Nurul Afni Hanifa, Pecatur ITN Malang meraih Juara 2 Best Women Perorangan Rapid dalam Turnamen Catur Raja Brawijaya XIII (TCRB XIII) 2025 (2)

Mengukuhkan Diri Sebagai ‘Best Women’ (Juara 2 Nasional): Nurul Afni Hanifa, Pecatur ITN Malang Kalahkan Pecatur Pria di TCRB XIII

Nurul Afni Hanifa, Pecatur ITN Malang meraih Juara 2 Best Women Perorangan Rapid dalam Turnamen Catur Raja Brawijaya XIII (TCRB XIII) 2025. (Foto: Yanuar/Humas ITN Malang)


Malang, ITN.AC.ID – Kabar membanggakan kembali datang dari pecatur putri Nurul Afni Hanifa andalan Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang). Mahasiswa Teknik Sipil S-1 ini berhasil mencatat prestasi dengan meraih Juara 2 Best Women Perorangan Rapid dalam Turnamen Catur Raja Brawijaya XIII (TCRB XIII) 2025.

Turnamen Catur Raja Brawijaya XIII tingkat nasional diselenggarakan oleh Universitas Brawijaya (UB) pada 18–19 Oktober 2025 lalu di Auditorium Fakultas Peternakan UB. Turnamen ini mengundang partisipasi mahasiswa dan pelajar SMA se-Indonesia, yang bertanding dalam tiga kategori utama: Beregu Rapid, Perorangan Rapid, dan Perorangan Blitz.

Lawan Master hingga Pecatur Pria

Hani, sapaan akrab Nurul Afni Hanifa, menegaskan kualitasnya sebagai atlet yang patut diperhitungkan. Dalam kategori Perorangan Rapid (catur cepat) yang diikuti, ia bertanding sebanyak tujuh kali dalam sistem open tournament, yang menggabungkan pemain pria dan wanita dari berbagai universitas, termasuk pecatur bergelar Master Percasi (MP).

Baca juga : Triple Winner! Nurul Afni Hanifa Pecatur Tangguh ITN Malang Sabet 3 Medali di POMNAS XIX 2025

“Saya kemarin memang 5 kali, remis 1 kali, dan kalah 1 kali. Kalah hanya di babak kelima saat berhadapan dengan atlet cowok dari UIN SATU Tulungagung. Secara skill sebenarnya tidak ada kesulitan, saya hanya kehabisan jam saja,” ujar Hani saat ditemui di Ruang Humas ITN Malang beberapa waktu lalu.

Ia menambahkan, persaingan ketat terjadi karena harus menghadapi lawan-lawan tangguh dari berbagai perguruan tinggi seperti Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah (UIN SATU) Tulungagung, UIN Malang, Universitas Brawijaya (UB), hingga pecatur Unesa yang menyandang gelar Master Percasi (MP). Hani menilai, kekalahannya saat melawan pecatur pria adalah karena performa lawan saat itu mungkin lebih unggul.

Nurul Afni Hanifa, Pecatur ITN Malang meraih Juara 2 Best Women Perorangan Rapid dalam Turnamen Catur Raja Brawijaya XIII (TCRB XIII) 2025. (Foto: Mita/Humas ITN Malang)

Perhitungan Poin Catur Cepat

Dalam turnamen catur cepat yang ia ikuti, Hani menjelaskan bahwa penilaian akhir didasarkan pada total poin yang dikumpulkan di tiap babak dengan perhitungan standar: menang mendapat 1 poin, seri (remis/draw) 0.5 poin, dan kalah (loss) 0 poin.

Prestasi ini menambah daftar panjang pencapaian Hani, yang sebelumnya juga pernah membawa pulang tiga medali pada Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional (Pomnas) XIX 2025 pada September 2025 kemarin.

Baca juga : Perjuangan Mahasiswa ITN Malang Nurul Afni Hanifa Meraih Perunggu di PON 2024

“Harapannya, semoga saya bisa tetap juara di turnamen apapun, baik open tournament maupun pertandingan resmi,” tutup Hani penuh semangat. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)




Kepala Bidang Tata Lingkungan Hidup, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang, Tri Santoso memberikan materi dalam Workshop Lingkungan di ITN Malang

Transformasi Pengelolaan Limbah dan Infrastruktur Perkotaan: Menuju Circular Economy dan Kota Rendah Emisi

Kepala Bidang Tata Lingkungan Hidup, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang, Tri Santoso memberikan materi dalam Workshop Lingkungan di ITN Malang. (Foto: Yanuar/Humas)


Malang, ITN.AC.ID – Upaya serius untuk mengarahkan pembangunan menuju konsep green economy (ekonomi hijau), khususnya melalui transformasi pengelolaan limbah dan infrastruktur perkotaan menjadi bahasan menarik dalam Workshop Lingkungan. Workshop tersebut diselenggarakan dalam rangka Dies Natalis ke-34 Program Studi Teknik Lingkungan S-1 Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang).

Mengusung tema “Elvion 34 Years of Excellent in Environmental Engineering”, workshop digelar di Aula Kampus 1 ITN Malang pada Kamis (23/10/2025), dengan menghadirkan narasumber Kepala Bidang Tata Lingkungan Hidup, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang, Tri Santoso.

Dalam paparannya Tri Santoso menjelaskan, arah pembangunan di Indonesia saat ini sudah bergeser menuju pembangunan rendah karbon sebagai langkah konkret menuju ekonomi hijau. “Kita sudah mengarah ke konsep pembangunan ekonomi hijau. Sumber daya alam berupa energi fosil ke depannya sudah ada pergeseran. Sudah dipahami bahwa ada dampak negatif pembangunan yang dilakukan sampai sejauh ini,” ujarnya.

Ia mengingatkan para peserta terutama mahasiswa, bahwa tantangan lingkungan tidak cukup dijawab hanya dengan ilmu lingkungan semata, melainkan perlu perspektif yang lebih luas dengan melihat isu-isu strategis nasional. “Kita tidak bisa bersaing dengan bagus kalau metode dan materi yang digunakan masih menggunakan pola-pola lama,” tambahnya.

Tiga Krisis Planet dan Daya Dukung Lingkungan

Tri Santoso mengidentifikasi tiga isu lingkungan global yang dikenal sebagai Triple Planetary Crisis, yaitu: Perubahan Iklim, Kehilangan Keanekaragaman Hayati, dan Polusi serta Kerusakan Lingkungan.

Baca juga : Elvion 34: Teknik Lingkungan ITN Malang Rayakan Dies Natalis ke-34 dengan Workshop dan Grand Final LKTI

“Apa yang adik-adik (pelajar) lakukan di LKTI (Lomba Karya Tulis Ilmiah) mungkin baru menjawab persoalan pencemaran lingkungan, meski belum menyeluruh. PR kita sangat banyak. Bahkan, 80 persen bencana di Indonesia merupakan bencana hidrometeorologi seperti El Nino dan La Nina,” jelasnya. Workshop ini juga diikuti oleh para siswa peserta finalis LKTI yang dihelat oleh Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan (HMTL) ITN Malang.

Lebih lanjut, ia menyoroti bahwa perubahan iklim memiliki dampak yang luas, mulai dari ancaman kerusakan, korban jiwa, banjir, suhu udara, hingga soal inflasi. Persoalan utama yang dihadapi adalah keterbatasan daya dukung (lahan dan energi) dan daya tampung (emisi, sampah, air, dan udara) lingkungan.

Kepala Bidang Tata Lingkungan Hidup, DLH Kota Malang, Tri Santoso (dua dari kanan) bersama Kaprodi Teknik Lingkungan, ITN Malang Dr. Ir. Hery Setyobudiarso, M.Sc. (Foto: Yanuar/Humas)

Transisi ke Ekonomi Hijau dan Tantangan Green Jobs

Konsep Indonesia menuju ekonomi hijau, yang salah satu tujuannya adalah mencapai pembangunan berkelanjutan dan menjaga ekonomi masyarakat secara berkesinambungan, mensyaratkan pengurangan emisi industri dengan penggunaan sumber energi rendah karbon yang terjangkau.

Dalam konteks limbah, Tri Santoso menekankan bahwa limbah adalah sumber utama gas rumah kaca, dan daerah perkotaan yang padat penduduk berkontribusi menghasilkan emisi hingga 70 persen. Untuk mengatasi hal ini, ia mendorong transformasi pengelolaan limbah dan infrastruktur perkotaan menuju circular economy dan kota rendah emisi.

Namun, transisi ini menghadapi tantangan serius, yaitu terbatasnya pengetahuan dan keterampilan pelaku industri untuk menerapkan prinsip Circular Economy (CE), Pembangunan Rendah Karbon (PRK), dan Green Economy (GE) dalam bisnis. “Perlu penyiapan SDM dalam transisi ke green jobs,” tegasnya.

Untuk menjamin keberlangsungan hidup manusia, pembangunan harus dilakukan dengan memperhatikan aspek berkelanjutan. Tri Santoso menggarisbawahi pentingnya skema pengembangan kolaborasi antara masyarakat, akademisi, teknologi, industri, dan pembuat kebijakan.

Baca juga : SMA Wijaya Putra Surabaya Raih Juara 1 LKTI Elvion 34 ITN Malang, Tawarkan Solusi Kangkung untuk Limbah Sungai Benowo

“Supaya kita memiliki suatu gambaran untuk progres ke depan berdasarkan situasi dan kondisi saat ini. Kita ke depan harus mempunyai perhitungan-perhitungan berdasarkan kebijakan internasional, nasional, hingga daerah. Jika tidak dilakukan, akan menimbulkan risiko seperti gagal menangani persoalan sampah, gagal menangani pencemaran limbah, dan lain-lain,” pungkasnya. Ia mendorong para akademisi lingkungan untuk mengambil peran proaktif dalam perumusan solusi. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)




ITN Malang membantu menyiapkan masterplan RSUD Waibakul Sumba Tengah

ITN Malang Bantu Siapkan Masterplan RSUD Waibakul Sumba Tengah untuk Wujudkan Pelayanan Fasilitas Kesehatan yang Terstandardisasi dan Komprehensif

ITN Malang membantu menyiapkan masterplan RSUD Waibakul Sumba Tengah. (Foto: Istimewa)


Malang, ITN.AC.ID – Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) telah merampungkan penyusunan masterplan Pengembangan Kawasan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Waibakul, Kabupaten Sumba Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Laporan akhir dari penyusunan masterplan ini dipresentasikan pada Senin (20/10/2025) lalu dan mendapat sambutan baik dari pihak RSUD.

Tim ITN Malang yang melakukan presentasi terdiri dari tiga dosen, yakni Dr. Debby Budi Susanti, ST., MT., Hamka, ST., MT., dan Ar. Moh. Syahru Romadhon Sholeh, ST., M.Ars., IAI. Pertemuan ini dihadiri langsung oleh Plt. Direktur RSUD Waibakul, Neny Niraj, beserta jajaran RSUD Waibakul.

Kepala Pengembangan Kerja Sama dan Usaha (LPKU) ITN Malang, Ardiyanto Maksimilianus Gai, ST., M.Si., MM., menjelaskan, kerja sama ini merupakan bagian dari implementasi Memorandum of Understanding (MoU) antara ITN Malang dengan Pemerintah Kabupaten Sumba Tengah.

Baca juga : Dorong Pengendalian Inflasi Daerah ITN Malang Bantu Pemkab Mahulu Susun Roadmap Pengendalian Inflasi dan Kajian Subsidi dan Tarif Angkutan Udara

“Kerja sama ini menjadi bagian implementasi kerja sama ITN Malang dengan Pemkab Sumba Tengah. Kebutuhan pengembangan di sektor kesehatan menjadi salah satu fokus, yaitu mempersiapkan RSUD Waibakul menjadi rumah sakit yang berkualitas, yang mampu mengakomodir dan melayani kebutuhan masyarakat Sumba Tengah dan sekitarnya,” ujar Ardi saat ditemui di Kampus 1 ITN Malang awal pekan ini.

Masterplan yang disusun tidak hanya mencakup perencanaan fisik, tetapi juga perencanaan non-fisik jangka panjang, dengan harapan dapat mewujudkan fasilitas kesehatan yang terstandardisasi, ideal, dan komprehensif. Ardi juga menyampaikan komitmen ITN Malang untuk terus mendampingi Pemda Sumba Tengah dalam mewujudkan dan mengimplementasikan harapan tersebut.

Dekan FTSP ITN Malang, Dr. Debby Budi Susanti, ST., MT., memberikan sambutan dihadapan dihadapan pihak RSUD Waibakul, Kabupaten Sumba Tengah. (Foto: Istimewa)

Dekan FTSP ITN Malang, Dr. Debby Budi Susanti, ST., MT., memaparkan, masterplan ini disusun mengingat RSUD Waibakul saat ini sedang dalam upaya pengembangan fasilitas. “Saat ini ada upaya dari Pemda Sumba Tengah, terutama dari Dinas Kesehatan untuk melakukan penambahan fasilitas rumah sakit. Semisal jumlah ruang rawat inap, ruang operasi, dan fasilitas penunjang lainnya,” jelas Debby.

Menurutnya, respons dari pihak RSUD sangat positif. Tim, khususnya dari Program Studi Arsitektur, berhasil mendesain masterplan yang mereka nilai sangat baik dan rapi jika betul-betul diimplementasikan. Meski demikian, pihak rumah sakit perlu melengkapi dengan dokumen lingkungan untuk mengidentifikasi dampak dari pengembangan tersebut.

Senada dengan itu, Moh. Syahru Romadhon Sholeh, ST., M.Ars., menambahkan, RSUD Waibakul merupakan satu-satunya rumah sakit milik Pemda dan diproyeksikan menjadi rumah sakit rujukan utama di wilayahnya.

“Secara keseluruhan, fasilitas dan pelayanan RSUD Waibakul sudah proper dan sesuai apa yang disyaratkan sebagai rumah sakit daerah. Dalam pengembangannya nanti, kami menargetkan adanya penambahan jumlah kapasitas pelayanan rawat inap serta penambahan fasilitas-fasilitas pendukung lainnya,” kata Adhon sapaan akrab Moh. Syahru Romadhon Sholeh.

Baca juga : ITN Malang Gelar Pelatihan dan Sertifikasi Kompetensi Operator Teknis PLTS untuk SDM Mahakam Ulu

Beberapa fasilitas baru yang signifikan dan membedakan adalah ruang rehabilitasi medis, klinik penyakit menular, dan fasilitas canggih seperti Cathlab (Catheterization Laboratory) untuk diagnosis dan penanganan penyakit jantung.

Tim ITN Malang telah melakukan dua kali presentasi (paparan antara dan akhir) setelah kegiatan survei dan pengambilan data di lapangan, yang juga melibatkan peran mahasiswa. Diharapkan sumbangsih pemikiran dari ITN ini dapat membantu pengembangan wilayah, khususnya di Sumba Tengah, dan kerja sama antara ITN Malang dan Pemda Sumba Tengah dapat terus berlanjut. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)




Para juara LKTI Elvion 34 Teknik Lingkungan ITN Malang

SMA Wijaya Putra Surabaya Raih Juara 1 LKTI Elvion 34 ITN Malang, Tawarkan Solusi Kangkung untuk Limbah Sungai Benowo

Para juara LKTI Elvion 34 Teknik Lingkungan ITN Malang. (Foto: Yanuar/Humas ITN Malang)


Malang, ITN.AC.ID – Persaingan ketat pada babak final Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI), Elvion 34 Teknik Lingkungan Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang), berakhir dengan kemenangan bagi tim dari SMA Wijaya Putra Surabaya. Tim ini berhasil meraih Juara 1 setelah menyajikan inovasi solusi limbah yang menarik dan aplikatif.

Final LKTI tingkat SMA/sederajat se-Jawa Timur ini mengusung tema “Transformasi Energi dan Lingkungan Berkelanjutan Menuju Masa Depan Hijau”, digelar di Aula Kampus 1 ITN Malang pada Kamis (23/10/2025). Tiga tim terbaik yang lolos ke final adalah SMA Negeri 1 Kepanjen, SMA Wijaya Putra Surabaya, dan MA Negeri 4 Jombang.

Setelah melalui serangkaian seleksi proposal yang dimulai sejak September 2025, dan bersaing dengan puluhan sekolah se-Jawa Timur, para finalis menunjukkan kemampuan ilmiah terbaik mereka. Dimana Juara 1 diraih oleh Tim Hayang Jajan dari SMA Wijaya Putra Surabaya. Disusul Juara 2 oleh Tim EscuBioTex dari SMA Negeri 1 Kepanjen, dan Juara 3 oleh Tim Glavorals Environment dari MA Negeri 4 Jombang.

Baca juga : Olahan Limbah & Biodiesel dari Jelantah! Siswa SMAN 4 Kota Malang ‘Bedah’ Rahasia Dapur Kimia di ITN Malang

Ketua Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan (HMTL), Zulfikar Ramadani, menegaskan, lomba karya tulis ilmiah ini merupakan komitmen HMTL untuk terus menumbuhkan budaya ilmiah di kalangan pelajar melalui ajang LKTI. Adapun dewan juri yang bertugas menilai inovasi para peserta berasal dari dosen-dosen profesional Teknik Lingkungan ITN Malang, yaitu Dr. Ir. Hery Setyobudiarso, M.Sc; Ir. Sudiro, ST., MT., dan Anis Artiyani, ST, MT.

Tim Juara 1 Hayang Jajan dari SMA Wijaya Putra Surabaya, beranggotakan Nadhirah Aristawati, Amalia Putri Wijayanti, dan Vivit Wahyu Ningrum. Mereka memukau dewan juri dengan presentasi berjudul “Pemanfaatan Tanaman Kangkung dalam Menetralisir Limbah Logam Alkali Pada Air Sungai yang ada di Daerah Benowo Surabaya Barat”.

Ketua Program Studi Teknik Lingkungan, Dr. Ir. Hery Setyobudiarso, M.Sc., foto bersama Juara 1 dari Tim Hayang Jajan dari SMA Wijaya Putra Surabaya. (Foto: Yanuar/Humas ITN Malang)

Sambil membawa alat peraga penelitian, mereka memaparkan bahwa air Sungai Benowo tercemar limbah rumah tangga dan LPA (Lokasi Pembuangan Akhir), yang menyebabkan air bersifat basa (pH 9) serta mengandung logam Natrium (Na) dan Kalium (K).

Temuan kunci penelitian mereka ternyata tanaman kangkung yang mampu menyerap logam Na dan K, yang notabene merupakan unsur makro bagi pertumbuhan kangkung, sehingga dapat tumbuh subur. Proses penyerapan ini berhasil menurunkan pH air hingga mencapai 7 (netral), yang efektif menjernihkan air dan menjaga kelestarian biota sungai. Mereka menyimpulkan adanya potensi besar budidaya kangkung air di sekitar Sungai Benowo sebagai solusi ramah lingkungan untuk memulihkan kualitas air, sekaligus membuka peluang usaha bagi masyarakat sekitar.

Sementara itu, tim Juara 2 EscuBioTex dari SMA Negeri 1 Kepanjen menawarkan solusi inovatif untuk masalah sampah plastik dengan menghadirkan bioplastik dari kulit singkong. Kulit singkong dipilih karena kandungan patinya yang unggul dan ketersediaannya melimpah. Untuk meningkatkan kualitasnya, mereka menambahkan ekstrak daun sirih yang berfungsi menghambat pertumbuhan bakteri dan meningkatkan kualitas elastisitas bioplastik.

Baca juga : Elvion 34: Teknik Lingkungan ITN Malang Rayakan Dies Natalis ke-34 dengan Workshop dan Grand Final LKTI

Inovasi yang tak kalah menarik datang dari Tim Glavorals Environment dari MA Negeri 4 Jombang sebagai Juara 3, yang menawarkan solusi atas krisis sampah botol plastik sekali pakai (PET). Mereka mengembangkan Biokapsul Alginat sebagai alternatif kemasan air minum yang dapat terurai hayati atau bahkan dikonsumsi (edible water bubble).

Biokapsul ini memanfaatkan teknologi sferifikasi dari Natrium Alginat (polisakarida alami dari rumput laut) dan Ion Kalsium. Keunggulan utamanya adalah kemampuan terdegradasi sempurna dalam waktu singkat setelah digunakan, jauh lebih cepat daripada botol plastik yang butuh ratusan tahun. Tim ini menyimpulkan bahwa Biokapsul Alginat terbukti sangat layak dan menjanjikan, tidak hanya dari aspek lingkungan karena 100% biodegradable, tetapi juga dari aspek kesehatan (aman dikonsumsi) dan ekonomis (potensi efisiensi logistik). (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)




Teknik Lingkungan ITN Malang merayakan Natalis ke-34 dengan workshop dan grand final LKTI.

Elvion 34: Teknik Lingkungan ITN Malang Rayakan Dies Natalis ke-34 dengan Workshop dan Grand Final LKTI

Prodi Teknik Lingkungan ITN Malang merayakan Dies Natalis ke-34, ditandai dengan seremoni potong tumpeng. (Foto: Yanuar/Humas ITN Malang)


Malang, ITN.AC.ID – Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan (HMTL) S-1 Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) sukses menggelar puncak kegiatan Elvion 34 di Aula Kampus 1 ITN Malang Kamis (23/10/2025). Acara ini diselenggarakan untuk memperingati Dies Natalis Program Studi Teknik Lingkungan S-1 ITN Malang yang genap berusia 34 tahun sejak didirikan pada 8 September 1991.

Mengusung tema “Elvion 34 Years of Excellent in Environmental Engineering”, kegiatan puncak ini dimeriahkan dengan Workshop dan Grand Final Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) Tingkat SMA/SMK Sederajat Se-Jawa Timur.

Dibuka oleh Wakil Rektor dan Komitmen Beasiswa

Acara dibuka secara resmi oleh Wakil Rektor III ITN Malang, Dr. Hardianto, ST., MT., yang juga merupakan alumnus Teknik Lingkungan ITN Malang, angkatan 1993. Pembukaan ditandai dengan tradisi potong tumpeng.

Hardianto dalam sambutannya mengungkapkan rasa bangganya terhadap usia prodi yang telah matang. Ia juga memberikan kejutan dan motivasi bagi para finalis.

“Di usia yang matang ini, semoga Teknik Lingkungan semakin sukses. Untuk para finalis yang hadir hari ini, dengan sertifikat LKTI nanti, kalian berkesempatan kuliah di ITN dengan bebas sumbangan DPP (Dana Pengembangan Pendidikan) 100 persen. Silakan, semoga beasiswa ini bisa dimanfaatkan dengan baik,” ungkap Hardianto.

Baca juga : Lulusan Terbaik Teknik Lingkungan, Annisa Berliana Dewi Olah Biji Pepaya Jadi Solusi Limbah Batik

Ketua Program Studi Teknik Lingkungan, Dr. Ir. Hery Setyobudiarso, M.Sc., turut menyampaikan apresiasi. Ia merasa bangga karena kegiatan Elvion dapat terselenggara dengan baik dan lancar, sekaligus mengapresiasi kerja keras panitia HMTL.

Teknik Lingkungan ITN Malang merayakan Natalis ke-34 dengan workshop dan grand final LKTI. (Foto: Yanuar/Humas ITN Malang)

Refleksi Tiga Dekade dan Ajang Inovasi Ilmiah

Ketua HMTL, Zulfikar Ramadani, menjelaskan, tema “Elvion 34 Years of Excellent in Environmental Engineering” adalah refleksi dari perjalanan panjang prodi Teknik Lingkungan selama lebih dari tiga dekade dalam membangun semangat inovasi, solidaritas, dan dedikasi terhadap pengembangan keilmuan lingkungan.

“Kami berharap dapat melahirkan gagasan-gagasan brilian yang mampu memberikan solusi terhadap tantangan lingkungan di masa kini dan masa depan,” ujar Zulfikar. Ia juga menekankan komitmen HMTL dalam menumbuhkan budaya ilmiah melalui LKTI.

Zulfikar juga berharap momen Dies Natalis ke-34 ini menjadi titik refleksi dan motivasi untuk terus berinovasi, berkolaborasi, dan berkontribusi bagi keberlanjutan lingkungan hidup.

Puncak Acara: Workshop dan Grand Final LKTI

Ketua Pelaksana, Muhammad Hirza Dhiya Ul Haq, merinci rangkaian kegiatan puncak yang berfokus pada pengembangan keilmuan dan soft skill.

Sebelumnya, telah diadakan kompetisi internal yaitu E-CHAMP (kompetisi badminton) pada 20 Oktober 2025 sebagai ajang untuk mempererat solidaritas mahasiswa aktif Teknik Lingkungan ITN Malang.

“Puncak acara hari ini diisi dengan workshop, dan presentasi finalis, dilanjut awarding,” katanya.

Workshop Lingkungan menghadirkan narasumber dari Dinas Lingkungan Hidup Kota Malang, Tri Santoso. Sementara grand final LKTI, yang merupakan presentasi final dari tiga tim terbaik yang berhasil lolos, yaitu: SMA Negeri 1 Kepanjen, SMA Wijaya Putra Surabaya, dan MAN 4 Jombang.

“Proses seleksi LKTI telah berlangsung sejak September (pendaftaran dan pengumpulan abstrak), dilanjutkan dengan pengumpulan full paper di bulan Oktober, hingga meloloskan tiga finalis terbaik untuk presentasi dan awarding hari ini,” jelasnya.

Baca juga : FIT ISI 2025 Luncurkan Terobosan: Konferensi Ilmiah Pertama di Indonesia yang Terintegrasi dengan Metaverse

Acara juga dihadiri oleh perwakilan alumni Teknik Lingkungan angkatan 2008, Rusdiawan Endra Triono, yang saat ini berkarir di Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Malang. Kehadiran alumni ini menegaskan bahwa lulusan Teknik Lingkungan ITN Malang berkontribusi di berbagai sektor, serta tetap menjaga komunikasi dan ikatan kuat dengan program studi. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)