KKN Tematik Arsitektur ITN Malang mendesain rest area dan resto di Desa Kemantren, Jabung, Malang

KKN Tematik Arsitektur Desa Kemantren Bidik Wisatawan Bromo

Mahasiswa Arsitektur ITN Malang melakukan sosialisasi program KKN Tematik di Desa Kemantren, Jabung, Malang. (Foto: Istimewa)


Malang, ITN.AC.ID – Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT), Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) menjadi salah satu bentuk inovasi proses pembelajaran kepada mahasiswa di luar kampus. Baru-baru ini Program Studi Arsitektur S-1 ITN Malang usai melaksanakan KKNT di Desa Kemantren, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang.

Sebanyak lima mahasiswa arsitektur terjun ke desa untuk menggali potensi, dan keinginan warga desa dalam upaya menaikkan perekonomian dan citra desanya. Apalagi Nongkojajar – Jabung menjadi alternatif rute wisata dari atau ke Gunung Bromo.

Menurut Bayu Teguh Ujianto, ST., MT., salah satu dosen pendamping, Desa Kemantren memiliki dua lahan (besar dan kecil) yang berpotensi untuk dikembangkan. Maka mahasiswa Arsitektur ITN Malang melakukan KKNT dengan membuat desain untuk kedua lahan tersebut.

“Program ini berawal dari permintaan desa, sekaligus kelanjutan kegiatan dari semester sebelumnya. Kalau semester sebelumnya (ganjil 2022) di Desa Kemantren kami membuat eduwisata sampah. Tahun ini (semester genap) membuat rest area dan resto,” ujar Bayu. Selain Bayu dosen pendamping lainnya adalah Sri Winarni, ST MT., Amar Rizqi Afdholy, ST., MT., dan Moh. Syahru Romadhon Sholeh, S.T., M.Ars.

Baca juga : Lirik Potensi Desa Kemantren, ITN Malang Siap Terjunkan KKN Tematik

Menurut Bayu, pihak desa menginginkan ada transit jep wisata dari atau ke arah Bromo sehingga wisatawan bisa beristirahat. Maka, didesainlah lahan besar untuk rest area beserta kelengkapannya seperti pom bensin mini, mushola, toilet, amphitheater (panggung), kios UMKM, dan penginapan. Sementara lahan yang kecil difungsikan untuk bangunan dua lantai. Lantai bawah untuk resto, dan lantai atas untuk cafe.

Untuk menuju ke tahap desain, sebelumnya tim mahasiswa KKNT ITN Malang telah melakukan komunikasi dengan warga, dan pihak desa, serta melakukan kajian ke lokasi lahan yang akan dimanfaatkan. Kemudian dilanjutkan dengan tahap Focus Group Discussion (FGD) dengan warga dan pihak desa. Ada tiga kali FGD. FGD pertama untuk mengonsep dan menggali keinginan warga. FGD kedua menyampaikan kemajuan desain dan alternatif desain, dan FGD ketiga finalisasi.

KKN Tematik Arsitektur ITN Malang mendesain rest area dan resto di Desa Kemantren, Jabung, Malang. (Foto: Istimewa)

Alhamdulillah desain sudah jadi dan diserahkan ke pihak desa. Untuk realisasi fisik sepenuhnya diserahkan ke desa. Harapan kami program ini bisa berkelanjutan,” imbuhnya.

Prodi Arsitektur S-1 ITN Malang selama ini memang konsisten mengirimkan mahasiswanya mengikuti program KKNT. Menurut Bayu, dengan mengikuti KKNT mahasiswa akan mendapat ilmu dari luar perkuliahan. Di lapangan mahasiswa bisa menemukan permasalahan yang tidak ada di kampus. Karena apa yang disampaikan di perkuliahan belum tentu aplikatif di lapangan.

“Disini mereka akan belajar problem solving, praktek manajemen kerja yang kelak mereka akan temui ketika bekerja. Di dunia kerja ada people management. Bagaimana mereka bisa mengelola waktu dan mengoptimalkan produktivitas. Poin plus-nya ketika lulus banyak networking,” tandasnya.

Baca juga : Perkuat dengan MOU, ITN Malang Siap Bantu SMKN 1 Gedangan Pacu Kompetensi Peserta Didik

Amar Rizqi Afdholy, ST., MT., turut menambahkan, kegiatan KKNT mahasiswa arsitektur di Desa Kemantren hanya sebatas membuatkan desain. Sementara untuk RAB bisa ditindaklanjuti oleh Prodi Teknik Sipil S-1 ITN Malang. Ia  menginformasikan kerja sama antara Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) ITN Malang dengan dengan Desa Kemantren sudah terjalin sejak April 2022 lalu.

“Desa Kemantren sudah ada kerja sama sebelumnya dengan fakultas (FTSP) ITN Malang. Nah, kalau desa menginginkan RAB, maka bisa nanti dengan teknik sipil,” katanya. Amar juga berharap untuk KKNT selanjutnya prodi-prodi di bawah naungan FTSP ITN Malang bisa saling berkolaborasi. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)




Mahasiswa KKNT Arsitektur ITN Malang memaparkan desain Ekowisata Damping Padi di Kelurahan Merjosari, Lowokwaru, Kota Malang

KKN Tematik Mahasiswa Arsitektur Bikin Ekowisata Damping Padi

Mahasiswa KKNT Arsitektur ITN Malang memaparkan desain Ekowisata Damping Padi di Kelurahan Merjosari, Lowokwaru, Kota Malang. (Foto: Istimewa)


Malang, ITN.AC.ID – Ekowisata (ecotourism) menjadi tren saat ini. Hal ini didorong minat masyarakat untuk berwisata ke tempat-tempat yang masih alami. Fenomena ini juga dilirik oleh desa untuk mengembangkan potensi desa, serta memajukan daerahnya. Pasalnya ekowisata bisa dibuat oleh komunitas warga, atau warga desa dengan tetap berkomitmen terhadap kelestarian lingkungan, dan budaya masyarakat.

Ekowisata Damping Padi terwujud dari konsep wisata alam yang diciptakan berdampingan dengan ekosistem sawah. Didesain oleh mahasiswa Arsitektur, Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang), lewat Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN T). Program ini menjadi wujud pengabdian masyarakat di Kelurahan Merjosari, Lowokwaru, Kota Malang, Jawa Timur pada Februari hingga Juli 2023 lalu.

Menurut Jarot Wahyono, S.T., M.Ars., salah satu dosen pendamping, konsep Ekowisata Damping Padi seminimal mungkin tidak merubah lahan eksisting persawahan. Oleh sebab itu diberi nama “Ekowisata Damping Padi”, yang mana adanya lahan persawahan juga akan memperkuat keberadaan tempat wisata.

Baca juga : KKN Tematik ITN Malang Sukses Paparkan Pengembangan Wisata Dua Desa di Bangkalan

“Wisata yang kami desain konsepnya tidak merubah ataupun merusak. Kalaupun ada lahan yang diubah hanya sedikit untuk menyesuaikan dengan wisatanya,” ujar Jarot.

KKNT Arsitektur mengangkat potensi yang dimiliki masyarakat Merjosari. Seperti kuliner, area pancing, taman bermain, ditambah amphitheater berbentuk pendopo terbuka. Di lokasi tersebut terdapat mata air yang digunakan warga sebagai sumber air kolam pemancingan. Rencananya akan ada dua kolam pemancingan. Kolam besar untuk pemancingan, sementara kolam lebih kecil untuk sarana pelengkap refreshing.

Prodi Arsitektur ITN Malang menjalin kerja sama dengan Kelurahan Merjosari, Lowokwaru, Kota Malang dalam program KKN Tematik. (Foto: Istimewa)

Area wisata terlihat lebih asri dengan adanya sungai yang melintasi. Dikuatkan dengan kontur lahan wisata tetap mempertahankan keasliannya, hingga nantinya wisatawan benar-benar berada di alam pedesaan. Sementara untuk menambah keasrian juga ditawarkan pembangunan green house yang bisa ditanami berbagai tanaman, seperti sayuran, bunga, dan lain-lain. Dan tak kalah menarik adalah adanya spot foto untuk mengabadikan kedatangan wisatawan.

“Tempat wisata ini kan yang menginginkan warga, disampaikan kepada kami (Arsitektur ITN Malang). Jadi memang kami menggali keinginan warga seperti apa. Ini ada amphitheater yang bisa digunakan warga berlatih seni atau pentas kesenian,” lanjutnya.

Selain Jarot Wahyono, dosen yang ikut mendampingi KKNT di Kelurahan Merjosari adalah: Ir. Suryo Tri Harjanto, MT., Dr. Debby Budi Susanti, ST, MT., Ir. Gaguk Sukowiyono, MT., dan Komang Ayu Laksmi H.S, ST., M.Ars.

Untuk membuat desain wisata awalnya sebanyak enam mahasiswa Arsitektur yang tergabung dalam tim KKNT mengumpulkan data awal lewat kuesioner. Dilanjut dengan kegiatan Focus Group Discussion (FGD) dengan masyarakat dan aparat kelurahan setempat. FGD pertama menghasilkan tiga usulan wisata, dan FGD kedua membahas wisata yang akan didesain.

Baca juga : Tresno Baturetno, Wisata Minat Khusus Desa Penghasil Kopi Karya KKN Tematik ITN Malang Angkat 8 Isu Strategis

Menurut Jarot, melalui program KKNT selain masyarakat, mahasiswa juga banyak mendapat manfaat. Mereka mendapat pengalaman secara langsung saat terjun ke masyarakat. Bagaimana menghadapi beragamnya karakter warga, serta memberikan solusi atas bermacamnya ide yang disampaikan. Berbeda saat kuliah di kampus dengan tugas terbatas, di masyarakat mahasiswa bisa berfikir lebih kompleks.

“Terjun langsung ke masyarakat melatih mental komunikasi non akademik (mahasiswa). Posisi kami di KKNT hanya sebatas mendesain sebagai dokumen pelengkap syarat pengajuan pembiayaan. Saat ini gambar kerja tinggal revisi sedikit dan penyerahan berkas ke warga,” jelasnya. Jarot berharap kedepannya KKNT ITN Malang bisa dilaksanakan dengan tim lintas prodi. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)




Teknik Geodesi S-1 ITN Malang menggelar dies natalis ke-38 di Aula Kampus 1 ITN Malang

Semarak Dies Natalis, Teknik Geodesi Gelar Seminar Nasional Hingga Geo Entertain

Teknik Geodesi S-1 ITN Malang menggelar dies natalis ke-38 di Aula Kampus 1 ITN Malang. (Foto: Istimewa)


Malang, ITN.AC.ID – Geodetics For Indonesian Sustainable Development menjadi tajuk utama dies natalis ke-38 Teknik Geodesi S-1, Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang. Dies natalis teknik geodesi disemarakkan dengan berbagai kegiatan oleh Himpunan Mahasiswa Geodesi (HMG). Mulai seminar nasional, Geo Fun, dan Geo Entertain pada Juli 2023 lalu.

Menurut Radian Anugrah, ketua pelaksana, tema dies natalis kali ini merupakan cerminan dari komitmen HMG untuk menghadirkan kontribusi positif bagi pembangunan berkelanjutan Indonesia. Maka, di hari pertama rangkaian dies natalis dibuka dengan Seminar Nasional Cadastral Revolution. Menghadirkan narasumber Dr. Asep Yusup Saptari, S.T., M.Sc, dosen Teknik Geodesi dan Geomatika ITB.

“Bapak Asep merupakan pemateri yang ahli dan berpengalaman dalam bidang geodesi. Seminar ini menjadi kesempatan emas bagi mahasiswa untuk mendapatkan wawasan baru serta pengetahuan mendalam mengenai ilmu kegeodesian. Harapannya mahasiswa dapat mengambil manfaat dan menerapkan pengetahuan yang diperoleh untuk masa depan yang lebih baik,” ujar Radian, saat ditemui sebelum seminar nasional dimulai.

Untuk mengeratkan tali silaturahmi antar mahasiswa teknik geodesi, di hari kedua HMG menggelar “Geo Fun” dengan kegiatan olahraga basket dan volly. Berpusat di Lapangan Merah olahraga dilakukan secara fun pada sore hari. Sedangkan malam harinya ditutup dengan Geo Entertain di Aula Kampus 1 ITN Malang.

Baca juga : Hibah Software EIVA Dukung Kompetensi Dosen dan Mahasiswa Teknik Geodesi ITN Malang

Geo Entertain sebagai malam puncaknya dies natalis kami mengundang seluruh sivitas akademika teknik geodesi, teman-teman UKM, HMJ, dan alumni. Acara ini diharapkan menjadi momen menyenangkan, penuh keceriaan, serta menghadirkan kesan tak terlupakan bagi kami semua. Saya berharap semua peserta dapat berpartisipasi aktif, berbagi pengalaman, dan menciptakan kenangan berharga selama perayaan,” tuntas mahasiswa asal Maluku Utara ini.

Dr. Asep Yusup Saptari, S.T., M.Sc, dosen Teknik Geodesi dan Geomatika ITB saat memberikan seminar nasional pada dies natalis ke-38 Teknik Geodesi S-1 ITN Malang. (Foto: Istimewa)

Sementara dalam seminar nasional Dr. Asep Yusup Saptari, S.T., M.Sc, mengangkat tema Integrasi Teknologi BIM pada Konsep Smart City dalam Pengelolaan Tata Ruang For Cadastral Revolution. Lulusan geodesi yang nantinya menjadi tenaga surveyor memainkan peran penting dalam pengembangan smart city, karena bertanggung jawab untuk mengumpulkan data dan informasi geospasial yang akurat tentang infrastruktur fisik dan lansekap kota yang ada.

Menurut Dr. Asep, dalam merealisasikan smart city surveyor akan menemukan tantangan, seperti harus mengumpulkan data secara integration and interoperability dari berbagai sumber, data dalam jumlah besar secara terus menerus  dengan sistem manajemen data yang efisien, memerlukan pembaruan data real time atau hampir real time untuk memantau perubahan, memastikan keamanan data, menghasilkan tingkat akurasi dan presisi yang tinggi.

“Belum lagi urbanisasi yang cepat dan pertumbuhan infrastruktur, serta kendala biaya dan sumber daya dapat menjadi tantangan bagi para surveyor. Tak kalah penting hukum dan regulasi juga harus dipahami. Pengembangan smart city melibatkan banyak pemangku kepentingan. Surveyor harus selalu mengupdate teknologi dengan pelatihan berkelanjutan,” jelas Dr. Asep.

Baca juga : Prodi Teknik Elektro ITN Malang adakan Pembekalan Sertifikasi Kompetensi Bidang Ketenagalistrikan

Menurutnya, smart city adalah konsep baru yang relevan yang telah diadopsi tidak hanya di negara maju tetapi juga negara berkembang. Bertujuan untuk pembangunan kota yang berkelanjutan melalui pengelolaan sumber daya dan potensi yang optimal, serta menawarkan kualitas hidup yang lebih tinggi secara komprehensif kepada warganya.

“Satu lagi konsep smartization pada dasarnya diimplementasikan oleh teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dengan pengembangan big data, IoT (internet of things) dan Sistem Informasi Geografis (GIS). Kalian mahasiswa geodesi yang nantinya berperan besar dalam mewujudkan smart city,” tuntasnya. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)




Galank Vijanarki, mahasiswa Teknik Lingkungan S-1 ITN Malang, angkatan 2019

15 Agustus 23 Green Economy, Manajemen Pemanfaatan Sumber Daya Alam Sebagai Instrumen Pembangunan Berkelanjutan di Indonesia

Galank Vijanarki, mahasiswa Teknik Lingkungan S-1 ITN Malang, angkatan 2019.


Malang, ITN.AC.ID – Penggunaan sumber daya alam mempunyai peran penting dalam menentukan kehidupan manusia. Ketersediaannya dapat menyokong pembangunan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat di suatu negara. Namun sayangnya, hal ini menyebabkan ketergantungan terhadap penggunaan sumber daya alam yang berlebihan. Sehingga menimbulkan dampak negatif menjadikan kualitas dan kuantitas lingkungan terancam. Manajemen pengelolaan sumber daya alam yang baik harus segera dilakukan untuk dapat mendukung pembangunan negara yang terintegrasi dengan prinsip kelestarian lingkungan sebagai bahan pertimbangan utama.

Masalah yang dihadapi dalam pembangunan ekonomi yang patut menjadi perhatian kita adalah cara untuk menghadapi trade off antara pembangunan, dan pelestarian lingkungan. Dalam jangka pendek, transformasi ekonomi akan berdampak pada peningkatan pendapatan negara, peningkatan pertumbuhan ekonomi serta penurunan angka kemiskinan. Akan tetapi dalam jangka panjang pembangunan ekonomi hari ini sering mengesampingkan aspek lingkungan hidup yang bisa berdampak negatif pada kehidupan seperti deforestasi, global warming, climate change, pencemaran air, udara, dan juga tanah yang menyebabkan menurunnya kualitas daya dukung atau daya tampung lingkungan.

Indonesia sendiri masih memiliki banyak pekerjaan rumah terkait masalah degradasi lingkungan akibat dari kegiatan investasi. Kegiatan investasi membuka gerbang besar alih fungsi lahan yang mengancam eksistensi hutan dan sumber daya lainnya. Padahal dalam pandangan konstitusi, yang termuat pada pasal 33 UUD 1945 menerangkan bahwa perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi, berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional.

Baca juga : Mahasiswa PWK ITN Malang Juara 2 Poster di UGM, Tuangkan Ide Tingkatkan Kualitas Pembangunan Ekonomi

Sementara terbitnya UU Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja yang bertujuan untuk menyederhanakan birokrasi, kemudahan perizinan, termasuk dalam persetujuan lingkungan menjadi kontroversi di kalangan masyarakat. Karena dipandang kelonggaran tersebut menjadi celah bagi investor untuk mengeksploitasi lingkungan. Di satu sisi, hal ini juga menjadi tantangan tersendiri bagi penegak hukum, aparat pengawas untuk memaksimalkan perannya dalam mengawasi kegiatan usaha yang menopang ekonomi dengan tidak merusak lingkungan.

Pelajar SMA Nasional Malang saat berkunjung ke pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di Kampus 2 ITN Malang. PLTS menjadi salah satu upaya untuk mendukung mewujudkan green economy.

Secara teoritis hubungan antara pertumbuhan ekonomi dan degradasi lingkungan telah dijelaskan dalam hipotesis Environmental Kuznets Curve (EKC) yang dipublikasikan oleh Grossman dan Krueger tahun 1995. Teori tersebut menjelaskan bahwa tingkat degradasi lingkungan suatu wilayah akan semakin meningkat seiring dengan meningkatnya pendapatan dan laju perekonomian di wilayah tersebut. Namun, setelah sampai pada titik maksimum pertumbuhan tersebut manusia akan memikirkan strategi untuk dapat menghasilkan kualitas lingkungan yang lebih baik. Hal ini juga didorong oleh kemajuan teknologi dan transisi ekonomi yang berbasis jasa. Untuk menghadapi transisi tersebut maka perlu adanya strategi perbaikan pembangunan ekonomi nasional yang berorientasi pada pemanfaatan sumber daya alam secara baik dan sesuai regulasi dengan memperhatikan daya dukung dan daya tampung ekosistemnya. Proses transisi ekonomi nasional tidak hanya bersifat business as usual  melainkan harus lebih bersifat pada konsep ekonomi hijau (green economy).

Konsep green economy pertama kali dikenalkan pada tahun 1984 oleh Pearce, Markandeya, dan Barbier dalam bukunya Blueprint For a Green Economy. Konsep tersebut menjelaskan bahwa ekonomi hijau atau green economy merupakan sebuah sistem kegiatan ekonomi mulai dari produksi, distribusi, serta konsumsi barang dan jasa untuk memperoleh kesejahteraan masyarakat. Dengan memperhatikan asas keberlanjutan dengan meminimalisir potensi kerusakan lingkungan. Konsep ekonomi hijau bergantung pada tiga hal yaitu pengurangan emisi karbon, efisiensi energi yang lebih besar dan penggunaan sumber daya alam, serta mencegah hilangnya keanekaragaman hayati dan jasa ekosistem.

Menerapkan komitmen reducing emission from deforestation and degradation (REDD) menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah dan juga pelaku bisnis di Indonesia untuk menjalankan konsep ekonomi hijau secara utuh dan maksimal. Untuk mencapai transisi menuju ekonomi hijau terdapat beberapa sektor yang patut diperhatikan diantaranya mengurangi kemiskinan, investasi dengan modal alam dan pemulihannya, menciptakan lapangan kerja, meningkatkan kesetaraan sosial, serta mendorong ekonomi terbarukan.

Baca juga : Manfaatkan Momentum Rakernas, Ikatan Mahasiswa Teknik Lingkungan Indonesia Gelar Diskusi Isu Lingkungan

Pendekatan ekonomi hijau diharapkan menjadi solusi atas kebijakan atau konsep pembangunan ekonomi nasional sebelumnya dengan mengintegrasikan aspek pelestarian lingkungan dan pertumbuhan ekonomi. Sehingga dapat diartikan bahwa konsep green economy dapat menjadi strategi manajemen pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya alam sebagai instrumen penting dalam mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan atau sustainable development goals (SDGs).

Upaya pencapaian target SDGs menjadi prioritas nasional, yang sangat memerlukan sinergitas perencanaan dari tingkat nasional sampai pada tingkat daerah. Target SDGs ini telah termuat dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024 baik itu bentuk program, kegiatan dan indikator yang terukur serta indikasi dukungan pembiayaan.




Aulia Dzakiyyah Nur Laili mahasiswa baru Teknik Sipil S-1 ITN Malang meraih juara 1 pada dua kategori 3

Aulia Dzakiyyah Nur Laili, Bibit Baru Atlet Perisai Diri Lahir di ITN Malang

Aulia Dzakiyyah Nur Laili mahasiswa baru Teknik Sipil S-1 ITN Malang meraih juara 1 pada dua kategori sekaligus di Kejuaraan Nasional ke-27 Silat Perisai Diri Antar Perguruan Tinggi Tahun 2023.


Malang, ITN.AC.ID – Aulia Dzakiyyah Nur Laili menjadi salah satu atlet berbakat yang dimiliki Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang). Aulia baru saja meraih dua juara pada Kejuaraan Nasional ke-27 Silat Perisai Diri Antar Perguruan Tinggi Tahun 2023. Yakni, meraih Juara 1 Solospel Putri, dan Juara 1 Tanding Kelas E Putri pada Kejurnas Perisai Diri yang diselenggarakan di Gor Pajajaran Bandung, pada 2-6 Agustus 2023 lalu.

Kejurnas Silat Perisai Diri Antar Perguruan Tinggi 2023 diikuti sekitar 300 atlet dari 61 kontingen perguruan tinggi di seluruh Indonesia. Event ini memperebutkan Piala Bergilir Presiden Republik Indonesia. Aulia sendiri merupakan mahasiswa baru dari Prodi Teknik Sipil S-1 ITN Malang angkatan 2023.

“Bangga rasanya baru mendaftar di ITN Malang langsung diijinkan mewakili kampus di kejurnas perti (perguruan tinggi) Perisai Diri. Ini merupakan kejuaraan kali pertama saya, dan langsung mendapat juara satu,” ujar Aulia saat ditemui di Ruang Humas ITN Malang.

Aremanita ini berlatih silat Perisai Diri sejak ia duduk di bangku SMA. Namun baru mendapat kesempatan mengikuti kejuaraan awal masuk menjadi mahasiswa baru ITN Malang. Ketertarikannya pada seni silat Perisai Diri ada pada gerakan yang menurutnya terlihat lebih luwes, tenang, tapi keras dan mematikan.

“Menurut saya gerakan Perisai Diri itu tenang, indah, rapi, penuh ketangkasan. Termasuk perguruan pencak silat yang tekniknya mematikan,” imbuhnya.

Baca juga : Awalnya Sulit Dapatkan Poin, Akhirnya Richard Elber Barends Raih Juara 1 Kejuaraan Karate Piala Pangdam V Brawijaya 2023

Perisai Diri didirikan oleh RM Soebandiman Dirdjoatmodjo di Kota Surabaya, Jawa Timur. Beliau akrab disapa Pak Dirdjo, merupakan putra bangsawan Keraton Paku Alam. Perisai Diri memiliki 156 aliran silat dari berbagai daerah di Indonesia ditambah dengan aliran Shaolin (Siauw Liem) dari negeri Tiongkok. Perisai Diri menjadi salah satu dari sepuluh perguruan silat yang mendapat predikat Perguruan Historis, karena mempunyai peran besar dalam sejarah terbentuk dan berkembangnya Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI).

Aulia Dzakiyyah Nur Laili mahasiswa baru Teknik Sipil S-1 ITN Malang dengan medali Juara 1 Solospel Putri, dan Juara 1 Tanding Kelas E Putri pada Kejurnas Perisai Diri Antar Perguruan Tinggi 2023. (Foto: Istimewa)

Di Kejurnas Perti Perisai Diri, Aulia Juara 1 Solospel Putri. Ada sekitar 50 atlet dalam kelas ini. Solospel merupakan seni pencak silat yang diperagakan oleh pesilat tunggal dengan menampilkan kombinasi gerakan-gerakan intisari bela diri. Rangkaian gerakan solospel Perisai Diri merupakan kombinasi teknik asli Perisai Diri yang harus dilatih hingga mencapai kecepatan minimal, dan gerakan tertentu.

“Di solospel ada 40 gerakan. Seperti teknik mliwis, teknik naga, teknik kuntul, dan lain-lain. Paling tinggi teknik putri, biasanya teknik ini untuk ujian para pendekar. Alhamdulillah kemarin saya ingat urutan gerakannya. Sebenarnya wajar kalau lupa urutan, asalkan tidak sampai berhenti karena lupa,” jelas Aulia.

Sementara pada Kejurnas Tanding Kelas E Putri diperebutkan oleh lima atlet dengan berat badan 65-70kg, dan Aulia menyabet juara 1. Menurutnya lawan paling berat saat final menghadapi atlet dari Universitas 11 Maret. Ditambah lagi saat final di hari terakhir semua mata penonton tertuju pada gelanggang. Ini membuat Aulia harus benar-benar bisa menjaga mentalnya saat bertanding.

“Lawan memiliki bodi lebih tinggi, dan besar untuk kelas 65-70 kg. Dia jago dalam tangkapan dan bantingan, namun tendangannya tidak begitu. Makanya saya agak kesulitan mendapat di poin bantingan. Jadi saat lawan menendang langsung saya tangkap, disinilah saya dapat poin,” ulasnya.

Ketangkasan Aulia dalam bertanding berbuah dari latihan secara konsisten, dan tekun. Sedangkan mentalnya teruji sejak berlatih berpasangan dengan teman atlet laki-laki. Pasalnya dalam kelas 65-70 kg ia tidak mendapat teman atlet putri yang seimbang. Maka, ketika Aulia mendapat tawaran mengikuti kejurnas kategori fight ia langsung setuju.

Baca juga : Taekwondo ITN Malang Borong 8 Medali Kejurnas Piala Menpora

“Semoga kedepan UKM Perisai Diri ITN Malang bisa eksis kembali. Karena waktu kejurnas banyak para tetua yang menyapa saya karena mewakili ITN. Mereka pada menanyakan kabar Perisai Diri ITN Malang. Bahkan saya juga sempat bertemu dengan alumni,” kenangnya. Aulia termotivasi ikut olahraga bela diri untuk bekal mempertahankan diri saat menghadapi kejahatan, sekaligus melatih mental dan hidup sehat. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)