Tim Ahli ITN Malang bersama perwakilan dari Direktorat Jenderal Penataan Ruang Laut Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) foto bersama usai pelaksanaan Focus Group Discussion

ITN Malang Gagas Road Map Ocean Monitoring System: Transformasi Digital Tata Ruang Laut Indonesia

Tim Ahli ITN Malang bersama perwakilan dari Direktorat Jenderal Penataan Ruang Laut Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) foto bersama usai pelaksanaan Focus Group Discussion (FGD). (Foto: Yanuar/Humas ITN Malang)


Malang, ITN.AC.ID – Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) menunjukkan komitmennya dalam mendukung tata kelola maritim nasional dengan memimpin penyusunan Road Map Ocean Monitoring System (OMS). Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari kerja sama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Direktorat Jenderal Penataan Ruang Laut, dan dibahas secara intensif dalam Focus Group Discussion (FGD) Laporan Awal, di Ibis Styles Malang (27/11/2025).

FGD dihadiri oleh tim pakar multidisiplin dari ITN Malang, termasuk perwakilan dari Lembaga Pengembangan Kerja Sama dan Usaha (LPKU), Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM), serta para dosen dari Program Studi PWK, Teknik Informatika, Teknik Elektro, dan Teknik Geodesi. Dari pihak KKP, hadir Ketua Tim Kerja Supporting Investasi Direktorat Jenderal Penataan Ruang Laut, Arif Edy Handoyono, beserta jajaran.

ITN Siap Jadi Mitra Inovasi Smart Ocean Governance

Kepala LPKU ITN Malang, Ardiyanto Maksimilianus Gai, ST., M.Si., MM., menegaskan bahwa penunjukan ITN Malang sebagai mitra penyusun Road Map OMS merupakan kehormatan sekaligus tanggung jawab strategis.

“Kegiatan ini sangat penting bagi Indonesia, sebuah negara maritim yang mendesak untuk memiliki sistem pemantauan laut yang real-time, terintegrasi, dan berbasis teknologi mutakhir,” jelas Ardi dalam sambutannya.

Ia merincikan, sistem ini akan mengadopsi teknologi terdepan seperti sensor multi-platform, remote sensing, AI/ML analytics, hingga konsep Digital Twin. Kolaborasi ini merupakan wujud kontribusi akademik ITN Malang dalam: Pengembangan arsitektur teknis dan peningkatan interoperabilitas data; Integrasi kebijakan Satu Peta untuk data kelautan; dan Penyusunan tahapan pengembangan menuju simulation and smart ocean governance.

Baca juga : ITN Malang-Ditjen Penataan Ruang Laut, Kementerian Kelautan dan Perikanan Teken Kerja Sama Strategis, Perkuat Tata Kelola Ruang Laut

“Kami percaya road map ini adalah fondasi penting menuju pengelolaan ruang laut yang lebih transparan, adaptif, dan evidence-based, yang pada akhirnya akan memperkuat perlindungan kawasan konservasi dan mendukung layanan publik kelautan,” imbuhnya.

Focus Group Discussion (FGD) penyusunan Road Map Ocean Monitoring System (OMS) yang melibatkan ITN Malang dan KKP. (Foto: Yanuar/Humas ITN Malang)

OMS: Solusi Pengambilan Keputusan Berbasis Data

Arif Edy Handoyono dari KKP menggarisbawahi urgensi OMS sebagai instrumen pemantauan laut berbasis data dan teknologi untuk mendukung pengambilan keputusan.

“OMS dirancang sebagai sistem informasi spasial temporal untuk mendukung perencanaan ruang laut, pengendalian aktivitas ekonomi kelautan, serta pemantauan ekosistem. Maksud utama kegiatan ini adalah menyusun strategi induk pengembangan OMS yang komprehensif dari aspek teknis, operasional, hingga kelembagaan,” terang Arif.

Ia berharap kolaborasi antara KKP dan ITN Malang ini akan menghasilkan dokumen Peta Jalan Pengembangan Sistem Pemantauan Laut yang kredibel dan dapat dipertanggungjawabkan, sekaligus membuka peluang kerja sama yang lebih besar di masa depan.

Implementasi Lima Tahap Menuju Digital Twin 2030

Ir. Gatot Subroto, ST., M.Ars., tim ahli ITN Malang memaparkan hasil kajian komprehensif, termasuk benchmarking dari sistem OMS global seperti Australia, Korea Selatan, dan Amerika Serikat.

Ia menjelaskan bahwa implementasi OMS di Indonesia direncanakan dalam rentang 2026–2030 yang terbagi menjadi lima tahap utama: (1) Pilot Monitoring: Optimalisasi data awal dan standardisasi basis data. (2) Data Sharing dan Multi-Platform: Memastikan OMS dapat diakses oleh seluruh direktorat KKP dan lintas lembaga di Indonesia. (3) Analitik Dasar: Perhitungan analisis tren ruang laut dan pemodelan gelombang/arus. (4) Digital Twin: Menciptakan replika digital dunia nyata laut untuk melakukan simulasi sebelum implementasi kebijakan di lapangan. (5) Simulasi Optimalisasi Sistem: Menghasilkan sistem pengambilan keputusan yang cerdas untuk memantau kawasan konservasi, perikanan, hingga data lingkungan seperti suhu dan klorofil.

Sebagai tindak lanjut, ITN Malang bersama PT Informasi Geo Sistem (IGS) dan KKP akan melakukan benchmarking ke Korea Selatan untuk mengadopsi praktik terbaik yang relevan diterapkan di Indonesia.

Baca juga : ITN Malang Kawal Pembangunan Berkelanjutan di Kabupaten Timor Tengah Selatan, Perda RTRW 20 Tahun Mendatang Siap Disesuaikan

“Kami berharap ITN yang diberikan kepercayaan ini tetap bisa mengawal kebijakan penataan ruang laut secara nasional dan mengawal implementasi road map yang kita bangun sehingga hasilnya lebih baik lagi,” tutup Gatsu sapaan akrab Gatot Subroto. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)




Mohammad Erfan, ST., MT., bersama tim ITN Malang saat pelatihan di PUPR Kota Pasuruan

PUPR Pasuruan Perkuat Laboratorium, Gandeng ITN Malang dalam Pelatihan Teknis

Mohammad Erfan, ST., MT., bersama tim ITN Malang saat pelatihan di PUPR Kota Pasuruan. (Foto: Istimewa)


Malang, ITN.AC.ID – Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) digandeng oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Pasuruan untuk menggelar Pelatihan Tenaga Laboratorium Konstruksi. Pelatihan ini dilaksanakan guna meningkatkan kapasitas dan kompetensi aparatur PUPR Kota Pasuruan di bidang pengujian dan laboratorium konstruksi. Pelatihan bertempat di Dinas PUPR Kota Pasuruan pada Selasa hingga Rabu, (18-19/11/2025).

Kepala Lembaga Pengembangan Kerja Sama dan Usaha (LPKU) ITN Malang, Ardiyanto Maksimilianus Gai, ST., M.Si., MM., menyatakan, pelatihan dengan dinas pemerintah kabupaten bukan pertama, tapi kesekian terkait pengembangan kemampuan di bidang jasa konstruksi. “Menjadi tantangan kami adalah kali ini bisa mengadakan di luar kampus tidak harus di laboratorium ITN. Kami tetap feksibel dengan kebutuhan daerah. Mau mengunakan laboratorium kampus atau laboratorium luar,” ujarnya saat ditemui di ruangannya Selasa (26/11/2025)

Kerja sama ini berawal dari surat permohonan dari Dinas PUPR Kota Pasuruan kepada Lembaga Pengembangan Kerja Sama dan Usaha (LPKU) ITN Malang. ITN menurunkan tim ahli dari Prodi Teknik Sipil S-1 yang terdiri dari dosen, dan laboran, yaitu Mohammad Erfan, ST., MT (Koordinator), Ir. Eding Iskak Imananto, MT., Dr. Vega Aditama, ST., MT., serta Mohamad Mahfud (Laboran), dan mahasiswa asisten laboratorium konstruksi.

Fokus Pengujian Tanah dan Beton

Pelatihan yang diikuti lebih dari 10 peserta ini mencakup materi dan praktik lapangan termasuk: pelatihan Pengujian Kepadatan Tanah/Urugan, CBR lapangan, Sondir, Mutu Beton, Mutu Paving dan Material Beton, dan lain-lain.

Koordinator tim, Mohammad Erfan, ST., MT., menjelaskan, tim yang terdiri dari para ahli Beton dan Mekanika Tanah ITN Malang memberikan materi tersebut di atas, berdasarkan teori dan praktek serta menjawab pertanyaan dari para peserta pelatihan terkait materi yang disampaikan.

Baca juga : ITN Malang Dukung Pembangunan Infrastruktur Air Minum dan Persampahan di Kabupaten Timor Tengah Utara, NTT melalui Penyediaan Dokumen Perencanaan

“Pelatihan ini menjawab permohonan dari Dinas PUPR Kota Pasuruan untuk meningkatkan kapasitas dan kompetensi tenaga laboratorium PU Kota Pasuruan. Dari materi pelatihan tersebut belum menyentuh pengujian terkait bahan jalan, yang juga merupakan bagian penting dalam dunia konstruksi,” ujar Erfan saat ditemui di Kampus 1 ITN Malang, Senin (24/11/2025).

Ir. Eding Iskak Imananto, MT., tim Teknik Sipil ITN Malang memandu praktik lapangan di PUPR Kota Pasuruan. (Foto: Istimewa)

Pentingnya Laboratorium dan Kontrol Kualitas

Erfan menambahkan pentingnya bagi dinas terkait untuk memiliki kemampuan dan pemahaman terkait pekerjaan lapangan dan pengolahan data hasil uji. Sehingga pihak dinas mengetahui standar pengujian sesuai peraturan yang berlaku untuk dapat diterapkan pada suatu pekerjaan konstruksi.

Ia mengungkapkan banyak pertanyaan yang mendasar dari peserta, mengingat status ASN yang kadang bekerja lintas bidang. “Tujuan utama pelatihan ini adalah meningkatkan kemampuan mengoperasikan alat, dan meningkatkan pengetahuan dalam mengolah hasil pengujian,” tegasnya.

Erfan menekankan bahwa laboratorium konstruksi itu penting, dan dinas bisa dikatakan wajib memilikinya. Syaratnya, alat-alat laboratorium harus selalu dikalibrasi dan dicek tiap tahun.

Komitmen Kerja Sama Berkelanjutan

Pelatihan ini merupakan kali pertama ITN Malang mengadakan secara langsung di Dinas PUPR Kota Pasuruan. Meskipun Teknik Sipil ITN Malang sudah dikenal reputasinya dan kerap dipercaya dalam berbagai pengujian maupun audit pekerjaan fisik oleh pemerintah daerah, termasuk di Pasuruan, Tulungagung, Malang, Jember, hingga Sumba-NTT, dll.

Selain pelatihan, tenaga ahli dari ITN Malang telah sering dipercaya oleh instansi pemerintah maupun swasta yang berkaitan dengan hukum untuk melakukan audit pekerjaan fisik. “Dalam mendukung tugas pemerintah, kita tidak boleh main-main atau memanipulasi hasil audit. Apa yang kami lihat, kami ukur, kami analisa, kami sampaikan apa adanya sesuai dengan keahlian yang kami miliki,” imbuhnya.

Baca juga : ITN Malang dan Dinas PUPR Nganjuk Sinkronisasi Peninjauan Kembali RTRW

Harapan ke depan, ITN Malang berkomitmen menjalin kerja sama secara berkelanjutan. “Kami siap melayani Dinas PUPR Kota Pasuruan jika ingin datang ke ITN untuk pelatihan lanjutan, mungkin untuk pengujian bahan jalan yang masih belum tersentuh. Harapan kami, ITN tetap dan terus semangat ikut mencerdaskan bangsa dan negara,” tutup Erfan. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)




ITN Malang mendampingi Kabupaten Teluk Wondama menyusun Rencana Induk Pembangunan Pariwisata Daerah (RIPPDA)

ITN Malang Dampingi Kabupaten Teluk Wondama Susun RIPPDA, Siap Kembangkan Pariwisata Alam dan Religi Papua Barat

ITN Malang mendampingi Kabupaten Teluk Wondama menyusun Rencana Induk Pembangunan Pariwisata Daerah (RIPPDA). (Foto: Istimewa)


Malang, ITN.AC.ID – Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) menjalin kerja sama strategis dengan Pemerintah Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat, dalam mendampingi penyusunan Rencana Induk Pembangunan Pariwisata Daerah (RIPPDA). Kerja sama ini merupakan salah satu implementasi dari tindak lanjut Memorandum of Understanding (MOU) yang telah dimiliki ITN Malang dengan Kabupaten Teluk Wondama sejak tahun 2024.

Tim Ahli ITN Malang yang dipimpin oleh Kepala Lembaga Pengembangan Kerja Sama dan Usaha (LPKU) ITN Malang, Ardiyanto Maksimilianus Gai, ST., M.Si., MM., diterima dan berdiskusi langsung dengan Bupati Elysa Auri, SE., MM., Wakil Bupati, Sekretaris Daerah, Kepala BAPPEDA, Kepala Dinas Pariwisata, dan Kepala Badan Perencanaan Penelitian dan Pengembangan Daerah (BP4D) Kabupaten Teluk Wondama. Pertemuan tersebut berlangsung di kantor bupati pada Minggu – Senin, (16-17/11/2025).

Tim Ahli ITN Malang yang hadir terdiri dari akademisi kompeten, termasuk: Dr. Debby Budi Susanti, ST., MT. (Dekan FTSP, sekaligus Ahli Arsitektur), Dr. Agung Witjaksono, ST., MT. (Ahli Perencanaan Tata Guna Lahan), Ida Soewarni, ST., MT., (Ahli Perencanaan Pariwisata), serta para ahli dan asisten ahli lainnya.

Ardiyanto Maksimilianus Gai mengungkapkan, Pemkab Teluk Wondama menggandeng ITN Malang karena ITN memiliki kompetensi teruji dalam bidang perencanaan dan pembangunan pariwisata. Ditunjang pengalamannya dalam mendampingi perencanaan pariwisata, riset, dan pendampingan desa-desa wisata di Jawa Timur dan sekitarnya.

“Teluk Wondama memiliki potensi bahari, alam, budaya, sejarah, dan religi yang luar biasa. Potensi yang memukau ini membutuhkan pengelolaan yang baik agar dapat menjadi sektor potensial yang bisa dikembangkan,” ujarnya saat ditemui di Kampus 1 ITN Malang, Selasa (25/11/2025).

Baca juga : ITN Malang Kawal Pembangunan Berkelanjutan di Kabupaten Timor Tengah Selatan, Perda RTRW 20 Tahun Mendatang Siap Disesuaikan

Menurut Ardi, tim ITN Malang telah melakukan survei komprehensif selama lebih dari dua minggu terhadap seluruh objek pariwisata, meliputi potensi bahari, alam, budaya, sejarah, dan religi yang menjadi fokus utama dalam penyusunan RIPPDA. Potensi pariwisata yang luar biasa ini membutuhkan koordinasi lintas sektor dan lintas wilayah untuk pengembangannya.

Tim ahli ITN Malang diterima oleh Bupati Teluk Wondama Elysa Auri, SE., MM. (Foto: Istimewa)

Kekayaan Wisata Alam dan Sejarah Keagamaan

Dr. Debby Budi Susanti, ST., MT., saat ditemui di Kampus 1 ITN Malang mengungkapkan antusiasme pimpinan daerah terhadap rencana pengembangan pariwisata ini.

“Bapak Bupati sangat tertarik dan interest sekali atas kesiapan kami untuk mendukung pengembangan pariwisata di Kabupaten Teluk Wondama. Bahkan beliau tahun depan berkeinginan mengajak para kepala dinas datang ke Malang untuk melihat contoh kampung atau desa wisata yang sudah terbentuk sebagai pilot project,” jelasnya.

Pada presentasi RIPPDA, terungkap bahwa Teluk Wondama memiliki potensi wisata alam yang luar biasa. Di mana kotanya dibatasi bukit, hutan lindung, dan berbatasan langsung dengan pantai. Selain itu, terdapat potensi wisata religi yang kuat, terutama terkait sejarah masuknya Injil di Papua. Objek unggulannya meliputi: Kampung Yende yang terkenal dengan Gereja Tua Yende dan Kitab Injil tertua di Papua, serta Bukit Aitumeri yang merupakan lokasi di mana pendidikan formal pertama kali diperkenalkan.

“Kalau kita bisa mengangkat semuanya, antara potensi wisata alam dan wisata religi, harapannya Teluk Wondama bisa menjadi tujuan wisata utama bagi masyarakat yang berkunjung ke Papua,” imbuhnya.

Tantangan Akses dan Harapan Pengembangan SDM

Debby juga menyoroti tantangan utama, yaitu akses transportasi yang masih sulit. Tim ITN harus menempuh dua kali penerbangan dan perjalanan kapal selama 15 jam untuk sampai di Teluk Wondama. Meskipun sudah ada rencana dan lokasi bandar udara baru, pelaksanaannya belum terealisasi.

“Potensi wisatanya sudah mendukung sekali. Tinggal pengembangan SDM dan transportasi yang perlu dikembangkan,” harapnya.

Menurut Debby, Bupati, dan Kepala BAPPEDA Teluk Wondama telah mengisyaratkan ketertarikan untuk mengembangkan kerja sama lebih lanjut pada pekerjaan lainnya tahun depan, termasuk di bidang Sumber Daya Manusia (SDM).

“Kami berharap kerja sama dapat merambah ke bidang SDM seperti beasiswa mahasiswa untuk kuliah di ITN Malang. Kami bersyukur, beberapa tahun ini sudah ada beberapa ASN Teluk Wondama menempuh studi di Pascasarjana ITN Malang,” tutupnya.

Baca juga : Persiapan RTRW, Pemkab Kediri dan ITN Malang Perbarui Peta Tutupan Lahan 2025

Dengan selesainya penyusunan RIPPDA ini, ITN Malang berharap dokumen strategis dapat segera diimplementasikan secara optimal, sehingga potensi pariwisata Teluk Wondama yang luar biasa, baik alam maupun religi, betul-betul dapat terwujud sebagai destinasi yang diunggulkan di Papua Barat. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)




Shelly Ariesta Nafisah, mahasiswi PWK ITN Malang meraih Beasiswa Unggulan Masyarakat Berprestasi Tahun 2025, Batch 4 Kemendikbudristek (1)

Shelly Ariesta Nafisah, Mahasiswi PWK ITN Malang Raih Beasiswa Unggulan Kemendikbudristek Berkat Visi Perencanaan Berkelanjutan

Shelly Ariesta Nafisah, mahasiswi PWK ITN Malang meraih Beasiswa Unggulan Masyarakat Berprestasi Tahun 2025, Batch 4 Kemendikbudristek. (Foto: Istimewa)


Malang, ITN.AC.ID – Shelly Ariesta Nafisah, mahasiswa Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) S-1, Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang), berhasil meraih Beasiswa Unggulan (BU) Masyarakat Berprestasi Tahun 2025, Batch 4 dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) RI.

Keberhasilan mahasiswi asal Balikpapan, Kalimantan Timur ini merupakan pengakuan atas komitmennya pada keunggulan akademik (dengan raihan IPK 3,7 melebihi syarat minimal) serta kontribusi nyata di organisasi dan kegiatan sosial. Beasiswa bergengsi tersebut akan menanggung biaya Uang Kuliah Tunggal (UKT) dan biaya hidup Shelly hingga lulus tepat waktu.

Keberhasilan ini menempatkannya menjadi bagian dari 98 mahasiswa penerima Beasiswa Unggulan Batch 4 dari kampus-kampus di Kota Malang. Bersama penerima lain, Shelly melaksanakan penandatanganan kontrak beasiswa pada Selasa, 28 Oktober 2025, di Gets Hotel Malang, sebagai tanda dimulainya dukungan biaya kuliah.

Fokus pada Dampak dan Visi PWK

Shelly menjelaskan, ketertarikannya pada PWK karena bidang ini secara unik menggabungkan aspek perencanaan, sosial, dan lingkungan yang berdampak langsung pada kehidupan masyarakat. Ia memilih ITN Malang karena reputasinya yang baik di bidang teknik dan tata kota, didukung oleh dosen berpengalaman dan fasilitas studio perencanaan yang lengkap.

Baca juga : Esai Inklusif Mahasiswa PWK ITN Malang Sabet Juara 3 Nasional Geo Science 2025 UM

“Bagi saya, prestasi tidak hanya diukur dari penghargaan atau nilai akademik semata, tetapi juga dari konsistensi dalam berproses dan memberi dampak positif bagi orang lain. Prestasi adalah ketika saya mampu mengembangkan potensi diri sekaligus bermanfaat bagi lingkungan sekitar. Misalnya melalui kegiatan sosial atau inovasi sederhana untuk masyarakat,” ungkap mahasiswa angkatan 2024 ini saat dihubungi lewat sambungan WhatsApp, Rabu (05/11/2025).

Sebelum lolos Beasiswa Unggulan, Shelly aktif di berbagai kegiatan, termasuk organisasi Himpunan Mahasiswa PWK (HMPWK), Sanggar Tari Serumpun Lima, dan komunitas HeloKaltim.

Shelly Ariesta Nafisah, (paling kiri) saat kegiatan HMPWK ITN Malang. (Foto: Istimewa)

Strategi Seleksi dan Esai yang Inspiratif

Menurut Shelly, proses seleksi Beasiswa Unggulan terbilang ketat, mulai dari pengumpulan berkas hingga penulisan esai. Ia sendiri mengetahui informasi beasiswa pada bulan Juli 2025 melalui media sosial, dan tahap menyusun esai adalah bagian yang paling menantang.

“Tahapan paling menantang saat menyusun esai, karena harus menggambarkan diri secara jujur namun tetap inspiratif. Saya berusaha menulis dengan gaya yang personal, menonjolkan pengalaman nyata di bidang PWK, dan menunjukkan kontribusi yang ingin saya berikan di masa depan,” jelas Shelly yang menulis esai tentang “Dampak Teknologi Terhadap Karakter pada Era Digital”.

Ia meyakini keunikannya terletak pada perpaduan antara kemampuan akademik dan kepedulian sosial, yang membuatnya tidak hanya fokus pada teori tetapi juga aktif turun langsung ke lapangan untuk memahami kondisi masyarakat dan lingkungan.

Kontribusi Masa Depan untuk Perencanaan Berkelanjutan

Dengan beasiswa ini, Shelly berencana untuk segera mengikuti proyek penelitian kecil di bidang perencanaan permukiman berbasis masyarakat yang akan dibimbing oleh Ketua Program Studi PWK. Tujuan utamanya adalah mengembangkan riset tentang penataan permukiman berkelanjutan di wilayah pedesaan, serta ingin berkarir sebagai perencana wilayah profesional yang fokus pada kebijakan pembangunan berkelanjutan.

“Saya berharap ilmu yang saya pelajari bisa diterapkan untuk membantu pemerintah desa atau komunitas lokal dalam merencanakan wilayah yang lebih tertata dan produktif,” tambahnya.

Baca Juga : Lewat Instrumen Suplemen Konversi (ISK), Prodi PWK ITN Malang Raih Akreditasi Unggul

Shelly juga menyampaikan terima kasih atas peran besar keluarga, dosen yang memberikan surat rekomendasi, dan teman-teman di kampus yang selalu memberikan dukungan moral.

“Jangan pernah merasa minder untuk mencoba. Walaupun diri merasa belum memiliki prestasi yang cukup unggul, tetaplah berusaha untuk mengejar apa yang kita mau. Siapkan diri sejak awal dengan menjaga prestasi akademik, aktif di organisasi, dan tunjukkan bahwa kita memiliki visi jelas untuk berkontribusi kepada masyarakat, bukan hanya untuk kepentingan pribadi,” pungkasnya. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)




Refi Marinda, mahasiswa Teknik Geodesi S-1 ITN Malang meraih Medali Perunggu (Juara 3) pada Kejuaraan Wushu Sanda Bupati Tuban Cup 2025 Kategori Senior Putri, Kelas 56 Kg

Refi Marinda Mahasiswa ITN Malang Sabet Medali Wushu Sanda Hanya dengan 2 Minggu Latihan

Refi Marinda, mahasiswa Teknik Geodesi S-1 ITN Malang meraih Medali Perunggu (Juara 3) pada Kejuaraan Wushu Sanda Bupati Tuban Cup 2025 Kategori Senior Putri, Kelas 56 Kg. (Foto: Istimewa)


Malang, ITN.AC.ID — Prestasi membanggakan kembali diraih oleh Refi Marinda, mahasiswa Teknik Geodesi S-1 Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang). Yang lebih mengagumkan, Refi berhasil meraih Medali Perunggu (Juara 3) pada Kejuaraan Wushu Sanda Bupati Tuban Cup 2025 Kategori Senior Putri, Kelas 56 Kg, meskipun baru mendalami dan berlatih olahraga ini selama dua minggu.

Bergabung dengan kontingen Kota Malang, Refi bertanding dalam ajang bergengsi Open Wushu Sanda Tuban Fighting Championship se-Jawa Timur yang berlangsung di GOR Rangga Jaya Anoraga Tuban, pada 24-26 Oktober 2025. Kompetisi ini juga berfungsi sebagai ajang seleksi atlet Kabupaten Tuban untuk Kejuaraan Olahraga Provinsi (Porprov) tahun 2026.

Perjuangan dan Adaptasi Kilat

Mengikuti kompetisi wushu sanda merupakan pengalaman pertama bagi Refi. Wushu sanda merupakan cabang olahraga pertarungan bebas (menggabungkan pukulan, tendangan, tangkapan, lemparan, dan bantingan) yang berasal dari Tiongkok. Refi yang juga merupakan atlet silat PSHT (Persaudaraan Setia Hati Terate) sebelumnya telah berpartisipasi dalam Kejuaraan Provinsi (Kejurprov) Sambo Jawa Timur 2025 pada Mei lalu. Dengan waktu persiapan yang sangat singkat, Refi harus beradaptasi dengan cepat.

“Setelah ikut kompetisi sambo combat kemarin saya tetap latihan rutin untuk menjaga stamina. Jadi, ketika diajak ikut kompetisi wushu sanda, saya langsung iyakan. Selain untuk mencoba olahraga baru hitung-hitung untuk menambah jam terbang dan pengalaman di arena pertandingan. Ternyata cukup banyak yang harus dipelajari mulai dari aturan permainan hingga game plane pada saat bertanding,” ujar Refi saat ditemui di Kampus 1 ITN Malang beberapa waktu lalu.

Refi yang menyukai olahraga fisik dan tarung mengakui adanya kontras antara kepribadiannya dan olahraga yang digeluti. “Buat saya ini justru jadi tantangan sekaligus menyenangkan. Saya dikenal dengan kepribadian lemah lembut dalam keseharian, tapi di arena harus bisa berubah menjadi petarung,” ungkapnya.

Menjadi petarung di arena Refi merasa tertantang dengan perbedaan aturan, terutama karena di wushu sanda pukulan dan tendangan ke area kepala diperbolehkan, ini berbeda dengan silat.

Baca juga : Atlet Sambo ITN Malang Raih Perak di Kejurprov Jatim 2025

“Saya menyesuaikan wushu sanda agak susah, beda dengan cabor sebelumnya (sambo dan silat). Pengalaman berlatih silat dan sambo menjadi basic yang membantu banget, jadi tinggal mengasah boxing-nya aja serta mental, kalau tiba-tiba kena pukul kepala,” tambahnya.

Selama dua minggu, Refi berlatih intensif di One Lotus Kota Malang, dua kali sehari dari Senin hingga Sabtu (pagi untuk fisik, sore untuk teknik). Sementara latihan sambo tetap dilakukan di Han Academy untuk menjaga stamina.

Refi Marinda, mahasiswa Teknik Geodesi S-1 ITN Malang meraih Medali Perunggu (Juara 3) pada Kejuaraan Wushu Sanda Bupati Tuban Cup 2025 Kategori Senior Putri, Kelas 56 Kg. (Foto: Istimewa)

Mental Kuat di Tengah Cedera dan Tekanan

Mewakili Kota Malang 10 atlet wushu sanda membawa pulang 9 medali. Refi mengakui adanya tekanan mental, terutama karena banyak atlet yang berkompetisi adalah atlet Porprov. Refi bertanding dua kali, salah satunya melawan teman sesama atlet sambo dari Sidoarjo. Pertandingan kedua inilah yang menyebabkan “human error” karena Refi masih terbawa pola permainan sambo, dan sayangnya berujung pada cedera engkel kaki kiri.

“Engkel kiri cedera sampai tidak bisa jalan, jadi tidak bisa lanjut lagi bertanding kemarin,” katanya.

Baca juga : Mental Juara! Taekwondo ITN Malang Borong 7 Medali di Kejuaraan Taekwondo Danlanud Iswahjudi Cup 2025

Meski demikian, Refi optimis. Ia bertekad untuk serius di wushu sanda dan berencana untuk ikut kompetisi serupa di Kabupaten Malang pada 19-21 November mendatang, sambil menunggu pemulihan cederanya.

“Mumpung masih menjadi mahasiswa, ada fasilitas, ada teman-teman yang support, kenapa tidak mengembangkan hobi hingga bermanfaat. Saya khawatir setelah lewat masanya (masa muda), saya akan menyesal kenapa tidak mencoba,” tutup Refi, berharap bisa latihan konsisten dan meraih hasil maksimal di wushu sanda. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)