Khoyru Nisya Salsabila Putri lulusan Terbaik Program Studi Teknik Sipil S-1n Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) ITN Malang pasa Wisuda ke-76 Periode II Tahun 2026

Kisah Khoyru Nisya Salsabila Putri, Wisudawan Terbaik Teknik Sipil ITN Malang yang LuwesBerorganisasi dan Rintis Karir Sejak Kuliah

Khoyru Nisya Salsabila Putri lulusan Terbaik Program Studi Teknik Sipil S-1n Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) ITN Malang pasa Wisuda ke-76 Periode II Tahun 2026. (Foto: Humas ITN Malang)


Malang, ITN.AC.ID – Di balik deretan wisudawan berprestasi Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) pada Wisuda ke-76 Periode II Tahun 2026, ada sosok Khoyru Nisya Salsabila Putri yang mencuri perhatian. Mahasiswi asal Kota Batu, Jawa Timur ini berhasil menyandang predikat Lulusan Terbaik Program Studi Teknik Sipil S-1 ITN Malang dengan IPK mengagumkan, 3.81. Saat ini, Putri sedang menjalani kontrak magang terbatas secara remote di Boon Technologies, Inc. (Boon AI), sebuah perusahaan berbasis di California yang berfokus pada dua sektor industri utama, yaitu Sektor Konstruksi serta Sektor Logistik & Operasi Armada.

Keberhasilan ini menjadi momen emosional bagi keluarga besarnya. Lahir sebagai anak tunggal dari pasangan Ahmad Purianto, seorang buruh tani, dan Evi Dwi Riskiah, seorang ibu rumah tangga, Putri akrab disapa tak kuasa menahan haru saat melihat orang tuanya meneteskan air mata bahagia.

“Reaksi orang tua bangga sekali, ayah dan ibu sampai menangis dan tidak bisa mengungkapkan perasaannya. Apalagi saya ini cucu pertama yang berhasil meraih gelar sarjana dari pihak ibu,” tutur Putri yang ikut diwisuda pada 19 September 2026 mendatang.

Baca juga: Dua Srikandi Teknik Sipil ITN Malang Ukir Prestasi di KBGI XVI 2025: Bawa Desain “Mahawastu Apartment” ke Final Tingkat Nasional

Perjalanan kuliah alumnus SMAN 3 Batu ini diraih melalui jalur penerima KIP Kuliah (KIP-K) Aspirasi. Pendidikan unggul di kampus teknik ternama ini memberi ruang bagi anak bangsa dari berbagai latar belakang untuk membuktikan kapasitasnya.

Selama menempuh studi, Putri dikenal sangat aktif. Di luar jam kuliah, ia ikut pengabdian masyarakat (abdimas) dosen, aktif di Himpunan Mahasiswa Teknik Sipil (HMS), hingga lolos ke babak final Kompetisi Bangunan Gedung Indonesia (KBGI) XVI Tahun 2025 serta ajang jembatan balsa. Masuk semester tujuh, ia bahkan sudah merambah dunia freelance sebagai drafter dan perancang perhitungan struktur.

Di sela kesibukan yang padat, Putri tak segan membantu ibunya menjaga warung di rumah. Memanfaatkan perangkat seadanya, ia juga membuka jasa cetak (print) dokumen untuk anak-anak sekolah di sekitar rumahnya.

“Kalau bagi waktu, tugas kuliah sebisanya saya selesaikan di kampus. Jadi di rumah tinggal mengerjakan sisanya. Saya sering di kampus sampai malam, mengerjakan tugas akademis sekaligus urusan himpunan,” ungkapnya.

Khoyru Nisya Salsabila Putri mahasiswa Teknik Sipil S-1 ITN Malang saat mengikuti babak final Kompetisi Bangunan Gedung Indonesia (KBGI) XVI Tahun 2025 (1)Khoyru Nisya Salsabila Putri mahasiswa Teknik Sipil S-1 ITN Malang saat mengikuti babak final Kompetisi Bangunan Gedung Indonesia (KBGI) XVI Tahun 2025. (Foto: Istimewa)

Pengalaman berorganisasi di HMS juga mengubah pribadi Putri yang dulunya pemalu. Dipercaya sebagai koordinator bidang melatih keberanian dan kemampuan pemecahan masalahnya (problem solving). “Dulu public speaking saya buruk sekali. Sejak aktif di himpunan, karena dituntut pintar bicara dan menyelesaikan masalah, di situlah saya betul-betul belajar. Ternyata organisasi tidak menghambat akademik, justru memperbanyak pengalaman,” kenang Putri.

Keaktifannya di KBGI pun berawal dari peran sederhana. Awalnya, ia hanya anggota tim pendukung (support team) kontingen. Melihat kegigihan para finalis berjuang memicu motivasinya hingga akhirnya ia mempersiapkan diri jauh-jauh hari dan berhasil lolos ke babak final.

Skripsi Angkat Teknologi Masa Depan Konstruksi: Pengendalian Jembatan Besuk

Kecerdasan akademis Putri tecermin kuat dalam tugas akhir skripsinya di bawah bimbingan Dr. Lila Ayu Ratna Winanda, ST., MT., dan Dr. Yosimson Petrus Manaha, ST., MT. Ia mengangkat judul “Analisis Pengendalian Waktu dan Biaya dengan Building Information Modeling (BIM) Berbasis Earned Value Management (EVM) Studi Kasus Jembatan Besuk Kabupaten Bondowoso”.

Dalam penelitiannya pada Proyek Pembangunan Jembatan Besuk Ruas Kota Bondowoso, Putri menerapkan pemodelan 3D menggunakan perangkat lunak Tekla Structures untuk menghasilkan quantity take-off otomatis. Data tersebut diintegrasikan dengan metode EVM melalui indikator Cost Performance Index (CPI) dan Schedule Performance Index (SPI).

Baca juga: Kolaborasi Manis Sipil-Arsitektur ITN Malang, Sabet Juara 2 di Undip Berkat Desain Hunian Darurat Multifungsi

“Di Jembatan Besuk belum ada pemodelan 3D. Saya membuat pemodelannya di Tekla Structures untuk menghitung volume secara lebih detail. Hasilnya, perhitungan volume dengan BIM terbukti lebih efisien dan hemat sekitar 0,013 dibanding perhitungan manual,” jelasnya.

Menariknya, penggunaan Tekla ini dipelajari Putri secara mandiri dari nol. Meski proses menggambarnya membutuhkan kecermatan tinggi, software ini memberikan hasil detail untuk evaluasi kinerja biaya dan waktu secara kuantitatif.

“Awalnya mau pakai Revit, tapi supaya lebih presisi saya pilih Tekla. Analisis EVM ini membantu mengetahui kinerja proyek secara real-time, apakah terlambat atau over budget. Di awal pelaksanaan proyek sempat ada keterlambatan, tapi di pertengahan progresnya bisa dipacu jadi lebih cepat dari perencanaan awal,” tambahnya.

Kini, setelah resmi menyandang gelar Sarjana Teknik, Putri tidak lantas berpuas diri. Sambil menjalani rangkaian tes rekrutmen kerja, ia tengah bersiap untuk berburu beasiswa demi melanjutkan studi ke jenjang S2. (Mita/Humas ITN Malang)




Dekan FTSP ITN Malang, Dr. Debby Budi Susanti, ST., MT., saat menyambut Abhyasa 57 bersama jajaran pimpinan fakultas dan prodi

FTSP ITN Malang Sambut Ratusan Mahasiswa Baru Abhyasa 57, Dekan Tekankan Pentingnya Personal Branding dan Arah Karir

Dekan FTSP ITN Malang, Dr. Debby Budi Susanti, ST., MT., saat menyambut Abhyasa 57 bersama jajaran pimpinan fakultas dan prodi. (Foto: Humas ITN Malang)


Malang, ITN.AC.ID – Suasana Lapangan Merah Kampus 1 Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) penuh energi pada Jumat (04/09/2026). Setelah merampungkan rangkaian kegiatan pembekalan Gigantik 2026, ratusan mahasiswa baru yang akrab disapa Abhyasa 57 secara resmi disambut di fakultas masing-masing, termasuk Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP).

Suasana penerimaan maba di Prodi Arsitektur ITN MalangSuasana penerimaan maba di Prodi Arsitektur ITN Malang. (Foto: Humas ITN Malang)

Di hadapan ratusan mahasiswa baru dari lima program studi, Dekan FTSP ITN Malang, Dr. Debby Budi Susanti, ST., MT., memberikan pesan penting terkait arah studi. Debby menekankan bahwa kesiapan karir dan pembentukan personal branding harus mulai dibangun sejak hari pertama mereka menginjakkan kaki di perguruan tinggi.

Ia juga menyampaikan bahwa masa perkuliahan adalah ajang pembuktian diri, bukan hanya mengejar kelulusan tepat waktu, tetapi juga mencetak prestasi dan karya nyata.

“Kami berharap para Abhyasa FTSP yang sudah resmi diterima ini bisa menyelesaikan studi tepat waktu, rajin, berprestasi, dan aktif berkarya. Semua itu penting untuk membangun image positif sebagai personal branding mahasiswa ke depan saat masuk ke dunia kerja,” tutur Debby.

Menjawab Keraguan Orang Tua: Kesiapan Kerja dan Jalur Profesi

Baca Juga: Perkuat Sinergi Profesi dan Akademisi, ITN Malang dan IAI Jatim Resmi Tekan Kerjasama untuk Perkembangan Arsitektur 

Pertemuan pembuka ini juga menjadi wadah diskusi interaktif antara pihak prodi, dan para orang tua wali mahasiswa. Salah satu topik hangat yang mencuat datang dari orang tua mahasiswa baru Prodi Arsitektur S-1, yang mempertanyakan kesiapan lulusan ITN Malang di dunia kerja. Kelak, apakah bisa langsung terjun ke industri atau wajib mengambil pendidikan profesi tambahan.

Menjawab hal tersebut, pihak prodi memaparkan gambaran kurikulum modern yang dirancang untuk membuka peluang lulus cepat, sekaligus memetakan jalur karir masa depan mahasiswa.

“Peluang lulusan FTSP sangat luas. Di bidang akademik, mahasiswa bisa lanjut ke jenjang pascasarjana untuk berkarya di dunia pendidikan dan riset. Sedangkan bagi yang ingin fokus pada praktik keahlian spesifik, mereka dapat menempuh jalur pendidikan profesi setelah lulus,” jelasnya.

Cerita Imel Aulia: Antara Deg-degan, Fisika SMA, dan Suasana Suportif Kampus

Baca Juga: Keseruan Outbound Tutup Gigantik 2026 ITN Malang: Dari Bikin Strategi ‘Jalan Kepiting’ Hingga Lepas Canggung

Kehangatan penyambutan FTSP turut dirasakan langsung oleh Imel Aulia Ingsani, mahasiswa baru Program Studi Teknik Sipil S-1 ITN Malang. Alumni SMAN 2 Kota Malang ini mengaku campur aduk saat resmi memulai babak baru kehidupannya di Kampus Teknologi dan Inovasi ini.

“Saya merasa senang dan bersyukur sekali akhirnya resmi diterima di Teknik Sipil. Ada rasa nervous juga karena masuk ke lingkungan dan dunia belajar yang serba baru. Tapi rasa grogi itu justru jadi motivasi buat saya untuk cepat beradaptasi,” ungkap Imel saat dihubungi di sela hari pertama masuk kelas.

Pilihan Imel pada Teknik Sipil ITN Malang bukan tanpa alasan. Berbekal minat pada mata pelajaran Fisika dan ketertarikannya pada dunia perhitungan struktur sejak SMA, ia menilai ITN Malang adalah salah satu institut teknik terbaik di Malang untuk mendalami bidang konstruksi.

Ia sadar, tantangan terbesar mahasiswa baru adalah pergeseran sistem belajar dari SMA ke perguruan tinggi yang menuntut kemandirian tinggi. Meski begitu, dukungan dari lingkungan kampus dan kakak tingkat (kating) membuat proses transisinya berjalan mulus.

Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) ITN Malang menyambut para Abhyasa 57 di Gigantik FakultasFakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) ITN Malang menyambut para Abhyasa 57 di Gigantik Fakultas. (Foto: Humas ITN Malang)

“Sejauh ini lingkungan Teknik Sipil sangat suportif. Waktu pameran stand prodi hari Rabu lalu, kating-katingnya ramah dan banyak memberikan gambaran nyata soal kehidupan perkuliahan Teknik Sipil,” tambah Aremanita asal Pakis Malang ini.

Kedepannya, Imel tak ingin sekadar menjadi mahasiswa ‘kupu-kupu’ (kuliah-pulang). Ia berencana aktif di berbagai kegiatan ekstrakurikuler dan organisasi berbasis teknik sipil demi menambah pengalaman praktis, memperluas relasi, serta mengasah keterampilan kerja sama tim.

“Saya ingin angkatan Abhyasa 57 ini dikenal sebagai angkatan yang aktif, kompak, dan mau berkembang bareng. Harapannya kami tidak hanya fokus di kelas, tapi juga berani membuat karya nyata yang bermanfaat di bidang teknik sipil,” pungkasnya penuh optimisme. (Mita/Humas ITN Malang)




ITN Malang dan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jatim resmi berkolaborasi untuk perkembangan arsitektur

Perkuat Sinergi Profesi dan Akademisi, ITN Malang dan IAI Jatim Resmi Tekan Kerjasama untuk Perkembangan Arsitektur

ITN Malang dan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jatim resmi berkolaborasi untuk perkembangan arsitektur. (Foto: Humas ITN Malang)


Malang, ITN.AC.ID – Langkah nyata untuk menjembatani dunia pendidikan tinggi dengan kebutuhan industri profesi kembali ditunjukkan oleh Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang). Kampus Teknik tertua di Malang ini resmi menjalin kerja sama strategis dengan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jawa Timur, dan IAI Jawa Timur Komisariat Wilayah (Komwil) Malang pada Senin sore (07/09/2026).

Penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dilakukan langsung di Ruang Sidang Rektorat Kampus 1 ITN Malang. Rektor ITN Malang, Awan Uji Krismanto, ST., MT., Ph.D., diwakili oleh Wakil Rektor III, Dr. Hardianto, ST., MT., menandatangani Nota Kesepahaman Bersama dengan Ketua IAI Jawa Timur, Ar. Fafan Tri Afandy, IAI.

Tidak berhenti pada payung hukum utama, momen ini langsung ditindaklanjuti dengan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Dekan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) ITN Malang, Dr. Debby Budi Susanti, ST., MT., dan Ketua IAI Jawa Timur Komwil Malang, Ar. Armudya Indra Permana, IAI.

Penandatanganan PKS antara Dekan FTSP ITN Malang, Dr. Debby Budi Susanti, ST., MT., dan Ketua IAI Jawa Timur Komwil Malang, Ar. Armudya Indra Permana, IAI

Penandatanganan PKS antara Dekan FTSP ITN Malang, Dr. Debby Budi Susanti, ST., MT., dan Ketua IAI Jawa Timur Komwil Malang, Ar. Armudya Indra Permana, IAI. (Foto: Humas ITN Malang)

Menepis Information Gap, dan Menyiapkan Arsitek Masa Depan

Isu seputar kesenjangan informasi (information gap) antara kampus dan organisasi profesi menjadi salah satu dorongan utama lahirnya kolaborasi ini. Ketua IAI Jawa Timur, Ar. Fafan Tri Afandy, IAI, menyebutkan, dinamika regulasi dan praktik arsitektur saat ini bergerak sangat cepat, terlebih dengan terbitnya UU No. 6 Tahun 2017 tentang Arsitek serta terbukanya pasar bagi tenaga kerja asing.

“Banyak hal yang perlu kita sinkronkan, mulai dari pemahaman alur magang, Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL), sertifikasi kompetensi (SKK), hingga kesiapan menghadapi dibukanya kran arsitek asing. Tanpa dukungan perguruan tinggi, organisasi profesi akan pincang. Sinergi dengan ITN Malang ini menjadi langkah penting agar kita punya roadmap yang sama untuk arsitektur Indonesia,” terang Fafan.

Fafan juga mengapresiasi kiprah para alumni Arsitektur S-1 ITN Malang yang selama ini menjadi tulang punggung dalam berbagai program pengabdian dan kepengurusan IAI.

“Jujur, alumni ITN Malang itu luar biasa. Kiprah mereka di lapangan sangat terasa. Kami bersyukur karena salah satu yang paling kami andalkan dalam kegiatan pengabdian masyarakat ya teman-teman alumni ITN. Lewat legal formal ini, kolaborasi yang tadinya sudah sering berjalan akan jadi jauh lebih solid dan saling menguntungkan,” tambahnya.

Wakil Rektor III, Dr. Hardianto, ST., MT., (kiri) bersama Ketua IAI Jawa Timur, Ar. Fafan Tri Afandy, IAI., memperlihatkan draft kerjasama

Wakil Rektor III, Dr. Hardianto, ST., MT., (kiri) bersama Ketua IAI Jawa Timur, Ar. Fafan Tri Afandy, IAI., memperlihatkan draft kerjasama. (Foto: Humas ITN Malang)

Integritas Dokumen PKS: Fokus pada Implementasi Nyata

Dokumen PKS antara FTSP ITN Malang dan IAI Komwil Malang secara spesifik memuat poin-poin krusial terkait implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi yang dirancang untuk memberikan dampak langsung (kampus berdampak) bagi masyarakat dan mahasiswa.

Dekan FTSP ITN Malang, Dr. Debby Budi Susanti, ST., MT., menegaskan bahwa nilai terpenting dari sebuah kerja sama adalah eksekusi program di lapangan.

“Dalam akreditasi, MoU tanpa implementasi nyata itu nilainya nol. Yang paling penting adalah dampaknya. Dengan legalitas ini, mahasiswa mendapat pengalaman langsung di dunia industri, dosen bisa berkolaborasi dalam riset dan pengabdian, serta jalannya Program Pendidikan Profesi Arsitek (PPAr) maupun pembentukan Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) di Prodi Arsitektur makin terbuka lebar,” ungkap Debby.

Poin PKS tersebut mengatur sinergi ruang lingkup yang mencakup tujuh bidang keprofesian IAI, seperti sistem informasi arsitektur, pengkajian dan pelestarian arsitektur, hingga pengabdian profesi. Menariknya, implementasi ini tidak hanya berlaku untuk Prodi Arsitektur S-1 saja, tetapi juga membuka kerja sama lintas disiplin dengan prodi lain di FTSP, seperti Teknik Sipil, Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK), Teknik Geodesi, dan Teknik Lingkungan.

Baca juga: Arsitek vs AI: Alumnus Arsitektur ITN Malang Rani Yuni Wulandari Tegaskan Sentuhan Manusia Tak Tergantikan

Langkah Konkret Menuju Program Pendidikan Profesi Arsitek (PPAr)

Senada dengan hal tersebut, Kaprodi Arsitektur S-1 ITN Malang, Ir. Gaguk Sukowiyono, MT., mengungkapkan, kolaborasi ini menjadi bagian penting dalam menyusun kurikulum dan rekomendasi pendidikan arsitektur yang relevan dengan standar profesi.

“Sejak awal kita sudah mendiskusikan sinkronisasi antara Tri Dharma dengan bidang-bidang di IAI. Rekomendasi pendidikan arsitektur memang harus disusun bersama antara prodi dan asosiasi profesi. Adanya payung hukum ini membuat program-program bersama yang kita rancang bisa melangkah lebih jauh dan luas,” tutur Gaguk.

Melalui sinergi ini, ITN Malang makin mengukuhkan perannya sebagai kampus berdampak yang tidak hanya melahirkan lulusan sarjana berintegritas, tetapi juga siap memfasilitasi lulusannya menuju jalur Program Pendidikan Profesi Arsitek (PPAr) untuk meraih gelar profesi dan lisensi resmi arsitek Indonesia. (Mita/Humas ITN Malang)

Baca juga: Arsitek vs AI: Alumnus Arsitektur ITN Malang Rani Yuni Wulandari Tegaskan Sentuhan Manusia Tak Tergantikan




Yudisium FTSP ITN Malang Periode II Tahun 2026 para peserta mengenakan pakaian adat

Bukan Hanya Rayakan Kelulusan, Peserta Yudisium FTSP ITN Malang Tampil Unik Pakai Baju Adat dari Papua hingga Dayak

Yudisium FTSP ITN Malang Periode II Tahun 2026 para peserta mengenakan pakaian adat. (Foto: Humas ITN Malang)


Malang, ITN.AC.ID – Suasana Aula Kampus 1 Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) Sabtu (22/08/2026) terasa beda dari biasanya. Tidak hanya diwarnai rona bahagia para calon wisudawan, Yudisium Periode II Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) ITN Malang ini justru tampak semarak layaknya parade budaya. Sebanyak 221 lulusan hadir mengenakan beragam pakaian adat nusantara dari daerah asalnya masing-masing.

Penggunaan busana daerah ini bukan sekadar gaya-gayaan. Momen ini menjadi simbol melepas para lulusan untuk kembali ke daerah asal atau melangkah ke dunia kerja setelah menimba ilmu di kampus teknik ternama di Kota Malang ini.

Dekan FTSP ITN Malang, Dr. Debby Budi Susanti, ST., MT., mengungkapkan, tradisi mengenakan pakaian adat ini punya makna emosional tersendiri. Setiap mahasiswa baru saat diterima di kampus melalui Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB), selalu disambut dengan nuansa keberagaman. Kini saat lulus, mereka dilepas kembali dengan semangat yang sama.

“Kalian yudisium saat ini memakai pakaian adat, saat masuk PKKMB dulu juga memakai pakaian adat. Ini untuk mengenalkan dari mana asal daerah kalian. Hari ini, kami melepas kalian kembali ke daerah asal masing-masing,” tutur Debby di hadapan para peserta yudisium.

Dekan FTSP ITN Malang, Dr. Debby Budi Susanti, ST., MT., saat memberikan sambutan pada Yudisium FTSP ITN Malang

Dekan FTSP ITN Malang, Dr. Debby Budi Susanti, ST., MT., saat memberikan sambutan pada Yudisium FTSP ITN Malang. (Foto: Humas ITN Malang)

Gelaran yudisium kali ini sengaja dilaksanakan lebih awal dari jadwal. Langkah ini diambil pihak fakultas agar para lulusan punya waktu jeda untuk mudik dan membagikan kabar bahagia secara langsung kepada keluarga di kampung halaman sebelum prosesi wisuda pertengahan September 2026 mendatang.

Meski demikian, Dekan mengingatkan agar para mahasiswa tidak terlena dan tetap menyelesaikan seluruh administrasi kampus.

“Kita laksanakan yudisium hari ini lebih awal untuk memberi kalian kesempatan bisa pulang (mudik) sebelum wisuda. Menyampaikan ke keluarga bahwa kalian sudah lulus. Tapi jangan lupa diselesaikan dulu semua kewajiban akademik dan laporan-laporannya, sehingga setelah wisuda kalian bisa pulang bersama orang tua membawa ijazah. Walaupun sudah wisuda, kalau ada yang belum beres maka belum bisa pulang membawa ijazah,” tegasnya.

Baca juga: Tim Debat Mahasiswa Arsitektur ITN Malang Juara 3 Lomba Debat Malang Architecture Week (MAW) 2024

Ia menambahkan, bagi mahasiswa yang sudah menyelesaikan seluruh berkas dan kewajiban laporan, Surat Keterangan Lulus (SKL) sudah bisa diambil mulai minggu depan. Debby juga menekankan pentingnya menjaga nama baik almamater serta kontribusi nyata lulusan di masyarakat. Sebagai kampus yang berfokus pada keberdampakan publik, ilmu yang didapat di bangku kuliah merupakan bekal awal untuk menjawab tantangan dunia kerja yang dinamis.

“Setelah ini kita bukan berpisah, tapi tetap menjadi keluarga besar ITN Malang. Dimanapun kalian berkarya, tolong jaga nama baik almamater. Di sini kalian sudah dibekali oleh bapak ibu dosen, ilmu-ilmu yang kalian dapat menjadi dasar. Namun ilmu yang Anda dapat belum ada apa-apanya dibanding nanti di lapangan”, serunya.

Debby juga mengingatkan lulusan untuk mengisi tracer study, karena ini penting untuk membantu akreditasi prodi masing-masing. “Kalau kalian melamar kerja, instansi atau perusahaan pasti menanyakan lulusan dari kampus mana, prodi apa, dan bagaimana akreditasinya,” imbuhnya.

Luluskan 221 Mahasiswa, Arsitektur Cetak Lulusan Terbaik Fakultas

Pada periode ini, FTSP ITN Malang meluluskan sebanyak 221 mahasiswa yang tersebar di lima program studi S-1, yaitu: Teknik Sipil 84 lulusan, Arsitektur 41 lulusan, Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) 48 lulusan, Teknik Geodesi 35 lulusan, dan Teknik Lingkungan 13 lulusan. Predikat Lulusan Terbaik Fakultas sekaligus Terbaik Prodi Arsitektur diraih oleh Muchammad Alif Romdhoni dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3.94.

Mahasiswa yang akrab disapa Doni ini mengaku bersyukur atas pencapaian tersebut. Meski begitu, ia menyikapi raihan ini dengan tenang karena baginya proses kerja keras jauh lebih penting daripada sekadar angka di atas kertas.

Baca juga: Kolaborasi Manis Sipil-Arsitektur ITN Malang, Sabet Juara 2 di Undip Berkat Desain Hunian Darurat Multifungsi

“Sebetulnya saya tidak terlalu euforia karena selama ini kerja keras sudah terbayar. Kembali ke kinerja ya, nilai bukan suatu hal yang saya buru. Tapi betul-betul semua saya maksimalkan, nilai itu hanya angka yang dihasilkan di akhir,” ungkap Doni.

Saat ditanya rahasia manajemen waktunya selama berstatus mahasiswa, Doni membeberkan prinsip hidup yang selalu ia pegang teguh. “Cara membagi waktu ketika di perkuliahan, saya mematok motivasi tidak boleh setengah-setengah. 100 persen kuliah ya kuliah, ketika di pekerjaan juga harus 100 persen,” jelasnya.

Muchammad Alif Romdhoni lulusan terbaik FTSP ITN Malang sekaligus Terbaik Prodi Arsitektur S-1, dengan IPK 3.94 mendapat apresiasi dari Dekan FTSP.Muchammad Alif Romdhoni lulusan terbaik FTSP ITN Malang sekaligus Terbaik Prodi Arsitektur S-1, dengan IPK 3.94 mendapat apresiasi dari Dekan FTSP. (Foto: Humas ITN Malang)

Selain Doni, FTSP ITN Malang juga mengumumkan deretan wisudawan terbaik dari masing-masing program studi, antara lain:

  • Khoyru Nisya Salsabila Putri, Teknik Sipil – IPK: 3,81
  • Athikah Nadia Nur Baiti, Teknik Lingkungan – IPK: 3,59
  • Stabita Ashabul Millah, Perencanaan Wilayah dan Kota – IPK: 3.68
  • Sungsang Bagus Nugroho, Teknik Geodesi – IPK: 3.75

Ajang Busana Adat Terbaik: Dari Suku Biak Papua hingga Dayak Bahau

Guna menambah keseruan, pihak fakultas juga memberikan apresiasi khusus bagi lulusan dengan penampilan pakaian adat terbaik. Kategori pakaian adat putri terbaik dimenangkan oleh Ananda Puspita dari Teknik Geodesi. Ia tampil mempesona mengusung kebudayaan Suku Biak dari Papua, lengkap dengan hiasan kepala berbulu khas, penutup dada tradisional, serta riasan wajah etnik yang menarik perhatian.

Sementara itu, penghargaan busana adat pria terbaik jatuh kepada Fransisko Edwin Sanjaya G., dari PWK. Mahasiswa asal Kabupaten Mahakam Ulu ini tampil gagah mengenakan pakaian adat Suku Dayak Bahau.

“Saya membawanya langsung dari rumah. Karena waktu pengenalan mahasiswa baru dulu dilaksanakan secara online, jadi baru bisa saya pakai saat yudisium ini. Sangat senang saat yudisium memakai pakaian adat, bisa untuk mengenalkan daerah asal masing-masing. Ini juga bentuk melestarikan dan wujud kecintaan kami kepada pakaian adat daerah,” tutur Edwin dengan dengan bangga. (Mita/Humas ITN Malang)




Pengabdian Masyarakat Dppm 2026 ITN Malang Penguatan Keberlanjutan Wisata Aeng

Penguatan Keberlanjutan Wisata Aeng melalui Integrasi Filtrasi Air Sungai untuk MCK dengan Energi Terbarukan Panel Surya dan Manajemen Digitalisasi Promosi

Pengabdian Masyarakat Dppm 2026 ITN Malang Penguatan Keberlanjutan Wisata Aeng. (Foto: Istimewa)


Malang, ITN.AC.ID – Masalah pasokan air bersih yang sering tersendat akibat pemadaman listrik, dan promosi wisata yang belum konsisten kini bukan lagi penghalang bagi pengelola Wisata Aeng Hamid Rusdi, Kelurahan Wonokoyo, Kedungkandang, Kota Malang, Jawa Timur. Tim pengabdian masyarakat dari Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) hadir membawa terobosan Teknologi Tepat Guna (TTG) berupa instalasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang terintegrasi dengan filtrasi air sungai, dan manajemen promosi digital menggunakan aplikasi Buffer.

Langkah kolaboratif ini menjadi bukti nyata komitmen kampus berdampak dalam mendampingi masyarakat lokal, meningkatkan kualitas sanitasi, serta memacu pertumbuhan ekonomi UMKM sekitar kawasan wisata. Program ini sendiri merupakan hibah tahun kedua yang merupakan wujud keberlanjutan dari kegiatan pengabdian pada tahun 2025 lalu. Jika pada kegiatan tahun 2025 tim ITN Malang fokus membuat sistem filtrasi air sungai untuk kebutuhan MCK serta digitalisasi promosi dasar melalui pembuatan konten media sosial, maka pada tahun 2026 ini program ditingkatkan ke tahap penguatan.
Ketua Tim Pengabdian Masyarakat ITN Malang, Deddy Rudhistiar, S.Kom., M.Cs., mengungkapkan bahwa inovasi yang dihadirkan berangkat langsung dari kebutuhan mitra pengelola.
“Kawasan Wisata Aeng Hamid Rusdi ini punya potensi besar, tapi persoalan mendasar seperti ketersediaan air bersih untuk fasilitas MCK sering terganggu ketika ada pemadaman listrik. Melalui integrasi panel surya dan sistem monitoring berbasis web, kami ingin memastikan kebutuhan air bersih tetap terjamin secara mandiri, stabil, dan ramah lingkungan,” ujar Deddy saat dihubungi lewat sambungan WhatsApp, Rabu (19/08/2026).
Ia menambahkan, penguatan fasilitas fisik tersebut juga diimbangi dengan pembenahan tata kelola promosi. “Bila tahun lalu digitalisasi masih sebatas pembuatan konten di media sosial, di tahun kedua ini kami tingkatkan ke manajemen konten terstruktur, termasuk menjadwalkan pembuatan dan publikasi konten secara teratur,” lanjut dosen S-1 Teknik Informatika ITN Malang tersebut.

Momen penyerahan cendera mata dari Ketua Tim Abdimas ITN Malang, Deddy Rudhistiar, kepada Lurah Wonokoyo, Bagus Vavan Setiawan di balai kelurahanMomen penyerahan cendera mata dari Ketua Tim Abdimas ITN Malang, Deddy Rudhistiar, kepada Lurah Wonokoyo, Bagus Vavan Setiawan di balai kelurahan. (Foto: Istimewa)

Menurut Deddy, pada program tahun kemarin sistem filtrasi air Sungai Wonokoyo untuk fasilitas MCK masih bergantung pada listrik PLN, sehingga saat pemadaman listrik pasokan air hanya mampu menyuplai air bersih berkisar 400–500 liter per hari (sekitar 40–50% dari kebutuhan ideal) dan pelayanan sanitasi berada di angka 65%. Kini, melalui keberlanjutan program di tahun 2026, sistem filtrasi telah beralih menggunakan pasokan energi terbarukan berupa PLTS terintegrasi yang dilengkapi modul surya 360 Wp, MPPT, baterai, serta pompa DC. Sistem kini sanggup mengisi tandon berkapasitas 1.050 liter hanya dalam waktu 4 jam secara mandiri. Pasokan air bersih pun meningkat stabil hingga 1.000 liter per hari, sehingga proyeksi tingkat kelayakan sanitasi dan kesehatan kawasan melonjak hingga 90%.

Baca Juga : Revitalisasi Wisata Aeng Hamid Rusdi, ITN Malang Bangun Sistem Filtrasi Air Sungai dan Digitalisasi Promosi

Sistem energi bersih ini disempurnakan dengan website monitoring berbasis Laravel buatan tim ITN Malang yang memungkinkan pengelola memantau tegangan, arus, daya, dan riwayat pemakaian energi secara real time. Di sisi manajemen, tim ITN Malang mengenalkan aplikasi Buffer untuk menyusun kalender konten, mengatur tema, serta menjadwalkan publikasi media sosial. Dampaknya sangat signifikan, di mana hasil evaluasi menunjukkan tingkat pemahaman dan keterampilan Pokdarwis dalam mengelola promosi digital melonjak tajam dari baseline awal 52,12% menjadi 90,30%.

Secara terpisah, Lurah Wonokoyo, Bagus Vavan Setiawan, ST., MM., memberikan apresiasi atas kontribusi nyata akademisi ITN Malang bagi wilayahnya. “Kehadiran tim ITN Malang sangat membantu kami. Masalah air di fasilitas umum yang dulunya sering dikeluhkan pengunjung kini sudah ada solusinya dengan tenaga surya. Ditambah lagi, pemuda Pokdarwis sekarang makin mahir mengemas konten promosi digital, sehingga Wisata Aeng bisa lebih dikenal masyarakat luas,” ungkap Bagus.

Baca Juga : Solusi Praktis Efisiensi Air, Tim Abdimas ITN Malang Pasang Irigasi Sprinkler Otomatis di SMKN 1 Singosari

Senada dengan Lurah Wonokoyo, Ketua Pokdarwis Kelurahan Wonokoyo, Fajar Isnaini, juga merasa bersyukur atas pendampingan berkelanjutan dari akademisi dan mahasiswa kampus teknik terkemuka di Kota Malang ini. “Dulu kalau listrik mati, pompa mati, air MCK langsung habis dan kami bingung. Sekarang dengan adanya PLTS dan tandon yang selalu terisi, operasional jadi jauh lebih lancar. Pelatihan promosi digitalnya juga praktis, kami jadi tahu cara menjadwalkan konten Instagram dan website tanpa repot,” tutur Fajar.

Tim mahasiswa ITN Malang tengah merangkai instalasi kelistrikan PLTS di atap bangunan lokasi pengabdian masyarakat Kelurahan Wonokoyo

Tim mahasiswa ITN Malang tengah merangkai instalasi kelistrikan PLTS di atap bangunan lokasi pengabdian masyarakat Kelurahan Wonokoyo. (Foto: Istimewa)

Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan oleh tim multidisiplin yang terdiri dari tiga dosen, yakni Deddy Rudhistiar, S.Kom., M.Cs. (Teknik Informatika S-1), Ir. Deviany Kartika, MT (Teknik Sipil S-1), dan Emmalia Adriantantri, ST., MM. (Bisnis Digital S-1), serta dibantu oleh 5 mahasiswa lintas prodi (Rifki Andhika, Moch. Huda, Aldo Eka Pratama Putra, Shabrina Dwiputri, dan Arliza Nurazizah) yang turut mendapatkan rekognisi SKS.

Sebagai informasi, program pengabdian ini terselenggara berkat dukungan pendanaan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat Tahun Pendanaan 2026. (Mita/Humas ITN Malang)