Gaguk Rivaldi owner S.A.D.E Studio (tengah) bersama tim saat di Prodi Arsitektur S-1 ITN Malang

Desainer Mie Gacoan, Alumni Arsitektur ITN Malang Sharing Session di Nata Karya 4.0 2025

Gaguk Rivaldi owner S.A.D.E Studio (tengah) bersama tim saat di Prodi Arsitektur S-1 ITN Malang.


Malang, ITN.AC.ID – Memeriahkan Nata Karya 4.0 2025 Prodi Arsitektur S-1, Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) menghadirkan narasumber S.A.D.E Studio, Architecture & Interior Design, dan Amalita Saputri S, Ars, M.Ds. Kedua pemateri merupakan alumni Arsitektur ITN Malang yang masing-masing memberikan sharing session pada hari berbeda pada Rabu dan Kamis (15-16/01/2025), di Gedung Kuliah Lt 3-4 Prodi Arsitektur Kampus 1 ITN Malang.

Gaguk Rivaldi owner S.A.D.E Studio merupakan alumnus angkatan 2008. Pada hari pertama Nata Karya 4.0 dia datang bersama timnya yang keseluruhan merupakan alumni Arsitektur ITN Malang, yakni Handoko, Lutfi, dan Andre (angkatan 2016), serta Aurel (angkatan 2020). S.A.D.E Studio bergerak dibidang konsultan perancangan arsitektur dan interior.

Menurut Gaguk, S.A.D.E merupakan akronim dari “Seni, Arsitektur, Desain, Arsitek”, dan dalam bahasa Jawa kata S.A.D.E berarti berjualan. Nama S.A.D.E telah ada sejak kelulusan Gaguk dari ITN Malang pada 2013 lalu. Usai lulus Gaguk mengambil freeland, sekaligus tetap menjalankan kerja sama dengan arsitek lain. Untuk freeland-nya dia memakai nama S.A.D.E hingga 2018.

“Nah, pada awal 2019 mulai mencari partner yang sama-sama alumni ITN Malang. Sebenarnya alasan satu almamater adalah untuk memudahkan komunikasi. Tim saya juga ada yang hasil dari rekomendasi teman dosen di sini (ITN Malang),” kata Gaguk saat ditemui usai sharing session. Dia mengaku tidak pernah membuka lowongan pekerjaan secara terbuka.

Tahun 2019 inilah S.A.D.E mendapat projek awal mendesain outlet Mie Gacoan di berbagai kota seperti di Denpasar Bali, Kota Batu, Madiun, Yogyakarta, Semarang, juga ada Cafe Diavel di Kota Malang, kemudian menyusul Warung Wareg Kepanjen Malang, dan lain-lain. Pada perkembangannya desain S.A.D.E merambah ke wilayah Surabaya, Tangerang, hingga Jambi. Desainnya pun tidak hanya rumah makan, tapi ada juga rumah hunian, masjid, kantor, toko, dan sebagainya.

Amalita Saputri S, Ars, M.Ds., saat memberikan sharing session di Nata Karya 4.0 Arsitektur S-1 ITN Malang.

Pada kepemimpinan Gaguk memberikan keleluasaan kepada anggota tim untuk mengambil keputusan dalam mengembangkan ide dan gagasan dalam mendesain. Ini dibuktikan tiap ada proyek Gaguk berperan sebagai konseptor, sementara timnya yang mendesain secara total.

“Saya yang membuat konsepnya, dan tim yang mengembangkan desainnya. Minusnya memang akan banyak revisi. Tapi dengan begitu teman-teman bisa berproses. Ada pengalaman terhubung ke klien secara langsung. Saya lebih senang “memaksa” teman-teman berkomunikasi langsung dengan klien,” ungkap Gaguk yang berharap dengan begitu timnya bisa berkembang dan kelak bisa mandiri.

Ditengah bersaingnya konsultan dibidang jasa desain, S.A.D.E tetap eksis dan terus berkembang. Kuncinya adalah mengutamakan kualitas. Pemasaran dari mulut ke mulut menjadi marketingnya. Strategi ini memanfaatkan rekomendasi pelanggan untuk mempromosikan layanan dan produknya.

“Untuk kualitas bagus memang membutuhkan waktu. Kerap melewati schedule yang ditetapkan, tapi ini kami tutupi dengan hasil yang berkualitas. Kecuali kalau tidak bisa ditoleransi karena harus sesuai dengan schedule–nya, seperti target untuk opening menjadi pengecualian,” tuntasnya. Gaguk berharap sharing session S.A.D.E dapat memberi pengalaman kepada mahasiswa tentang gambaran kerja bagi seorang arsitektur.

Sementara Amalita Saputri S, Ars, M.Ds., dihari kedua Nata Karya 4.0 mengangkat materi “Young’s Creative Proccess”. Amalia melanjutkan studi ke program S-1 Arsitektur ITN Malang selama dua tahun, setelah dia lulus dari Vokasi Desain Interior UB. Sekarang selain mengajar di Program Vokasi UB, Amalita juga menjadi influencer interior, serta mengembangkan produk tekstil batik.

Menurutnya orang kreatif itu adalah yang mampu mengamati permasalahan, berpikir dan kemudian menghasilkan solusi atau gagasan murni dari beberapa hasil gagasan yang ia dapatkan. Orang-orang kreatif memiliki cara berpikir bermacam-macam. Bisa melalui design thinking. Design thinking adalah sebuah metode desain yang bertumpu pada penyelesaian solusi pada sebuah permasalahan. Pendekatannya menggunakan human oriented, manusia sebagai pengguna.

“Dalam proses design thinking ada 5 tahap, yakni empathize, define, ideate, prototype, dan test. Dari lima tersebut tidak harus berurutan. Bisa ide dulu baru empati. Tiap orang berbeda-beda,” katanya yang menjelaskan dengan cermat tiap tahapan design thinking.

Baca juga:Tim Mahasiswa ITN Malang Buat Site Plan Wisata Desa Tebing Lowo, Pongangan, Gresik

Dia juga mencontohkan para tokoh kreatif yang berhasil dibidangnya. Seperti Nadiem Anwar Makarim pendiri Gojek, William Tanuwijaya pendiri Tokopedia, Andi Rahmat Principal of Nusae, dan lainnya.

“Kesimpulannya, orang kreatif bisa berfikir secara kreatif dan sesuai harapannya. Orang yang mampu mengamati permasalahan, mampu membuat solusi dari hasil gagasan yang dia dapatkan. Dalam (proses) merancang berpikir kreatif dapat mengembangkan karya-karya yang kalian hasilkan sehingga sesuai dengan yang diinginkan pengguna,” tuntasnya. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)

 




Kelompok mahasiswa semester 3 ITN Malang menunjukkan maket Rumah Profesi Fotografer” pada pameran Nata Karya 4.0, 2025

Ada Karya Dua Dimensi Hingga Maket di Pameran Karya Mahasiswa Arsitektur ITN Malang

Kelompok mahasiswa semester 3 ITN Malang menunjukkan maket “Rumah Profesi Fotografer” pada pameran Nata Karya 4.0, 2025.


Malang, ITN.AC.ID – Puluhan karya mahasiswa Arsitektur S-1, Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) dipamerkan dalam pameran Nata Karya 4.0, 2025. Pameran sebagai pekan penilaian karya mahasiswa ini digelar selama dua hari Rabu-Kamis (15-16/01/2025), di Gedung Kuliah Lt 3-4 Prodi Arsitektur Kampus 1 ITN Malang.

Nata Pola Babakan Karya “Nata Karya” berarti mengatur dan menyusun pola kemudian melahirkan sebuah karya. Berproses dalam menghasilkan karya inilah yang menjadi dasar penyelenggaraan Nata Karya. Karya-karya yang dipamerkan berupa hasil karya mahasiswa semester satu, tiga, lima, dan semester tujuh.

“Nata Karya merupakan acara yang kami helat setiap semester. Tujuannya sebagai pekan penilaian akhir dari tugas mahasiswa. Seluruh karya dibungkus dengan format pameran, sehingga bisa dilihat dan dinikmati baik dari mahasiswa ITN Malang maupun dari luar,” terang Amar Rizqi Afdholy, ST., MT., dosen Arsitektur S-1 ITN Malang.

Selain pameran, Nata Karya 4.0 juga menghadirkan narasumber dari S.A.D.E Studio, Architecture & Interior Design dihari pertama, dan Amalita Saputri S, Ars, M.Ds., alumnus Arsitektur ITN Malang di hari kedua.

Baca juga:Mahasiswa UTHM Malaysia Mobility Outbound ke Prodi Arsitektur ITN Malang

Mengusung tema “The Importance of Creative Thinking in the Future”, Nata Karya 4.0 memamerkan karya dari empat tugas besar mata kuliah studio perancangan, yakni Estetika Bentuk, Dasar Desain (semester 1), Perancangan Arsitektur 2, Perancangan Bangunan Portabel (semester 3), Perancangan Arsitektur 4, Struktur dan Konstruksi Bangunan 3 (semester 5), Teknik Komunikasi dan Grafis Arsitektur (semester 7).  Karya yang dipamerkan berupa bentukan dwimatra (dua dimensi) dan trimatra (tiga dimensi), sketsa, maket, hingga poster.

Karya Muhammad Hanif Farhan mahasiswa semester satu juga ikut dipamerkan. Hanif membuat tiga karya berupa karya dua dimensi, tiga dimensi, dan dasar-dasar desain. “Ini merupakan karya kami pertama yang dipamerkan. Tidak semua karya ikut dipamerkan, tapi dipilih karya-karya terbaik saja,” katanya.

Pada karya dua dimensi Hanif membuat komposisi radial berupa garis-garis dan lingkaran. Sementara pada dasar-dasar desain dia memanfaatkan drawing pen untuk membuat karya dengan judul ‘Garis dan Atsir’. “Ceritanya kami belajar menggaris. Walaupun nantinya semua bisa digitalisasi tapi tahapan awal, otak dan tangan paling cepat dalam menuangkan ide,” lanjutnya.

Beda halnya dengan Asrah Ardiansyah. Mahasiswa semester satu ini karya yang dipamerkan berupa bentuk tiga dimensi. Berbentuk “Tornado Api” dilengkapi dengan pedestal sebagai penopang yang dirancang untuk emphasis/penekanan pada satu titik yang memerlukan dukungan bawah agar bisa berdiri kokoh.

“Awalnya masih belum ada ide. Nah saat membuka berita kok ada berita bencana alam tornado. Akhirnya saya membuat estetika bentuk tornado api. Bahannya juga tidak rumit, hanya dari kertas karton, benang wol, dan bawahnya diberi landasan karton,” jelas mahasiswa asal Buton, Sulawesi Tengah ini.

Beda halnya ketika mahasiswa semester satu membuat karya dasar, maka mahasiswa semester tiga sudah membuat maket. Mereka terbagi dalam beberapa kelompok untuk mencari klien (pelanggan), dan secara individu membuat rancangan rumah tinggal profesi sesuai dengan kebutuhan dari klien tersebut. Salah satu klien yang berhasil di wawancara berprofesi sebagai fotografer. Maka, kelompok ini membuat maket “Rumah Profesi Fotografer” dua lantai.

Dikatakan Andrean Dhiva Cleo Aurellio, sesuai kebutuhan klien maka untuk lantai 1 dan 2 dipisah antara ruang pribadi dan ruang publik. Klien juga menginginkan adanya tempat untuk bersantai, dan kamar kerja di lantai 2 yang menghadap langsung ke luar. Di lantai 2 juga terdapat ruang tamu, kamar tidur utama, dan kamar anak. Sementara untuk lantai 1 terdapat fasilitas studio wardrobe, kamar tamu, kamar mandi, dan dapur.

“Sewaktu wawancara, pekerjaan fotografer bukan merupakan pekerjaan utama, jadi akses pintu untuk ke lantai 2 saya jadikan satu. Saya juga menyiapkan akses ke lantai 2 dari belakang jika sewaktu-waktu mendesak diperlukan,” kata Andrean.

Karena side-nya di perumahan maka Andrean juga menerapkan desain agar terlihat simpel, tapi tetap terlihat estetik. Di perumahan resapan air tidaklah banyak, dia juga berinisiatif menambahkan resapan berupa tanah berumput di sisi kiri side.

“Saya agak kesulitan di gambar kerja, karena baru kali pertama membuat dengan digital,” ungkapnya yang menyelesaikan membuat maket dalam tiga hari, sementara gambar kerja diselesaikan secara bertahap selama tiga bulan.

Baca juga:Pentingnya Gen Z Memahami Pengelolaan Keuangan

Sedangkan teman satu kelompoknya Muhammad Zudan Nada tidak berbeda jauh dengan menempatkan studio di lantai satu, dan ruang pribadi di lantai dua. Bedanya ada penambahan sirkulasi terbuka di tengah atap yang tersambung hingga ke lantai 1. Fungsi sirkulasi ini untuk pencahayaan, dan sirkulasi udara.

“Untuk ruang keluarga jadi satu dengan dapur, konsepnya open kitchen. Kamar anak jadi satu ruangan, dan dibelah menjadi dua kamar mezzanine. Dan untuk studionya di lantai satu juga terdapat mezzanine sebagai ruang karyawan,” bebernya. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)




Dr. Ir. Ketut Tomy Suhari, ST., MT, IPP., IRSurv., dosen Prodi Teknik Geodesi S1 ITN Malang (tiga dari kiri) bersama para penguji saat sidang doktoral Institut Teknologi Bandung

Dukung Konservasi Desa Adat Penglipuran Bali, Dosen ITN Malang Kembangkan Model Dynamic Building Information Modelling (D-BIM)

Dr. Ir. Ketut Tomy Suhari, ST., MT, IPP., IRSurv., dosen Prodi Teknik Geodesi S1 ITN Malang (tiga dari kiri) bersama para penguji saat sidang doktoral.


Malang, ITN.AC.ID – Dr. Ir. Ketut Tomy Suhari, ST., MT, IPP., IRSurv., menambah jajaran doktor di Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang). Dosen Prodi Teknik Geodesi S1 ini pada akhir 2024 lalu berhasil meraih gelar doktor dari Teknik Geodesi dan Geomatika, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian, Institut Teknologi Bandung (ITB). Judul disertasinya “Pembangunan Dynamic Building Information Modelling untuk Konservasi Ruang Adat, Studi Kasus Desa Adat Penglipuran, Bali.”

Tomy mengembangkan Dynamic Building Information Modelling (D-BIM) yang terintegrasi dengan Boundary Representation (B-Rep), dan Decision Support System (DSS) guna mendukung konservasi dan pengelolaan ruang adat di Desa Adat Penglipuran, Bali. Model ini diharapkan mampu mengakomodasi perubahan tata ruang adat yang diperlukan untuk menyeimbangkan kebutuhan pelestarian budaya dan perkembangan pariwisata, tanpa mengorbankan nilai-nilai adat yang dijunjung tinggi oleh masyarakat setempat.

“Pengembangan model Dynamic BIM ini tujuannya untuk konservasi ruang adat. Sebenarnya memanfaatkan BIM sangat luas bisa untuk konstruksi, pelestarian cagar budaya (heritage), untuk membuat model bangunan adat atau rekonstruksi bangunan, dan lain sebagainya,” ujar Tomy saat ditemui akhir Desember 2024 lalu.

Baca juga:Ketut Tomy Suhari, Dosen ITN Malang Menyandang Gelar Indonesian Registered Surveyor Termuda

Menurut Tomy, data BIM bisa membantu mendokumentasikan data digital sesuai bangunan aslinya. Sehingga Dynamic BIM bisa merekonstruksi bangunan tersebut sesuai ukuran aslinya. Dia mencontohkan, di Bali jika bangunan adat rusak/hancur karena suatu hal ternyata untuk membangunnya kembali memerlukan atau memanfaatkan tubuh orang tertua dari keluarga tersebut sebagai alat ukur. Sementara, jika orang tertua tersebut sudah tidak ada, maka tidak ada patokan fisik yang dapat diandalkan.

Dr. Ir. Ketut Tomy Suhari, ST., MT, IPP., IRSurv., dosen Prodi Teknik Geodesi S1 ITN Malang saat sidang doktoral di Teknik Geodesi dan Geomatika, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian, ITB.

Ini menjadi tantangan dalam upaya restorasi dan konservasi, karena metode yang digunakan memiliki tingkat akurasi rendah. Hal ini bisa mengakibatkan resiko hilangnya bangunan adat sesuai ukuran asli. Untuk itu diperlukan alat ukur dengan teknologi modern seperti High Definition Survey (HDS), teknologi geospasial seperti Heritage BIM, LiDAR, fotogrametri, dll. Namun sayangnya Heritage BIM pada dokumentasi bangunan bersejarah masih bersifat statis, belum bisa menyesuaikan dengan dinamisnya perubahan ruang adat.

“Disinilah diperlukan model Dynamic BIM untuk mengakomodir perubahan dinamis pada ruang adat dan ruang modernisasi yang berkelanjutan di Desa Adat Penglipuran,” lanjut Kepala Center for Digitalisation Construction and Smart Urban Management (DConS Center) ITN Malang ini.

Dikatakan Tomy, Desa Penglipuran sampai saat ini masih memegang adat dengan menerapkan tata ruang tradisional pada huniannya yang terbagi dalam tiga zona (Tri Mandala), yaitu madya, utama, dan nista. Pembagian ini juga mencerminkan falsafah/konsep Tri Hita Karana yang mengandung filosofi keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan.

“Sebagai desa adat, Desa Penglipuran telah mendapat berbagai penghargaan. Seperti desa terbersih di dunia versi Unesco, desa wisata terbaik sedunia, juga Kalpataru. Daya tariknya diantaranya berada pada tata ruang Tri Mandala, upacara keagamaan, dan hutan bambu,” ujar Tomy.

Dijelaskan, tingginya arus wisatawan di Bali khususnya Desa Penglipuran lambat laun menimbulkan akulturasi budaya. Pengaruh budaya luar ini mengakibatkan perubahan gaya hidup maupun eksploitasi sumber daya alam. Desa Penglipuran pun sudah menerima modernisasi seperti adanya hotel, restoran, lapak penjual souvenir, serta adanya pertukaran budaya.

Namun, yang menjadi keprihatinan adalah adanya sebagian generasi muda sudah mengikuti budaya luar yang sedang trend. Serta terbangunnya bangunan-bangunan yang tidak lagi mencirikan bangunan adat Bali. Beruntungnya di Desa Penglipuran dan umumnya di Bali ada hukum adat awig-awig. Hukum adat ini mengatur kehidupan masyarakat adat baik tertulis maupun tidak tertulis, serta tingkah laku pergaulan hidup yang terhubung dengan falsafah Tri Hita Karana.

“Nah, di sana untuk rumah harus mempertahankan bangunan adat. Minimal harus ada paon, sekenem, sanggah (bangunan untuk ritual keagamaan), dan angkul-angkul (pintu gerbang),” imbuhnya.

Dalam penelitiannya, Tomy melibatkan beberapa tahapan utama, yaitu identifikasi dan pengumpulan data, pengolahan data menggunakan teknik BIM dan model spasial, serta validasi hasil melalui analisis konservasi dan harmonisasi. Dia menggunakan data drone tahun 2000, 2021, dan 2022 untuk melihat perubahan dan pemanfaatan ruang adat. Setiap tahapan penelitian dirancang untuk menghasilkan data yang dapat diintegrasikan ke dalam model Dynamic BIM. Sehingga memungkinkan pemantauan dan pengelolaan ruang adat yang dinamis dan berkelanjutan.

Dihasilkan pada tahun 2000 zona madya mencakup 88 persen dari luas total persil, ruang komersial dan tambahan masing-masing 6 persen. Tahun 2021 luas zona madya turun menjadi 86 persen, ruang komersial dan tambahan meningkat 7 persen. Ini menunjukkan adanya perkembangan dalam pemanfaatan ruang.

Kompleksnya model adat membutuhkan model BIM dan HDS untuk melakukan pengukuran survey. Tomy membuat tiga model, yakni adat, modernisasi dan kebijakan. Model adat berada di zona madya, model modernisasi di zona nista, sementara model kebijakan mengintegrasikan beberapa peraturan yang ada. Contohnya menyesuaikan tinggi bangunan tidak melebihi 15 m dan harus memiliki bangunan adat yang dilengkapi dengan ornamen.

“Dengan Dynamic BIM zona adat dapat dimodelkan secara detail, mencakup informasi geometri, material, dan fungsi sesuai aturan adat. Ini juga bisa mendukung pemantauan perubahan ruang secara real time dan mengurangi resiko penyimpangan dari ketentuan adat,” tuturnya.

Baca juga:Dukung Survei dan Pemetaan, ITN Malang Dapat Hibah Drone DJI Mavic 3 Enterprise Series dari Kementerian ATR/BPN

Diakui Tomy untuk konservasi teknologi ini belum sepenuhnya stabil. Untuk melihat ruang atau persil yang berubah tim monitoring survey tiap tahun harus ke lapangan. Sehingga secara dana masih tergolong mahal, kecuali kedepan ada pemanfaatan citra satelit dengan resolusi bagus dan dapat membuat model BIM yang akurat.

“Kedepan masih banyak peluang untuk dikembangkan. Harapannya ilmu geodesi bisa bermanfaat untuk masyarakat adat, pemerintah, dan pengelola adat. Dengan parameter mengikuti daerah setempat dan kebijakan yang ada,” tuntasnya. Dari disertasi ini Tomy sudah menghasilkan luaran aplikasi, Scopus Q2, serta prosiding dan jurnal internasional. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)