Tim Spectra Ambis Raih Juara Harapan 1 Kompetisi Tender di Universitas Wijaya Kusuma. Kika Muhammad Rafiqy Farhan, Yuda Arya Pangestu, dan Adam Fahrizal Aulia

Tim Spectra Ambis Raih Juara Harapan 1 Kompetisi Tender di Universitas Wijaya Kusuma

Tim Spectra Ambis Raih Juara Harapan 1 Kompetisi Tender di Universitas Wijaya Kusuma. Kika: Muhammad Rafiqy Farhan, Yuda Arya Pangestu, dan Adam Fahrizal Aulia. (Foto: Istimewa)


Malang, ITN.AC.ID – Proyek konstruksi dalam dunia teknik sipil tidak bisa lepas dari proses pelelangan pengadaan barang dan jasa, atau tender. Penyelenggaraan, dan peserta lelang harus dipahami betul oleh mahasiswa teknik sipil. Hal inilah yang ingin digali oleh mahasiswa Teknik Sipil S-1 Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang).

Bergabung dalam Tim Spectra Ambis, tiga mahasiswa Teknik Sipil ITN Malang mencoba keberuntungan mengikuti kompetisi tender. Tim Spectra Ambis meraih juara harapan 1 Civil Tender Competition, Discovery 3.0 Universitas Wijaya Kusuma (UNWIKU) Purwokerto. Prestasi ini menyusul rekan Spectra lainnya, Tim Spectra Doa Daddy ITN Malang yang berhasil menyabet juara 2 Balsa Bridge Competition pada perhelatan di universitas yang sama.

Tim Spectra Ambis terdiri dari Yuda Arya Pangestu, Adam Fahrizal Aulia, dan Muhammad Rafiqy Farhan. Ketiganya mengikuti final offline di Kampus UNWIKU pada Sabtu-Minggu (10-11/6/2023).

“Kami mengikuti lomba tender selain untuk menambah pengalaman juga ingin meneruskan title juara-juara tender Spectra sebelumnya. Bahwa Spectra ITN Malang masih konsisten mengirimkan timnya dalam perlombaan ketekniksipilan,” kata Yuda.

Baca juga : Doa Daddy Membawa Berkah, Tim Spectra ITN Malang Juara 2 Balsa Bridge Competition Nasional

Perlu diketahui, sebelumnya Yuda beserta Tim Spectra pernah menyabet Juara 1 Civil Tender Competition CEEXO, Universitas Kristen Indonesia (UKI) pada Mei 2023 lalu. Ia juga pernah mendapat Juara Kategori Inovasi dan Strategi Terbaik, pada Lomba Tender Nasional, Civil Zone Universitas Mataram (Unram) 2022.

Spectra Ambis hanya memiliki waktu kurang lebih satu bulan untuk membuat dokumen penawaran. Dokumen penawaran mereka berisi inovasi, dan strategi yang sesuai dengan tema lomba, yakni Inovasi dan Strategi yang Efektif dan Efisien.

Yuda Arya Pangestu beserta Tim Spectra Ambis ITN Malang sedang melakukan presentasi di Universitas Wijaya Kusuma. (Foto: Istimewa)

Peserta kompetisi ditantang menyusun dokumen penawaran dari pembangunan gedung Fakultas Hukum UNWIKU yang memiliki tinggi 7 lantai, serta luas bangunan 50,1 x 27,6 m2. Dengan membuat dan menghitung RAB, serta membuat strategi pembangunan. Spectra Ambis menawarkan inovasi-inovasi yang bisa diimplementasikan pada proyek untuk mempercepat durasi pembangunan proyek itu sendiri.

“Pada tahap final, kami mempresentasikan dokumen penawaran yang telah kami tawarkan di hadapan 3 dewan juri. Mereka berlatar belakang kepala bidang pengadaan, dan dua juri berlatar belakang kelompok kerja (POKJA),” lanjut Yuda.

Pada kompetisi kali ini Spectra Ambis mengajukan penawaran pembangunan gedung dengan harga lebih hemat daripada harga pagu yang ditetapkan. Waktu pengerjaan 270 hari. Waktu ini 120 hari lebih singkat dibanding maksimal waktu pekerjaan pembangunan yang telah ditetapkan.

“Dengan mengikuti lomba banyak pengalaman yang kami dapat. Semoga mahasiswa teknik sipil kedepannya lebih tertarik mengikuti lomba. Tidak peduli kalah dan menang, yang penting jiwa kompetitif dari mahasiswa sipil perlu diciptakan dan dipelihara,” katanya.

Baca juga : Dorong Penerimaan Mahasiswa Baru, ITN Malang Eratkan Silaturahmi dengan Sekolah Dibawah Naungan Yayasan

Untuk mengikuti lomba ketekniksipilan caranya mudah. Segala informasi lomba bisa dilihat di dalam postingan instagram @spectra_hms. Mahasiswa Teknik Sipil ITN Malang bisa langsung menghubungi narahubung Spectra yang terdapat di bio Instagram atau di dalam postingan tersebut.

Bila mahasiswa memperoleh informasi lomba dari tempat lain, maka mahasiswa bisa mengirim informasi tersebut kepada Spectra. Untuk mengikuti lomba mahasiswa sipil ITN Malang tinggal mengirimkan data pribadi seluruh anggota tim. Sementara untuk administrasi, pembinaan, hingga akomodasi saat final offline akan difasilitasi oleh Spectra. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)




M. Nelza Mulki Iqbal, ST., M.Sc., dosen Arsitektur S-1, Institut Teknologi Nasional Malang meraih penghargaan Kompetisi Poster

Dosen Arsitektur ITN Malang Menangkan Dua Kategori Research Poster Competition di University of Sheffield, Inggris

M. Nelza Mulki Iqbal, ST., M.Sc., dosen Program Studi Arsitektur S-1, Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang), bersama karyanya sebagai penenang “Best Research Idea Year 1” dan “Researchers’ Choice” pada Kompetisi Poster Penelitian Sheffield School of Architecture 2023 di University of Sheffield, Inggris. (Foto: Istimewa)


Malang, ITN.AC.ID – M. Nelza Mulki Iqbal, ST., M.Sc., dosen Program Studi Arsitektur S-1, Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang), meraih penghargaan “Best Research Idea Year 1” dan “Researchers’ Choice” dalam Kompetisi Poster Penelitian Sheffield School of Architecture 2023 di University of Sheffield, Inggris, pada Mei 2023 lalu. Prestasi tersebut diraih oleh Nelza setelah mempresentasikan risetnya yang berjudul Decentring Community-Based Architecture Education: A Critical Pedagogy Analysis in Indonesian Context.

Nelza merupakan salah satu LPDP Awardee Kemendikbud RI, yang saat ini sedang menjalani program doktoral di Sheffield School of Architecture (SSoA), Inggris sejak Oktober 2022. Pada tahun pertama kuliahnya, ia berhasil mencatatkan prestasi sebagai ide penelitian terbaik doctoral tahun pertama dan penelitian pilihan para peneliti dalam kompetisi poster ilmiah tahunan SSoA, mengungguli puluhan mahasiswa dari berbagai negara.

Baca juga : Angkat Resilience Communities, Makalah Dosen Arsitektur ITN Malang Raih Best Paper di Architecture and Design International Conference 2021

Menurut Nelza, tujuan kompetisi tersebut adalah untuk mempersiapkan dan melatih para peneliti pascasarjana serta peneliti karir awal agar dapat terhubung, dan berkomunikasi secara efektif dengan peneliti lain terutama di luar tim supervisor. Menurutnya, kemampuan komunikasi merupakan keterampilan penting yang dapat dikembangkan melalui partisipasi dalam kegiatan ekstrakurikuler seperti konferensi, kompetisi, dan networking.

“Diseminasi riset dapat dilakukan dalam berbagai bentuk, termasuk poster ilmiah. Namun, menyampaikan penelitian melalui poster tentu memiliki tantangan tersendiri, terutama dalam bidang arsitektur di mana aspek visual menjadi salah satu aspek utama,” ujar Nelza.

M. Nelza Mulki Iqbal, ST., M.Sc., dosen Arsitektur ITN Malang usai mendapat penghargaan Kompetisi Poster Penelitian Sheffield School of Architecture 2023 di University of Sheffield, Inggris. (Foto: Istimewa)

Acara tersebut diselenggarakan secara hibrida dengan kombinasi presentasi tatap muka dan online. Setiap peserta diberikan waktu maksimal 3 menit untuk mempresentasikan proyek penelitiannya. Semua poster yang dikirimkan, baik oleh peserta yang hadir secara langsung maupun online, dipamerkan di Gedung Kuliah utama SSoA, Arts Tower.

Nelza mendapatkan penghargaan dalam kategori “Researchers Choice” (pilihan para peneliti) dan “Best Research Idea Year 1”. Poster yang dibuatnya mencakup latar belakang dan posisi Nelza terkait proyek arsitektur berbasis komunitas yang dimulai saat ia menyelesaikan studi magister di Inggris, pengalaman kerja dengan NGO Arsitektur dalam konteks permukiman informal di Jakarta, serta penggunaan Riset Grant MBKM untuk melakukan penelitian bersama masyarakat desa dengan mahasiswa Arsitektur, dan Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) dari ITN Malang. Selain itu, poster juga memuat tinjauan literatur awal terkait diskursus pedagogi pendidikan arsitektur berbasis masyarakat dan kerangka filosofi yang digunakan dalam penelitian doktoralnya.

Baca juga : Tresno Baturetno, Wisata Minat Khusus Desa Penghasil Kopi Karya KKN Tematik ITN Malang Angkat 8 Isu Strategis

“Nyaris tak dapat dipercaya bisa mendapatkan apresiasi dari kampus, di mana juri-jurinya tidak hanya dosen-dosen senior, tetapi juga kepala departemen yang merupakan professor berpengaruh di Inggris. Ketika kami berjabat tangan, beliau mengatakan, ‘Kami belum pernah bertemu sebelumnya, tetapi sekarang kami mengenal Anda, dan akan melihat Anda berkembang dalam beberapa tahun ke depan.’ Tentu saja, hal ini menjadi motivasi bagi saya untuk memberikan yang terbaik di tahun-tahun mendatang,” ungkap Nelza dengan semangat.

Sebagai pemenang, Nelza menerima hadiah berupa uang tunai sebesar £250 dan voucher belanja Amazon senilai £100. Para pemenang juga akan menerima sertifikat penghargaan dan apresiasi dari penyelenggara. Poster yang dihasilkan oleh Nelza juga diminta untuk menjadi bagian dari promosi Sheffield School of Architecture dalam acara-acara lainnya. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)




Mahasiswa Teknik Lingkungan S-1 ITN Malang kerja bakti di Desa Sukodadi RT 05 Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang.

Mahasiswa Teknik Lingkungan ITN Malang Lakukan Projek Kewarganegaraan

Mahasiswa Teknik Lingkungan S-1 ITN Malang kerja bakti di Desa Sukodadi RT 05 Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang. (Foto: Istimewa)


Malang, ITN.AC.ID – Mahasiswa Teknik Lingkungan S-1, Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) melakukan Proyek Kewarganegaraan di Desa Sukodadi RT 05 Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang, selama dua hari Sabtu-Minggu (10-11/6/2023). Proyek ini merupakan tugas dari mata kuliah Kewarganegaraan semester 4. Mata kuliah Kewarganegaraan mencakup 17 tema dalam SDGs Pembangunan Berkelanjutan.

Tergabung dalam proyek ini adalah Jean Will, Ramadhani, Maria Rosly Dwiputri, Raquela Abi, Tessaleonyka M.H, dan Dini Febriana. Semuanya merupakan mahasiswa angkatan 2021. Dari 17 SDGs mereka mengambil tema “Kehidupan Sehat dan Sejahtera”.

“Tema itu cocok dengan basic keilmuan kami di teknik lingkungan. Jadi kami mempunyai sebuah konsep dengan terjun langsung ke masyarakat untuk memberi edukasi, dan melakukan kerja bakti,” ucap Ramadhani.

Proyek tersebut diberi judul Proses Penerapan Berperilaku Hidup Sehat dan Sejahtera. Sebelum terjun ke masyarakat mereka terlebih dahulu melakukan komunikasi dengan ketua RT. Sehingga masyarakat sekitar menyambut hangat para mahasiswa yang datang ke desa. Di sana mahasiswa melakukan sosialisasi ke warga tentang kehidupan sehat dan sejahtera.

Tujuan hidup sehat dan sejahtera adalah untuk menjamin kehidupan yang sehat dan mendorong kesejahteraan bagi semua orang di segala usia. Cara mewujudkan kehidupan sehat dan sejahtera sebenarnya mudah. Masyarakat hanya perlu mengucap syukur dalam segala hal, selalu bergembira, berdoa, makan makanan yang sehat, olahraga teratur, tidur cukup, hidup rukun dengan sesama, berpikir positif, dan selalu berbuat baik terhadap sesama.

“Mahasiswa tidak hanya butuh teori, tapi juga perlu terjun langsung ke lapangan untuk menambah soft skill, dan hard skill. Ini sekaligus sebagai peran serta mahasiswa dalam mengimplementasikan ilmu dan idenya secara langsung,” imbuh Rama panggilan akrab Ramadhani.

Sementara itu menurut Maria Rosly Dwiputri, hidup sehat dan sejahtera dilakukan baik dalam keluarga maupun dalam lingkungan, karena menyangkut kesejahteraan individu, masyarakat, dan bumi sendiri. Dengan menjaga kesehatan pribadi, akan berkontribusi pada kesehatan masyarakat, melindungi lingkungan, dan mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Baca juga : Rakernas IMTLI 2023: Bersama Ikatan Mahasiswa Teknik Lingkungan Indonesia Menuju Indonesia Lestari

Sebenarnya ada 38 target SDGs di sektor kesehatan yang perlu diwujudkan. Ada permasalahan yang belum tuntas ditangani, seperti upaya penurunan angka kematian ibu dan bayi, pengendalian penyakit HIV, TB, malaria, dan peningkatan akses kesehatan reproduksi. Sementara hal-hal baru yang menjadi perhatian, yaitu: kematian akibat penyakit tidak menular, penyalahgunaan narkotika dan alkohol, kematian dan cedera akibat kecelakaan lalu lintas, universal health coverage, kontaminasi dan polusi air, udara dan tanah, serta penanganan krisis dan kegawatdaruratan.

Proyek Kewarganegaraan mahasiswa Teknik Lingkungan S-1 ITN Malang melakukan sosialisasi bertema “Kehidupan Sehat dan Sejahtera” sebagai bagian dari 17 SDGs Pembangunan Berkelanjutan. (Foto: Istimewa)

Fokus dari seluruh target tersebut antara lain gizi masyarakat, sistem kesehatan nasional, akses kesehatan dan reproduksi, Keluarga Berencana (KB), serta sanitasi dan air bersih. Nah, peran mahasiswa teknik lingkungan ada pada sanitasi dan air bersih.

Buruknya kondisi kesehatan akan mengancam berbagai macam hak diantaranya, hak pendidikan bagi anak, terbatasnya peluang ekonomi untuk laki-laki dan perempuan, serta meningkatnya kemiskinan di dalam masyarakat dan negara di seluruh dunia. Buruknya kondisi kesehatan merupakan penyebab kemiskinan, namun kondisi kesehatan juga dipengaruhi oleh kemiskinan dan sangat terkait dengan aspek-aspek lain dari pembangunan berkelanjutan, seperti misalnya air dan sanitasi, kesetaraan gender, perubahan iklim, serta perdamaian dan stabilitas.

“Kami melakukan sosialisasi terlebih kepada warga RT 05 Sukodadi tentang pentingnya kehidupan sehat dan sejahtera, khususnya pada pentingnya kebersihan lingkungan,” ucap Maria.

Mahasiswa teknik lingkungan juga mengajak warga untuk berdiskusi tentang permasalahan lingkungan yang ada di desa mereka. Peran mahasiswa di desa tidak hanya pada taraf teori saja. Di hari kedua mahasiswa mengajak warga kerja bakti bersama. Ide inipun ditanggapi oleh warga dengan antusias. Bahkan esok hari sebelum melaksanakan kerja bakti warga bersama mahasiswa melaksanakan senam bersama. Mahasiswa juga masih sempat membantu masyarakat yang sedang melakukan perbaikan jalan.

Merekapun dengan cekatan membersihkan beberapa area yang kotor di desa tersebut. Seperti saluran air, dan membersihkan semak-semak yang meninggi. Karena keberadaan polutan di lingkungan yang kotor dan tidak sehat akan mengakibatkan banyak masalah kesehatan. Seperti penyakit pernapasan, penyakit jantung, dan beberapa jenis kanker. Faktor-faktor yang mempengaruhi masalah kesehatan tersebut di antaranya adalah pencemaran udara, air, dan tanah.

“Sebenarnya banyak cara merawat lingkungan agar bersih. Seperti tidak membuang sampah sembarangan, tidak membakar sampah, menghemat energi, menggunakan produk daur ulang, menanam pohon/bunga-bungaan, dan selalu membersihkan lingkungan hidup di sekitar rumah,” lanjut Maria.

Baca Juga : Mahasiswa PWK ITN Malang Juara 2 Poster di UGM, Tuangkan Ide Tingkatkan Kualitas Pembangunan Ekonomi

Peran serta mahasiswa ini diapresiasi oleh Ibu Yulaika, Ibu RT 05. Menurutnya warga sangat terbantu dengan upaya mahasiswa. “Kami merasa sangat terbantu dan mengapresiasi mahasiswa teknik lingkungan dari ITN Malang yang datang untuk memberikan sosialisasi. Bahkan mereka juga mengajak warga untuk melakukan kerja bakti,” ucapnya.

Usai kerja bakti Ibu Yulaika mengajak mahasiswa berkunjung ke Kelompok Tani Ternak Hutan Rakyat (KTHR) Indonesia yang yang tidak jauh dari lokasi kerja bakti. Berbincang dengan warga memang mengasikkan. Apalagi mendapat pengetahuan tambahan tentang KTHR. (Ramadhani, Mita Erminasari/Humas ITN Malang)

Internship Humas ITN Malang: Ramadhani, mahasiswa Teknik Lingkungan S-1, ITN Malang, angkatan 2021.




Anindya Aulia Rachmandari mahasiswa Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK), ITN Malang finalis Duta Pariwisata Jawa Timur 2023

Mahasiswa PWK ITN Malang Best Video Profil Duta Pariwisata Jawa Timur 2023

Anindya Aulia Rachmandari mahasiswa Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK), ITN Malang finalis Duta Pariwisata Jawa Timur 2023. (Foto: Istimewa)


Malang, ITN.AC.ID – Siapa yang tidak kenal Kota Malang. Kota terbesar kedua di Jawa Timur ini memiliki banyak julukan. Kota Malang selain sebagai kota pendidikan juga terkenal sebagai kota pariwisata yang memiliki 23 destinasi wisata kampus tematik. Sejarah panjang terbentuknya Kota Malang salah satunya bisa dilihat dari adanya Kampung Heritage Kajoetangan, dan Kampung Wisata Keramik Dinoyo. Bahkan Desa Wisata Kampung Heritage Kajoetangan masuk 75 desa wisata terbaik Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2023.

Keragaman wisata Kota Malang dengan keindahan sudut kotanya yang cantik, tentunya menghasilkan video visualisasi yang apik. Video karya Anindya Aulia Rachmandari, mahasiswa Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK), Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) ini berhasil meraih “Best Video Profil” Duta Pariwisata Jawa Timur 2023. Malam puncak grand final dilaksanakan oleh Yayasan Abhiyya Parama Mavendra, di Gedung Teater Balai Pemuda Surabaya, Sabtu (10/06/2023).

“Semua finalis (Duta Pariwisata) sebelumnya memang diminta membuat video perkenalan diri dan profil. Video saya selain memperkenalkan diri juga menampilkan potensi pariwisata, sejarah, keragaman seni budaya, dan penataan Kota Malang. Apalagi saya dari jurusan PWK. Mungkin ini yang membedakan video saya dengan peserta lainnya. Tidak menyangka juga akhirnya bisa mendapatkan best video profil,” kata Aulia biasa disapa saat ditemui di Ruang Humas ITN Malang, Kamis (15/6/2023).

Baca juga : Anindya Aulia Rachmandari jadi Duta Favorit Duta Anti Narkoba Kota Malang 2023

Dalam videonya Aulia mengangkat potensi wisata Kampung Heritage Kajoetangan, Kampung Tematik Warna Warni, dan Kampung Wisata Tridi yang menyajikan spot foto dengan galeri tiga dimensi serta warna tembok yang berwarna-warni menambah estetika kampung. Dara asli Kota Malang ini pun turut mengangkat Kampung Keramik Dinoyo yang sudah ada sejak 1950-an. Tak lupa dalam bidang seni, Tari Beskalan Putri Malang yang merupakan salah satu aset kebudayaan seni tari khas Kota Malang juga diangkat. Tari Beskalan Putri merupakan tarian tertua di Kota Malang.

“Sebenarnya banyak potensi wisata di Kota Malang, tapi saya lebih tertarik ke kampung tematik dan heritage. Karena ini yang sedang kekinian. Sebagai perwujudan Kota Malang sebagai kota industri dan pariwisata, saya juga menampilkan UMKM keramik Dinoyo. Di sini saya juga mencoba membuat keramik bersama pengrajin,” bebernya.

Anindya Aulia Rachmandari, mahasiswa Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK), ITN Malang meraih “Best Video Profil” Duta Pariwisata Jawa Timur 2023, di Gedung Teater Balai Pemuda Surabaya, Sabtu (10/06/2023). (Foto: Istimewa)

Kuatnya materi video Aulia tidak lepas dari peran para dosen yang turut memberi masukan. Seperti Dr. Ir. Ibnu Sasongko, MT, dan Mohammad Reza, ST., MURP dosen PWK, serta Ir. Budi Fathony, MT dosen Arsitektur ITN Malang. Sedangkan alur cerita video digarap oleh Activisual Studio.

Ajang pemilihan Duta Pariwisata Jawa Timur tersebut diikuti oleh 32 finalis dari seluruh kabupaten/kota di Jatim. Mereka merupakan pilihan dari total 200 lebih peserta dari seluruh wilayah Jawa Timur. Sebelum memasuki grand final peserta mengikuti serangkaian tes tulis, dan wawancara. Sedangkan untuk karantina dilaksanakan di Hotel Trio Indah 2 Malang selama tiga hari.

Menurut Aulia banyak kegiatan yang diikuti selama karantina. Seperti photo shoot, membuat program kerja paguyuban, membuat esai tourism program yang kemudian dipresentasikan. Peserta juga mengikuti motion challenge, mereka diberi pertanyaan seputar pariwisata dan diminta menjawab setuju atau tidak beserta alasannya. Ada juga preliminary competition atau kompetisi pra eliminasi dengan menjurikan gaun etnik/gaun daerah.

“Saya membawakan batik Teratai berwarna merah dari Sengguruh Malang. Modelnya saya desain sendiri. Jadi saat speech competition saya mengenakan batik tersebut. Dari sekian kegiatan yang paling menantang adalah deep interview, karena dilakukan tengah malam sehabis kegiatan. Benar-benar lelah tapi, tapi menantang,” kenangnya.

Dalam perjalanan ajang duta, sebelumnya Aulia juga pernah meraih Top 5 Miss Cyber Mall Malang 2022, dan Juara Favorit Duta Anti Narkoba Kota Malang 2023. Dara cantik ini awalnya mengaku ingin menjadi artis, namun semakin banyak pengalaman akhirnya cita-cita besarnya ingin menjadi pengusaha.

Baca juga : Olahraga Menantang, Anggota Himakpa Juara Harapan Rafting Piala Wali Kota Surabaya

“Kedepan pengennya bisa konsisten (berprestasi), dengan tidak meninggalkan kuliah. Ingin berprestasi juga di bidang akademik. Mungkin harus fokus kuliah dulu ya, karena tugas semakin banyak. Kalau ada kesempatan tahun depan ikut lagi ajang di Jatim lagi atau nasional. Terima kasih untuk semuanya karena sudah mendukung saya, semoga menginspirasi,” tandasnya. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)




Jauhari Tantowi, mahasiswa Teknik Geodesi S-1, ITN Malang sedang mengajar di Sekolah Pesisi Juang, Kota Mataram, NTB

Mahasiswa Teknik Geodesi Mendirikan Sekolah untuk Anak Nelayan

Jauhari Tantowi, mahasiswa Teknik Geodesi S-1, ITN Malang sedang mengajar di Sekolah Pesisi Juang, Kota Mataram, NTB. (Foto: Istimewa)


Malang, ITN.AC.ID – Ditengah pandemi covid-19 beberapa waktu lalu banyak menyisakan kisah. Mulai kekhawatiran tertular covid-19, terkena PHK, putus sekolah, serta turunnya perekonomian masyarakat, dan masih banyak yang lainnya. Namun, dibalik itu ternyata masih ada kisah-kisah inspiratif.

Adalah Sekolah Pesisi Juang hadir bagi anak-anak Pesisir Bintaro, Kota Mataram, NTB. Sekolah Pesisi Juang didirikan tahun 2020 atas kerja sama dan kemauan para pemuda yang berinisiatif untuk mengembangkan semangat belajar anak-anak yang ada di Pesisir Bintaro, Kota Mataram.

Sekolah Pesisi Juang adalah sekolah alternatif yang bersifat non formal. Sekolah ini diinisiasi oleh Jauhari Tantowi, mahasiswa Teknik Geodesi S-1, Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang).

Pendirian sekolah diharapkan mampu mengatasi kebosanan anak-anak saat belajar di rumah. Sekaligus menyambut himbauan dari pemerintah yang mewajibkan pembatasan aktivitas, dan belajar dilakukan dari rumah akibat pandemi covid-19.

Tentu adanya kondisi tersebut juga berdampak pada kemampuan anak-anak di Bintaro. Terlihat pada saat pembelajaran berlangsung, banyak anak mengkonsultasikan tugas sekolah yang diberikan oleh guru mereka kepada volunteer atau pengajar di Sekolah Pesisi Juang.

“Adik-adik di kampung nelayan saat pandemi susah mendapatkan akses belajar daring. Mereka harus menyewa handphone dua ribu rupiah per jam untuk belajar daring,” kata Jauhari saat dihubungi lewat sambungan WhatsApp awal Juni 2023 lalu.

Selain itu menurut Jauhari, tujuan Sekolah Pesisi Juang didirikan juga untuk membantu meningkatkan indeks pembangunan manusia yang ada di pesisir kota, serta memberikan pendidikan yang layak untuk mereka yang membutuhkan.

Baca juga : HMJ ITN Malang Peduli Korban Banjir Bandang NTT dan NTB

Sekolah Pesisi Juang berfokus pada literasi anak pesisir. keberadaan sekolah cukup memberikan dampak positif di kalangan masyarakat Bintaro. Hal tersebut diketahui dari respon orang tua yang antusias melihat anaknya ikut serta belajar di sekolah ini.

Pembelajaran pertama kalinya berlangsung pada tanggal 18 Juni 2020. Sekolah ini tempatnya tepat di pesisir pantai Bintaro, Jl. Moh Ruslan, RT. 04 Lingkungan Bintaro Jaya, Kelurahan Bintaro, Kecamatan Ampenan. Luas tanah yang menjadi tempat belajar anak-anak Bintaro berukuran 6 m x 10 m. Dengan dana swadaya bersama beberapa pemuda yang terlibat mereka mendirikan sekolah di pinggir Pantai Ampenan.

Aktivitas belajar di Sekolah Pesisi Juang, Kota Mataram, NTB. (Foto: Istimewa)

“Fasilitas yang tersedia di sekolah ini merupakan donasi dari berbagai kalangan masyarakat. Donasi berupa alat-alat tulis, buku bacaan, rak buku, dan masih banyak lagi. Adanya ketersediaan fasilitas ini dapat menunjang keberlangsungan pembelajaran, serta lebih memberikan motivasi pada anak-anak di Bintaro,” lanjut Jauhari.

Pengajar Sekolah Pesisi Juang adalah volunteer/pengajar dari mahasiswa berbagai universitas. Sistem pengajaran di sekolah disesuaikan dengan kebutuhan anak-anak. Khususnya mata pelajaran yang materinya sudah diterima, namun belum terlalu dipahami oleh anak-anak.

Proses pembelajarannya berfokus pada tujuan utama belajar, dengan metode belajar sambil bermain. Permainan yang disertakan dalam pembelajaran ini juga dapat meningkatkan kemampuan siswa selama proses pembelajaran. Pembagian kelas terdiri dari dua kelas sesuai dengan jenjang sekolah formal. Terdiri dari kelas A untuk usia pra-sekolah hingga kelas 3 SD, dan kelas B untuk usia 10 tahun atau kelas 4 SD hingga jenjang SMP.

Dukungan terhadap Sekolah Pesisi Juang banyak mengalir dari masyarakat. Salah satunya Bapak Jupri salah satu tokoh masyarakat sekitar.

“Kami sangat mendukung. Anak-anak kami bisa dapat kemajuan (belajar) berkat adanya Sekolah Pesisi Juang. Biaya sekolah paud cukup mahal, jadi sekolah ini bisa sebagai alternatif orang tua, dan juga bisa menjadi tempat bermain yang baik,” tutur Jupri.

Baca juga : KKN Tematik ITN Malang Sukses Paparkan Pengembangan Wisata Dua Desa di Bangkalan

Seiring berjalannya waktu, Sekolah Pesisi Juang semakin banyak dikenal. Pasalnya kegiatan belajar mereka selalu diunggah di media sosial. Hal ini menarik beberapa himpunan mahasiswa dan organisasi di luar kampus yang berdatangan melakukan pengabdian di Sekolah Pesisi Juang.

Menurut Jauhari, hadirnya sekolah berbasis non formal di daerah pesisir Pantai Bintaro ini diharapkan menjadi wadah anak-anak untuk mengembangkan kemampuannya baik dari segi sosial, kognitif, hingga psikomotorik.

“Sampai sekarang masih terus berlanjut. Harapannya bakat ataupun skill yang dimiliki anak sejak dini bisa diketahui dan dikembangkan. Sehingga anak-anak mampu mengenali dirinya sendiri secara lebih mendalam,” tandasnya. (Jauhari Tantowi, Mita Erminasari/Humas ITN Malang)

Internship Humas ITN Malang: Jauhari Tantowi, mahasiswa Teknik Geodesi S-1, ITN Malang, angkatan 2017.