Amar Rizqi Afdholy, ST., MT., dosen Arsitektur S-1 ITN Malang bersama mahasiswa Arsitektur dan karyanya

Nata Karya 5.0 ITN Malang Tampilkan Inovasi Arsitektur Masa Depan

Amar Rizqi Afdholy, ST., MT., dosen Arsitektur S-1 ITN Malang bersama mahasiswa Arsitektur dan karyanya. (Foto: Yanuar/Humas ITN Malang)


Malang, ITN.AC.ID – Puluhan karya mahasiswa Arsitektur S-1, Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) menghiasi Taman Demo Kampus 1 ITN Malang, Rabu (25/06/2025). Pameran bertajuk Nata Karya 5.0 ini mengangkat tema “Small Footsteps Matters”, dan menampilkan beragam poster serta maket yang berjejer rapi menarik perhatian civitas akademika, dan masyarakat umum.

Pekan penilaian dan pameran ini menjadi ajang unjuk gigi bagi karya-karya mahasiswa Arsitektur dari berbagai semester, mulai dari tugas awal hingga produk skripsi yang menjadi puncak pembelajaran mereka. Melalui kegiatan ini, mahasiswa dibimbing untuk menyusun strategi perancangan agar desain yang dihasilkan maksimal, baik dalam bentuk model, visual, maupun narasi.

Amar Rizqi Afdholy, ST., MT., dosen Arsitektur S-1 ITN Malang menyebutkan, konsep Nata Karya tahun ini sengaja dibuat berbeda dari sebelumnya. Bila sebelumnya di dalam aula, kali ini prodi memilih lokasi outdoor di Taman Demo.

“Ini untuk menambah antusiasme pengunjung. Minimal kalau di luar ruangan mahasiswa ITN Malang dan masyarakat umum tidak sungkan melihat,” jelasnya.

Karya yang dipamerkan didominasi oleh poster, meskipun ada pula maket yang menggambarkan perancangan ruang dalam. Berbagai mata kuliah turut berkontribusi dalam pameran, antara lain Perancangan Arsitektur 1 (PA1), PA3, PA5, Teknik Komunikasi dan Grafis Arsitektur, Digital Arsitektur, Struktur dan Konstruksi Bangunan 2, hingga Skripsi.

Baca juga : “Small Footsteps Matters”: Nata Karya 5.0 Arsitektur ITN Malang Beri Bekal Profesional Calon Arsitek

“Kami berharap tahun ini semua mata kuliah bisa menampilkan produknya, agar mahasiswa merasa dihargai dan karya mereka bisa dilihat banyak orang,” tambahnya.

Amar juga mengungkapkan kekagumannya terhadap hasil akhir karya mahasiswa. Menurutnya, hasil akhir tugas mereka sudah cukup memuaskan. Salah satu contohnya adalah tugas mata kuliah Teknik Komunikasi dan Grafis Arsitektur, di mana mahasiswa diminta membuat bangunan dari Artificial Intelligence (AI) dengan tampak potongan, perspektif, dan detail lainnya.

Rektor ITN Malang Awan Uji Krismanto ST., MT., PhD., melihat-lihat pameran arsitektur mahasiswa ITN Malang. (Foto: Yanuar/Humas ITN Malang)

Chat prompt mereka juga dikumpulkan sebagai bukti bahwa mereka membuat sendiri. Dan ternyata hasilnya di luar ekspektasi, mereka bisa menghasilkan karya bagus. Secara arsitek, kami hampir tidak bisa membedakan hasil sendiri dan hasil AI. Temanya juga menarik, tema-tema arsitektur masa depan, jadi bentuknya unik-unik,” jelasnya.

Salah satu karya menarik yang dipamerkan adalah milik Moh. Yunus Maulana, mahasiswa semester 4, berjudul “Regentron”, Komando Siber Regeneratif Surabaya. Pusat Komando Siber memiliki bangunan 5 lantai dilengkapi dengan rooftop yang didesain sebagai bangunan keamanan tingkat tinggi yang mengatasi ancaman siber dan iklim ekstrim.

“Kami diminta merancang bangunan masa depan, maka saya memutuskan membuat komando siber yang terlihat kokoh dan tegas. Jika ada serangan dari musuh, bangunan ini bisa regenerasi. Materialnya yang masuk akal untuk saat ini merupakan campuran dari bahan kimia dan teknik pembuatan bangunan,” terang Yunus.

Ia mengaku senang karyanya dapat diulas langsung oleh Rektor ITN Malang, karena ia pribadi menyukai kritikan dan masukan. Rektor ITN Malang Awan Uji Krismanto ST., MT., PhD., yang berkesempatan melihat karya mahasiswa juga mengulas karya dari Muh. Ilham.

Ilham mahasiswa semester 4 menciptakan “Vertikal Floating Transit HUB.” Bangunan ini merupakan terminal terapung di atas kota yang berfungsi sebagai pusat logistik dan layanan pengantaran berbasis drone VTOL (Vertical Take-Off and Landing).

Baca juga : Pameran Produk Inovatif Mahasiswa Teknik Kimia ITN Malang Tarik Perhatian Puluhan Siswa SMA/SMK

“Latar belakangnya adalah pertumbuhan pesat e-commerce mendorong meningkatnya kebutuhan akan layanan logistik yang efisien. Drone menjadi inovasi penting karena mampu menghadirkan solusi pengiriman yang lebih tepat, hemat biaya, dan ramah lingkungan,” jelas Ilham.

Karyanya berfokus pada pengiriman barang dan orang dengan tema futuristik menunjukkan bagaimana inovasi arsitektur terus berkembang mengikuti zaman, serta membutuhkan efisiensi dan efektivitas dalam bentuknya. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)




Kaprodi Arsitektur S-1 ITN Malang, Ir. Gaguk Sukowiyono, MT., dalam sambutannya menegaskan komitmen prodi untuk membekali mahasiswa hingga memiliki kompetensi mumpuni saat lulus

“Small Footsteps Matters”: Nata Karya 5.0 Arsitektur ITN Malang Beri Bekal Profesional Calon Arsitek

Kaprodi Arsitektur S-1 ITN Malang, Ir. Gaguk Sukowiyono, MT., dalam sambutannya menegaskan komitmen prodi untuk membekali mahasiswa hingga memiliki kompetensi mumpuni saat lulus. (Foto: Mita/Humas ITN Malang)


Malang, ITN.AC.ID – Program Studi Arsitektur S-1, Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) menggelar Nata Karya 5.0 dengan mengusung tema “Small Footsteps Matters” pada Rabu (25/06/2025). Ada dua agenda acara yang dihelat, yakni talkshow di depan Gedung Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP), dan pameran karya mahasiswa di Taman Demo Kampus 1 ITN Malang.

Acara tahunan ini menjadi wadah penilaian dan pameran karya mahasiswa arsitektur, sekaligus menegaskan pentingnya tanggung jawab dan kepekaan dalam setiap langkah perancangan.

Tema “Small Footsteps Matters” sendiri mengandung filosofi mendalam, sebagaimana disampaikan dalam kutipan, “Jejak kecil membentuk perjalanan besar, detail sederhana menentukan arah desain.” Ini adalah ajakan bagi mahasiswa untuk menyadari bahwa arsitektur bukan sekadar menciptakan bentuk, melainkan juga menuntut kepekaan terhadap lingkungan dan masyarakat.

Kaprodi Arsitektur S-1 ITN Malang, Ir. Gaguk Sukowiyono, MT., dalam sambutannya menegaskan komitmen prodi untuk membekali mahasiswa hingga memiliki kompetensi mumpuni saat lulus. “Tugas prodi adalah mengantar mahasiswa hingga lulus dengan memiliki kompetensi. Setelah menekuni di dunia kerja, skill profesional Anda akan terbentuk. Kami hanya mengantar, kalau lulus Anda sudah punya senjatanya,” ujarnya.

Gaguk juga memotivasi mahasiswa untuk tidak minder dan yakin pada kemampuan diri. Ia berharap Nata Karya yang diadakan secara berkala dapat membangkitkan semangat mahasiswa.

Baca juga : Arsitektur ITN Malang Fasilitasi Sosialisasikan AYDA Awards 2025 Bertema “Converge: Crafting Cultural Legacies”

Acara ini semakin menarik dengan kehadiran Ar. Agung Hariadi, IAI, Founder AH Arsitek dan AHA+, yang merupakan alumni Arsitektur ITN Malang angkatan 1994. Dalam sesi talkshow Agung mengungkapkan fakta menarik tentang banyaknya lulusan arsitektur yang “kaget” saat memasuki dunia kerja.

“Banyak lulusan arsitektur yang kaget ketika masuk kerja. Yang mampu bertahan di tahap awal adalah mereka yang survive, dan membuka diri menjadi bagian (menerima) dari pekerjaan tersebut,” sebutnya.

Ar. Agung Hariadi, IAI, Founder AH Arsitek dan AHA+, alumni Arsitektur ITN Malang angkatan 1994 saat menjadi narasumber pada Talkshow Nata Karya 5.0 Arsitektur ITN Malang. (Foto: Mita/Humas ITN Malang)

Agung memberikan pandangan mengenai bekal yang harus disiapkan calon arsitek untuk menghadapi dunia profesional. Menurutnya, ilmu yang didapatkan di perkuliahan tidak selalu diterapkan secara saklek, namun akan sangat berguna saat menemukan masalah di lapangan.

Ia memaparkan tiga pilar bekal calon arsitek agar tidak “kaget” di dunia kerja. Yakni pengetahuan dan skill teknis, soft skill (non-teknis), dan sikap profesional dan etika kerja.

Pengetahuan dan skill teknis penting untuk bisa menggambar dengan skala yang jelas, dan mudah dibaca oleh pihak lain. Arsitek juga harus bisa menguasai software seperti Freehand Digital, AutoCAD, SketchUp, Revit, dan Photoshop. Untuk soft skill (non-teknis), komunikasi dan kolaborasi sangat dibutuhkan.

“Sebagai makhluk sosial, kemampuan komunikasi dan kerja sama sangat penting. Di lapangan banyak proyek/tender gagal karena masalah komunikasi. Klien seringkali “setengah curhat” tentang kebutuhan rumah yang bersifat personal dan privat, sehingga kemampuan komunikasi yang baik sangat diperlukan,” ungkapnya.

Sementara sikap profesional dan etika kerja bisa dibangun mulai dari mahasiswa mengikuti magang/PKL. Magang atau Praktik Kerja Lapangan (PKL) adalah kesempatan emas untuk memahami realitas di lapangan. Disinilah akan diperoleh pengetahuan tentang keragaman material bahan bangunan, dan teknologi konstruksi. Memulai karir dari bawah dapat memberikan pemahaman komprehensif.

Agung juga memberikan tips praktis sebelum memasuki studio skripsi. Seperti ikut magang/PKL, berpartisipasi dalam kompetisi desain, berbagi ilmu dengan teman, dan meminta saran dari senior.

Baca juga : Tim Mahasiswa ITN Malang Buat Site Plan Wisata Desa Tebing Lowo, Pongangan, Gresik

“Studio bukan tempat belajar dari nol. Studio adalah tempat mengasah skill yang kamu bangun sejak kuliah,” tegasnya. Ia menambahkan bahwa dirinya sendiri masih aktif mengikuti kompetisi, karena meskipun tidak selalu meraih juara, pengalaman dan dokumentasi yang didapat sangat berharga. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)




Krishna Himawan Subiyanto, ST., MSc., membuka wawasan siswa terhadap Teknik Geodesi secara mendasar

Teknik Geodesi S-1 ITN Malang Gelar Trial Class “Smart Mapping, Smart Future”: Cetak Insan Geospasial Kompeten

Krishna Himawan Subiyanto, ST., MSc., membuka wawasan siswa terhadap Teknik Geodesi secara mendasar. (Tangkapan layar Zoom Meeting)


Malang, ITN.AC.ID – Program Studi Teknik Geodesi S-1, Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) menggelar trial class bertajuk “Smart Mapping, Smart Future – Jelajahi Dunia Geospasial yang Seru dan Menjanjikan” pada Rabu, (25/06/2025). Menghadirkan narasumber Krishna Himawan Subiyanto, ST., MSc., dosen sekaligus tenaga ahli Teknik Geodesi ITN Malang.

Acara yang dilaksanakan secara luring ini diikuti 34 peserta dari berbagai sekolah di Jawa Timur, dan luar Jawa termasuk SMKN 6 Malang, SMKN 1 Singosari, SMA Katolik Frateran Malang, SMK PU Malang, SMK Negeri 1 Lumajang, dan lainnya. Hadir pula dari SMK 34 Jakarta, SMK Ile Lewotolok Lembata NTT, dan SMA Negeri 1 Rindi Umalulu Sumba Timur NTT.

Kaprodi Teknik Geodesi S-1, ITN Malang, Dedy Kurnia Sunaryo, ST., MT., memaparkan secara singkat sejarah dan perjalanan Teknik Geodesi ITN Malang. Teknik Geodesi ITN berdiri sejak tahun 1985, sekarang usianya sudah 40 tahun. Teknik Geodesi merupakan jurusan di kampus swasta pertama di Indonesia.

“Usia yang sudah matang ini menjadi bukti komitmen ITN Malang dalam mendidik anak-anak bangsa yang berkompeten di bidang geodesi dan geomatika,” ujar kaprodi yang akrab disapa DK Sunaryo ini.

DK Sunaryo menegaskan misi luar biasa Teknik Geodesi ITN Malang, yaitu unggul dalam penguasaan keilmuan dan teknologi di bidang geodesi dan geomatika. Untuk mendukung hal tersebut, Teknik Geodesi ITN Malang memiliki tujuh laboratorium yang lengkap, dirancang untuk memastikan setiap mahasiswa memiliki kompetensi mumpuni di bidangnya.

ITN Malang juga beradaptasi terhadap perkembangan teknologi, termasuk di bidang geodesi dan geomatika. Salah satunya artificial intelligence (AI). ITN Malang pun mengembangkan dan mengaplikasikan AI di bidang geodesi dan geomatika. Harapannya, sesuai kurikulum yang dikembangkan semua yang dihasilkan dalam bidang geodesi dalam bentuk data science. Ia optimis perkembangan ke depan, geodesi tidak akan bisa digantikan oleh robot.

Baca juga : Geodesi ITN Malang Jangkau SMK Nganjuk dan Jombang Lewat “Geodesi Goes to School

“Karena di dalamnya selalu ada analisis, ada survei di lapangan sebagai akuisisi data, ada pengolahan, dan penyajiannya dalam bentuk spatial data base. Jadi, jika ingin berkarya di geodesi dan geomatika, Prodi Teknik Geodesi ITN Malang siap menerima dan mencetak tenaga yang siap berkompetisi di bidang geodesi dan geomatika,” pungkasnya.

Kepala Program Studi S-1, Teknik Geodesi ITN Malang, Dedy Kurnia Sunaryo, ST., MT., saat memberikan sambutan pada trial class Teknik Geodesi ITN Malang. (Tangkapan layar Zoom Meeting)

Sementara, Krishna Himawan Subiyanto, ST., MSc., membuka wawasan siswa terhadap Teknik Geodesi secara mendasar. Menurutnya, dari sisi bidang keilmuan geodesi dibagi menjadi enam bidang utama: fotogrametri, penginderaan jauh, sistem informasi geografis (SIG), hidrografi, terestrial, dan kadastral.

“Kalau di pendidikan tinggi, ada bidang penciri khas jurusan. Di Teknik Geodesi ITN Malang bidang penciri khasnya adalah hidrografi, di mana praktikumnya kami laksanakan di Pantai Sendang Biru, Malang Selatan,” jelas Krishna. Ia menambahkan bahwa secara umum geodesi terbagi menjadi tiga matra, yakni matra darat, matra udara, dan matra laut. Ketiganya merupakan area fokus kerja geodesi.

Krishna juga menjelaskan bagaimana geodesi mampu memetakan dunia yang tidak kasat mata. Mulai dari 2 dimensi, 3D, 4D, juga banyak dimensi lainnya yang tidak kasat mata. Caranya dengan menggunakan bantuan dari citra satelit untuk bisa melihat apa yang tidak bisa dilihat oleh mata manusia biasa.

Ia kemudian memberikan gambaran langsung mengenai peralatan yang digunakan dalam praktikum. Ketika geodesi praktikum bisa menggunakan drone, pesawat untuk pemetaan matra udara. Selain itu, dikenalkan alat ukur darat seperti Total Station dan GPS, serta Terrestrial Laser Scanner (TLS) yang berfungsi untuk pemetaan detail 3D.

“Kami pernah mencoba menggunakan ini (TLS) saat pemetaan di daerah Kayutangan Malang. Ini juga bisa digunakan untuk pemetaan di bidang yang memerlukan data 3D tinggi, seperti reservasi bangunan bersejarah atau pemetaan detail infrastruktur pabrik,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia membahas bidang kadastral yang berkaitan dengan batas-batas kepemilikan tanah. Menurutnya pekerjaan ini berhubungan dengan ATR/BPN, dan paling banyak proyeknya. Sementara di bidang fotogrametri ia menjelaskan bagaimana survei foto udara digabungkan untuk menghasilkan peta 3 dimensi dengan kondisi real di lapangan.

Baca juga : Mahasiswa ITN Malang Ikuti Youth Forum “Malang Creative Economy Goes Global” Voice of Indonesia

“Kebetulan untuk fotogrametri ini paling sering digunakan sebagai sumber peta dasar, baik itu oleh BPN maupun oleh Badan Informasi Geospasial. Teknik Geodesi punya drone sendiri untuk melakukan penginderaan. Jadi, adik-adik kalau praktikum itu tenang saja, kami punya alatnya semua,” ia meyakinkan. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)




Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Mahakam Ulu, Dr. Stephanus Madang, S.Sos., M.M., (duduk, kemeja putih) foto bersama OPD Mahulu, dosen dan mahasiswa ITN Malang

Mahasiswa PWK ITN Malang Hasilkan Rencana Perkotaan Baru Mahakam Ulu, Tuai Apresiasi Pejabat Daerah

Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Mahakam Ulu, Dr. Stephanus Madang, S.Sos., M.M., (duduk, kemeja putih) foto bersama OPD Mahulu, dosen dan mahasiswa ITN Malang. (Foto: Yanuar/Humas ITN Malang)


Malang, ITN.AC.ID – Sebanyak 37 mahasiswa Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) sukses melakukan paparan dihadapan para pejabat Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu) Kalimantan Timur. Presentasi “Seminar Akhir Kajian Pengembangan Rencana Perkotaan Baru Kabupaten Mahakam Ulu 2025” digelar di Aula Kampus 1 ITN Malang, pada Rabu (04/06/2025) lalu.

Kegiatan ini dihadiri langsung oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Mahakam Ulu, Dr. Stephanus Madang, S.Sos., M.M., serta sejumlah kepala dinas terkait atau yang mewakili termasuk Dinas Pertanian, Dinas Pariwisata, dan Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP), dll.

Dalam presentasi yang dibagi menjadi delapan kelompok, para mahasiswa memaparkan hasil perencanaan kota baru di enam kecamatan di Mahakam Ulu. Ditempat yang sama, sehari sebelumnya juga telah dilakukan “Presentasi Laporan Akhir Beberapa Kajian untuk mendukung Pengembangan Wilayah, dan Penataan Ruang Kota”. Proyek besar ini merupakan bagian dari kerja sama Mahakam Ulu dengan ITN Malang.

Sekda Mahakam Ulu, Stephanus Madang menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas kerja sama yang telah terjalin. Ia menekankan pentingnya kawasan perkotaan, tata kota, dan wajah perkantoran Mahulu ke depan, serta kerangka regulasi yang menjadi landasan pembangunan.

“Sehingga apa yang sudah kita bahas dua hari ini bisa kita implementasikan sebagai bahan perencanaan pembangunan di Mahulu. Terima kasih pihak ITN sudah membantu, dan OPD terkait bisa menyikapi sebagai tugas pokok,” ujarnya.

Dr. Ir. Agustina Nurul Hidayati, MT., dosen Studio Perencanaan Kota sekaligus tenaga ahli ITN Malang menjelaskan, rencana perkotaan baru ini bermula dari rencana pemekaran tiga kecamatan, yaitu Long Apari, Mamahak Besar, dan Long Pahangai. “Rencana ini dibuat untuk pemukiman barunya,” jelasnya.

Baca juga : ITN Malang dan Mahakam Ulu Bersinergi Wujudkan Pembangunan Perkotaan dan Wilayah Berkelanjutan

Mahasiswa tidak hanya bekerja di belakang meja. Mereka turun langsung ke lapangan selama 10 hari di Mahulu, dan tersebar di lima kecamatan di bawah bimbingan para dosen. Dari delapan kelompok, delapan produk rencana dihasilkan, termasuk dua produk khusus untuk rencana Long Apari dan Mamahak Besar. “Hasilnya bisa langsung terpakai dengan beberapa polesan lagi dari dosen,” tambah Nurul akrab disapa.

Salah satu mahasiswa PWK ITN Malang sedang melakukan presentasi dihadapan OPD Kabupaten Mahakam Ulu. (Foto: Yanuar/Humas ITN Malang)

Materi yang ditampilkan mencakup Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) yang menguraikan tujuan pengembangan kawasan, rencana struktur, pola ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian. Mahasiswa dibimbing untuk memilih lokasi yang tepat untuk perumahan, perdagangan, jasa, dan perkantoran, terutama di daerah dengan kontur rapat.

“Setiap materi disampaikan memuat RDTR yang akan dibangun sesuai tujuan, tidak asal dibangun,” sambungnya.

Gloria Angel Litania Ndun, salah satu mahasiswa PWK ITN Malang berbagi pengalamannya dalam proses pengerjaan proyek yang intensif selama tiga minggu. Mulai dari membuat laporan, banner, hingga mempersiapkan paparan. Bagi Gloria bagian tersulit adalah menyusun rencana pola ruang dan laporan struktur.

“Dengan praktek langsung kami semakin paham cara pengerjaannya. Apalagi dosen membimbing dan memberi contoh, dimana harus disesuaikan dengan peraturan dan teori. Kami juga mencari referensi baru,” ungkap Gloria.

Pengalaman langsung di lapangan menjadi poin penting yang membuat mereka semakin paham dalam praktik. Apalagi ini menyangkut kerja sama dengan pemerintah daerah, bukan hanya sekedar tugas kuliah. “Kami juga dipertemukan dengan banyak orang penting, belajar presentasi, dll,” imbuhnya.

Baca juga : Menjelajah Pedalaman, Mahasiswa PWK ITN Malang Rancang Kota Masa Depan Mahakam Ulu

Meskipun sempat gugup saat presentasi di hadapan para pejabat, Gloria merasa bersyukur karena semua berjalan cukup baik. “Menjadi kenangan luar biasa. Beginilah asiknya kuliah di PWK ITN Malang,” katanya.

Ia juga menambahkan, meskipun ada stereotype PWK itu suka jalan-jalan, di baliknya ada survei dan kegiatan panjang yang menguras tenaga, namun hal itu justru membuat mereka lebih mengenal karakter teman satu sama lain. “Tidak banyak dosen yang membimbing mahasiswa seperti ini,” tutup Gloria bangga. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)




Ketua Program Studi PWK S-1 ITN Malang, Dr. Maria Christina Endarwati, ST., MIUEM.

Lewat Instrumen Suplemen Konversi (ISK), Prodi PWK ITN Malang Raih Akreditasi Unggul

Ketua Program Studi PWK S-1 ITN Malang, Dr. Maria Christina Endarwati, ST., MIUEM. (Foto: Yanuar/Humas ITN Malang)


Malang, ITN.AC.ID – Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) S-1, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP), Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) berhasil meraih predikat Akreditasi Unggul dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT). Kabar membanggakan ini diperoleh pada Rabu, 14 Mei 2025 lalu, dengan begitu akreditasi akan berlaku untuk lima tahun ke depan hingga 2030.

Predikat “Unggul” merupakan tingkatan akreditasi tertinggi, menyiratkan mutu dan kualitas pendidikan di Prodi PWK ITN Malang sudah sangat baik dan memenuhi standar nasional yang komprehensif. Pencapaian didapatkan melalui proses penyetaraan dari peringkat akreditasi A sebelumnya menggunakan Instrumen Suplemen Konversi (ISK).

ISK sendiri adalah instrumen inovatif dari BAN-PT untuk menyelaraskan peringkat akreditasi lama (A, B, C) ke sistem baru (Unggul, Baik Sekali, Baik), dengan mempertimbangkan standar terbaru dan kebijakan yang berlaku.

Ketua Program Studi PWK S-1 ITN Malang, Dr. Maria Christina Endarwati, ST., MIUEM., mengungkapkan rasa syukur dan apresiasinya atas dukungan penuh dari jajaran pimpinan serta semua pihak yang terlibat dalam penyusunan ISK.

“Akreditasi ini merupakan penyetaraan peringkat akreditasi yang diperoleh Prodi PWK sebelumnya yang menggunakan Instrumen Akreditasi Program Studi (IAPS) 3.0, dengan penilaian terhadap 7 standar. Penyetaraan ini menjadi peringkat akreditasi baru sesuai dengan IAPS 4.0 dengan penilaian 9 Standar sebagaimana diatur dalam Peraturan BAN-PT No.1 Tahun 2020. Penyetaraan peringkat akreditasi PWK tidak lepas dari dukungan semua pihak,” ujar Maria saat ditemui di Kampus 1 ITN Malang beberapa waktu lalu.

Baca juga : ITN Malang dan Mahakam Ulu Bersinergi Wujudkan Pembangunan Perkotaan dan Wilayah Berkelanjutan

Menurutnya, proses pengajuan akreditasi melalui ISK memiliki tantangan tersendiri, karena hanya sebagian indikator yang dinilai. Fokus utama penilaian meliputi sumber daya manusia khususnya dosen tetap program studi, kurikulum, sistem penjaminan mutu, dan pelacakan lulusan. Maria mengakui bahwa keberhasilan penyetaraan peringkat menunjukkan kualitas kinerja Prodi PWK di butir penilaian yang menjadi fokus utama proses ISK dalam kurun waktu 5 tahun melampaui Standar Nasional Pendidikan Tinggi (SN-DIKTI).

“Bersyukur dari 2020 kemarin tertolong banyak mahasiswa yang lulus dari target 4 tahun, bahkan ada yang 3,5 tahun. Kelulusan tepat waktu ini yang memang kami sebagai prodi harus menghitung dan mulai memetakan anak-anak,” jelasnya.

Penuh semangat, mahasiswa PWK berpose di depan Gedung PWK Kampus 1 ITN Malang. (Foto: Istimewa)

Dengan predikat Unggul, Prodi PWK ITN Malang kini memiliki visi yang lebih luas. “Kalau sudah unggul nanti bergantung kita mau up ke level internasional atau nasional saja,” tutur Maria.

Ia mencontohkan beberapa prodi PWK negeri yang sudah melangkah ke akreditasi internasional, menunjukkan harapan Prodi PWK ITN Malang untuk terus berkembang. Asosiasi Sekolah Perencana Indonesia (ASPI) yang selama ini turut membantu mengakreditasi prodi PWK juga menjadi rujukan dalam pengembangan substansi kurikulum.

Ke depan, Prodi PWK ITN Malang akan memfokuskan peningkatan sarana prasarana, khususnya studio dan Laboratorium GIS (Geographic Information System atau Sistem Informasi Geografis). Hal ini sejalan dengan mata kuliah wajib di PWK yang membutuhkan fasilitas memadai untuk pemodelan spasial dan aplikasi kajian.

“Kami sedang banyak bekerja sama dengan pemerintah daerah, salah satunya Mahakam Ulu (Mahulu). Kemarin mahasiswa kami mengambil Studio Perencanaan Kota, mereka ke Mahulu dengan pendanaan dari pemerintah daerah,” ungkapnya. Ia juga berharap dapat menjalin kerja sama serupa dengan pemerintah kabupaten/kota di Malang Raya untuk pengembangan studio, dan menggali potensi pedesaan.

Selain itu, percepatan kehadiran guru besar di Prodi PWK menjadi salah satu target penting. Maria optimis dengan kualitas dosen muda PWK yang mayoritas sedang menempuh pendidikan S-3 di berbagai universitas ternama, baik di dalam maupun luar negeri.

“Saya yakin generasi muda tidak akan terputus. Regenerasi dosen harus dihitung juga, kalau tidak nanti terputus kembali, dan berpengaruh ke angka penilaian dosen,” katanya.

Baca juga : ITN Malang Beri Pendampingan Workshop Pemetaan Tata Ruang DPRKP Cipta Karya Prov. Jawa Timur

Dukungan dari alumni juga menjadi kunci. Baru-baru ini, Prodi PWK ITN Malang melibatkan Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat dalam diskusi tentang masa depan PWK dan cara meningkatkan jumlah mahasiswa baru. Sumbangsih konkret dari alumni, seperti donasi untuk promosi prodi menjadi bukti nyata dukungan mereka.

Dengan akreditasi Unggul ini, Prodi PWK ITN Malang berharap dapat menjadi salah satu prodi unggulan di ITN Malang, mencetak lulusan yang sesuai ekspektasi, dan terus memperluas jaringan kerja sama melalui MOU dengan berbagai daerah. “Semoga MOU yang kami rintis bisa bertambah sehingga nama ITN tetap berjaya dari Sabang sampai Merauke,” pungkas Maria penuh harap. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)