 Singosari, Malang mengikuti pembukaan program Project Based Learning (PBL) pembuatan peta skala besar di Kampus 2 ITN Malang.

Kegiatan PBL SMKN 1 Singosari dijadwalkan berlangsung selama dua pekan (19-31 Januari 2026). Melalui simulasi proyek nyata ini para siswa ditantang untuk merasakan ritme kerja profesional sebagai surveyor, mulai dari pagi hingga sore hari.

Baca Juga : Digital Twin: Sentuhan Teknologi LiDAR Menyelamatkan Memori Sejarah Sumbawa

Wakil Rektor 3 ITN Malang, Dr. Hardianto, ST., MT., menyambut hangat kehadiran para siswa. Ia menyatakan, kolaborasi ini adalah bentuk nyata dukungan ITN Malang terhadap pendidikan vokasi.

Wakil Rektor 3 ITN Malang, Dr. Hardianto, ST., MT., menyambut para siswa SMKN 1 Singosari yang akan melaksanakan Project Based Learning (PBL) di Kampus 2 ITN Malang.

Wakil Rektor 3 ITN Malang, Dr. Hardianto, ST., MT., menyambut para siswa SMKN 1 Singosari yang akan melaksanakan Project Based Learning (PBL) di Kampus 2 ITN Malang. (Foto: Yanuar/Humas)

“Selamat datang para calon surveyor masa depan. Selama dua minggu kalian akan didampingi langsung oleh mahasiswa Teknik Geodesi ITN. Anggap saja ini simulasi dunia kerja yang sesungguhnya,” ujar Hardianto. Ia juga menyampaikan kabar baik bagi para siswa bahwa kerja sama antara ITN dan SMKN 1 Singosari pada penerimaan mahasiswa baru mencakup potongan biaya kuliah khusus bagi alumni yang ingin melanjutkan studi di ITN Malang.

Senada dengan hal tersebut, Kaprodi Teknik Geodesi S-1 ITN Malang, Dedy Kurnia Sunaryo, ST., MT., menjelaskan, Teknik Geodesi ITN Malang merupakan salah satu yang tertua dan paling berpengalaman di Jawa Timur.

“Geodesi dan Geomatika itu sebenarnya satu akar. Kami sangat bangga kampus kami dipilih sebagai lokasi proyek SMKN 1 Singosari. Lulusan kami sudah tersebar di berbagai sektor vital, mulai dari industri, instansi pemerintah hingga di jajaran Angkatan Darat,” jelas DK Sunaryo akrab disapa.

Baca Juga : Kolaborasi Ekosistem ITN Malang dan MGBK SMK Kabupaten Malang: Menuju Sinergi Pendidikan yang Berkelanjutan

Ia juga memberikan gambaran masa depan industri geodesi yang mulai bergeser ke arah teknologi artificial intelligence (AI). “Kalian sekarang belajar memakai Total Station dan drone. Ke depan, semua akan berbasis AI (Kecerdasan Buatan). Data dari drone akan langsung diolah secara otomatis. Kita tidak bisa menghindari teknologi, tapi harus menguasainya,” tambahnya menyemangati para siswa.

DK Sunaryo menambahkan, keunggulan Teknik Geodesi ITN Malang juga terletak pada jangkauan risetnya yang mencakup tiga matra. Tidak hanya pemetaan darat dan udara, mereka memiliki laboratorium lapangan khusus di Sendang Biru untuk pemetaan matra laut.

PBL ini menarik perhatian Dekan FTSP, Dr. Debby Budi Susanti, ST., MT. Ia memberikan apresiasi khusus bagi para siswi yang ikut serta dalam proyek ini. “Siapa bilang teknik hanya untuk laki-laki? Lulusan Geodesi ITN dikenal sangat tangguh dan mereka jaya di darat, udara, maupun laut. Saya senang melihat banyak siswa perempuan yang antusias dan ceria mengikuti praktik ini,” ungkapnya.

Kepala SMKN 1 Singosari, Sumariadi, S.Pd., MM., menegaskan, PBL adalah agenda wajib bagi kelas XII untuk memastikan kompetensi mereka benar-benar teruji sebelum lulus.

SMKN 1 Singosari siap melaksanakan Project Based Learning di Kampus 2 ITN Malang

SMKN 1 Singosari siap melaksanakan Project Based Learning di Kampus 2 ITN Malang. (Foto: Yanuar/Humas)

“Di Jawa Timur hanya ada tujuh sekolah yang memiliki jurusan Geomatika. Ini jurusan langka dan berkelas. Kami sangat bersyukur di Malang ada perguruan tinggi yang linier seperti ITN Malang. Jadi, anak didik kami tidak perlu jauh-jauh jika ingin menjadi ahli geodesi yang handal. Mereka bisa meneruskan ke Teknik Geodesi ITN Malang,” katanya.

Selama dua minggu kedepan, Kampus 2 ITN Malang akan menjadi saksi bisu perjuangan para siswa SMKN 1 Singosari dalam mengasah ketelitian dan mentalitas mereka di lapangan, demi mewujudkan peta kampus yang akurat dan presisi. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)




Pameran Nata Karya 6.0 Arsitektur ITN Malang 2025 (2)

Nata Karya 6.0 ITN Malang, Eksplorasi Arsitektur dari Akulturasi Budaya hingga Instalasi Jam Pasir Futuristik

Pameran Nata Karya 6.0 Arsitektur ITN Malang 2025. (Foto: Yanuar/Humas ITN Malang)


Malang, ITN.AC.ID – Program Studi Arsitektur S-1, Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) kembali menyuguhkan estetika visual melalui gelaran Nata Karya 6.0. Pameran karya arsitektur mahasiswa ini diselenggarakan di Taman Demo, Kampus 1 ITN Malang, pada Selasa (13/01/2026).

Bukan sekadar pameran, Nata Karya merupakan agenda rutin setiap semester yang berfungsi sebagai ajang apresiasi sekaligus penilaian publik terhadap karya-karya mahasiswa arsitektur. Puluhan karya mulai dari maket, poster desain, hingga instalasi bangunan dengan bentuk-bentuk unik terpajang rapi. Karya-karya ini menunjukkan kemampuan mahasiswa dalam merespons ruang dan bentuk.

Baca juga : Alumnus Arsitektur ITN Malang: Arsitek Harus Padukan Seni dan Keteknikan demi Hadapi Persaingan Global

Representasi Tugas dan Kebutuhan Riil

Amar Rizqi Afdholy, ST., MT., dosen Arsitektur S-1 ITN Malang menjelaskan, pameran ini merupakan hasil akhir dari beberapa tugas mata kuliah inti, di antaranya Estetika Bentuk, Perancangan Arsitektur (PA) 2, PA 4, dan Bangunan Portabel.

“Meskipun berasal dari beberapa mata kuliah saja, karya yang dihasilkan sangat banyak, dan beragam. Mahasiswa angkatan 2025, misalnya berfokus pada tugas perubahan bentuk Trimatra dan Dwimatra. Ada tugas individu mingguan berskala kecil, hingga tugas kelompok berupa instalasi Trimatra skala besar,” jelas Amar.

Amar Rizqi Afdholy, ST., MT., dosen Arsitektur S-1 ITN Malang (berkacamata) bersama tim Gapura Rupa Tanpa Suara karya mahasiswa semester 1 Arsitektur ITN Malang

Amar Rizqi Afdholy, ST., MT., dosen Arsitektur S-1 ITN Malang (berkacamata) bersama tim “Gapura Rupa Tanpa Suara” karya mahasiswa semester 1 Arsitektur ITN Malang. (Foto: Yanuar/Humas ITN Malang)

Lebih lanjut, Amar memaparkan progres di tingkat semester. Semester 3 (PA 2) mahasiswa ditantang membuat rumah tinggal dua lantai dengan fungsi ganda sebagai rumah profesi. Mereka diharuskan mencari klien untuk menyesuaikan desain dengan kebutuhan pengguna.

“Ini mengajarkan mereka untuk menekan ego arsitek, dan lebih mendengarkan keinginan klien sebagai gambaran dunia kerja nyata,” tambahnya.

Pada semester 5 (PA 4), di bawah bimbingan dosen Hamka, ST., MT., dan Ar. Moh. Syahru Romadhon Sholeh, ST., M.Ars., IAI., mahasiswa merancang bangunan multifungsi (mixed-use) berlantai banyak seperti hotel dan mal yang disajikan dalam bentuk poster.

Amar menilai kreativitas mahasiswa di setiap angkatan menunjukkan grafik yang meningkat. “Setiap angkatan memiliki karakter sendiri-sendiri. Mereka mampu menangkap arahan dosen dengan sangat baik. Kreativitas yang dihadirkan saat ini jauh lebih eksploratif dibanding (Nata Karya) sebelumnya,” pungkasnya.

Filosofi Akulturasi Budaya dan Jam Pasir

Di antara puluhan instalasi, karya kelompok mahasiswa semester 1 menarik perhatian karena kedalaman filosofinya. Salah satu karya yang mencuri perhatian adalah “Gapura Rupa Tanpa Suara”. Kelompok mereka terdiri dari Mazza, Riko, Rio, Candra, Syahrul, Tama, dan Rayhan yang mengusung konsep akulturasi budaya Indonesia dalam balutan modernitas.

“Karya kami bernama Gapura Rupa Tanpa Suara karena ia menjadi saksi bisu pembelahan zaman dari tradisional ke era metropolitan/siber,” ujar Mazza.

Baca juga : Gapura Bertema Industrial “Harmoni dalam Perubahan” ITN Malang Sabet Juara 1 Sayembara Gapura Kota Batu 2025

Desain gapura ini menggabungkan elemen visual dari berbagai daerah, seperti Rumah Tongkonan (Sulawesi), motif Batik Kawung (Jawa), Penjor (Bali), Tombak (Papua), hingga atap Rumah Gadang (Sumatra). Untuk memberikan sentuhan futuristik, mereka menggunakan material kepingan DVD bekas untuk menciptakan refleksi cahaya yang dinamis.

Karya lainnya “Jam Waktu”. Tim yang beranggotakan Azeva, Bintang, Artha, Lalu, Rifki, dan Roy ini menghadirkan instalasi berbentuk jam pasir. Azeva menjelaskan, karya mereka menekankan pada konsep waktu yang berharga.

Tim “Jam Waktu” bersama instalasi “Jam Pasir” karya mahasiswa semester 1 Arsitektur ITN Malang
Tim “Jam Waktu” bersama instalasi “Jam Pasir” karya mahasiswa semester 1 Arsitektur ITN Malang. (Foto: Mita/Humas ITN Malang)

“Bagian atas menggunakan unsur kupu-kupu yang melambangkan keindahan. Pesannya adalah keindahan akan datang pada waktunya. Di bagian tengah, terdapat elemen berlian yang menyala sebagai titik pusat perubahan yang menjadi sudut pandang manusia,” urai Azeva.

Struktur ini dibangun menggunakan rangka besi sebagai penopang utama, diperkuat dengan triplek, karton, dan PVC foam board yang tahan air, serta benang pancing transparan untuk memberikan efek melayang pada elemen jam pasir. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)