Vito Krisna Ary Wijaya, lulusan terbaik Arsitektur S-1, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP), ITN Malang pada wisuda ke 74 periode II tahun 2025

Kadek Vito, Lulusan Terbaik Arsitektur ITN Malang, Rancang Masa Depan Lahan Pasca Tambang di Bali

Vito Krisna Ary Wijaya, lulusan terbaik Arsitektur S-1, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP), ITN Malang pada wisuda ke 74 periode II tahun 2025. (Foto: Istimewa)


Malang, ITN.AC.ID – Mengubah lahan rusak menjadi pusat edukasi. Hal inilah yang dilakukan oleh Kadek Vito Krisna Ary Wijaya. Pria yang akrab disapa Vito ini dalam tugas akhirnya mengangkat isu lingkungan yang penting di tanah kelahirannya, Bali.

Atas prestasi akademiknya ia berhasil menjadi lulusan terbaik dari program studi Arsitektur S-1, Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang), dengan IPK 3,91. Dengan begitu, Vito sekaligus menjadi lulusan terbaik di Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP).

“Saya tertarik dengan fenomena alih fungsi lahan pertanian menjadi area pertambangan galian C (pasir dan kerikil) di kaki Gunung Agung dan Gunung Batur,” katanya yang ikut diwisuda pada wisuda ITN Malang ke 74 periode II tahun 2025.

Vito memilih lokasi di Kintamani karena aksesibilitasnya yang lebih baik, dan sektor pariwisatanya yang berkembang pesat. Ia melihat potensi besar untuk mengubah lahan pasca-tambang yang rusak menjadi sesuatu yang bermanfaat, khususnya bagi para petani dan warga di sekitar lokasi.

Baca juga : Nata Karya 5.0 ITN Malang Tampilkan Inovasi Arsitektur Masa Depan

“Bagi petani, isu alih fungsi lahan ini sangat menarik. Meskipun untuk jangka pendek memberikan keuntungan yang besar, tapi dampak jangka panjangnya sangat buruk bagi lingkungan,” jelas putra pasangan I Gede Agus Wijaya, dan Ni Ketut Winarti ini.

Melalui skripsinya yang berjudul “Agro Edu-wisata Rekreatif pada Lahan Pasca Tambang di Kintamani”, Vito menerapkan konsep Arsitektur Regeneratif yang berfokus pada pemulihan. Proyeknya tidak hanya merancang bangunan, tetapi juga memulihkan lahan secara fisik melalui reklamasi dan perbaikan top soil untuk menghidupkan kembali ekosistem. Desainnya mencakup fasilitas pendukung seperti restoran, toko ritel yang menjual hasil pertanian, area bermain, teater mini untuk edukasi pertanian, dan lain sebagainya.

Agro edu wisata rekreatif pada lahan pasca tambang karya Vito Krisna Ary Wijaya mahasiswa Arsitektur ITN Malang

Pria asal Denpasar ini juga memasukkan unsur Agro Edu-wisata Rekreatif, yaitu menggabungkan sektor pariwisata dengan edukasi pertanian. Tujuannya adalah memberikan pengalaman unik bagi pengunjung sekaligus meningkatkan kesadaran tentang alam dan pentingnya pertanian.

Proyek ini dirancang di atas lahan seluas 1,5 hektare, dengan bimbingan dosen Bayu Teguh Ujianto, ST., MT., dan Amar Rizqi Afdholy, ST., MT. Karya Vito ini juga berhasil menjadi finalis dalam kompetisi tugas akhir di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) pada Agustus 2025, yang menilai aspek berkelanjutan (sustainable) dalam konstruksi.

Saat ini, Vito sudah aktif bekerja sebagai freelancer di Bali. Ia terlibat dalam proyek-proyek di Sanur dan memiliki pengalaman magang mandiri melalui program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) di DDAP Architect, sebuah studio arsitek terkemuka di Bali.

“Saya jadi tahu bagaimana proses perancangan di dunia kerja, berinteraksi dengan klien, dan menyampaikan konsep. Ilmu dari kampus bisa saya terapkan dan komparasikan dengan praktik langsung di lapangan,” ungkapnya yang merasa pengalaman magangnya sangat berharga.

Baca juga : KKN Tematik Mahasiswa Arsitektur Bikin Ekowisata Damping Padi

Vito memiliki impian untuk mendirikan studio arsiteknya sendiri di masa depan, tetapi ia menyadari perlu banyak belajar dan mengumpulkan pengalaman terlebih dahulu. “Untuk saat ini, fokus saya adalah belajar dari proyek-proyek yang ada di lapangan. Kalau mau punya biro sendiri harus ada STRA (Surat Tanda Registrasi Arsitek) sebagai bukti kelayakan praktek,” tambah alumnus SMA Negeri 6 Denpasar ini.

Vito menceritakan, ia mulai mengenal dunia arsitektur setelah masuk ITN Malang. “Sebagai lulusan SMA yang jarang membahas arsitektur, saya merasa dosen dan pengajar di ITN mampu menyamaratakan mahasiswanya, sehingga saya bisa mengikuti proses pembelajaran dengan baik,” tuntasnya. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)




ITN Malang digandeng East Java Ecotourism Forum (EJEF), perkuat komitmen pendampingan Desa Wisata Sumberdem Kabupaten Malang

ITN Malang Digandeng East Java Ecotourism Forum (EJEF), Perkuat Komitmen Pendampingan Desa Wisata Sumberdem Kabupaten Malang

ITN Malang digandeng East Java Ecotourism Forum (EJEF), perkuat komitmen pendampingan Desa Wisata Sumberdem Kabupaten Malang. (Foto: Yanuar/Humas ITN Malang)


Malang, ITN.AC.ID – Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) mengukuhkan komitmennya dalam pengembangan desa wisata di Kabupaten Malang melalui kolaborasi strategis dengan East Java Ecotourism Forum (EJEF). Kerja sama secara spesifik akan berfokus pada pendampingan teknis Desa Sumberdem, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang yang kaya potensi, dan baru saja menembus 30 besar ajang bergengsi Wonderful Indonesia Awards (WIA) 2025.

Perjanjian kerja sama ini dituangkan dalam penandatanganan Nota Kesepahaman Bersama (NKB) dan Perjanjian Kerja Sama (PKS) yang dilaksanakan di Ruang Rapat Lembaga Pengembangan Kerja Sama dan Usaha (LPKU) ITN Malang pada hari Selasa, (30/09/2025).

Kepala LPKU ITN Malang, Ardiyanto Maksimilianus Gai, ST., M.Si., MM., menjelaskan, EJEF sebagai lembaga nirlaba yang konsen di sektor pariwisata melihat potensi besar yang dimiliki ITN Malang. terutama pada bidang perencanaan, perancangan, dan pemetaan.

Baca juga : Mahasiswa Arsitektur ITN Malang Rancang Master Plan Desa, Angkat Potensi Lokal Lewat KKNT

“Inisiatif ini kami tangkap sebagai peluang kerja sama strategis,” ujar Ardi yang akan mendorong Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) serta program studi terkait, seperti Arsitektur, Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK), Teknik Geodesi, Teknik Sipil, dan Teknik Lingkungan untuk terlibat penuh.

Ia menambahkan, tim ITN Malang juga telah melakukan kunjungan lapangan ke Desa Sumberdem. Pendampingan ini diharapkan tidak hanya memberikan dampak positif bagi desa, tetapi juga menjadi nilai jual dan pengalaman praktis bagi ITN Malang. Apalagi Desa Sumberdem kini tengah berjuang dalam kompetisi inovasi desa wisata.

Suasana penandatanganan kerja sama ITN Malang dengan East Java Ecotourism Forum (EJEF) untuk pendampingan Desa Wisata Sumberdem Kabupaten Malang. (Foto: Istimewa)

Desa Sumberdem memiliki potensi luar biasa untuk dikembangkan sebagai wisata edukasi. Desa ini memiliki tujuh kampung tematik, diantaranya Kampung Rosella, Kampung Bunga, Kampung Lemon, Kampung Toga, Kampung KRPL, Kampung Kambing, dan Kampung Kopi. Potensi inilah yang berhasil membawa Desa Sumberdem masuk dalam 30 besar Wonderful Indonesia Awards (WIA) yang diselenggarakan oleh Kementerian Pariwisata tahun 2025.

Ketua EJEF, Agus Wiyono menyatakan, pariwisata adalah sektor multi-dimensi, dan keberhasilan desa wisata salah satunya bergantung pada kesiapan sumber daya manusia (SDM), dan aksesibilitas.

“Banyak desa wisata yang bertahan bagus, tetapi tidak sedikit yang gagal dan ditinggalkan. Kami sebagai kumpulan praktisi pariwisata hadir untuk membudayakan perencanaan, baik fisik maupun non-fisik, dan menguatkan kesadaran masyarakat,” jelas Agus.

Baca juga : Tim Mahasiswa ITN Malang Buat Site Plan Wisata Desa Tebing Lowo, Pongangan, Gresik

Ia menambahkan, ITN Malang dianggap memiliki kemampuan teknis yang sangat dibutuhkan, terutama seiring tren green tourism yang semakin populer. “Kami merangkul banyak pihak, khususnya perguruan tinggi seperti ITN Malang, karena dalam pariwisata banyak hal yang bersifat teknis,” pungkasnya.

NKB ditandatangani oleh Rektor ITN Malang dan Ketua EJEF, sementara PKS ditandatangani oleh Agus Wiyono, S.Pd. (Ketua EJEF) dengan Dekan FTSP, Dr. Debby Budi Susanti, ST., MT., dan Kepala LPKU Ardiyanto Maksimilianus Gai, ST., M.Si., MM., serta turut disaksikan oleh Wakil Rektor III ITN Malang, Dr. Hardianto, ST., MT. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)