Anindya Aulia Rachmandari mahasiswa Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK), ITN Malang finalis Duta Pariwisata Jawa Timur 2023

Mahasiswa PWK ITN Malang Best Video Profil Duta Pariwisata Jawa Timur 2023

Anindya Aulia Rachmandari mahasiswa Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK), ITN Malang finalis Duta Pariwisata Jawa Timur 2023. (Foto: Istimewa)


Malang, ITN.AC.ID – Siapa yang tidak kenal Kota Malang. Kota terbesar kedua di Jawa Timur ini memiliki banyak julukan. Kota Malang selain sebagai kota pendidikan juga terkenal sebagai kota pariwisata yang memiliki 23 destinasi wisata kampus tematik. Sejarah panjang terbentuknya Kota Malang salah satunya bisa dilihat dari adanya Kampung Heritage Kajoetangan, dan Kampung Wisata Keramik Dinoyo. Bahkan Desa Wisata Kampung Heritage Kajoetangan masuk 75 desa wisata terbaik Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2023.

Keragaman wisata Kota Malang dengan keindahan sudut kotanya yang cantik, tentunya menghasilkan video visualisasi yang apik. Video karya Anindya Aulia Rachmandari, mahasiswa Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK), Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) ini berhasil meraih “Best Video Profil” Duta Pariwisata Jawa Timur 2023. Malam puncak grand final dilaksanakan oleh Yayasan Abhiyya Parama Mavendra, di Gedung Teater Balai Pemuda Surabaya, Sabtu (10/06/2023).

“Semua finalis (Duta Pariwisata) sebelumnya memang diminta membuat video perkenalan diri dan profil. Video saya selain memperkenalkan diri juga menampilkan potensi pariwisata, sejarah, keragaman seni budaya, dan penataan Kota Malang. Apalagi saya dari jurusan PWK. Mungkin ini yang membedakan video saya dengan peserta lainnya. Tidak menyangka juga akhirnya bisa mendapatkan best video profil,” kata Aulia biasa disapa saat ditemui di Ruang Humas ITN Malang, Kamis (15/6/2023).

Baca juga : Anindya Aulia Rachmandari jadi Duta Favorit Duta Anti Narkoba Kota Malang 2023

Dalam videonya Aulia mengangkat potensi wisata Kampung Heritage Kajoetangan, Kampung Tematik Warna Warni, dan Kampung Wisata Tridi yang menyajikan spot foto dengan galeri tiga dimensi serta warna tembok yang berwarna-warni menambah estetika kampung. Dara asli Kota Malang ini pun turut mengangkat Kampung Keramik Dinoyo yang sudah ada sejak 1950-an. Tak lupa dalam bidang seni, Tari Beskalan Putri Malang yang merupakan salah satu aset kebudayaan seni tari khas Kota Malang juga diangkat. Tari Beskalan Putri merupakan tarian tertua di Kota Malang.

“Sebenarnya banyak potensi wisata di Kota Malang, tapi saya lebih tertarik ke kampung tematik dan heritage. Karena ini yang sedang kekinian. Sebagai perwujudan Kota Malang sebagai kota industri dan pariwisata, saya juga menampilkan UMKM keramik Dinoyo. Di sini saya juga mencoba membuat keramik bersama pengrajin,” bebernya.

Anindya Aulia Rachmandari, mahasiswa Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK), ITN Malang meraih “Best Video Profil” Duta Pariwisata Jawa Timur 2023, di Gedung Teater Balai Pemuda Surabaya, Sabtu (10/06/2023). (Foto: Istimewa)

Kuatnya materi video Aulia tidak lepas dari peran para dosen yang turut memberi masukan. Seperti Dr. Ir. Ibnu Sasongko, MT, dan Mohammad Reza, ST., MURP dosen PWK, serta Ir. Budi Fathony, MT dosen Arsitektur ITN Malang. Sedangkan alur cerita video digarap oleh Activisual Studio.

Ajang pemilihan Duta Pariwisata Jawa Timur tersebut diikuti oleh 32 finalis dari seluruh kabupaten/kota di Jatim. Mereka merupakan pilihan dari total 200 lebih peserta dari seluruh wilayah Jawa Timur. Sebelum memasuki grand final peserta mengikuti serangkaian tes tulis, dan wawancara. Sedangkan untuk karantina dilaksanakan di Hotel Trio Indah 2 Malang selama tiga hari.

Menurut Aulia banyak kegiatan yang diikuti selama karantina. Seperti photo shoot, membuat program kerja paguyuban, membuat esai tourism program yang kemudian dipresentasikan. Peserta juga mengikuti motion challenge, mereka diberi pertanyaan seputar pariwisata dan diminta menjawab setuju atau tidak beserta alasannya. Ada juga preliminary competition atau kompetisi pra eliminasi dengan menjurikan gaun etnik/gaun daerah.

“Saya membawakan batik Teratai berwarna merah dari Sengguruh Malang. Modelnya saya desain sendiri. Jadi saat speech competition saya mengenakan batik tersebut. Dari sekian kegiatan yang paling menantang adalah deep interview, karena dilakukan tengah malam sehabis kegiatan. Benar-benar lelah tapi, tapi menantang,” kenangnya.

Dalam perjalanan ajang duta, sebelumnya Aulia juga pernah meraih Top 5 Miss Cyber Mall Malang 2022, dan Juara Favorit Duta Anti Narkoba Kota Malang 2023. Dara cantik ini awalnya mengaku ingin menjadi artis, namun semakin banyak pengalaman akhirnya cita-cita besarnya ingin menjadi pengusaha.

Baca juga : Olahraga Menantang, Anggota Himakpa Juara Harapan Rafting Piala Wali Kota Surabaya

“Kedepan pengennya bisa konsisten (berprestasi), dengan tidak meninggalkan kuliah. Ingin berprestasi juga di bidang akademik. Mungkin harus fokus kuliah dulu ya, karena tugas semakin banyak. Kalau ada kesempatan tahun depan ikut lagi ajang di Jatim lagi atau nasional. Terima kasih untuk semuanya karena sudah mendukung saya, semoga menginspirasi,” tandasnya. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)




Jauhari Tantowi, mahasiswa Teknik Geodesi S-1, ITN Malang sedang mengajar di Sekolah Pesisi Juang, Kota Mataram, NTB

Mahasiswa Teknik Geodesi Mendirikan Sekolah untuk Anak Nelayan

Jauhari Tantowi, mahasiswa Teknik Geodesi S-1, ITN Malang sedang mengajar di Sekolah Pesisi Juang, Kota Mataram, NTB. (Foto: Istimewa)


Malang, ITN.AC.ID – Ditengah pandemi covid-19 beberapa waktu lalu banyak menyisakan kisah. Mulai kekhawatiran tertular covid-19, terkena PHK, putus sekolah, serta turunnya perekonomian masyarakat, dan masih banyak yang lainnya. Namun, dibalik itu ternyata masih ada kisah-kisah inspiratif.

Adalah Sekolah Pesisi Juang hadir bagi anak-anak Pesisir Bintaro, Kota Mataram, NTB. Sekolah Pesisi Juang didirikan tahun 2020 atas kerja sama dan kemauan para pemuda yang berinisiatif untuk mengembangkan semangat belajar anak-anak yang ada di Pesisir Bintaro, Kota Mataram.

Sekolah Pesisi Juang adalah sekolah alternatif yang bersifat non formal. Sekolah ini diinisiasi oleh Jauhari Tantowi, mahasiswa Teknik Geodesi S-1, Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang).

Pendirian sekolah diharapkan mampu mengatasi kebosanan anak-anak saat belajar di rumah. Sekaligus menyambut himbauan dari pemerintah yang mewajibkan pembatasan aktivitas, dan belajar dilakukan dari rumah akibat pandemi covid-19.

Tentu adanya kondisi tersebut juga berdampak pada kemampuan anak-anak di Bintaro. Terlihat pada saat pembelajaran berlangsung, banyak anak mengkonsultasikan tugas sekolah yang diberikan oleh guru mereka kepada volunteer atau pengajar di Sekolah Pesisi Juang.

“Adik-adik di kampung nelayan saat pandemi susah mendapatkan akses belajar daring. Mereka harus menyewa handphone dua ribu rupiah per jam untuk belajar daring,” kata Jauhari saat dihubungi lewat sambungan WhatsApp awal Juni 2023 lalu.

Selain itu menurut Jauhari, tujuan Sekolah Pesisi Juang didirikan juga untuk membantu meningkatkan indeks pembangunan manusia yang ada di pesisir kota, serta memberikan pendidikan yang layak untuk mereka yang membutuhkan.

Baca juga : HMJ ITN Malang Peduli Korban Banjir Bandang NTT dan NTB

Sekolah Pesisi Juang berfokus pada literasi anak pesisir. keberadaan sekolah cukup memberikan dampak positif di kalangan masyarakat Bintaro. Hal tersebut diketahui dari respon orang tua yang antusias melihat anaknya ikut serta belajar di sekolah ini.

Pembelajaran pertama kalinya berlangsung pada tanggal 18 Juni 2020. Sekolah ini tempatnya tepat di pesisir pantai Bintaro, Jl. Moh Ruslan, RT. 04 Lingkungan Bintaro Jaya, Kelurahan Bintaro, Kecamatan Ampenan. Luas tanah yang menjadi tempat belajar anak-anak Bintaro berukuran 6 m x 10 m. Dengan dana swadaya bersama beberapa pemuda yang terlibat mereka mendirikan sekolah di pinggir Pantai Ampenan.

Aktivitas belajar di Sekolah Pesisi Juang, Kota Mataram, NTB. (Foto: Istimewa)

“Fasilitas yang tersedia di sekolah ini merupakan donasi dari berbagai kalangan masyarakat. Donasi berupa alat-alat tulis, buku bacaan, rak buku, dan masih banyak lagi. Adanya ketersediaan fasilitas ini dapat menunjang keberlangsungan pembelajaran, serta lebih memberikan motivasi pada anak-anak di Bintaro,” lanjut Jauhari.

Pengajar Sekolah Pesisi Juang adalah volunteer/pengajar dari mahasiswa berbagai universitas. Sistem pengajaran di sekolah disesuaikan dengan kebutuhan anak-anak. Khususnya mata pelajaran yang materinya sudah diterima, namun belum terlalu dipahami oleh anak-anak.

Proses pembelajarannya berfokus pada tujuan utama belajar, dengan metode belajar sambil bermain. Permainan yang disertakan dalam pembelajaran ini juga dapat meningkatkan kemampuan siswa selama proses pembelajaran. Pembagian kelas terdiri dari dua kelas sesuai dengan jenjang sekolah formal. Terdiri dari kelas A untuk usia pra-sekolah hingga kelas 3 SD, dan kelas B untuk usia 10 tahun atau kelas 4 SD hingga jenjang SMP.

Dukungan terhadap Sekolah Pesisi Juang banyak mengalir dari masyarakat. Salah satunya Bapak Jupri salah satu tokoh masyarakat sekitar.

“Kami sangat mendukung. Anak-anak kami bisa dapat kemajuan (belajar) berkat adanya Sekolah Pesisi Juang. Biaya sekolah paud cukup mahal, jadi sekolah ini bisa sebagai alternatif orang tua, dan juga bisa menjadi tempat bermain yang baik,” tutur Jupri.

Baca juga : KKN Tematik ITN Malang Sukses Paparkan Pengembangan Wisata Dua Desa di Bangkalan

Seiring berjalannya waktu, Sekolah Pesisi Juang semakin banyak dikenal. Pasalnya kegiatan belajar mereka selalu diunggah di media sosial. Hal ini menarik beberapa himpunan mahasiswa dan organisasi di luar kampus yang berdatangan melakukan pengabdian di Sekolah Pesisi Juang.

Menurut Jauhari, hadirnya sekolah berbasis non formal di daerah pesisir Pantai Bintaro ini diharapkan menjadi wadah anak-anak untuk mengembangkan kemampuannya baik dari segi sosial, kognitif, hingga psikomotorik.

“Sampai sekarang masih terus berlanjut. Harapannya bakat ataupun skill yang dimiliki anak sejak dini bisa diketahui dan dikembangkan. Sehingga anak-anak mampu mengenali dirinya sendiri secara lebih mendalam,” tandasnya. (Jauhari Tantowi, Mita Erminasari/Humas ITN Malang)

Internship Humas ITN Malang: Jauhari Tantowi, mahasiswa Teknik Geodesi S-1, ITN Malang, angkatan 2017.