Antonio Heltra Pradana, ST, MURP, dosen PWK ITN Malang saat memberi materi SketchUp kepada Bapelitbang, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, di Training Center PWK ITN Malang

Bapelitbang Berau Kaltim Ikut SketchUp Training and Certification di PWK ITN Malang

Antonio Heltra Pradana, ST, MURP, dosen PWK ITN Malang saat memberi materi SketchUp kepada Bapelitbang, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, di Training Center PWK ITN Malang. (Foto: Istimewa)


Malang, ITN.AC.ID – Sebanyak lima staf Badan Perencanaan Penelitian dan Pengembangan (Bapelitbang), Kabupaten Berau, Kalimantan Timur mengikuti pelatihan SketchUp di Prodi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK), Institut Teknologi Nasional Malang (ITN) Malang, pada awal bulan November 2022 lalu.

SketchUp Training and Certification yang diselenggarakan oleh PWK ITN Malang menarik pihak Bapelitbang Berau. Pasalnya pelatihan SketchUp telah memberikan persepsi serta informasi baru terkait penggunaan Sketchup. Sketchup tidak hanya digunakan pada desain saja. Melainkan dapat juga digunakan dalam perancangan, penciptaan konsep-konsep untuk pengembangan kota, pengembangan kawasan pesisir, atau kawasan yang memiliki nilai sejarah yang tinggi, hingga dapat digunakan dalam penanganan permukiman kumuh.

Salah satu staf Bapelitbang Kabupaten Berau menyatakan sangat terbantu mengikuti training Sketchup di PWK ITN Malang.Terutama dalam hal perencanaan di bidang Prasarana Pembangunan Wilayah (PPW) Berau.

Baca juga : Tingkatkan Kualitas dan Kualifikasi Penguasaan Software, ATC PWK ITN Malang Perdana Buka Pelatihan Software SketchUp

“Pelatihan SketchUp sangat penting untuk menunjang pekerjaan kami sehari-hari di Bapelitbang Berau. Kedepannya kami akan terus berkoordinasi dengan PWK ITN khususnya dalam hal perencanaan di Kabupaten Berau,” kata Rieska Mansyur.


Staf Bapelitbang, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, saat mengikuti pelatihan SketchUp di PWK ITN Malang. (Foto: Istimewa)

Antonio Heltra Pradana, ST, MURP, dosen PWK ITN Malang menyatakan, dengan diselenggarakannya pelatihan ini harapannya mampu untuk memperkuat tali silaturahmi dengan pemerintah daerah Kabupaten Berau melalui Bapelitbang. Heltra akrab disapa merupakan trainer internasional software SketchUp yang berfokus pada bidang pemodelan 3D.

Menurutnya, memanfaatkan software SketchUp sangat banyak. Seperti untuk perancangan rencana tata ruang di masa depan, aktualisasi dan visualisasi pengembangan perkotaan, pedesaan, dan lain sebagainya.

Baca juga : Hanya butuh 3 Hari, Mahasiswa ITN Malang Juarai Lomba Rendering 3D Arsitektur IAI Malang

“Kasus-kasus lain juga bisa dilatihkan di SketchUp. Semoga kegiatan ini mampu memperkenalkan penggunaan Sketchup pada lingkup sosial yang lebih luas,” ujarnya saat ditemui di Training Center PWK ITN Malang. (Humas ITN Malang)

Pewarta: Bagus Dwi Saputra (Kominfo HMPWK ITN Malang/mahasiswa PWK S-1 ’20)

Editor: Mita Erminasari/Humas ITN Malang.




Mahasiswa Teknik Lingkungan S-1 ITN Malang saat mengidentifikasi pohon dan mencabut paku pada pohon di Kota Batu,

Lestarikan Lingkungan, Mahasiswa ITN Malang Rawat Pohon di Sempadan Jalan Kota

Mahasiswa Teknik Lingkungan S-1 ITN Malang saat mengidentifikasi pohon dan mencabut paku pada pohon di Kota Batu, Sabtu (27/11/2022). (Foto: Istimewa)


Malang, ITN.AC.ID – Pohon memiliki peran penting bagi makhluk hidup. Mulai sebagai sumber oksigen, pelindung, penjaga mata air, dan lain sebagainya. Namun disayangkan jumlah pohon besar semakin menurun akibat fungsi lahan. Khususnya pohon di sempadan jalan Kota Batu.

Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan (HMTL), Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang bersama Gerakan Kesadaran Alamku Hijau menggalang aksi “Sapa Pohon Heritage Kota Wisata Batu”. Demi menyelamatkan pohon peneduh di sempadan jalan raya Kota Batu, HMTL ITN Malang beserta relawan menyisir sepanjang Jalan Ir Soekarno Kota Batu untuk mengidentifikasi pohon dan merawat pohon, Sabtu (27/11/2022).

“Kegiatan kami ada dua. Identifikasi pohon dan merawat pohon. Mulai Gapura Kota Wisata Batu (KWB) hingga pertigaan Pendem arah Karangploso dan Kota Malang,” tutur Ketua HMTL ITN Malang, Marell Sudarman Santoso, saat dihubungi lewat sambungan WhatsApp, Minggu (27/11/2022).

Menurut Marell, kegiatan sapa pohon heritage penting untuk memotivasi serta menghimbau masyarakat agar menjaga pohon-pohon peneduh. Karena pohon banyak manfaatnya seperti, penyedia oksigen, estetika jalan, dan meredam polusi udara serta kebisingan.

Pohon yang berhasil diidentifikasi oleh HMTL sejumlah 108 pohon. Seperti pohon trembesi, mahoni, tanjung, dan pentris. Untuk ukuran diameter paling besar ada pada pohon trembesi yakni 340.5 cm.

Baca juga : Masalah Klasik Sampah jadi Perhatian Wisudawan Terbaik Teknik Lingkungan

“Dari ukuran diameter tersebut kami bisa mengetahui umur pohonnya. Caranya, diameter pohon (cm)-2.5 cm lalu dibagi 2. Jadi untuk pohon trembesi yang terbesar umurnya 169 tahun. Untuk semua pohon yang teridentifikasi dalam kondisi sehat dan tidak rapuh,” jelas mahasiswa semester 5 ini.

Identifikasi pohon yang dilakukan mengenai nama pohon, koordinat, tempat, kondisi pohon, diameter pohon, dan keterangan tambahan seperti posisi tumbuh pohon di aspal, dan sebagainya.


Founder Alamku Hijau, Fitri Harianto (bertopi), bersama Mahasiswa Teknik Lingkungan S-1 ITN Malang. (Foto: Istimewa)

Sembari mengidentifikasi pohon, mahasiswa kampus teknik ini juga merawat pohon. Mereka mencabut paku-paku yang menancap pada batang pohon. Biasanya paku-paku tersebut bekas pemasangan pamflet, dan baliho. Bahkan mahasiswa kampus biru ini tidak segan mencabut paku yang menempelkan baliho caleg DPR, plang tambal ban, dan plang pangkalan ojek.

HMTL ITN Malang sebagai penggerak di bidang lingkungan terus eksis. Tidak hanya menyuarakan, namun juga ikut aktif terlibat dalam berbagai kegiatan pelestarian lingkungan. Mahasiswa Teknik Lingkungan berharap masyarakat ikut bergerak untuk melestarikan pohon peneduh dengan tidak memaku pohon untuk pamflet atau baliho. Selain dari segi estetika kurang enak dipandang, bersama-sama juga harus memperhatikan kondisi pohon.

“Semoga aksi-aksi merawat pohon ini dapat memotivasi masyarakat dan menggerakkan komunitas agar ikut melestarikan lingkungan khususnya pohon-pohon peneduh,” tandas Aremania ini.

Founder Alamku Hijau, Fitri Harianto menambahkan, identifikasi pohon kedepannya akan menjadi database pohon di ruang publik. Kegiatan ini akan menjadi proyek jangka panjang. Melibatkan berbagai komunitas yang tergabung dalam Gerakan Kesadaran Alamku Hijau.

“Data identitas pohon akan menjadi database. Harapannya akan bisa memunculkan perda perlindungan pohon,” kata Cak NDan sapaan akrab Fitri Harianto.

Baca juga : Ruang Terbuka Hijau Semakin Berkurang, Mahasiswa PWK Teliti Tingkat Kenyamanan Koridor Jalan di Kota Malang

Gerakan Kesadaran Alamku Hijau akan melakukan berbagai aksi terkait pelestarian lingkungan. Selain HMTL tergabung didalamnya Himakpa ITN Malang, Baskomas, Mountaineering Adventure, FPRB Tlekung, 60+ Earth Hour, Kaliwatu, BPD MR, KBS RI Kota Batu, Kampung Ilmu, dan lain sebagainya.

“Gerakan Kesadaran Alamku Hijau itu lintas komunitas didalamnya. Sifatnya kesadaran non anggaran. Untuk kegiatannya akan kami gilir satu komunitas perminggu,” tandasnya. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)