Richard Elber Barends ITN Malang juara 3 Kejuaraan Karate Piala Kapolres ke-III, Dinas pendidikan & kebudayaan ke-XI, KONI ke-III, Kabupaten Jombang Ta

Richard Elber Barends Atlet Karate ITN Malang Juara 1 Karate Piala Panglima Divif 2 Kostrad

Richard Elber Barends, mahasiswa Teknik Sipil S-1 ITN Malang Juara 1 Karate Piala Panglima Divif 2 Kostrad, Kejuaraan 4th National Open Karate Championship 2023. (Foto: Istimewa)


Malang, ITN.AC.ID – Richard Elber Barends, mahasiswa Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang menorehkan prestasi Juara 1 Karate Piala Panglima Divif 2 Kostrad, Kejuaraan 4th National Open Karate Championship 2023. Kejuaraan memperingati HUT ke-62 Divisi Infanteri 2 Kostrad ini diselenggarakan pada Jumat-Sabtu, 6-7 Mei 2023, di Gor Vira Cakti Yudha Divif 2 Kostrad Malang.

Richard merupakan mahasiswa Teknik Sipil S-1, ITN Malang. Mahasiswa angkatan 2020 ini berlaga pada komite under 55 kg mahasiswa dan umum putra. Kejuaraan National Open Karate Championship 2023 diikuti sebanyak 98 kontingen, terdiri dari 30 kontingen TNI/Polri, dan 68 kontingen sipil dengan total peserta sebanyak 1.643 atlet.

“Pertandingannya sangat seru. Lewat pertandingan ini banyak hal yang bisa saya jadikan penilaian atas kekurangan saya. Namun sayangnya, belum ada UKM Karate di ITN Malang. Makanya dari ITN hanya saya yang ikut (kejuaraan),” ujar Richard, saat dihubungi lewat sambungan Whatsapp.

Dalam Kejuaraan 4th National Open Karate Championship 2023, Richard melakukan tiga kali pertandingan. Dimana pada babak terakhir ia berhadapan dengan Rifki Permana dari Universitas Airlangga Surabaya (UNAI). Kampus lainnya yang ikut berpartisipasi ada dari Universitas Brawijaya, Universitas Negeri Surabaya, Universitas Airlangga Surabaya, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, dan lain-lain.

Baca juga : Borong Medali, Dojo Jujitsu ITN Malang Juara Umum 3 Kejuaraan Jujitsu Kota Malang

“Kejuaraan ini menjadi pertandingan saya yang ketiga selama kuliah di ITN Malang. Bersyukur kemarin sama sekali tidak cedera,” imbuh mahasiswa asal Kota Atambua, Kabupaten Belu, NTT tersebut.

Sebelumnya Richard juga telah menorehkan prestasi juara 3 kumite under 61 Kg mahasiswa umum putra, pada Kejuaraan Karate Antar Pelajar dan Mahasiswa se-Jawa Timur, Piala Kapolres ke-III, Dinas pendidikan & kebudayaan ke-XI, KONI ke-III, Kabupaten Jombang Tahun 2022, di GOR Merdeka Jombang pada Mei 2022 lalu.

Richard Elber Barends, mahasiswa Teknik Sipil S-1 ITN Malang juara 3 Kejuaraan Karate Piala Kapolres ke-III, Dinas pendidikan & kebudayaan ke-XI, KONI ke-III, Kabupaten Jombang Tahun 2022. (Foto: Istimewa)

Ketertarikan Richard dengan Institut Karate-Do Indonesia (INKAI)  berawal sejak SMP. INKAI adalah salah satu perguruan karate tertua dan terbanyak di Indonesia yang telah memiliki nama besar, dan atlet berprestasi dalam berbagai even baik skala Nasional maupun Internasional. Harapan Richard adalah bisa terus mengembangkan kemampuannya, dan membawa nama ITN Malang ke kancah lebih tinggi lagi di dalam Karate.

Menurut Richard Karate sendiri merupakan satu cabang olahraga bela diri yang hanya menggunakan tangan kosong. Memanfaatkan kaki dan tangan sebagai alat untuk melepaskan serangan, pukulan, serta tendangan. Gerakan karate berfokus pada daya ledak saat meninju, menendang, serangan siku dan lutut, serta serangan menggunakan dasar telapak tangan. Ini berbeda dengan jujitsu yang berfokus pada kuncian dan bantingan, atau taekwondo yang berfokus pada kaki.

“Saya tertarik ikut INKAI, dan setelah bergabung saya ikut pertandingan karate. Mulai dari situ saya mulai berlatih sampai dipanggil pelatih untuk ikut kejuaraan. Selama ini mahasiswa ITN Malang masih jarang yang meraih prestasi di bidang karate,” jelasnya.

Baca juga : PSHT ITN Malang Raih Tiga Medali Kejuaraan Pencak Silat AremaSHTer 2 se-Malang Raya

Untuk menghadapi kejurnas, satu bulan sebelumnya Richard berlatih di ruang UKM bersama tiga sampai dua kali seminggu. Jadwal tersebut menyesuaikan dengan jadwal UKM lainnya. Latihannya sendiri ada dua sesi, sesi pagi dan sore. Sesi pagi dimanfaatkan dengan latihan fisik dan peningkatan stamina. Mulai dari lari, push up , sit up, dan berbagai latihan untuk meningkatkan stamina serta reflek tubuh.

“Kedepannya akan ada event kejuaraan lagi mulai dari Pemprov Jatim, sampai kejuaraan internasional di Yogyakarta. Saya berharap nantinya bisa membawa nama ITN Malang,” tutupnya. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)




Tim Spectra Wibowo ITN Malang digawangi oleh mahasiswa Teknik Sipil S-1. Kika Vernanda Dinsti Putra, Riska Nanda Sintya Dewi, dan Ricky Indra Sapta

Awalnya Iseng Daftar Lomba, Tim Spectra Wibowo Masuk 5 Besar Kompetisi Bangunan Tahan Gempa

Tim Spectra Wibowo ITN Malang digawangi oleh mahasiswa Teknik Sipil S-1. Kika: Vernanda Dinsti Putra, Riska Nanda Sintya Dewi, dan Ricky Indra Sapta. (Foto: Istimewa)


Malang, ITN.AC.ID – Tim Spectra, Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang kembali menorehkan prestasi. Kali ini giliran Tim Spectra Wibowo masuk finalis lima besar National Earthquake Resistance Building Competition (NERBC) Kompetisi Rancang Bangun (KRB) 2023. NERBC merupakan kompetisi bangunan tahan gempa yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Sipil Udayana Bali.

Tim Spectra Wibowo digawangi oleh Ricky Indra Sapta (angkatan 2021), Vernanda Dinsti Putra (angkatan 2020), dan Riska Nanda Sintya Dewi (angkatan 2020). Ketiganya merupakan mahasiswa Teknik Sipil S-1, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) ITN Malang.

Kompetisi bangunan tahan gempa Udayana mengangkat tema Inovasi dalam Mendesain Bangunan Tahan Gempa yang Efisien dan Berkelanjutan. Kompetisi dimulai pada Februari 2023 lalu, sementara babak final diselenggarakan secara luring di kampus Udayana pada Sabtu, 6 Mei 2023 akhir pekan kemarin.

“Jujur, awalnya kami hanya iseng mengikuti lomba tersebut. Ternyata tidak disangka malah masuk final,” kata Ricky Indra Sapta, ketua tim saat dihubungi lewat sambungan WhatsApp.

Baca juga : Tiga Mahasiswa Teknik Sipil ITN Malang Lima Besar Lomba Jembatan di Universitas Sebelas Maret (UNS)

Menurut Ricky, ITN Malang bersaing dengan total 32 tim dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Kerennya, ITN Malang menjadi satu-satunya kampus swasta yang masuk lima besar, dan berhak mengikuti babak final. Tim Spectra Wibowo harus bersaing dengan Politeknik Negeri Jakarta, ITS, Universitas Syiah Kuala, dan Universitas Jember.

Prototype Gedung Yudhistira Wibowo tujuh lantai karya Tim Spectra Wibowo, Teknik Sipil S-1, ITN Malang. (Foto: Istimewa)

Kompetisi NERBC selain bertujuan untuk mengembangkan jiwa kompetitif dan kerjasama antar mahasiswa, juga sebagai wadah untuk mengaplikasikan ilmu teknik sipil khususnya mengenai perancangan gedung tahan gempa. Kompetisi juga melatih mahasiswa dalam mengembangkan potensi dan inovasi tentang desain struktur gedung tahan gempa yang futuristik, efisien, kuat, aman, dan modern.

Riska Nanda Sintya Dewi anggota tim menambahkan, peserta diwajibkan membuat prototype bangunan tahan gempa yang terbuat dari kayu balsa. Tim Spectra Wibowo memanfaatkan kayu balsa ukuran 3x3mm untuk bracing, dan 6×6 mm untuk balok dan kolom. Dengan dimensi 15 x 15 cm, dan tinggi 50 cm. Gedung buatan mahasiswa Kampus Biru ini mampu menahan beban 2,5 kg di setiap lantai genap, dan menerima getaran 5Hz dalam keadaan utuh.

“Kami membuat prototype Gedung Yudhistira Wibowo tujuh lantai. Yudhistira Wibowo diambil dari bahasa Sansekerta yang artinya kuat/kokoh. Wibowo bahasa Jawa yang artinya berwibawa,” ujar Riska.

Keunikan dari karya Spectra Wibowo adalah penerapan green building yang menunjang pembangunan berkelanjutan di era 4.0. Serta implementasi gedung yang digunakan sebagai hunian kost modern. Mereka juga melakukan inovasi penggunaan bracing konsentrik x dan bracing ekstrinsik diagonal dengan bukaan. Dimana bukaan ini bisa difungsikan sebagai jendela ataupun pintu.

Baca juga : Kepala Bidang Bina Teknik Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Malang jadi Lulusan Terbaik Magister Teknik Sipil ITN Malang

“Untuk green building sendiri kami pilih karena merupakan salah satu syarat pembangunan berkelanjutan di era 4.0. Untuk fungsi gedung digunakan sebagai hunian kost modern, dengan rencana bagian rooftop dimanfaatkan sebagai cafe. Rencananya lokasi gedung berada di Denpasar, Bali,” jelas Riska.

Dengan diikutinya lomba NERBC ini mahasiswa teknik sipil harapannya semakin menguasai aplikasi pemodelan gedung tahan gempa, serta inovasinya. Tim Spectra Wibowo didampingi oleh dosen pendamping Ir. Ester Priskasari, MT. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)




Tim Spectra Yudisium, Teknik Sipil S-1, ITN Malang. Yuda Arya Pangestu, Nadya Rachma Aprilia, dan Edwin Yudha Hernanda

Tim Spectra Yudisium ITN Malang Juara 1 Civil Tender Competition CEEXO 2023

Tim Spectra Yudisium, Teknik Sipil S-1, ITN Malang. Kika: Yuda Arya Pangestu, Nadya Rachma Aprili, dan Edwin Yudha Hernanda. (Foto: Mita/Humas ITN Malang)


Malang, ITN.AC.ID – Mahasiswa teknik sipil memang ahlinya membuat tender. Ini dibuktikan oleh tiga mahasiswa yang tergabung dalam Tim Spectra Yudisium, Teknik Sipil S-1, Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang). Mereka sukses merah Juara 1 Civil Tender Competition CEEXO 2023, di Universitas Kristen Indonesia (UKI) pada awal Mei 2023 lalu. Mahasiswa Teknik Sipil S-1 ITN Malang tersebut adalah Yuda Arya Pangestu, Edwin Yudha Hernanda, dan Nadya Rachma Aprilia.

Tim Spectra Yudisium mampu menjadi yang terbaik diantara 25 universitas terkemuka di Indonesia, termasuk UGM, Universitas Brawijaya, Politeknik Negeri Malang, Politeknik Negeri Bali, dan ITS Surabaya. Kompetisi yang digelar secara online 12 April – 4 Mei 2023 tersebut Tim Spectra Yudisium berhasil mengantongi skor 95,3, mengungguli Tim Trinoyug – 61 Universitas Brawijaya, dan Tim Hanggar Karya Universitas Gadjah Mada yang berada di posisi kedua dan ketiga.

Yuda Arya Pangestu ketua tim mengungkapkan rasa bangga dengan prestasi timnya. Dengan persiapan singkat timnya berhasil memberikan hasil yang maksimal. “Sebenarnya waktu yang diberikan panitia dua minggu untuk pengerjaan. Tapi karena terbentur hari raya, jadi total pengerjaan kurang dari satu minggu,” katanya, Senin (08/5/2023).

Selama menyusun tender mereka berkoordinasi secara online. Beruntungnya ada perpanjangan waktu 6 jam sehingga mereka bisa mengerjakan secara maksimal. Tantangan yang diberikan panitia adalah mengerjakan desain rumah tinggal dua lantai tahan gempa. Dengan luasan lahan 250 meter persegi dan luas bangunan 169 meter persegi, senilai 472 juta.

“Agak berbeda untuk lomba kali ini. Soalnya ada perhitungan perancangan analisa struktur. Perbedaannya di analisa struktur dan juga gambar kerja,” imbuh Yuda.

Baca juga : Tiga Mahasiswa Teknik Sipil ITN Malang Lima Besar Lomba Jembatan di Universitas Sebelas Maret (UNS)

Lokasi bangunan yang mereka kerjakan di wilayah Jakarta yang tanahnya termasuk tanah lunak. Untuk itu mereka menggunakan sistem rangka pemikul momen khusus. Untuk memenangkan tender memang butuh ketelitian, kejelian, dan inovasi. Serta mampu membuat penawaran produk dengan efektif dan efisien. Keunggulan Spectra Yudisium dalam hal harga, waktu pengerjaan, dan analisa struktur.

Desain rumah dua lantai tahan gempa karya Tim Spectra Yudisium Teknik Sipil ITN Malang. (Foto: Istimewa)

“Kami melihat ada tim lain yang harganya jauh lebih tinggi dari kami. Ada yang menentukan biaya sampai 1,6 M. Sedangkan kami hanya 472 juta. Menurut tim juri dengan biaya segitu (472 juta) cukup masuk akal,” ungkapnya.

Hal senada ditambahkan oleh dua anggota tim lainnya, Edwin Yudha Hernanda dan Nadya Rachma Aprilia. Mereka menjelaskan, agar harganya lebih terjangkau, timnya menerapkan inovasi untuk mempercepat pengerasan beton. Untuk menghemat inovasi yang dilakukan adalah dengan memanfaatkan penggunaan fly ash sebagai campuran semen.

“Dengan percepatan otomatis waktunya lebih pendek, ini mampu menekan biaya tenaga kerja. Kami juga menerapkan green construction agar tidak banyak menyisakan limbah,” tandasnya. Tim Spectra Yudisium dalam kompetisinya didampingi oleh dosen pendamping Dr. Yosimson P Manaha, ST., MT.

Baca juga : Tiga Mahasiswa Arsitektur Jawab Isu Co-Working Space dengan Bangco

Terpisah, Wakil Rektor 3 ITN Malang, Dr. Hardianto, ST., MT., mengapresiasi kegiatan HMJ dalam bidang kokurikuler. Dengan diraihnya juara tersebut dapat meningkatkan poin penilaian di pemeringkatan kemahasiswaan.

“Pimpinan ITN Malang mengapresiasi kegiatan HMJ dalam bidang kokurikuler, termasuk kegiatan lomba-lomba bidang akademik seperti yang diikuti HMJ Teknik Sipil. dengan diraihnya juara tersebut dapat meningkatkan poin penilaian di pemeringkatan kemahasiswaan (SIMKATMAWA),” jelas Hardianto. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)




Mahasiswa Arsitektur S-1 ITN Malang desain Co-Working Space. Kika Heickal M. Aqil Biladt, Dika Ridlwansyah, dan Adhitya Dwi Februari

Tiga Mahasiswa Arsitektur Jawab Isu Co-Working Space dengan bangco

Mahasiswa Arsitektur S-1 ITN Malang desain Co-Working Space. Kika: Heickal M. Aqil Biladt, Dika Ridlwansyah, dan Adhitya Dwi Februari. (Foto: Istimewa)


Malang, ITN.AC.ID – Pandemi Covid-19 membawa perubahan pada gaya hidup masyarakat, khususnya para pekerja. Pemberlakukan bekerja dari rumah work from home (WFH) diharapkan berlanjut meski pandemi sudah berlalu. Dengan berjalannya waktu konsep WFH kemudian tidak lagi sekadar bekerja dari rumah. Namun semakin terbuka dengan memanfaatkan co-working space, sebagai ruang kerja bersama bagi karyawan berbagai perusahaan dengan latar belakang berbeda.

Isu co-working space pada masa pandemi menjadi tantangan bagi tiga mahasiswa Prodi Arsitektur S-1, Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang. Mereka adalah Heickal M. Aqil Biladt, Dika Ridlwansyah, dan Adhitya Dwi Februari, yang berjuang pada event Sayembara Desain Co-Working Space di Arsitektur Universitas Teknologi Yogyakarta (UTY) pada April 2023 lalu.

Bersaing dengan 159 tim mahasiswa dari seluruh Indonesia ketiga mahasiswa semester lima tersebut akhirnya masuk dalam 9 besar setelah sebelumnya lolos pada 15 besar.

“Usai pandemi banyak tercipta kebiasaan baru di masyarakat. Sekarang bekerja bisa dimana saja, tidak harus di kantor seperti biasanya. Jadi co-working space menjadi tempat alternatif bekerja dengan santai dan juga fleksibel di tempat yang tidak terlalu formal,” kata Dika Ridlwansyah saat dihubungi lewat sambungan Whatsapp.

Pada sayembara kali ini mereka diminta merancang sebuah co-working space yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat untuk bekerja, namun didalamnya juga tercipta konektivitas antara work-life-play. Sayembara bertema Not Just A Workplace But A New Lifestyle – Co-Working Space tersebut juga meminta peserta untuk dapat melakukan visualisasi hasil desain baik eksterior, interior maupun detail bangunan dengan pendalaman konsep yang diberikan secara kreatif dan inovatif. Serta mampu melakukan analisis terhadap fungsi bangunan untuk menyelesaikan suatu permasalahan dalam perancangan.

Baca juga : Co-Working Space Solusi Minimnya Ruang Kerja Bersama di Kota Malang

Merekapun mewujudkan karyanya dalam judul bangco co-working space. “bangco, diambil dari kata bakok yang merupakan salah satu bahasa Jawa yang berarti menali. Menali disini adalah menali hubungan sosial diantara individu dan menciptakan keharmonisan,” ujarnya.

Mahasiswa Arsitektur S-1 ITN Malang top 9 Sayembara Desain Co-Working Space di Arsitektur Universitas Teknologi Yogyakarta (UTY) 2023.

Menurut Dika, karya sayembara harus memenuhi kriteria seperti pemilihan dan pengembangan isu pada desain, kreativitas dan inovasi desain, pengolahan landscape, desain ramah disabilitas, ketajaman desain untuk menciptakan konektivitas antara work-life-play, orisinalitas desain, serta kualitas penyajian karya baik secara estetika dan keseluruhan.

“Kami juga memikirkan akan kota dan komunitas yang berkelanjutan. Untuk memastikan bahwa kota dan pemukiman dapat menjadi tempat yang inklusif, aman, tangguh, dan berkelanjutan. Serta mampu memenuhi kebutuhan seluruh warganya. Termasuk warga yang berada dalam situasi rentan seperti warga miskin, penyandang disabilitas, anak-anak dan orang tua,” jabarnya.

Desain mengangkat konsep sustainable architecture, dan konsep beyond the space yang bertujuan untuk memaksimalkan ruang-ruang yang ada. Untuk pembuatan desain mahasiswa arsitektur ini memanfaatkan aplikasi sketchup dan untuk rendering menggunakan enscape. Sedangkan untuk pembuatan poster menggunakan photoshop.

Keunikan dari desain terlihat dari bentuk bangunan, pola sirkulasi bangunan, dan ruangan pada bangunan. Dilengkapi dengan working space, meeting room, area bersama, public plaza, ramp, amphitheatre, cafetaria, serta plaza dan kolam.

Baca juga : Angkat Permasalahan Emisi CO2, Duo Mahasiswi Teknik Kimia Lolos Grand Final Kompetisi Essay

Mereka juga mempertimbangkan climate action untuk mengurangi atau menghentikan efek negatif dari perubahan iklim, serta mencegah kerusakan permanen terhadap lingkungan.

“Mengikuti event lomba menjadikan kami mendapat pengalaman lebih di bidang arsitektur. Seperti mendapat klien, dimana kami harus bisa menerjemahkan harapan klien menjadi desain yang diinginkan,” tuntasnya. Pada event ini mereka dibimbing oleh Moh. Syahru Romadhon Sholeh, ST., M.Ars, dosen Arsitektur ITN Malang. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)




Ikatan Mahasiswa Teknik Lingkungan Indonesia (IMTLI) menggelar diskusi isu lingkungan di Auditorium Kampus 1 ITN Malang

Manfaatkan Momentum Rakernas, Ikatan Mahasiswa Teknik Lingkungan Indonesia Gelar Diskusi Isu Lingkungan

Ikatan Mahasiswa Teknik Lingkungan Indonesia (IMTLI) menggelar diskusi isu lingkungan di Auditorium Kampus 1 ITN Malang, Minggu (07/05/2023). (Foto: Istimewah)


Malang, ITN.AC.ID – Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan (HMTL), Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang menjadi tuan rumah Rapat Kerja Nasional Ikatan Mahasiswa Teknik Lingkungan Indonesia (HMTLI) Tahun 2023, dengan tema “Bangkit Bergerak Bersama IMTLI”. Rakernas tahun ini dihadiri oleh 46 delegasi dari 15 perguruan tinggi seluruh Indonesia. Pembukaan rakernas dihelat di Auditorium Kampus 1 ITN Malang, pada Minggu, (07/05/2023).

Sebagai wadah konsolidasi gagasan environmental dalam merespon permasalahan lingkungan yang terjadi di Indonesia, pada momentum rakernas kali ini HMTLI juga membuka diskusi mengenai isu lingkungan.

Ketua Umum PB IMTLI Mohamad Thoriq Azhari menyampaikan, tujuan dari diselenggarakannya diskusi adalah untuk merefleksikan kembali peran IMTLI dalam melahirkan inovasi terkait permasalahan lingkungan.

“Tujuan diskusi untuk melahirkan inovasi-inovasi baru sebagai langkah menanggapi permasalahan lingkungan yang terjadi. Sehingga nanti dapat jadikan sebuah program baru dalam rangkaian acara dies natalis IMTLI. Dimana program-program tersebut mengangkat dari isu-isu yang urgent disetiap wilayah,” terang Thoriq sapaan akrab Mohamad Thoriq Azhari.

Diskusi isu lingkungan mengupas berbagai macam persoalan yang terjadi di setiap wilayah di Indonesia. Pasalnya IMTLI sebagai organisasi besar yang menghimpun mahasiswa dengan latar belakang keilmuan teknik lingkungan dari seluruh perguruan tinggi di Indonesia. Patutnya menjadi poros pergerakan yang strategis dalam mengadvokasi isu lingkungan yang terjadi. IMTLI menjadi wadah yang mampu mengadvokasi dan mengedukasi masyarakat terutama generasi muda dalam menjaga lingkungan hidup. Selain itu, IMTLI juga menjadi organisasi yang mampu memberdayakan masyarakat dalam mengelola lingkungan itu sendiri.

Galank Vijanarki, mahasiswa Teknik Lingkungan S-1, ITN Malang saat memberikan pendapat mengenai isu lingkungan di acara diskusi IMTLI. (Foto: Istimewah)

“Harapannya melalui forum diskusi isu lingkungan dapat menjadi langkah awal bagi teman-teman untuk meningkatkan kontribusi nyata kepada masyarakat. Sehingga saat program yang kami targetkan pada dies natalis nanti menjadi gerakan yang mampu mendongkrak eksistensi IMTLI dalam mengawal isu-isu lingkungan di Indonesia,” lanjut mahasiswa Universitas Trisakti ini.

Diskusi kali ini juga diapresiasi oleh para delegasi, salah satunya Alsi Yuda Ikhwany yang juga merupakan Ketua Umum HMTL Institut Teknologi Sumatera. Menurutnya, kegiatan seperti ini dapat menjadi formulasi gerakan IMTLI yang diangkat berdasarkan aspirasi dari setiap wilayah.

“Kegiatan ini menjadi wadah yang dapat memfasilitasi aspirasi dari setiap wilayah. Kemudian dikaji oleh IMTLI untuk melahirkan langkah yang solutif dan masif. IMTLI menjadi perpanjangan tangan untuk menanggapi masalah yang terjadi dibawah. Nama besar IMTLI harus memiliki daya gedor yang kuat,” harapnya.

Kepanitiaan rakernas 2023 memandang diskusi ini memiliki nilai lebih. Selain membangun gagasan terkait isu lingkungan juga dapat meningkatkan kedekatan emosional sesama anggota IMTLI.

“IMTLI memang harus selalu tanggap terhadap isu lingkungan. Rakernas saat ini tentu sangat berbeda, karena untuk pertama kalinya diselenggarakan secara offline semenjak pandemi covid-19. Jadi, bisa dimanfaatkan oleh teman-teman untuk saling memperdalam kekerabatan sesama anggota IMTLI,” pungkas Raquela Abi Ketua Panitia Rakernas IMTLI 2023. (Galank Vijanarki/Mahasiswa Teknik Lingkungan ITN Malang)

Pewarta: Galank Vijanarki, mahasiswa Teknik Lingkungan S-1, ITN Malang, angkatan 2019. Editor: Mita Erminasari/Humas ITN Malang