Lulusan terbaik FTSP ITN Malang foto bersama dengan dekanat dan kaprodi-sekprodi pada yudisium periode II tahun 20242025

Lulusan Ramaikan Yudisium FTSP ITN Malang dengan Balutan Pakaian Adat Nusantara

Lulusan terbaik FTSP ITN Malang (tengah) diapit oleh Rektor ITN Malang Awan Uji Krismanto, ST., MT., Ph.D., dan Dekan FTSP foto bersama dengan kaprodi-sekprodi dan para terbaik per prodi. (Foto: Yanuar/Humas ITN Malang)


Malang, ITN.AC.ID  – Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP), Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) menggelar acara yudisium periode II tahun 2024/2025 pada Rabu, (27/08/2025). Sebanyak 261 mahasiswa dari lima program studi (prodi) S1 mengikuti prosesi yang berlangsung meriah di Aula Kampus 1 ITN Malang.

Dalam suasana yang penuh keceriaan, para peserta yudisium tampil antusias mengenakan pakaian adat dari berbagai daerah, menghadirkan nuansa Bhinneka Tunggal Ika yang kental. Jumlah lulusan terbanyak berasal dari Teknik Sipil dengan 93 orang, diikuti Arsitektur 56 orang, Teknik Geodesi 51 orang, Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) 38 orang, dan Teknik Lingkungan 23 orang.

Dekan FTSP ITN Malang, Dr. Debby Budi Susanti, ST., MT., menyapa para peserta dan bertanya mengenai rencana mereka setelah lulus. Sebagian besar menjawab akan kembali ke kampung halaman untuk mengabdi, melanjutkan studi, atau bekerja. Ia mengingatkan, para lulusan untuk selalu menjaga nama baik ITN Malang saat kembali ke masyarakat, serta tidak cepat berpuas diri setelah terjun ke masyarakat.

“Semoga apa yang sudah dibekalkan di kampus dapat bermanfaat. Harapan kami, alumni tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi juga dapat menciptakan lapangan pekerjaan,” ujarnya.

Baca juga : Mahasiswa Arsitektur ITN Malang Rancang Master Plan Desa, Angkat Potensi Lokal Lewat KKNT

Debby menyebutkan, sebagian lulusan sudah dibekali sertifikasi kompetensi sehingga siap terjun ke dunia usaha dan industri. Selain itu, FTSP juga menjalin kerja sama dengan berbagai asosiasi profesi seperti Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) dan Ikatan Ahli Perencanaan Indonesia (IAPI), dan lainnya yang memberikan keuntungan bagi mahasiswa.

“Dengan kolaborasi ini, mahasiswa dapat memperoleh ilmu praktis dari kakak senior yang sudah berkecimpung di dunia profesional. Mereka juga bisa mendaftar sebagai anggota asosiasi, yang bermanfaat untuk memperluas jaringan dan kredibilitas,” tambahnya.

Rektor ITN Malang Awan Uji Krismanto, ST., MT., Ph.D., (kemeja kuning) foto bersama lulusan dari Teknik Sipil S-1 pada yudisium periode II tahun 2024/2025. (Foto: Yanuar/Humas ITN Malang)

Pada yudisium kali ini, Kadek Vito Krisna Ary Wijaya dari Prodi Arsitektur berhasil meraih IPK tertinggi FTSP dengan nilai 3,91. Kadek mengaku tidak menyangka bisa menjadi lulusan terbaik. Baginya, komitmen dan ketekunan dalam menjalani setiap mata kuliah menjadi kunci utamanya.

“Semua berjalan ada suka duka, sehingga di akhir masa perkuliahan hasilnya memuaskan,” ujar Kadek.

Ia juga menekankan pentingnya menyeimbangkan perkuliahan dan kegiatan organisasi. “Utamakan tujuan awal kuliah, yaitu menyelesaikan tanggung jawab setiap mata kuliah, baru setelah itu lakukan kegiatan organisasi,” tegasnya.

Berikut daftar peraih IPK terbaik dari masing-masing prodi: Herman Rubiyanto (Teknik Sipil) IPK 3,66, Dian Vernanda Panie (PWK) IPK 3,70, Dewa Gede Agung Gita D. (Teknik Geodesi) IPK 3,61, Annisa Berliana Dewi (Teknik Lingkungan) IPK 3,63

Baca juga : Semarak FTSP Cup 2025: Kobarkan Semangat VELOCITY di ITN Malang!

Penghargaan khusus juga diberikan kepada lulusan dengan pakaian adat terbaik, yakni Rizha Arsyallius Syahrian dari PWK, dan Natalia dari Teknik Lingkungan. Keduanya berasal dari Mahakam Ulu, Kalimantan Timur. Mereka kompak mengenakan pakaian adat Suku Dayak, yaitu Dayak Bahau dan Dayak Kenyah.

Rizha mengaku bangga bisa mengenakan pakaian adatnya sendiri untuk momen penting ini. “Ingin mengenalkan ke teman-teman ITN yang banyak berasal dari berbagai daerah, jadi kami bisa saling tahu pakaian adat masing-masing,” pungkasnya yang berharap tradisi berpakaian adat pada yudisium terus dilestarikan. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)




Dekan FTSP ITN Malang, Dr. Debby Budi Susanti, ST., MT., (ujung kiri) dan Kaprodi Arsitektur Ir. Gaguk Sukowiyono, MT., foto bersama Kepala dan aparat Desa Carangrejo, Kesamben, Jombang

Mahasiswa Arsitektur ITN Malang Rancang Master Plan Desa, Angkat Potensi Lokal Lewat KKNT

Dekan FTSP ITN Malang, Dr. Debby Budi Susanti, ST., MT., (ujung kiri) dan Kaprodi Arsitektur Ir. Gaguk Sukowiyono, MT., foto bersama Kepala dan aparat Desa Carangrejo, Kesamben, Jombang. (Foto: Istimewa)


Malang, ITN.AC.ID – Sebanyak 25 mahasiswa Program Studi Arsitektur S-1, Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) mengakhiri program Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) dengan merancang master plan untuk lima desa. Empat desa di antaranya berlokasi di Kabupaten Jombang, dan satu desa di Kabupaten Malang. Selama empat bulan, mahasiswa angkatan 2022 ini menggali potensi desa untuk diwujudkan dalam bentuk desain dan peta jalan strategis (master plan).

Tim KKNT Arsitektur berada di lima desa, yaitu Kabupaten Jombang di Desa Keboan, Kecamatan Ngusikan, Desa Carangrejo, Kecamatan Kesamben, Desa Carangwulung, dan Desa Panglungan, Kecamatan Wonosalam. Kabupaten Malang di Desa Putukrejo (lokasi Sumber Sirah), Kecamatan Gondanglegi.

Pelaksanaan KKNT yang berlangsung Mei hingga Agustus 2025 ini merupakan KKNT terakhir dalam program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) sebelum nanti berganti ke Program Kampus Berdampak. Selama di lapangan mahasiswa berinteraksi langsung dengan masyarakat dan perangkat desa. Tahap penting dalam proses ini adalah Focus Group Discussion (FGD) yang telah dilaksanakan di tiga desa pada pertengahan Agustus 2025 dan sisanya akan menyusul pada September 2025 mendatang.

Baca juga : FTSP ITN Malang Turunkan 30 Mahasiswa Ikut Pendampingan dan Pembangunan Desa

Ketua Program Studi Arsitektur S-1 ITN Malang, Ir. Gaguk Sukowiyono, MT., menyatakan, KKNT memberikan pengalaman berharga bagi mahasiswa. Dimana mahasiswa dituntut untuk berpikir kritis, bersosialisasi, dan mengangkat potensi desa agar gaungnya bisa meningkatkan perekonomian masyarakat.

Desain “Carangrejo BioVibe” karya mahasiswa KKNT Arsitektur ITN Malang.

“Mahasiswa dihadapkan pada permasalahan yang kompleks di lapangan. Dengan ilmu yang mereka miliki, mereka harus mampu menyelesaikannya,” ujar Gaguk saat ditemui pada Senin (25/08/2025).

Gaguk juga menyampaikan, sambutan dari desa sangat positif. Desa merasa terbantu karena kini memiliki “pegangan” untuk mengembangkan desa. Keberhasilan ini tidak hanya menguntungkan desa, tetapi juga ITN Malang. Dengan adanya master plan, perangkat desa kini memiliki panduan yang jelas untuk mengajukan pendanaan dari berbagai sumber, termasuk CSR atau dinas terkait.

“Ini menjadi sarana promosi tidak langsung, dan menjadikan desa-desa tersebut sebagai desa binaan kami (ITN Malang),” pungkas Gaguk.

Dosen pendamping KKNT, Komang Ayu Laksmi H.S, ST., M.Ars, menyebut, program KKNT sangat penting untuk mengasah skill mahasiswa. Pengalaman ini dinilai menjadi bekal berharga saat mahasiswa lulus nanti. “Mereka belajar menghadapi stakeholder, dan berkomunikasi dengan cara yang berbeda dari di kampus,” kata Komang.

Salah satu desa yang sudah melakukan FGD adalah Desa Carangrejo, Jombang. Desa ini pernah menerima penghargaan Proklim Kategori Utama dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), di support oleh PT Astra International TBk dalam program Kampung Berseri Astra. Saat FGD turut hadir Dekan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP), Dr. Debby Budi Susanti, ST., MT., dan Kaprodi Arsitektur Ir. Gaguk Sukowiyono, MT.

Di bawah bimbingan Komang Ayu Laksmi, ST., M.Ars bersama Hamka, ST., MT. dan Sri Winarni, ST., MT., lima mahasiswa merancang master plan untuk mengembangkan alun-alun desa menjadi destinasi wisata. Tim beranggotakan Daulat Rajif Azlan Syah, Putra Nabil Rabbani, Gading Sindhuarta Prabowo, Arif Andrianto, dan Naufal Azi.

Mahasiswa Arsitektur ITN Malang presentasi pada FGD KKNT di hadapan aparat Desa Carangrejo, Kesamben, Jombang. (Foto: Istimewa)

Mereka mengusung konsep “Carangrejo BioVibe”. Konsep ini menggabungkan tema kontemporer-biofilik, yang memadukan desain modern dengan kedekatan pada alam. Tujuannya adalah menciptakan ruang yang menekankan harmoni antara manusia, alam, dan lingkungan binaan.

Dengan mempertimbangkan kondisi tapak berupa lahan sawah datar seluas ±2 hektar, tim memilih desain dengan memanfaatkan potensi agraris. Filosofi lokal “Carang” (ranting) dan “Rejo” (makmur) menjadi inspirasi utama yang melambangkan pertumbuhan dan kesejahteraan desa.

“Desain ini diharapkan dapat menghidupkan kembali pujasera yang sepi dan menjadi solusi atas kebutuhan desa akan ruang interaksi, rekreasi, dan pusat kegiatan,” ujar Putra Nabil Rabbani saat dihubungi lewat sambungan Whatsapp.

Baca juga : Tim Mahasiswa ITN Malang Buat Site Plan Wisata Desa Tebing Lowo, Pongangan, Gresik

Untuk mewujudkan keinginan desa, master plan mencakup berbagai fasilitas pendukung UMKM, kegiatan seni, edukasi, dan rekreasi. Beberapa fasilitas utama yang direncanakan antara lain amfiteater, foodcourt, lapangan multifungsi, dan galeri pameran. Selain itu, akan dibangun fasilitas rekreasi seperti kolam renang, area kebugaran luar ruangan, dan playground, serta fasilitas pendukung seperti musala dan area parkir. Desain ini juga menyertakan taman pangan sebagai sarana edukasi. Seluruh fasilitas tersebut dirancang menggunakan material lokal yang efisien dan ramah lingkungan. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)




SJI bersama fasilitator perusahaan Jepang saat observasi dan diskusi langsung bersama WR III, Pusat Karir dan para peserta program kerja

Untuk Kedua Kalinya, Tiga Alumni ITN Malang Lolos Program Kerja di Jepang, SJI Group Beri Pembekalan

SJI bersama fasilitator perusahaan Jepang saat observasi dan diskusi langsung bersama WR III, Pusat Karir dan para peserta program kerja. (Foto: Yanuar/Humas ITN Malang)


Malang, ITN.AC.ID – Tiga alumni Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) lolos program kerja Engineering (Gijinkoku) di Jepang. Rekrutmen alumni merupakan program kerja sama antara Pusat Karir ITN Malang dengan PT Sahabat Jepang Indonesia (SJI) Group. SJI merupakan mitra rekrutmen profesional untuk berbagai perusahaan di Jepang.

Observasi dan diskusi langsung SIJ dengan para peserta program kerja dilaksanakan di Ruang Rapat Lembaga Pengembangan Kerja Sama dan Usaha (LPKU) ITN Malang pada Rabu (13/08/2025). Hadir dalam diskusi Wakil Rektor III, Dr. Hardianto, ST., MT; Kepala Pusat Karir, Dr. Lila Ayu Ratna Winanda, ST., MT; Sekretaris LPKU, F.X. Ariwibisono, ST., M.Kom, perwakilan PT SJI Group, perwakilan Starboard Group, dan perwakilan Wakokai Group selaku fasilitator termasuk CEO dan CSO of Starboard Cooperative, CEO of Mirairis Holdings, Co., Ltd, dan CEO of Friend Co., Ltd.

Kepala Pusat Karir, Lila Ayu Ratna Winanda, menyatakan, kelolosan para alumni untuk bekerja di Jepang ini adalah yang kedua kalinya. Sebelumnya, dua alumni dari Prodi Arsitektur dan Teknik Sipil juga berhasil lolos program serupa.

Lila juga mengatakan, perusahaan Jepang yang hadir sangat tertarik dengan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang dikembangkan oleh ITN Malang. Oleh karena itu, mereka menyempatkan diri untuk melihat langsung PLTS di Kampus 2, sebelum bertolak ke Jepang. Kunjungan tersebut dipandu oleh Dr. Ir. Widodo Pudji Muljanto, MT., tenaga ahli PLTS ITN Malang.

Holding company perusahaan Jepang ini kedepannya akan berfokus pada pekerjaan di bidang energi terbarukan. Dengan demikian, ada peluang bagi mereka untuk merekrut lulusan dari Teknik Listrik dan Teknik Elektro,” ujar Lila. Selain ke PLTS rombongan SJI juga menyempatkan diri melihat karya mahasiswa Arsitektur, dan mengunjungi laboratorium Teknik Sipil.Baca juga:

Baca Juga : ITN Malang Buka Kesempatan Alumni Berkarir di Perusahaan Perkapalan Korea Selatan

Muhammad Zulqifli Lihin perwakilan SJI menyebutkan, Setelah melalui proses wawancara, dari 13 pelamar alumni ITN Malang terpilihlah tiga orang. Yakni, Jessica Jeane Putri Purnama, alumnus arsitektur, I Wayan Reditya Candra Wibawa dan Mohamad Izal Ansari, alumni teknik sipil.

Rombongan Sahabat Jepang Indonesia (SJI) saat berkunjung ke Laboratorium Teknik Sipil S-1, ITN Malang. (Foto: Yanuar/Humas ITN Malang)

“Ketiga alumni ITN berhasil diterima di perusahaan Mirai dan Friend, dan mereka menjadi orang Indonesia pertama yang bekerja di perusahaan tersebut,” katanya.

Ia menjelaskan, ketiganya terpilih karena memiliki public speaking yang baik, percaya diri, serta kemampuan menjawab pertanyaan dengan santai dan jelas. Hal yang paling menarik perhatian perusahaan adalah saat mereka memperkenalkan diri secara singkat dalam bahasa Jepang.

Mereka dinyatakan lulus pada 15 Juli 2025 lalu. Kunjungan SJI Group juga menjadi momen untuk menentukan persiapan masing-masing peserta, terutama terkait pembelajaran bahasa Jepang yang wajib mereka ikuti selama 8 bulan. Pembekalan bahasa ini sangat penting karena komunikasi merupakan kunci utama dalam bekerja.

“Perusahaan berharap mereka dapat bekerja di Jepang lebih dari 5 tahun, dan terus meningkatkan kemampuan berbahasa Jepang mereka. Antusiasme perusahaan sangat tinggi melihat ketiga kandidat ini, dan berharap mereka bisa segera diberangkatkan,” imbuhnya.

Salah satu peserta I Wayan Reditya Candra Wibawa, alumni Teknik Sipil angkatan 2019, menceritakan alasannya melamar program ini. Ia ingin mencari pengalaman, mempelajari lingkungan kerja di Jepang, serta mendapatkan peluang karir profesional di luar negeri. Wayan rencananya akan ditempatkan di Frend.inc, Kota Kawagoe, sebuah perusahaan kontraktor yang merupakan cabang dari Mirairis Holdings.

“Tugasnya nanti sebagai pengawas lapangan. Sebelum berangkat kami diwajibkan bisa bahasa Jepang, jadi nanti akan belajar dulu,” katanya.

Baca juga: Dua Alumni ITN Malang Raih Peluang Karir di Jepang Melalui Campus Hiring

Wayan lolos setelah mengikuti wawancara secara daring. Menurutnya, perusahaan sangat memperhatikan cara kandidat mempresentasikan diri secara tegas dan jelas. Selain itu, curriculum vitae (CV) yang lengkap juga menjadi salah satu pertimbangan penting. Setelah diterima, ia diwajibkan mengikuti program bahasa Jepang minimal hingga level N3 dari 5 tahapan yang ada (N5 hingga N1). (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)




Ketua Program Studi Teknik Geodesi S-1, ITN Malang, Dedy Kurnia Sunaryo, ST., MT., dan mahasiswa foto bersama Total Station (TS) hibah dari PT Saptaindra Sejati (SIS). (2)

Dukung Laboratorium dan Penelitian, Teknik Geodesi ITN Malang Terima Hibah Alat dari PT Saptaindra Sejati

Ketua Program Studi Teknik Geodesi S-1, ITN Malang, Dedy Kurnia Sunaryo, ST., MT., dan mahasiswa foto bersama Total Station (TS) hibah dari PT Saptaindra Sejati (SIS). (Foto: Yanuar/Humas ITN Malang)


Malang, ITN.AC.ID – Program Studi Teknik Geodesi S-1, Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) menerima hibah empat unit alat ukur Total Station (TS) dari PT Saptaindra Sejati (SIS). Bantuan ini bertujuan untuk mendukung kegiatan praktikum, penelitian, dan pemetaan (mapping) bagi mahasiswa.

Ketua Program Studi Teknik Geodesi S-1, ITN Malang, Dedy Kurnia Sunaryo, ST., MT., menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih atas hibah ini. Menurutnya Teknik Geodesi selama ini sudah memiliki beberapa unit Total Station, namun dengan adanya tambahan alat bisa lebih memperlancar kegiatan praktikum mahasiswa.

Baca juga : Tim Mahasiswa ITN Malang Buat Site Plan Wisata Desa Tebing Lowo, Pongangan, Gresik

“Laboratorium kami sudah memiliki beberapa unit TS, dengan tambahan alat ini mahasiswa akan lebih mudah dalam melakukan penelitian. Bahkan, bisa satu mahasiswa menggunakan satu alat,” jelas DK Sunaryo akrab disapa saat ditemui di Prodi Teknik Geodesi, Senin (04/08/2025). Ia menambahkan, permohonan pengadaan alat telah diajukan sebelumnya dan mendapat sambutan baik dari PT Saptaindra Sejati.

Mahasiswa Teknik Geodesi S-1 ITN Malang saat uji coba Total Station (TS). (Foto: Yanuar/Humas ITN Malang)

PT Saptaindra Sejati (SIS) sendiri merupakan kontraktor pertambangan terkemuka di Indonesia yang tergabung dalam Adaro Group. DK Sunaryo menyebutkan, antara ITN Malang dan PT SIS sudah terjalin kerja sama erat, bahkan banyak alumni Teknik Geodesi ITN Malang yang bekerja di perusahaan tersebut.

Meskipun alat yang dihibahkan bukan barang baru, DK Sunaryo memastikan kondisinya masih sangat layak pakai. Alat ini memiliki nilai yang cukup mahal dan sangat bermanfaat untuk kegiatan praktikum serta penelitian mahasiswa. “Alat ini bisa dikombinasikan dengan alat lain seperti GNSS atau alat hidrografi untuk penelitian yang lebih kompleks,” tambahnya.

Akbar Wahyu, mahasiswa Teknik Geodesi menyambut gembira bantuan alat tersebut. Menurutnya, dengan tambahan alat kegiatan praktikum akan semakin lancar. “Dengan tambahan empat alat ini, mahasiswa tidak perlu lagi menunggu. Biasanya satu kelompok terdiri dari 4-5 mahasiswa. Dengan alat yang lebih banyak, praktikum bisa dibagi per zona, sehingga prosesnya lebih cepat,” ujarnya.

Baca juga : Dukung Survei dan Pemetaan, ITN Malang Dapat Hibah Drone DJI Mavic 3 Enterprise Series dari Kementerian ATR/BPN

Total Station sendiri merupakan alat vital dalam bidang Geodesi yang digunakan untuk pemetaan topografi dan pemetaan situasi matra darat. Hibah ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran dan penelitian di Program Studi Teknik Geodesi ITN Malang. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)




Bara Andana Subagyo, mahasiswa Asitektur S-1 ITN Malang, angkatan 2022.

Arsitektur Sebagai Sarana Pelestarian Rumah Adat: Interaksi Budaya Lintas Generasi Menembus Ruang dan Peradaban (Beyond Interaction)

Bara Andana Subagyo, mahasiswa Arsitektur S-1 ITN Malang, angkatan 2022. (Foto: Yanuar/Humas ITN Malang)


Malang ITN.AC.ID – Di tengah arus disrupsi informasi dan modernisasi, peradaban masa kini menghadapi dilema besar. Arus informasi yang mengalir tanpa batas mendorong modernisasi yang berlangsung nyaris tanpa jeda. Dalam dunia arsitektur, hal ini membuka peluang inovasi, namun di sisi lain nilai-nilai luhur tradisional terancam tenggelam. Ketika arsitektur lokal kehilangan tempatnya, manusia pun kian jauh dari jati diri, lingkungan, dan kekayaan budaya sendiri. Maka, arsitektur harus mampu melampaui wujud fisiknya, berfungsi sebagai penghubung antar generasi yang merealisasikan “Beyond Interaction.”

Sama halnya dengan bidang lain, arsitektur tanpa upaya penyegaran akan kehilangan relevansinya seiring waktu. Jika ini terjadi, kita sebagai masyarakat akan kehilangan pemahaman tentang identitas dan gaya khasnya. Menggali dan mengungkapkan jati diri arsitektur Indonesia sama saja dengan menjelajahi perjalanan budaya dan peradaban bangsa. Penting bagi kita untuk setidaknya memahami pengetahuan ini agar interaksi kebudayaan tidak terputus dan terus bergerak dinamis seiring perkembangan zaman.

Sebenarnya, keterkaitan arsitektur dengan dinamika budaya ini sudah menjadi bukti sejarah sejak dulu. Hadirnya Arsitektur Nusantara terjadi secara alamiah dan wajar, melalui lingkungan melahirkan suatu ide yang disepakati secara bersama. Melahirkan norma berupa aturan sistematis mengenai pandangan hidup semesta (kosmologi) hingga melahirkan tradisi. Kata tradisi berasal dari bahasa latin traditionem, dari kata traditio yang berarti “serah terima” atau “estafet”. Kata ini merujuk pada kepercayaan atau kebiasaan yang diajarkan dan diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Proses arsitektur berawal dari percikan ide yang merespons suatu masalah, lalu secara alami membentuk upaya pemecahan masalah tersebut. Misalnya, masalah iklim merupakan tantangan umum dalam arsitektur, namun setiap tempat/lokasi memiliki adaptasinya sendiri menghadapi iklim. Ini terlihat dari penggunaan atap berbentuk verhang (memanjang), baik melengkung ke atas maupun melebar ke samping, seperti pada rumah adat Uma Mbatangu dan Bokulu di Kepulauan Sumba, Tanean Lanjhang di Madura, Joglo di Jawa, dan lain-lain.

Baca juga : Tim Mahasiswa ITN Malang Juara 1 War Architecture, Malang Architecture Week 2024

Dari berbagai suku bangsa yang mendiami daerah di Indonesia sejak berabad-abad lamanya telah membentuk karakteristik budaya dan arsitekturnya masing-masing. Itulah sebabnya terjadi aneka ragam bangunan tradisional mulai dari bentuk yang sederhana, hingga bentuk yang sempurna, berdiri berkelompok maupun yang tunggal, masing-masing mempunyai ciri khas atau kekhususan sesuai pandangan masing-masing suku.

Perkembangan arsitektur tradisional bersamaan dengan perkembangan suatu suku bangsa, menjadikannya identitas dari suatu suku atau masyarakat yang mendukungnya, dan dalam arsitektur tradisional tercermin kepribadian masyarakat pendukungnya. (Lullulangi & Sampebua’ 2007, h. 10).

Semarak FTSP Cup 2025: Kobarkan Semangat VELOCITY di ITN Malang

Pertanyaannya kini, bagaimana membawa pengalaman budaya tersebut dapat diteruskan kepada generasi sekarang dan masa depan? Perlu sebuah kesadaran bersama dari berbagai lini sosial. Namun, peran sentral justru pada ranah akademis. Kaum terpelajar termasuk pengajar, dan mahasiswa didukung oleh instansi terkait baik perguruan tinggi, dan pemerintah. Pada konteks ini peran akademisi sangat diperlukan dalam upaya pelestarian/konservasi bangunan adat dengan memiliki kewajiban melaksanakan aktivitas penelitian dan pengembangan.

Pendidikan dan teknologi bekerja sebagai mediator sekaligus katalisator membawa nilai-nilai kolektif lintas generasi dalam bentuk baru. Namun, teknologi kerap terjebak dalam pusaran kapitalisasi yang dipakai sebatas alat produksi massal, komodifikasi gaya, atau visualisasi arsitektur demi kepentingan industri. Arsitektur tradisional pun tak luput dari eksploitasi ini yang dikemas dalam bentuk tiruan estetis tanpa makna, serta kehilangan konteks sosial budayanya.

Arsitektur tradisional tidak semata hadir untuk eksistensi visual, tetapi juga harus menjelma sebagai ruang interaksi dan dialog budaya yang melampaui batas ruang dan waktu. Maka, jati diri arsitektur kultural terbentuk bukan dari konstruksi instan, melainkan melalui proses interaksi budaya yang hidup dan terus berkembang. Beyond Interaction bukan hanya konsep, tetapi cara pandang bahwa pelestarian warisan bukanlah nostalgia masa lalu, melainkan jembatan menuju masa depan. Secara etimologis, kata “beyond” mengandung makna melampaui batas baik secara fisik maupun konseptual sementara “interaction” menandakan keterlibatan aktif antara dua entitas atau lebih.

Gagasan ini mendorong kita untuk tidak lagi memandang rumah adat atau arsitektur tradisional sebagai objek yang pasif, tetapi sebagai entitas hidup yang terus berdialog dengan manusia melalui waktu dan ruang. Lewat teknologi seperti Building Information Modeling (BIM) dan Geographic Information System (GIS), warisan arsitektur Nusantara dapat direkam, dimodelkan, dan dimaknai ulang dalam bentuk digital yang interaktif. Ini bukan sekadar dokumentasi, melainkan upaya menghadirkan kembali nilai-nilai tradisional dalam dunia pendidikan, riset, dan pengembangan masyarakat.

Masyarakat Sumba bisa mengenali dirinya lewat atap-atap menjulang yang menantang langit, masyarakat Jawa memaknai budayanya melalui ruang yang sarat filosofi, sementara masyarakat Madura menemukan semangat juangnya dalam keteguhan struktur rumahnya. Di balik keragaman rupa tersembunyi pesan-pesan lintas generasi yang menegaskan bahwa kebudayaan bukan sekadar warisan, melainkan peristiwa hidup yang terus tumbuh dan bertransformasi.

Baca juga : Rektor Terpukau Karya Arsitektur Mahasiswa ITN Malang: “Luar Biasa!”

Arsitektur tradisional tak semestinya lekang oleh zaman, tak boleh larut oleh derasnya nilai-nilai asing. Justru, ia harus hadir sebagai tonggak identitas yang kokoh, menjadi representasi budaya yang mampu menembus batas ruang dan peradaban. Maka, arsitektur bukan hanya soal bangunan, tetapi ruang perjumpaan: antara masa lalu dan masa depan, antara warisan dan inovasi, antara jati diri dan dunia. “Jamahlah arsitektur Nusantara sebelum ia tinggal nama dalam buku sejarah dan tak bernyawa.”