Kaprodi Teknik Sipil S-1, ITN Malang, Dr. Yosimson P. Manaha, ST., MT., dan Sekprodi Teknik Sipil, Nenny Roostrianawaty, ST., MT

Keunggulan Teknik Sipil ITN Malang Diakui LAM Teknik: Capstone Design Studio dan Prestasi Mahasiswa Jadi Sorotan

Kaprodi Teknik Sipil S-1, ITN Malang, Dr. Yosimson P. Manaha, ST., MT., dan Sekprodi Teknik Sipil, Nenny Roostrianawaty, ST., MT. (Foto: Istimewa)


Malang, ITN.AC.ID – Program Studi Teknik Sipil S-1, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP), Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) berhasil meraih akreditasi “Baik Sekali” dari Lembaga Akreditasi Mandiri Teknik (LAM Teknik) pada 21 April 2025 lalu. Pencapaian ini merupakan peningkatan signifikan dari akreditasi “Baik” sebelumnya dari BAN-PT ke “Baik Sekali” LAM Teknik, yang akan berlaku selama lima tahun ke depan. Ini menunjukkan komitmen Teknik Sipil dalam menyediakan lingkungan belajar yang mendukung mahasiswa menyelesaikan proyek akhir mereka dengan optimal.

Kaprodi Teknik Sipil S-1, Dr. Yosimson P. Manaha, ST., MT., mengungkapkan kegembiraannya terhadap hasil akreditasi, terutama karena beberapa keunggulan yang mendapat pujian dari asesor. Salah satunya adalah fasilitas capstone design studio, dan studio tugas akhir yang dinilai sangat baik.

“Asesor bahkan mengatakan di perguruan tinggi lain belum ada studio capstone design dan studio tugas akhir seperti yang kami miliki,” ujar Yosimson.

Selain itu, kelengkapan laboratorium Teknik Sipil ITN Malang juga menjadi perhatian positif. Sebanyak enam fasilitas laboratorium yang memadai menjadi pondasi penting bagi mahasiswa untuk melakukan praktikum dan penelitian, memperkuat pemahaman teoritis mereka dengan pengalaman langsung.

Teknik Sipil ITN Malang juga menunjukkan keunggulan dalam bidang kerja sama internasional, dengan dua kolaborasi bersama institusi di Filipina (Bicol University, Phillipines) dan Timor Leste (Jenetbi Gumer Design Consultant Unip. Lda Timor Leste). Di Filipina, ITN Malang dipercaya sebagai narasumber di beberapa kegiatan, sementara di Timor Leste, Tim Teknik Sipil berperan sebagai konsultan. Kerja sama ini membuka peluang bagi mahasiswa dan dosen untuk terlibat dalam proyek berskala global, memperluas wawasan, dan jaringan berskala internasional.

Baca juga : Berangkat ke Bali, 2 Tim Teknik Sipil S-1 ITN Malang Lolos Final KGBI, dan KJI 2024

Prestasi mahasiswa Teknik Sipil ITN Malang juga tak kalah membanggakan. Dalam bidang akademik, mahasiswa kerap meraih juara dalam berbagai kompetisi, seperti Kompetisi Jembatan Indonesia (KJI), Kompetisi Bangunan Gedung Indonesia (KBGI), Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), Lomba Kuat Tekan Beton (LKTB), Civil Tender Competition serta kompetisi lain yang diselenggarakan oleh universitas baik negeri maupun swasta. Di bidang non-akademik, mahasiswa aktif berpartisipasi dalam kompetisi olahraga seperti Porprov dan pengembangan bakat melalui berbagai ajang duta kampus, duta flora dan fauna, duta Pendidikan Jawa Timur, dan lain-lain.

“Target kami adalah masuk final di KJI, KBGI, dan juga lolos PKM tahun 2025 ini. Kami akan memberikan dukungan penuh untuk prestasi akademik,” tegas Yosimson, yang ditemui bersama Sekprodi Teknik Sipil beberapa waktu lalu.

Tim Mahasiswa Teknik Sipil S-1, ITN Malang Lolos Final KBGI, dan KJI 2024 di Bali. (Foto: Istimewa)

Sekretaris Program Studi Teknik Sipil, Nenny Roostrianawaty, ST., MT., menambahkan bahwa “Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) juga dinilai berjalan dengan sangat baik, memberikan fleksibilitas bagi mahasiswa untuk mengembangkan kompetensi di luar kampus. “Banyak mahasiswa kami yang lolos MSIB dan program magang lain yang memberikan nilai tambah untuk prodi, selain itu mahasiswa jadi terbiasa untuk belajar bekerja sebagai bekal ketika sudah lulus nanti,” katanya.

Meskipun meraih akreditasi “Baik Sekali” dengan nilai yang mendekati “Unggul”, Yosimson mengakui masih ada beberapa bidang yang perlu diperbaiki. Dari 74 butir penilaian LAM Teknik, sekitar 14-25 poin prodinya belum mencapai nilai maksimal.

Beberapa poin krusial yang menjadi fokus perbaikan antara lain peningkatan animo calon mahasiswa, karena penurunan jumlah mahasiswa dapat berdampak pada nilai akreditasi. Selain itu, rasio Dosen Tetap Program Studi (DTPS) terhadap mahasiswa masih perlu disesuaikan. Saat ini, rasio idealnya 1:30, sementara ITN Malang masih di angka 1:40. Hal ini disebabkan oleh beberapa dosen yang keilmuannya belum sepenuhnya diakui sebagai DTPS Teknik Sipil. Namun, Yosimson optimis dengan adanya 4 dosen yang sedang menempuh pendidikan doktor, diharapkan akreditasi berikutnya akan lebih baik karena memiliki tambahan doktor yang memperkuat DTPS.

Tingkat kelulusan tepat waktu juga menjadi perhatian, syarat akreditasi kali ini rata-rata kelulusan harus 40 persen dalam tiga tahun terakhir. Bahkan sejak tahun 2025 syaratnya meningkat harus mencapai 50 persen kelulusan tepat waktu. Sementara Teknik Sipil belum memenuhi, sehingga pihaknya akan memantau kelulusan secara ketat mulai semester awal untuk memastikan mahasiswa dapat menyelesaikan studinya sesuai jadwal. Mahasiswa yang tidak menyelesaikan studi masih cukup besar juga menjadi tantangan, yang diakibatkan oleh banyaknya mahasiswa yang mundur di awal semester. Maka, pemantauan dan dukungan institusi diharapkan dapat mengatasi hal ini.

Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) lulusan yang rata-rata masih di bawah 3,25 juga perlu ditingkatkan, dengan target rata-rata diatas 3,25. Selain itu, penelitian dosen harus lebih banyak melibatkan mahasiswa, dan jumlah jurnal internasional perlu diperbanyak. Pihak prodi dan institut akan bersinergi untuk mendorong hal ini. Terakhir, laboran harus bersertifikat dan berpendidikan minimal S1 untuk memenuhi standar akreditasi.

Baca juga : Modal “Nekat”, Mahasiswa ITN Malang Juara 2 Lomba Kuat Tekan Beton Nasional Petra

“Kami mulai menata kekurangan dari hasil akreditasi sekarang, dan akan terus memperbaikinya. Untuk akreditasi 2029, poin penilaian tiga tahun terakhir mulai 2027 harus ditingkatkan,” ujarnya. Harapannya, dengan kerja keras dan kerja sama antara pimpinan dan prodi, semua kelemahan dapat diperbaiki sehingga Teknik Sipil ITN Malang siap meraih akreditasi “Unggul” di masa mendatang. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)




Rektor ITN Malang, Awan Uji Krismanto ST., MT., PhD., saat mengulas karya dari kelompok Musdalifah Iryani Sasole (1)

Rektor Terpukau Karya Arsitektur Mahasiswa ITN Malang: “Luar Biasa!”

Rektor ITN Malang, Awan Uji Krismanto ST., MT., PhD., saat mengulas karya dari kelompok Musdalifah Iryani Sasole. (Foto: Yanuar/Humas ITN Malang)


Malang, ITN.AC.ID – Puluhan karya inovatif dari mahasiswa Arsitektur S-1, Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) berhasil menarik perhatian pengunjung dalam pameran Nata Karya 5.0. Acara yang digelar di Taman Demo Kampus 1 ITN Malang pada Rabu (25/06/2025) ini bahkan membuat Rektor ITN Malang, Awan Uji Krismanto ST., MT., PhD., tak segan mengulas beberapa desain yang dipamerkan.

Rektor menyampaikan kekagumannya terhadap kreativitas mahasiswa. Menurutnya karya mahasiswa Arsitektur sudah luar biasa bagus. Karya-karya mulai dari semester 2 hingga skripsi, dari bangunan satu fungsi hingga bangunan besar multifungsi.

“Saya lihat bahwa ide-ide kreatif dari mahasiswa Arsitek patut diapresiasi. Tadi saya juga melihat desain bangunan-bangunan futuristik yang mungkin bisa terealisasi dalam beberapa dekade ke depan. Tetap semangat mahasiswa Arsitektur, semoga karya-karya kalian bisa mengubah wajah dunia,” harap rektor dalam kunjungannya.

Apresiasi serupa juga datang dari Ester Parmanes, mahasiswa Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) ITN Malang. Menurutnya, karya-karya mahasiswa arsitektur sangat berkualitas, dengan ide-ide yang beragam, mulai dari modern hingga menurutnya “di luar nalar”.

Baca juga : “Small Footsteps Matters”: Nata Karya 5.0 Arsitektur ITN Malang Beri Bekal Profesional Calon Arsitek

“Pemikirannya sudah sangat keren, mengedepankan konsep-konsep yang hasilnya bisa diterapkan di masa depan,” kata Ester.

Ia menambahkan, mahasiswa PWK dan Arsitektur memiliki peran yang saling melengkapi. “Kami sebagai mahasiswa PWK hanya bisa merekomendasikan lahan (wilayah) yang cocok untuk bangunan, teman-teman Arsitek yang mendesain. Harapan ke depan, dengan ide-ide yang sangat luar biasa ini bisa diterapkan dan terealisasi, karena semua aspek turut dipikirkan,” imbuhnya.

Ester Parmanes, mahasiswa Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) ITN Malang (paling kanan) bersama teman-temannya saat berkunjung ke pameran Nata Karya Arsitektur ITN Malang. (Foto: Mita/Humas ITN Malang)

Salah satu maket yang menarik perhatian dan sempat diulas langsung oleh rektor adalah karya Musdalifah Iryani Sasole, mahasiswa angkatan 2021 bersama kelompoknya. Mereka merancang “Ojol Lounge”, sebuah bangunan sederhana dengan konsep folding atau melipat, mirip seni origami.

“Konsep folding umumnya berbentuk menekuk atau semi melingkar. Nah, punya saya atapnya berundak,” jelas Musdalifah.

Menurutnya, Ojol Lounge umumnya dirancang khusus untuk para pengemudi ojek online sebagai titik kumpul di stasiun atau bandara. Jarang ada Ojol Lounge yang memfasilitasi mereka dengan fasilitas charger, tempat makan, dan area outdoor untuk istirahat, bahkan musala.

Baca Juga : Nata Karya 5.0 ITN Malang Tampilkan Inovasi Arsitektur Masa Depan

Musdalifah menjelaskan, desainnya menyerupai kafe, namun dilengkapi dengan loker penyimpanan helm. Bangunan seluas 100 meter persegi ini direncanakan berdiri di Jalan Veteran, samping Matos dengan area parkir yang memadai di luar area outdoor.

“Harapannya konsep ini bisa menawarkan solusi praktis dan nyaman bagi para pengemudi ojek online,” katanya. Karya mereka menunjukkan arsitektur dapat menjawab kebutuhan masyarakat. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)