Tim Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) 2023 Kopi Self ITN Malang.

Budaya “Ngopi” Lahirkan Bisnis Kopi Kekinian

Tim Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) 2023 Kopi Self ITN Malang.


Malang, ITN.AC.ID – Budaya “ngopi” sudah menjadi gaya hidup di kalangan kaum muda. “Ngopi” juga menjadi media pergaulan sekaligus identitas sosial. Malang Raya dengan ribuan mahasiswa menjadi pasar strategis bagi pengusaha kopi. Hampir tiap sudut kota yang berdekatan dengan kampus terdapat cafe atau warung kopi. Ditambah lagi Malang merupakan salah satu daerah penghasil kopi di Jawa Timur.

Antusiasme penikmat kopi di Malang Raya ditangkap oleh mahasiswa Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang), mereka adalah Herman Rubiyanto (angkatan 2021), Ahmad Padantya (2021), Nurul Huda (2021), Rohmat Maulana Riskiyandi (2021), dan Imelia Putri Lestari (2021), dibawah bimbingan Ir. Ester Priskasari, MT. Mahasiswa Teknik Sipil S-1 ITN Malang ini melalui Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) memanfaatkan digital marketing sebagai sarana pemasaran brand Kopi Self dengan sistem order online.

“Kami sebelumnya sudah memiliki produk kopi kemasan dengan brand Kopi Self. Nah, untuk meningkatkan penjualan dan menjangkau konsumen lebih luas kami memanfaatkan digital marketing media sosial, website, dan aplikasi mobile. Sekaligus juga untuk meningkatkan brand awareness Kopi Self,” kata Herman ketua tim P2MW saat dihubungi lewat sambungan Whatsapp.

Baca juga : Berjalan Lancar, Monitoring dan Evaluasi Program P2MW di ITN Malang Diikuti 3 Tim

Kopi Self dikemas dalam beberapa kemasan. Untuk kemasan kopi cup dihargai 10 ribu rupiah. Kemasan lainnya yang juga tersedia adalah dalam botol plastik 200 ml, dan botol kaleng 200 ml. Kopi disajikan dalam tiga varian yaitu kopi pandan, kopi gula aren, dan kopi caramel.

“Kami ingin memberikan rasa yang unik, tidak hanya sekedar rasa kopi saja. Maka kami memilih tiga varian rasa yang banyak direkomendasikan oleh responden. Semoga minat responden divarian ini juga diikuti oleh banyaknya pembeli di pangsa pasar kopi. Alhamdulillah banyak yang memberikan nilai positif,” lanjut mahasiswa semester lima ini.

Responden dari kalangan mahasiswa sedang mencoba varian rasa Kopi Self buatan mahasiswa P2MW Teknik Sipil S-1 ITN Malang. (Foto: Istimewa)

Menjual kopi dengan tingkat persaingan kompetitif memang tidak bisa main-main. Mahasiswa ITN Malang ini harus tes pasar dengan menguji rasa kopi ke responden/konsumen. Dari ketiga varian tersebut banyak responden yang menyukai varian kopi rasa pandan karena rasanya yang wangi pandan, selain itu juga lebih enak, dan tentunya alami.

“Keunggulan Kopi Self dengan menggunakan kopi terbaik dan bahan-bahan alami. Seperti daun pandan kami menggunakan pandan asli yang diambil ekstraknya untuk perasa pandan,” Herman menyakinkan.

Kopi Self sebelumnya telah dijual di asrama Tadulako, Jalan Topaz No.25, Tlogomas, Kec. Lowokwaru, Kota Malang. Belum maksimalnya penjualan mendorong mereka untuk promosi produk sehingga harapannya banyak dikenal oleh konsumen. Tidak hanya produknya, namun juga rasa dan kualitas yang disediakan. Untuk itu Tim P2MW Kopi Self mempromosikan produknya lewat media online Instagram, Tiktok, dan lain-lain.

Baca Juga : Kolaborasi, Brand Nadiem dan Penjahit Konveksi Lokal Majukan Industri Kreatif

Dikatakan Herman, target pasarnya tentu saja mahasiswa. Dimana mahasiswa suka mengkonsumsi kopi sembari mengerjakan tugas. Selain itu sebagai anak muda mahasiswa juga suka mencoba hal-hal baru, salah satunya mencoba rasa kopi baru.

“Kami menggunakan media digital untuk mengenalkan Kopi Self. Meskipun sebenarnya hasil penjualan (online) tidak sebanyak penjualan langsung dengan konsep warung kopi. Untuk mengenalkan produk baru ke pelanggan baru memang butuh waktu. Ini menjadi tantangan kami,” tuntasnya. Herman bersama teman-temannya berharap usaha mereka bisa terus berjalan dan meningkat. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)




Anggota Tim Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) 2023 ITN Malang mengangkat Brand Fashion Muslim Nadiem

Kolaborasi, Brand Nadiem dan Penjahit Konveksi Lokal Majukan Industri Kreatif

Anggota Tim Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) 2023 ITN Malang mengangkat Brand Fashion Muslim Nadiem.


Malang, ITN.AC.ID – Perkembangan fashion busana muslim di Indonesia berkembang sangat pesat. Apalagi Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama islam selalu mengikuti trend busana muslim kekinian. Busana muslim menjadi gaya berpakaian umat islam baik wanita maupun pria. Melihat peluang ini mahasiswa Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) dengan Brand Nadiem menggandeng para produsen dan penjahit konveksi lokal untuk berkolaborasi bersama memajukan industri kreatif melalui keahlian bidang masing-masing.

Mereka adalah empat mahasiswa Teknik Sipil S-1, ITN Malang Ardany Malikal Fauzan (ketua), Iswahyudi, Eka Rahma Tana, Abdul Gani Pandengkalu, dan Bimatur Rochman Wahid. Dengan dosen pembimbing Hadi Surya Wibawanto ST., MT. Mereka berlima lolos pendanaan Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) 2023.

“Kami beranggapan memasarkan produk melalui digital marketing lewat Brand Fashion Muslim Lokal Nadiem dapat memajukan ekonomi para penjahit daerah. Kami disini merangkul penjahit konveksi Daerah Kabupaten Tulungagung,” kata Ardany Malikal Fauzan saat dihubungi lewat sambungan whatsapp.

Baca Juga : Berjalan Lancar, Monitoring dan Evaluasi Program P2MW di ITN Malang Diikuti 3 Tim

Penjahit konveksi Kabupaten Tulungagung diangkat karena Tulungagung merupakan salah satu daerah di Jawa Timur yang memiliki potensi besar dalam industri fashion lokal. Namun, mereka masih mengalami kendala dalam memasarkan produk. Sebagian besar penjahit konveksi hanya bergantung pada penjualan secara offline, sehingga akses pasar yang luas menjadi terbatas.

Menurut Ardany, Brand Nadiem merupakan produk hasil dari pemberdayaan produsen dan penjahit konveksi lokal. Mereka berkolaborasi bersama untuk memajukan industri kreatif ke depan melalui keahlian di bidang masing-masing. Kemudian mereka pasarkan dengan memanfaatkan teknologi digital, dan optimasi digital marketing.

Ardany Malikal Fauzan, Ketua Tim P2MW 2023 Brand Fashion Muslim Nadiem (tengah) saat mengikuti monev dengan Tim P2MW Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (Foto: Yanuar/Humas ITN Malang)

“Lewat media sosial, platform online, atau toko online. Ada Instagram, dan Tik Tok. Bahkan sudah ada beberapa permintaan untuk memproduksi lebih banyak lagi. Dengan begitu produk Brand Fashion Muslim Nadiem bisa menjangkau ke pasar yang lebih luas,” imbuhnya.

Produk yang fokus dipasarkan adalah rok wanita, gamis wanita, kemeja pria, dan gamis pria. Sesuai target pemasaran Nadiem yakni pria dan wanita muslim usia produktif. Hal ini untuk mengimbangi permintaan akan pakaian muslim yang semakin tinggi. Faktor yang mendorong pertumbuhan pangsa pasar fashion muslim adalah meningkatnya kesadaran akan kebutuhan pakaian muslim di kalangan umat islam, meningkatnya jumlah populasi muslim di berbagai negara, dan meningkatnya minat konsumen pada mode muslim yang lebih modern dan trendi.

Ketatnya penjualan fashion muslin di pasaran diimbagi oleh Tim Nadiem dengan menjaga kualitas produk fashion dengan menggunakan bahan baku yang baik, dan berkualitas. Tentunya dengan memperhatikan kenyamanan saat digunakan, dan tidak panas menyesuaikan dengan kondisi cuaca di Indonesia.

Baca Juga : Jalu Centil, Jajanan “Jadul” Pengingat Memori

Menurut Ardhany, brand Nadiem juga berkomitmen mendukung gerakan zero plastic guna mengurangi bahaya sampah plastik bagi lingkungan. Maka, Nadiem dan tim sepakat tidak lagi menggunakan packaging dengan bahan dasar plastik, melainkan dengan menggunakan kemasan berbahan dasar organik yang dapat terurai dan dapat didaur ulang.

“Produk fashion di Indonesia khususnya fashion muslim merupakan penghasil devisa yang cukup besar. Semoga kedepannya lebih banyak lagi penjahit konveksi lokal yang berkolaborasi bersama untuk memajukan industri kreatif  melalui keahlian masing-masing,” harapnya. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)




Tim Jalu Centil Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) ITN Malang. Kika Anggi Novitasari, Chania Azzahra, Anisa, dan Siti Fathimah

Jalu Centil, Jajanan “Jadul” Pengingat Memori

Tim Jalu Centil Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) ITN Malang. Kika: Anggi Novitasari, Chania Azzahra, Anisa, dan Siti Fathimah. (Foto: Istimewa)


Malang, ITN.AC.ID – Jajan ini mudah dikenal. Bentuknya yang beragam dengan warnanya yang menarik begitu mengundang selera. Jajanan jaman dulu (jadul) seperti lupis, cenil dan teman-temannya sekarang sulit ditemukan. Padahal karena kenangannya, masih ada konsumen yang mencari jajanan tersebut. Maka untuk mengenalkan kembali jajanan tradisional lupis, cenil, empat mahasiswa Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) mengembangkan wirausaha Jajanan Lupis Cenil Cinta Lingkungan (Jalu Centil).

Mereka adalah tiga mahasiswa Teknik Lingkungan S-1 ITN Malang, yakni Anisa (2026029), Anggi Novitasari (2026006), Chania Azzahra (2026028), dan satu mahasiswa Arsitektur S-1 ITN Malang, Siti Fathimah (2022009). Dibawah bimbingan Dr. Hardianto, ST., MT., ide berwirausaha Jalu Centil ini lolos Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) tahun 2023.

“Dengan P2MW ini kami ingin belajar menjadi wirausaha muda yang berbakat. Serta memiliki kemampuan untuk meningkatkan usaha supaya lebih bersaing di masa yang akan datang,” kata Anisa Ketua Tim Jalu Centil saat dihubungi lewat sambungan WhatsApp.

Baca juga : Nasi Bakar Mahasiswa ITN Malang Dua Jam Ludes di KMI Expo 2022

Mengangkat tagline “Kue Jadul Rasa Dulu di Masa Kini” Jalu Centil didirikan pada Maret 2023. Membawa semangat dan harapan jajanan jadul bisa kembali tren di masa sekarang. Tentunya dengan penampilan yang lebih menarik, dan pengemasan yang lebih unik. Serta cara pemasaran yang mengikuti era perkembangan digital.

Jajanan khas Jawa ini terdiri dari lupis yang berbahan beras ketan, ongol-ongol dari klaras tepung kanji dan tepung terigu, horok-horok dari tepung beras, dan cenil dari tepung kanji. Jajanan yang identik dengan parutan kelapa dan siraman gula merah ini bahan-bahannya mudah didapat, dan pengolahannya pun mudah.

Mahasiswa Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) ITN Malang sedang melayani pembeli Jalu Centil di area kantin Kampus 1 ITN Malang. (Foto: Istimewa)

“Bahan-bahan yang kami gunakan 100 persen bahan alami tanpa adanya zat kimia tambahan. Hanya saja memang dalam proses pembuatannya harus ekstra sabar. Karena banyak varian yang dibuat, dan tiap varian berbeda cara pengolahannya,” terang mahasiswa asal Malang ini.

Dengan harga terjangkau Jalu Centil dibanderol mulai 7.500 rupiah dengan kemasan mika coklat. Untuk lebih mengesankan tradisional, maka mika dialasi dengan potongan daun pisang, sebelum kemudian jajanan ditata rapi di atasnya.

“Lupis cenil disukai oleh semua kalangan mulai anak-anak hingga kakek nenek, karena rasanya yang manis, gurih, dan unik. Namun sayangnya daya simpan produk tidak bisa tahan lama,” ungkap Anisa.

Baca juga : HUT Ke-78 RI, ITN Malang Beri Penghargaan Kepada 124 Mahasiswa

Biasanya Anisa dan teman-temannya akan membuat Jalu Centil untuk dijual jika tidak ada perkuliahan. Mereka juga membuka layanan pemesanan lewat Instagram dan Tiktok Jalucentil. Atau kalau ingin respon lebih cepat bisa mengirimkan pesan melalui WhatsApp. Pembeli juga bisa membelinya secara langsung di rumah Anisa di Rt 06 Rw 02, Desa Mendalanwangi, Kec Wagir, Malang.

“Semoga jajanan lawas (lama) bisa eksis di jaman sekarang, dan bisa bersaing dengan jajanan kekinian yang ternyata banyak berasal dari luar negeri,” tuntasnya. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)




Tim Halo Rumah Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKM-K), ITN

Mau Bangun Rumah? Konsultasi Saja ke Halo Rumah

Tim Halo Rumah Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKM-K), ITN Malang.


Malang, ITN.AC.ID – Perencanaan dan persiapan yang matang menjadi hal penting dalam membangun rumah untuk memastikan semua proses pembangunan berjalan lancar. Mulai penentuan material, tenaga kerja, anggaran biaya, dan lain sebagainya. Namun sayangnya, masih banyak masyarakat yang mempunyai keterbatasan akses dalam membangun rumah yang baik, nyaman, dan aman.

“Kebutuhan rumah setiap tahun meningkat. Angka kepadatan penduduk tidak sebanding dengan angka pembangunan rumah tinggal. Khususnya pada masyarakat dengan ekonomi menengah sampai menengah kebawah belum mempunyai koneksi dengan jasa pembuat rumah seperti kontraktor, atau ahli teknik sipil, dan juga arsitek,” kata I Putu Sugiantara Ketua Tim Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKM-K), Halo Rumah, Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang).

Tim Halo Rumah merupakan gabungan dari mahasiswa tiga prodi, yakni teknik sipil S-1, I Putu Sugiantara, dan Firnas Nautal. Prodi teknik informatika S-1, Emmily Sisilia Mutiar Putri Suwandi, dan Kadek Riski Dwi Putra. Serta arsitektur S-1 Heickal Muhammad Aqil Biladt, dengan dosen pendamping dari teknik sipil, Hadi Surya Wibawanto Sunarwadi, ST., MT. IPP.

Berlima mereka membuat aplikasi “Halo Rumah” sebagai solusi membangun rumah lebih mudah dan terjangkau. Dalam membangun rumah tidak hanya membutuhkan tenaga ahli dari teknik sipil. Namun juga tenaga ahli dari arsitek yang mendesain, serta dari informatika yang membuat aplikasinya. Multidisiplin ilmu inilah yang kemudian menjadi cikal bakal terciptanya aplikasi Halo Rumah.

“Kami ingin melakukan terobosan baru dalam mengikuti PKM, sekaligus menggiatkan merdeka belajar. Disini setiap anggota tim dapat wawasan dengan belajar disiplin ilmu yang lain,” lanjutnya.

Baca juga : Tim Spectra Yudisium ITN Malang Juara 1 Civil Tender Competition CEEXO 2023

Aplikasi Halo Rumah memudahkan pengguna dalam membangun sebuah rumah sesuai dengan keinginannya. Aplikasi ini juga memberi edukasi berkaitan dengan membangun rumah yang baik dan benar. Pengguna juga bisa berkonsultasi dengan para ahli teknik sipil, dan arsitek yang sudah bersertifikat pada fitur konsultasi.

Aplikasi Halo Rumah buatan Tim PKM-K ITN Malang.

Selain fitur konsultasi juga tersedia fitur material untuk melihat material yang digunakan pada pembangunan rumah. Fitur furniture untuk memberikan referensi furniture guna memperindah rumah impian yang ingin dibangun. Serta fitur house concept memberikan referensi untuk konsep rumah yang akan dibangun.

Halo Rumah memberikan informasi jasa dan layanan. Untuk mengaksesnya pada tampilan awal pengguna harus memasukkan ID dan password untuk masuk ke halaman utama aplikasi. Di sini pengguna bisa memulai membuat rancangan anggaran biaya rumah, juga bisa meng-klik fitur create, setelah itu data-data yang diperlukan akan memunculkan hasil. Kemudian menuju ke tombol “Tanya Ahli” yang akan mengarahkan pengguna ke konsultan untuk melakukan sesi tanya jawab atau konsultasi.

“Di sini pengguna juga bisa meng-hire tenaga ahli untuk membuat rumah impian yang mereka rencanakan. Keunikan aplikasi ini adalah adanya luaran hasil sesuai dengan disiplin ilmu teknik sipil, dan arsitektur,” jelas Putu. Banyaknya pertimbangan disiplin ilmu ini awalnya menjadi tantangan Tim Halo Rumah dalam mendevelop aplikasi. Maka mereka rutin melakukan diskusi supaya memahami antar disiplin ilmu sehingga bisa mendevelop aplikasi.

Baca juga :  Mahasiswa Arsitektur ITN Malang Raih Bronze Medal AYDA Indonesia Awards 2022/23

Pangsa pasar aplikasi tentunya ke Generasi Z (Gen Z) yang sangat familiar dengan dunia digital. Rencana Tim Halo Rumah dalam waktu dekat adalah menjual aplikasi. Sementara rencana kedepan e-commerce dalam bidang pembelian bahan bangunan dan lain-lain. Untuk rencana jangka panjang dalam membangun rumah bisa di buatkan startup.

Dengan mendapatkan semua fitur tersebut saat ini aplikasi Halo Rumah berbayar seharga 100 ribu rupiah, dan dilengkapi buku panduan. “Semoga aplikasi ini bisa membantu masyarakat yang dananya kurang mumpuni, sehingga bisa membangun rumah sesuai impiannya,” tuntas Putu yang juga berharap makin banyak lomba yang turut melibatkan multidisiplin ilmu sehingga bisa memajukan kegiatan merdeka belajar. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)




Wakil Rektor 3 ITN Malang, Dr. Hardianto, ST., MT., (berdiri) sedang mengecek kesiapan zoom Tim P2MW Serra Fashion.

Berjalan Lancar, Monitoring dan Evaluasi Program P2MW di ITN Malang Diikuti 3 Tim

Wakil Rektor 3 ITN Malang, Dr. Hardianto, ST., MT., (berdiri) sedang mengecek kesiapan zoom Tim P2MW Serra Fashion. (Foto: Yanuar/Humas ITN Malang)


Malang, ITN.AC.ID – Tiga tim mahasiswa Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) tahun ini lolos Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW), yang didanai oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Semua tim merupakan mahasiswa Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) ITN Malang.

Ketiga tim mengangkat produk unggulan dari mahasiswa yakni kategori makanan dan pakaian. Yakni produk Kopi Self dari mahasiswa teknik sipil S-1, Jajanan Lupis Cenil Cinta Lingkungan (Jalu Centil) dari mahasiswa teknik lingkungan S-1 dan arsitektur S-1, Serra Fashion muslim lokal Nadiem dari mahasiswa teknik sipil S-1. Ketiganya melewati monev online sebagai bagian dari monitoring dan evaluasi (Monev) dengan tim P2MW Kemendikbud Ristek, pada pekan kedua Oktober 2023 lalu.

Wakil Rektor 3 ITN Malang, Dr. Hardianto, ST., MT., menyatakan, monev merupakan evaluasi dan pemantauan atas perkembangan dan kemajuan program P2MW yang telah dijalankan oleh masing-masing kelompok. Monev ini juga menjadi bahan pertimbangan/seleksi persiapan acara Kewirausahaan Mahasiswa Indonesia (KMI) Expo tahun 2023 yang akan diadakan di Bali November 2023.

Baca juga : Nasi Bakar Mahasiswa ITN Malang Dua Jam Ludes di KMI Expo 2022

“Tim yang lolos P2MW ini menjadi bibit-bibit unggul di bidang kewirausahaan. Sesuai dengan visi ITN Malang yang turut menciptakan mahasiswa berjiwa kewirausahaan. Maka di ITN juga dilengkapi UKM Kewirausahaan. Harapannya disamping ahli bidang teknik mahasiswanya juga bisa berbisnis meskipun dimulai dari skala kecil,” terang Hardianto saat mendampingi acara monev di Ruang Rapat FTSP ITN Malang.

Anisa ketua Tim P2MW Jalu Centil ITN Malang sedang melaporkan kemajuan programnya. (Foto: Yanuar/Humas ITN Malang)

P2MW mendorong terciptanya Wirausaha Merdeka yang merupakan salah satu upaya dari Kemendikbudristek untuk mendukung penuh terciptanya wirausaha mahasiswa di Indonesia. Hadir mendampingi acara monev Wakil Dekan 3 FTSP ITN Malang, Ida Soewarni ST., MT, dan Wakil Dekan 3 FTI ITN Malang Drs. Sumanto M.Si., serta dosen pembimbing masing-masing tim.

Wakil Dekan 3 FTI ITN Malang Drs. Sumanto M.Si., menyatakan, mahasiswa menghasilkan suatu produk yang baik dan benar sehingga produk yang dihasilkan merupakan produk yang baik, bermutu, berkualitas, dan higienis. Pada P2MW 2023 ini, dari kategori makanan ITN Malang meloloskan dua proposal. Dimana saat ini penting untuk dilakukan pendampingan dalam proses produksinya. Selain itu juga memerlukan pelatihan marketing untuk mengenalkan produk kepada masyarakat.

“Maka kami mengundang pakar yang kompeten untuk membantu mahasiswa dalam marketing. Kami juga melakukan pemeriksaan hasil produksi dari produk P2MW. Kami menyediakan lab kimia untuk menguji makanan sudah sesuai standar atau belum,” kata Sumanto dalam sambutannya mengawali acara monev.

Baca juga : Mahasiswa Teknik Informatika Buat UMKM Kaos Oblong Mythical Gods

Menurut Sumanto, selama ini kegiatan P2MW selalu didampingi oleh pendamping. Tim manajemen juga selalu memantau kemajuan, sehingga bila ada yang kurang pendamping bisa langsung mengingatkan. Dari hasil produk ini dilakukan pemantauan agar sesuai standar. Terutama untuk tim mahasiswa yang memproduksi makanan, dimana makanan tidak bisa bertahan lama.

“Rencananya kami dalam KMI Ekspo dari tiga tim meloloskan dua tim. Tim untuk kategori yang sedang tumbuh (1 tim) otomatis lolos untuk menjadi peserta KMI Ekspo. Sementara yang produk makanan cenil, dan kopi kami tentukan salah satu dari keduanya. Dan hasil rapat penentuan dipilihkan cenil sebagai peserta UKM Ekspo. Karena tim datanya lebih akurat dan mengalami perubahan pesat,” jelas Sumanto. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)