Para Mahasiswa Arsitektur ITN Malang berkeliling dengan Macito saat Kuliah Bersama tentang Perkembangan Arsitektur Kota Malang

Melihat Perkembangan Arsitektur Kota Malang, Mahasiswa Arsitektur ITN Malang Keliling Kota dengan Macito

Para Mahasiswa Arsitektur ITN Malang berkeliling dengan Macito saat Kuliah Bersama tentang Perkembangan Arsitektur Kota Malang, Sabtu (25/11/2023). (Nedi Putra AW)


BACAMALANG.COM – Kota Malang dikenal sebagai Kota Pendidikan dengan banyaknya perguruan tinggi baik negeri maupun swasta. Sementara dari sisi sejarahnya, Kota Malang berdiri sejak zaman kolonial Belanda, yang membuat sistem dan perencanaan tata kotanya sangat dipengaruhi oleh arsitektur kolonial Belanda.

Berangkat dari hal tersebut, sejumlah mahasiswa Arsitektur Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang menggelar Kuliah Bersama tentang Perkembangan Arsitektur Kota Malang.

Kuliah bersama yang dipimpin oleh Ir. Budi Fathony, MT, dosen Arsitektur ITN Malang ini digelar dengan menumpang Bus Malang City Tour atau Macito berkeliling Kota Malang, Sabtu (25/11/2023).

Tidak sekedar berkeliling kota, bus warna-warni yang disediakan Pemkot Malang ini membawa rombongan mahasiswa ITN itu juga menyediakan pemandu yang bercerita tentang segala hal yang terkait dengan bangunan atau tempat yang dilintasi.

Para penumpang diajak melewati sejumlah tempat wisata dan ikon Kota Malang selama kurang lebih 25 menit. Secara umum Macito ini melewati Alun-alun Merdeka atau Alun-alun Kota Malang, daerah Kauman, Jalan Ijen, kawasan Oro-Oro Dowo, kawasan Kampung Kayutangan Heritage, dan berakhir di Alun-alun Tugu.

Salah satu mahasiswa Anindya Aulia Rachmandari mengaku sangat senang dapat kuliah sambil berkeliling kota dengan Bus Macito ini.

“Sangat menarik, karena dari keterangan pemandu Bus Macito disampaikan bahwa ada bangunan-bangunan bersejarah yang tidak boleh diubah hanya direnovasi kecil saja,” ungkapnya.

Menurut dia, hal ini membuat masyarakat dapat mengetahui sejarah dari kota lewat bangunan-bangunan yang ada. Dara yang akrab disapa Aulia ini mengatakan, dirinya sudah pernah mendengar kisah dari beberapa kawasan yang dilalui. Namun ada pula yang belum.

“Saya sudah pernah kisahnya Monumen Trip misalnya, namun baru tahu juga kalau daerah Kauman itu artinya ternyata tempat Kaum Beriman karena banyak tempat ibadah, serta kawasan Simpang Balapan yang dulunya adalah arena pacuan kuda,” paparnya.

Dari kuliah bersama ini Aulia berharap pembangunan ke depan tidak melupakan sejarah di dalamnya.

“Pembangunan tetap mengutamakan unsur sejarah dan budaya setempat dari daerah yang akan dibangun selanjutnya,” tandas mahasiswa Arsitektur S-1 ITN Malang yang menyandang gelar Terbaik III Duta Investasi Kota Malang 2023 ini.

Dosen Arsitektur ITN Malang Ir. Budi Fathony, MT menambahkan, kuliah di lapangan dengan cara melihat langsung perkembangan kota ini sangat penting.

“Kota Malang berkembang dari masa ke masa, demikian pula arsitektur bangunannya. Mahasiswa perlu mendokumentasikan perkembangan arsitektur tersebut agar dapat melihat bagaimana selanjutnya, terutama 5 tahun ke depan,” ujar dosen yang pernah menjadi Tim Ahli Cagar Budaya Kota Malang ini.

Budi menuturkan, bagi mahasiswa baik itu yang berasal dari Malang maupun luar Malang, perkembangan arsitektur dengan label heritage ini menjadi hal yang menarik.

“Sehingga nanti setelah menjadi arsitek profesional, para mahasiswa ini dapat menata kotanya masing-masing dengan melihat potensi-potensi yang ada tanpa harus menghilangkan potensi tersebut,” ucapnya mengakhiri. (Nedi Putra AW)

Melihat Perkembangan Arsitektur Kota Malang, Mahasiswa Arsitektur ITN Malang Keliling Kota dengan Macito




Mahasiswa ITN Malang didampingi Ir. Budi Fathony, MT, dosen Arsitektur ITN Malang (berdiri) membuat replika stadsklok di Malang Creative Center

Mahasiswa Arsitektur ITN Malang Kuliah Sambil Belajar Membuat Replika Stadsklok

Mahasiswa ITN Malang didampingi Ir. Budi Fathony, MT, dosen Arsitektur ITN Malang (berdiri) membuat replika stadsklok di Malang Creative Center (MCC). (Foto: Istimewa)


Malang, ITN.AC.ID – Belajar di luar kelas memang mengasikkan. Hal ini yang dilakukan oleh sekitar 50 mahasiswa Prodi Arsitektur S-1, Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang). Mahasiswa angkatan 2022 dan 2023 ini mengikuti kuliah lapangan dengan mengunjungi Malang Creative Center (MCC) pada pekan kedua Januari 2024 lalu.

Ir. Budi Fathony, MT, dosen Arsitektur ITN Malang mengatakan, kunjungan ke rumah bagi aktivitas pelaku ekonomi kreatif (MCC) ini menjadi kuliah episode kedua bagi mata kuliah pengantar arsitektur. Setelah sebelumnya mereka melihat secara langsung perkembangan arsitektur Kota Malang dengan berkeliling kota mengendarai Bus Malang City Tour (Macito).

“Kota Malang kan punya MCC yang patut diketahui, dan dimanfaatkan keberadaannya oleh masyarakat (mahasiswa). Di sini mereka bisa mendapatkan gambaran tentang sejarah Kota Malang dan perkembangannya. Mereka juga mendapatkan ilmu baru dengan membuat replika stadsklok dari limbah plastik,” ujar Budi saat ditemui di Kampus 1 ITN Malang beberapa waktu lalu.

Menurut Budi, di MCC mahasiswa bisa belajar sejarah dan perkembangan Kota Malang secara digital. Melihat landmark Kota Malang sebagai bagian dari kuliah pengantar arsitektur. Sementara, belajar membuat replika stadsklok menjadi representasi dari mata kuliah estetika bentuk (esben). Uniknya mahasiswa belajar langsung dari kreator-nya.

Baca juga : Nata Karya 2.0 Pamerkan 160 Karya Mahasiswa Arsitektur Hingga Undang Klien

“Ketika kuliah di luar kampus maka mahasiswa akan terbuka wawasannya kedepan. Dengan begitu mahasiswa mendapat semangat, motivasi, membangun komunikasi dengan komunitas, serta menjadi agen komunikasi bahwa di MCC mereka bisa belajar banyak hal,” lanjut Budi.

Mahasiswa ITN Malang sedang belajar sejarah dan perkembangan Kota Malang secara digital di Malang Creative Center (MCC). (Foto: Istimewa)

Replika stadsklok merupakan replika ikon jam Kota Malang dengan desain kolonial. Stadsklok sebagai landmark di depan PLN Kayutangan, di Jalan Basuki Rahmat. Replika stadsklok terbuat dari sampah plastik, dibuat oleh Desainer Sampah Kota Malang, M Taufiq Shaleh Saguanto, dan menjadi souvenir khas Kota Malang.

Salah satu mahasiswa arsitektur yang ikut belajar membuat replika adalah Even Andiyanto. Mahasiswa angkatan 2023 ini mengungkapkan antusiasmenya. Menurutnya, kegiatan tersebut sangat edukatif. Belajar membuat replika bisa menjadi pembelajaran mengenai nilai arsitektur dari suatu bentuk bangunan. Apalagi bangun tersebut merupakan bangunan bersejarah Kota Malang.

“Kegiatan ini juga merupakan kegiatan yang mengusung konsep recycle. Replika dibuat menggunakan bahan botol bekas, dan beberapa komponen lainnya juga menggunakan bahan bekas sebagai media utamanya. Kami membuat replika dipandu langsung oleh Mas Taufiq Saguanto (biasa disapa),” kata mahasiswa asal Banyuwangi ini.

Baca juga : Soofiyah Dhiya Ulhaq Buat Bio Briket dari Bambu dan Kubis Solusi Atasi Krisis Energi

Masih kata Even, tak lepas dari itu semua Mas Taufiq Saguanto, Owner Hot Bottles Recycle Company banyak memberikan edukasi mengenai daur ulang sampah. Bahkan daur ulang sampah bisa menjadi ladang berbisnis bagi orang-orang kreatif untuk mengelola sampah sesuai pemikiran kreatifitas masing-masing.

“Bisa memberikan inspirasi bagi kami sebagai mahasiswa,” ucapnya. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)




Ar. Andy Rahman, IAI, Principle Andyrahman Architect, saat memberi Talkshow Nata Karya 2.0, Prodi Teknik Arsitektur S-1 ITN Malang

Dua Arsitek Berbagi Cara Membangun Bisnis Arsitektur

Ar. Andy Rahman, IAI, Principle Andyrahman Architect, saat memberi Talkshow Nata Karya 2.0, Prodi Teknik Arsitektur S-1 ITN Malang. (Foto: Yanuar/Humas ITN Malang)


Malang, ITN.AC.ID – Talkshow Nata Karya 2.0, Prodi Teknik Arsitektur S-1, Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) dihelat dua hari, Senin-Selasa (15-16/01/2024) di Aula Kampus 1, ITN Malang. Diisi oleh Ar. Andy Rahman, IAI, Principle Andyrahman Architect, dan Ar. Armudya Indra P, IAI, Principle Satuvista Architect yang juga merupakan alumnus Arsitektur ITN Malang, angkatan ‘98.

Andy Rahman menceritakan awal mula ia membangun bisnis arsitek. Cara mengelola studio arsitektur mulai membangun sampai bisa kompetitif hingga sekarang. Menurutnya tiap arsitek akan dan menemukan pola dalam membangun bisnisnya sesuai jalannya masing-masing.

Ia menyampaikan, sebagai mahasiswa harus terus mencari pengalaman di luar perkuliahan. Pasalnya selama kuliah dirinya tidak pernah diajarkan mengenai bisnis di dunia arsitektur, maupun membuat kontrak kerja. Maka, ketika lulus dan ingin membuka studio sendiri rasanya seperti dilepas ke hutan untuk belajar sendiri.

“Karena yang diajarkan di kuliah ya hanya arsitekturnya. Dulu saat memulai bisnis saya sendirian. Bisnis arsitek itu modalnya kecil, hanya keberanian,” katanya.

Andy Rahman memulai usaha dari kamar tidurnya. Sambil bekerja di luar ia berusaha membuka usaha. Alumnus ITS Surabaya ini membagikan kiat agar sukses dalam proyek. Salah satunya adalah ketika TOR atau Term of Reference diterima, maka harus sudah ada kontrak. TOR adalah penjelasan lengkap dalam bentuk berkas atau dokumen mengenai landasan, tujuan, dan struktur proyek yang akan segera dilaksanakan.

Baca juga : Nata Karya 2.0 Pamerkan 160 Karya Mahasiswa Arsitektur Hingga Undang Klien

“Ini sangat penting. Kalau sudah kontrak kita laksanakan SPK, pembayaran DP, dan baru kita survei. Agar waktu tidak terbuang percuma, karena kadang setelah survei ada saja kasus mereka tidak jadi (kerja sama),” ungkapnya.

Setelah TOR turun dilakukan observasi data, masuk ke tahap pra rencana dengan berdialog dengan klein. Kemudian masuk tahap DED (detail engineering design), setelah betul semuanya baru diserahkan ke klein. Untuk revisi pun harus disepakati berapa kali revisi, agar klien memperhatikan dan tidak selalu minta revisi.

Ar. Armudya Indra P, IAI, Principle Satuvista Architect didampingi Komang Ayu Laksmi H.S, ST., M.Ars dosen Arsitektur ITN Malang. (Foto: Yanuar/Humas ITN Malang)

“Dari pengalaman kami sebuah karya arsitektur yang bagus bisa sampai ke tahap pengawasan. Seberapapun detail karya kita kalau tidak diawali pasti meleset saat pengerjaan. Jadi pengawasan sangat penting hingga serah terima proyek ke klien,” katanya.

Menurutnya prosentase perencanaan dan pengawasan adalah 40:60. Pemikiran bahwa arsitek hanya membuat desain menurutnya itu salah. Karena di lapangan banyak varian yang harus diputuskan. Jadi saat hasilnya dilapangan tidak sesuai desain, maka yang salah bukan kontraktornya, karena saat membangun tidak didampingi. Di dunia kontraktor untuk menghasilkan karya yang bagus tidak hanya peran arsitektur, tapi 3 elemen harus sejalan, perencanaan, klien, dan pelaksana.

Senada dengan Andy Rahman. Armudya Indra P mengatakan bahwa pengawasan di lapangan sangat diperlukan. Alumnus Arsitektur ITN Malang yang akrab disapa Indra ini menekankan, seberapapun detail dan bagus sebuah desain, tapi tanpa pengawasan pada waktu pelaksanaan bisa berubah.

Untuk itu ada proses perjalanan proyek. Mulai presentasi, pembuatan desain, pengembangan, perijinan IMB, tender, pembangunan, finishing, hingga serah terima proyek. Dalam perjalanan proyek tersebut Indra juga memasukkan variabel lain yang mempengaruhi tiap perjalanan.

“Kita juga harus mengetahui regulasi saat pembangunan, karena ada kaitannya dengan pengurusan perijinan,” katanya.

Menurut Indra mahasiswa bisa belajar sedini mungkin untuk mengenali dunia kerja dengan magang. Satuvista Architect juga membuka program magang bagi mahasiswa. Ini sebagai wujud pengabdian kepada masyarakat, serta ikut membantu mencerdaskan generasi muda.

Baca juga : Jadi Entrepreneur Tangguh, Tahan Banting, dan Berani Bersama Alumnus ITN Malang

Di sini mahasiswa diajak dalam proses pelaksanaan sebuah proyek. Belajar menganalisa membuat konsep, merevisi, membuat gambar kerja, melakukan penghitungan RAB dan lain sebagainya. Bahkan selain working studio mahasiswa juga diajak coworking dengan berkolaborasi dengan studio lain untuk saling mengisi, mengikuti acara seminar, kegiatan asosiasi, bahkan jalan-jalan architect.

“Kita perlu membangun chemistry teman-teman di studio dengan belajar langsung di tempat yang dikunjungi. Kalau hanya belajar dari buku dan internet kurang. Kelemahan teman-teman arsitek desainnya bagus-bagus tetapi pada fase pelaksanaan dan mendetailkan di lapangan metodenya sangat kurang. Maka kita belajar langsung dengan melihat di lapangan. Sekaligus untuk melepaskan kejenuhan, kami ingin menyeimbangkan kehidupan dipekerjakan dan pribadi sosial,” tutur Indra. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)




Amar Rizqi Afdholy, ST., MT., dosen Arsitektur S-1 ITN Malang saat menjelaskan karya mahasiswa

Nata Karya 2.0 Pamerkan 160 Karya Mahasiswa Arsitektur Hingga Undang Klien

Amar Rizqi Afdholy, ST., MT., dosen Arsitektur S-1 ITN Malang saat menjelaskan karya mahasiswa. (Foto: Yanuar/Humas ITN Malang)


Malang, ITN.AC.ID – Sebanyak 160 karya mahasiswa Arsitektur S-1, Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) dipamerkan dalam Pekan Penilaian Akhir dan Pameran Karya Mahasiswa Arsitektur ITN Malang “NATA KARYA 2.0”. Karya yang dinilai merupakan karya dari tugas besar mata kuliah inti yang ada di semester ganjil mulai dari semester satu tingga semester tujuh. Karya-karya tersebut terpajang rapi di Aula Kampus 1 ITN Malang selama dua hari Senin-Selasa (15-16/01/2024) di Aula Kampus 1, ITN Malang.

Amar Rizqi Afdholy, ST., MT., dosen Arsitektur S-1 ITN Malang menjelaskan, ada empat tugas besar mata kuliah inti studio perancangan di prodi arsitektur yang dinilai sekaligus dipamerkan. Yakni estetika bentuk (esben) untuk semester 1, perancangan arsitektur 2 (PA2) untuk semester tiga, perancangan arsitektur 4 (PA4) untuk semester lima, dan perancangan arsitektur 6 (PA6) untuk semester tujuh.

“Acara sebenarnya sudah dari tahun kemarin dengan skala kecil untuk mata kuliah perancangan arsitektur 1 (PA1). Sekarang kami dicoba untuk menambahkan beberapa mata kuliah lainnya. Alhamdulillah peserta (mahasiswa) dan pengunjung pameran terlihat sangat antusias,” kata Amar.

Selain empat mata kuliah inti juga ikut dipamerkan hasil karya mata kuliah dasar desain, prinsip dan sistem struktur lanjut (PPSL), dan arsitektur nusantara. Serta turut mengundang universitas yang memiliki prodi arsitektur untuk ikut serta memamerkan karya mahasiswanya.

Baca Juga : Nata Pola Babaran Karya” Ajang Pameran Karya Mahasiswa Arsitektur ITN Malang

Dosen mata kuliah PA2 ini menjelaskan, untuk mahasiswa pemrogram PA2 tugas besarnya adalah membuat desain rumah profesi. Dimana untuk membuat perancangan ini mahasiswa diberi tugas mencari klien sekaligus membuat rancangan desain rumah profesi dari klien tersebut.

“Mereka mencari klien sendiri, ada yang dari Malang, Blitar. Menariknya disini para klien tersebut juga turut diundang dalam acara Nata Karya. Sehingga klien bisa melihat secara langsung rancangan yang dibuat oleh mahasiswa sebagai arsiteknya,” beber Amar.

Beberapa mahasiswa sedang melihat karya estetika bentuk, hasil karya mahasiswa arsitektur ITN Malang. (Foto: Yanuar/Humas ITN Malang)

Menurut Amar, rumah tidak hanya sebagai rumah tinggal, namun juga memfasilitasi profesi dari penghuninya. Obyek rumah profesi juga beragam. Contohnya rumah petani jeruk. Dimana mahasiswa harus mendesain bangunan dengan memfasilitasi petani jeruk selain pemenuhan rumah tinggal juga tempat untuk menjual hasil panen. Ada juga klien yang profesinya sebagai pedagang empek-empek, kontraktor, dan lain sebagainya. Antara rumah tinggal (privat) dan tempat untuk kegiatan profesi (publik) ada pemisahan.

“Mahasiswa mengkonsep sendiri bagaimana memisahkan antara privasi dan publik agar tidak saling mengganggu. Mahasiswa sudah cukup bagus dalam merespon yang diajarkan di perkuliahan untuk diaplikasikan (dalam tugas). Dalam membuat desain konsepnya benar dulu, untuk bagus dan tidaknya bergantung yang melihat,” terangnya.

Dosen arsitektur lainnya yang turut melakukan penilaian adalah Bayu Teguh Ujianto, ST., MT., dosen mata kuliah PA4. Menurut Bayu, selama ini mata kuliah perancangan arsitektur melakukan penilaian terhadap tugas mahasiswa secara tertutup. Dengan adanya Nata Karya, maka penilaian dilakukan secara terbuka dengan konsep pameran karya.

“Jadi dengan Nata Karya mahasiswa bisa melihat karya orang lain. Bisa menilai karyanya sendiri, dan karya temannya, serta bisa dilihat juga oleh orang lain,” kata Bayu.

Bayu menjelaskan, untuk estetika bentuk (esben) mahasiswa semester satu membuat karya gubah masa dimana gubahan bentuk belum mempunyai fungsi, tapi sudah memiliki estetika. PA2 untuk mahasiswa semester 3 membuat perancangan desain rumah tinggal profesi. PA4 untuk mahasiswa semester 5 membuat pra desain gedung SMK, poster, dan video presentasi mulai konsep analisa hingga hasil akhir. Sementara untuk PA6 mahasiswa semester tujuh diminta membuat desain yang tentunya lebih rumit.

Baca Juga :

Baca juga : Ada Nasi Bakar dan Wonton, Bazar Technopreneurship Teknik Industri Dorong Lahirnya Entrepreneur

“Untuk esben material dan bentuknya boleh bermacam-macam. Dengan memperhatikan proporsi, irama, unsur titik, garis, bidang, dll. Terpenting menampilkan estetikanya, meskipun belum ada fungsi dari desain bangunan tersebut. Angkatan ini saya lihat karyanya lumayan bagus, kreatif, walaupun belum memasukkan fungsinya,” beber Bayu.

Dengan karya yang dipamerkan Bayu berharap mahasiswa bisa saling melihat produk akhir dari temannya, maupun adik dan kakak tingkatnya. “Dari sini harapannya mereka punya trigger. Kedepannya memberi inspirasi dan wawasan dalam mengembangkan skill. Kalau penilaian tertutup, ya nanti yang tahu karya-karya tersebut hanya dosen, jadi sayang (karya tidak bisa terekspos),” pungkasnya. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)




Kaprodi Arsitektur S-1 ITN Malang, Ir. Gaguk Sukowiyono, MT., saat membuka acara Nata Karya 2.0 di Aula Kampus 1 ITN Malang

Nata Pola Babaran Karya” Ajang Pameran Karya Mahasiswa Arsitektur ITN Malang

Kaprodi Arsitektur S-1 ITN Malang, Ir. Gaguk Sukowiyono, MT., saat membuka acara Nata Karya 2.0 di Aula Kampus 1 ITN Malang. (Foto: Yanuar/Humas ITN Malang)


Malang, itn.ac.id – Prodi Arsitektur S-1, Institust Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) menggelar acara Pekan Penilaian Akhir dan Pameran Karya Mahasiswa Arsitektur ITN Malang “NATA KARYA 2.0”.  Nata Karya kali kedua ini memamerkan kurang lebih 160 karya mahasiswa arsitektur mulai semester satu hingga akhir. Khususnya yang mengikuti mata kuliah inti yang ada di semester ganjil, serta beberapa karya dari mata kuliah pilihan. Diselenggarakan selama dua hari Senin-Selasa (15-16/01/2024) di Aula Kampus 1, ITN Malang.

Nata Karya yang merupakan kepanjangan dari bahasa Jawa “Nata Pola Babaran Karya” memiliki arti mengatur dan menyusun pola, kemudian menghasilkan sebuah karya. Dalam proses perancangan mahasiswa diajarkan untuk menyusun pola atau strategi dalam mendesain agar tercipta sebuah desain yang maksimal sampai pada akhirnya desain yang dihasilkan dapat diwujudkan menjadi sebuah karya dalam bentuk model, visual.

Selain memamerkan karya mahasiswa Nata Karya juga menggelar talk show dengan menghadirkan dua narasumber. Yakni Ar. Andy Rahman, IAI, Principle Andyrahman Architect, dan Ar. Armudya Indra P, IAI, Principle Satuvista Architect yang juga merupakan alumnus Arsitektur ITN Malang.

Kaprodi Arsitektur S-1 ITN Malang, Ir. Gaguk Sukowiyono, MT., dalam sambutannya menyatakan kegiatan Nata Karya sudah diawali pada semester lalu (semester genap) dengan memamerkan karya mahasiswa semester awal. Dan untuk Nata Karya 2.0 dikembangkan dengan melibatkan mahasiswa mulai semester awal hingga akhir.

Baca juga : Mahasiswa Arsitektur Gelar “Nata Karya” Pameran Perdana Perancangan Arsitektur

“Nanti rencananya akan kami adakan tiap periode, mahasiswa tiap semester kami libatkan. Acara ini bisa menjadi kegiatan positif dimana mahasiswa akan memiliki wawasan dengan melihat karya teman-temannya dari semester satu sampai semester atas. Sehingga bisa membantu mereka untuk mengetahui apa yang akan mereka lakukan nantinya (dalam proses berkarya),” kata Gaguk.

Dekan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) ITN Malang, Dr. Debby Budi Susanti, ST, MT. Debby mengapresiasi acara Nata Karya. (Foto: Yanuar/Humas ITN Malang)

Gaguk juga berharap adanya keterlibatan alumni untuk menyemangati mahasiswa dalam prosesnya menjadi arsitek. “Selain kolaborasi dengan alumni nantinya juga berkolaborasi dengan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI), sehingga kolaborasi akan lebih kuat lagi. Dengan acara ini kami ingin menunjukkan ke luar (masyarakat) bahwa mahasiswa arsitektur ITN Malang mampu merancang sesuai yang diharapkan,” tegasnya.

Rasa bangga disampaikan oleh Dekan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) ITN Malang, Dr. Debby Budi Susanti, ST, MT. Debby mengapresiasi acara Nata Karya. Dimana acara ini menunjukkan bahwa Prodi Arsitektur S-1, ITN Malang semakin eksis berkarya untuk menghasilkan karya-karya terbaik.

“Jangan pernah patah semangat. Dimanapun kalian belajar kalian boleh menggali, menanam, dan hasil karya terbaik bisa kalian bawa ke daerah kalian masing-masing sebagai kebanggan,” kata Debby.

Nata Karya selain memamerkan karya mahasiswa arsitektur ITN Malang juga turut memamerkan karya mahasiswa arsitektur Universitas Merdeka (Unmer) Malang sebagai undangan. Menurut Amar Rizqi Afdholy, ST., MT., dosen Arsitektur S-1 ITN Malang, Nata Karya juga mengundang universitas yang memiliki prodi arsitektur. Namun, berhubung sudah banyak kampus yang libur maka dari beberapa universitas yang diundang hanya Unmer Malang yang mengirimkan delegasinya.

Baca juga : Bawa Berkah, Teh Selerejo Produk Inovasi Mahasiswa ITN Malang Jadi Daya Tarik Expo Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Nusantara 2023

“Karena dari Nata Karya tahun lalu responnya bagus, maka rencananya kami akan memasukkan Nata Karya dalam kalender akademik. Jadi bisa tiap semester diadakan. Karyanya mahasiswa juga bisa menjadi sebuah ajang promosi bagi prodi dan institusi. Maka kami juga mengundang SMK/SMA lewat PMB ITN Malang. Semoga kami bisa melaksanakan terus menerus tiap tahun,” harap Amar. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)