Abdullah Fawwaz, Khaldi Jibran Maulana, dan M. Ilham Maulana, mahasiswa Arsitektur S1, ITN Malang, Angkatan 2023

Mahasiswa Arsitektur ITN Malang Ciptakan Inovasi Keranda Lipat Ergonomis Berbasis Nilai Syariat Islam

Abdullah Fawwaz, Khaldi Jibran Maulana, dan M. Ilham Maulana, mahasiswa Arsitektur S1, ITN Malang, Angkatan 2023. (Foto: Istimewa)


Malang – Kami, tiga mahasiswa Program Studi Arsitektur S-1, Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) berhasil menghadirkan inovasi desain keranda jenazah yang mengedepankan aspek ergonomi, efisiensi, serta penghormatan terhadap jenazah sesuai syariat Islam. Inovasi tersebut kami beri nama KRETA, singkatan dari Keranda Ringkas, Ergonomis, Tangguh, dan Adaptif, sebagai jawaban atas kebutuhan akan pengembangan desain keranda yang lebih relevan dengan perkembangan zaman.

Desain Kranda karya Abdullah Fawwaz, Khaldi Jibran Maulana, dan M. Ilham Maulana, mahasiswa Arsitektur S1, ITN Malang, Angkatan 2023Desain KRANDA karya Abdullah Fawwaz, Khaldi Jibran Maulana, dan M. Ilham Maulana, mahasiswa Arsitektur S1, ITN Malang, Angkatan 2023. (Foto: Istimewa)

Tim kami beranggotakan 3 mahasiswa Arsitektur angkatan 2023, yaitu Abdullah Fawwaz, Khaldi Jibran Maulana, dan M. Ilham Maulana. Sebagai mahasiswa Arsitektur kami memang sering kali diuji untuk merancang bangunan, ruang, atau lanskap. Namun, lewat Sayembara Desain Keranda Jenazah yang diadakan oleh Masjid Raya Sheikh Zayed Solo baru-baru ini, kami ingin membuktikan kalau ilmu arsitektur sebenarnya bisa hadir lebih dekat untuk menyelesaikan masalah nyata para pengurus jenazah.

Keresahan di lapangan menjadi titik awal lahirnya gagasan dan inovasi kami. Kami melihat bahwa keranda jenazah pada umumnya disimpan di gudang dan membutuhkan ruang penyimpanan yang cukup besar. Selain itu, proses penggunaan dan mobilitasnya juga masih kurang efisien karena harus diangkat dari posisi rendah, sehingga membebani para penggotong.

Berangkat dari permasalahan tersebut, kami menghadirkan sebuah inovasi keranda lipat yang dapat disimpan secara ringkas tanpa memerlukan proses bongkar-pasang, sehingga lebih praktis dan siap digunakan kapan saja. Kami juga mengintegrasikan roda yang berfungsi ganda, yaitu sebagai media mobilitas saat keluar-masuk mobil jenazah, sekaligus sebagai kaki penyangga keranda ketika akan diberangkatkan. Dengan demikian, posisi keranda tetap berada pada ketinggian yang ideal sehingga para penggotong tidak perlu lagi mengangkatnya dari bawah.

Baca juga: Arsitektur Sebagai Sarana Pelestarian Rumah Adat: Interaksi Budaya Lintas Generasi Menembus Ruang dan Peradaban (Beyond Interaction)

Kami memandang bahwa Sayembara Desain Keranda Jenazah ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan mendesak akan desain keranda yang lebih ergonomis, ringan, serta adaptif untuk digunakan di berbagai kondisi medan. Melalui serangkaian observasi, diskusi, dan pengembangan desain, kami berhasil merancang sebuah sarana pemulasaraan jenazah yang menawarkan pendekatan baru terhadap kemudahan penggunaan dan efisiensi penyimpanan.

Mobilitas keranda harus dapat diakomodasi oleh desain keranda itu sendiri yang tidak menyusahkan para pengguna dan tetap dalam konsep penghormatan terhadap jenazah. Dalam proses perancangannya, kami tidak hanya berfokus pada aspek visual dan teknis semata. Kami terlebih dahulu melakukan diskusi mendalam mengenai adab memperlakukan jenazah berdasarkan syariat Islam. Menurut kami, penghormatan terhadap jenazah tidak berhenti setelah proses pemandian dan pengafanan, tetapi harus terus dijaga hingga jenazah dimakamkan. Atas dasar tersebut, desain KRETA dirancang agar tetap mempertahankan nilai kesederhanaan, kebersihan, fungsi, serta penghormatan terhadap jenazah dalam setiap proses pemulasaraan.

Setelah merumuskan landasan filosofis tersebut, tim kami mulai mengembangkan konsep teknis. Hasilnya adalah keranda yang dapat dilipat sehingga lebih mudah disimpan, dipindahkan, maupun dipersiapkan sebelum digunakan. Struktur utama menggunakan material aluminium alloy yang ringan namun kokoh, dipadukan dengan roda karet, panel aluminium perforated, serta kain mesh untuk mengurangi bobot tanpa mengurangi kekuatan struktur.

Baca juga: Lebih dari Sekadar Koneksi: Urgensi Duta Kampus dalam Membangun Citra dan Identitas Mahasiswa

Tidak hanya menghadirkan kemudahan penyimpanan, KRETA juga dirancang agar lebih nyaman bagi para pengusung jenazah. Posisi pegangan, distribusi beban, serta tinggi alas keranda disesuaikan dengan postur pengguna sehingga proses mengangkat, mendorong, maupun bermanuver menjadi lebih aman dan ergonomis. Selain itu, keranda ini dapat digunakan mulai dari lingkungan masjid hingga area pemakaman dengan sistem penguncian yang dirancang untuk menjaga keamanan selama proses pemindahan jenazah.

Melalui inovasi ini, kami berharap desain KRETA dapat menjadi alternatif pengembangan keranda jenazah di Indonesia yang tidak hanya mengedepankan inovasi teknologi, tetapi juga tetap menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan syariat Islam. Kami meyakini bahwa inovasi dalam bidang desain tidak selalu harus menghadirkan sesuatu yang sepenuhnya baru, tetapi mampu memberikan solusi nyata terhadap kebutuhan masyarakat dengan tetap mempertahankan nilai-nilai yang telah menjadi landasannya.

Penulis: Abdullah Fawwaz, Khaldi Jibran Maulana, dan M. Ilham Maulana, Mahasiswa Arsitektur S1, ITN Malang, Angkatan 2023.




Foto bersama jajaran Pemkab Kutai Barat dan Tim Ahli ITN Malang usai kegiatan Forum Konsultasi Publik I Penyusunan RDTR dan KLHS Kawasan Perkotaan Linggang Bigung (1)

Kutai Barat Gandeng ITN Malang Petakan Kawasan Linggang Bigung, Targetkan Tata Ruang Presisi

Foto bersama jajaran Pemkab Kutai Barat dan Tim Ahli ITN Malang usai kegiatan Forum Konsultasi Publik I Penyusunan RDTR dan KLHS Kawasan Perkotaan Linggang Bigung. (Foto: Istimewa)


Malang, ITN.AC.ID – Pemerintah Kabupaten Kutai Barat, Provinsi Kalimantan Timur serius membenahi tata ruang Kawasan Perkotaan Linggang Bigung. Tidak tanggung-tanggung, melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR), Pemkab Kutai Barat menggandeng Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang), sebagai kampus teknologi swasta terbaik untuk menggarap Dokumen Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kutai Barat sekaligus Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS). Kolaborasi strategis ini menegaskan peran kampus berdampak dalam mengakselerasi penataan daerah dan pembangunan berkelanjutan di Kalimantan Timur.

Keseriusan ini terlihat dalam forum Konsultasi Publik I yang digelar di Ruang Rapat Diklat Lt. 3 Sekretariat Daerah Kab. Kutai Barat, pada Juni 2026 lalu. Agenda yang dihadiri jajaran perangkat daerah se-Kutai Barat ini menjadi pijakan awal untuk menyampaikan fakta dan analisis hasil survei pemetaan wilayah lapangan yang sudah dikumpulkan tim ahli.

Kepala Lembaga Kerja Sama dan Usaha (LPKU) ITN Malang, Ir. Ardiyanto Maksimilianus Gai, ST., M.Si., MM., menjelaskan, kegiatan ini merupakan implementasi dari MoU yang sudah terbangun antara kedua belah pihak. ITN Malang dipercaya menyusun peta dasar menggunakan pemetaan udara drone, yang sudah diselesaikan tahun lalu oleh tim dari Teknik Geodesi S-1 ITN Malang.

Baca juga: On the Track! Progres Peta Dasar RTRW Jatim Tembus 84 Persen, DPRKPCK Jatim Makin Mantap Kolaborasi dengan ITN Malang

“Tahun ini fokus kami adalah penyusunan RDTR dan KLHS Linggang Bigung. Dua hal ini menjadi instrumen penting untuk menata kawasan Linggang Bigung yang berposisi sebagai Kawasan Pusat Kegiatan Wilayah (PKW) di Kutai Barat, sekaligus koridor ekonomi daerah. Dokumen ini penting agar pertumbuhan kawasan yang cepat di Linggang Bigung tetap terkendali dan tidak merusak lingkungan,” ujar Ardi saat ditemui di Kampus 1 ITN Malang beberapa waktu lalu. Langkah ini menjadi bukti nyata kontribusi kepakaran akademisi ITN Malang dalam memberikan solusi tata ruang berbasis kepedulian lingkungan.

Ia menambahkan, keterlibatan publik tidak berhenti di sini. Konsultasi publik pertama ini fokus menyampaikan fakta dan analisis data survei. “Nanti masih ada satu kali konsultasi publik lagi untuk memaparkan draf rencananya secara utuh,” imbuhnya.

Kepala LPKU ITN Malang, Ir. Ardiyanto Maksimilianus Gai, ST., M.Si., MM. (paling kanan), memberikan pemaparan dalam Forum Konsultasi Publik I

Kepala LPKU ITN Malang, Ir. Ardiyanto Maksimilianus Gai, ST., M.Si., MM. (paling kanan), memberikan pemaparan dalam Forum Konsultasi Publik I Penyusunan RDTR dan KLHS Kawasan Perkotaan Linggang Bigung di Sekretariat Daerah Kabupaten Kutai Barat. (Foto: Istimewa)

Di balik penataan ruang perkotaan tersebut, ada proses teknis yang terbilang rumit di lapangan. Koordinator Tim Teknik Geodesi ITN Malang, Krishna Himawan Subiyanto, ST., MSc., saat ditemui di tempat terpisah menceritakan, penyusunan peta dasar RDTR ini mengandalkan teknologi pemetaan udara berbasis drone fix-wing serta peralatan GNSS tipe geodetic.

Dijelaskan, bahwa proses pemetaan melibatkan tim gabungan yang terdiri dari satu dosen Teknik Geodesi, lima mahasiswa aktif, dan dua alumni Teknik Geodesi ITN Malang yang berdomisili di Balikpapan. Keterlibatan civitas akademika ini mencerminkan komitmen kampus dalam menghadirkan riset terapan yang berdampak langsung bagi masyarakat dan pemerintah daerah.

“Kegiatannya meliputi pemotretan udara, pengukuran GCP dan ICP untuk koreksi posisi, sampai survei toponimi guna mencatat nama-nama objek terbaru di lapangan. Semua data diolah dan didigitasi untuk menghasilkan citra foto udara ter-orthorektifikasi. Yang paling penting, seluruh prosesnya mendapat supervisi langsung dari Badan Informasi Geospasial (BIG) agar sesuai standar Kebijakan Satu Peta (One Map Policy),” jelas Krishna.

Baca juga: Rancang Kota Baru Pariwisata Wawiyai, ITN Malang dan Pemkab Raja Ampat Resmi Teken MoU

Menurutnya, pengerjaan dari survei hingga pengolahan data memakan waktu sekitar empat bulan, di luar proses asistensi ke BIG. Meski berjalan lancar, Krishna mengakui timnya harus berhadapan dengan medan lapangan yang tidak mudah.

“Kendalanya lebih ke aksesibilitas, karena sebagian besar wilayahnya masih berupa hutan belantara dan jalur jalannya sulit. Selain itu, kami juga harus bersabar mengikuti antrian asistensi di BIG yang cukup panjang,” kenangnya.

Suasana Forum Konsultasi Publik I Penyusunan RDTR dan KLHS Kawasan Perkotaan Linggang Bigung Kabupaten Kutai Barat yang diikuti oleh Tim Ahli ITN MalangSuasana Forum Konsultasi Publik I Penyusunan RDTR dan KLHS Kawasan Perkotaan Linggang Bigung Kabupaten Kutai Barat yang diikuti oleh Tim Ahli ITN Malang. (Foto: Istimewa)

Dari proses panjang ini, tim ITN Malang menyerahkan paket luaran lengkap berupa citra foto udara ter-orthorektifikasi, peta batas administrasi, hingga peta dasar akhir yang masing-masing sudah mengantongi nota dinas resmi. Keberhasilan penyelesaian pemetaan presisi tinggi ini membuktikan kapasitas lulusan dan mahasiswa ITN Malang dalam menjawab tantangan teknis di lapangan.

“Harapan kami, data peta dasar yang kami hasilkan ini benar-benar bisa menjadi fondasi paling up-to-date dan presisi dalam penyusunan RDTR Kawasan Perkotaan Linggang Bigung ke depan,” tutup Krishna. (Mita/Humas ITN Malang)




Rektor ITN Malang, Awan Uji Krismanto, ST., MT., Ph.D., (jas hitam) berdampingan dengan Sekretaris Ditjen Penataan Ruang Laut KKP, Dr. Effin Martiana, SH., MH., beserta para peserta workshop.

Mantapkan Sistem Informasi Ruang Laut, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dan ITN Malang Gelar Workshop Finalisasi Data

Rektor ITN Malang, Awan Uji Krismanto, ST., MT., Ph.D., (jas hitam) berdampingan dengan Sekretaris Ditjen Penataan Ruang Laut KKP, Dr. Effin Martiana, SH., MH., beserta para peserta workshop. (Foto: Humas ITN Malang)


Malang, ITN.AC.ID – Kerja sama strategis antara Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) dan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus berlanjut. Setelah sebelumnya dipercaya menyusun Road Map Ocean Monitoring System (OMS), ITN Malang kini kembali digandeng oleh Direktorat Jenderal Penataan Ruang Laut (DJPRL) KKP untuk memantapkan integrasi basis data perencanaan ruang laut.

Sekretaris Ditjen Penataan Ruang Laut KKP, Dr. Effin Martiana, SH., MH., saat memberi sambutan di ITN MalangSekretaris Ditjen Penataan Ruang Laut KKP, Dr. Effin Martiana, SH., MH., bersama Rektor ITN Malang, Awan Uji Krismanto, ST., MT., Ph.D., saat memberi sambutan di ITN Malang. (Foto: Humas ITN Malang)

Langkah kolaboratif ini sekaligus menegaskan komitmen ITN Malang untuk hadir sebagai kampus yang berdampak nyata, di mana karya akademis dan riset perguruan tinggi dapat memberikan solusi konkrit bagi kebutuhan bangsa. Sinergi tersebut diwujudkan lewat gelaran koordinasi dan workshop finalisasi basis data serta mock-up Sistem Informasi DJPRL yang berlangsung di Ruang Workshop Lembaga Pengembangan Kerja Sama dan Usaha (LPKU) ITN Malang, pada Kamis (30/07/2026).

Rektor ITN Malang, Awan Uji Krismanto, ST., MT., Ph.D., menyampaikan apresiasi atas kepercayaan KKP memilih ITN Malang sebagai mitra strategis dalam pengolahan data spasial laut nasional.

“Mewakili seluruh sivitas akademika ITN Malang, kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Ditjen Penataan Ruang Laut atas kepercayaannya. Kami berharap kegiatan ini menjadi awal yang baik bagi kolaborasi kita kedepannya. Kami juga sudah menyiapkan tim ahli yang siap berkolaborasi langsung dengan kementerian,” ungkapnya.

Baca Juga: ITN Malang Gagas Road Map Ocean Monitoring System: Transformasi Digital Tata Ruang Laut Indonesia

Rektor menambahkan, ITN Malang memiliki berbagai program studi yang sangat relevan untuk menyokong kebutuhan KKP, mulai dari Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK), Teknik Geodesi, hingga Teknik Informatika, dan analisis data terkait cyber security.

“Harapannya, produk-produk yang dikembangkan bersama ini bisa memberikan kontribusi nyata bagi penataan ruang laut, khususnya bagi pengembangan wilayah laut Indonesia ke depan,” tambahnya.

Pada kesempatan yang sama, Sekretaris Ditjen Penataan Ruang Laut KKP, Dr. Effin Martiana, SH., MH., yang hadir langsung bersama timnya, menegaskan, pengembangan sistem terintegrasi ini merupakan arahan langsung dari pimpinan KKP demi memperkuat tata kelola ruang laut dari hulu ke hilir.

“Ini merupakan pengembangan dari sistem-sistem yang sudah ada di tempat kami sebelumnya agar semakin kuat dan besar. Arahan pimpinan, kami harus punya sistem sendiri yang terintegrasi. Alhamdulillah bisa bekerja sama dengan ITN Malang untuk membangun sistem yang mengakomodasi seluruh kegiatan tata ruang laut, mulai dari perencanaan hingga pengendalian,” jelas Effin.

Baca juga: Pemkab Mahakam Ulu Percayakan Kajian Lingkungan Hidup Strategis Dukung Penataan Ruang Long Lunuk ke ITN Malang

Tak berhenti di laut, Effin juga membeberkan rencana jangka panjang KKP yang akan merambah penataan perairan darat seperti sungai dan waduk. “Ke depan kami juga berencana menata ruang perairan darat. Sebab kalau perairan darat tidak ditata dengan tepat, kerusakannya akan berdampak ke laut juga. Kami berharap bisa terus bersinergi (dengan ITN), termasuk dengan Kementerian ATR/BPN,” tegasnya.

Sementara itu, tim ahli dari ITN Malang, Ir. Gatot Subroto, ST., M.Ars., menjelaskan, ini merupakan tindak lanjut konkret dari Nota Kesepahaman (MoU) antara ITN Malang dan KKP yang berlaku hingga tahun 2028. Fokus utama acara kali ini adalah memfinalisasi basis data tata ruang laut serta mematangkan mock-up sistem informasi.

Menariknya, sistem informasi hasil kolaborasi ITN Malang dan KKP ini ditargetkan rampung untuk diluncurkan pada ajang internasional bergengsi dalam waktu dekat.

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), dan ITN Malang gelar workshop finalisasi dataKementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), dan ITN Malang gelar workshop finalisasi data. (Foto: Humas ITN Malang)

“Secara prinsip, ITN mendampingi KKP dalam mengembangkan sistem tersebut yang nantinya akan di-launching pada bulan Oktober dalam acara Marine Spatial Planning Summit (MSP Summit). Acara tersebut rencananya akan dibuka langsung oleh Pak Menteri dan dihadiri beberapa negara sahabat,” terang Gatsu akrab disapa.

Dosen PWK ini berharap sistem yang dibangun tak sekadar menjadi alat bantu teknis, melainkan menjadi basis pengambilan keputusan yang efisien bagi para pemangku kepentingan.

“Targetnya, selain mengejar momen MSP Summit, kami ingin membuat sistem di Ditjen Penataan Ruang Laut ini benar-benar memudahkan stakeholder, dan mempermudah proses penataan ruang laut Indonesia di KKP. Harapannya, sistem ini bisa menjadi sarana pengambilan keputusan yang cepat, tepat, dan memudahkan para pengguna,” pungkasnya. (Mita/Humas ITN Malang)




Peserta paparan Laporan Antara Penyusunan Peta Dasar Provinsi Jawa Timur dari perwakilan DPRKPCK Pemprov Jatim bersama tim ahli ITN Malang

On the Track! Progres Peta Dasar RTRW Jatim Tembus 84 Persen, DPRKPCK Jatim Makin Mantap Kolaborasi dengan ITN Malang

Peserta paparan Laporan Antara Penyusunan Peta Dasar Provinsi Jawa Timur dari perwakilan DPRKPCK Pemprov Jatim bersama tim ahli ITN Malang. (Humas ITN Malang).


Malang, ITN.AC.ID – Proyek strategis pemutakhiran Peta Dasar Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi Jawa Timur yang dikawal oleh Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) menunjukkan perkembangan signifikan. Hanya berselang sebulan setelah laporan pendahuluan pada awal Juli lalu, progres pengerjaan pemetaan 38 kabupaten/kota di Jawa Timur kini telah mencapai angka 84 persen.

Kepastian ini terkuak dalam paparan Laporan Antara Penyusunan Peta Dasar Provinsi Jawa Timur yang digelar di Ruang Workshop Lembaga Pengembangan Kerjasama dan Usaha (LPKU) ITN Malang, Jumat (31/07/2026).

Staf Ahli ITN Malang dari Prodi Teknik Geodesi, Krishna Himawan Subiyanto, ST., M.Sc., menjelaskan, selain capaian fisik pemetaan yang hampir rampung, timnya juga bergerak cepat melakukan penyesuaian standar teknis terbaru dari Badan Informasi Geospasial (BIG).

Kepala LPKU ITN Malang, Ir. Ardiyanto Maksimilianus Gai, ST., M.Si., MM., (tengah) bersama Kepala Bidang Penataan Ruang Wilayah DPRKPCK Jatim, Dr. Priyo Nur Cahyo, ST., MT., (kanan)

Kepala LPKU ITN Malang, Ir. Ardiyanto Maksimilianus Gai, ST., M.Si., MM., (tengah) bersama Kepala Bidang Penataan Ruang Wilayah DPRKPCK Jatim, Dr. Priyo Nur Cahyo, ST., MT., (kanan) saat memberikan sambutan dalam Paparan Laporan Antara Penyusunan Peta Dasar Provinsi Jawa Timur di ITN Malang. (Humas ITN Malang)

“Target kami dalam laporan antara ini adalah menyampaikan progres pengerjaan pemetaan yang sudah menyentuh 84 persen untuk seluruh wilayah kabupaten/kota di Jawa Timur. Kemarin dari BIG ada penyamaan persepsi terkait standar pemetaan SNI yang mengalami updating. Karena kami sudah melakukan asistensi, ini jadi kesempatan untuk langsung menyesuaikan dengan standar terbaru mereka. Targetnya minggu depan penggambaran selesai dan September nanti semua rampung,” terang Krishna yang mengawal proyek ini bersama Ir. Gatot Subroto, ST., M.Ars., dari Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) ITN Malang.

Kelancaran dan ketepatan progres ini makin memperkuat kepercayaan Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman, dan Cipta Karya (DPRKPCK) Provinsi Jawa Timur terhadap kepakaran ITN Malang.

Kepala Bidang Penataan Ruang Wilayah DPRKPCK Jatim, Dr. Priyo Nur Cahyo, ST., MT., secara terbuka mengakui kapasitas akademisi ITN Malang dalam mengawal pekerjaan skala besar di tingkat provinsi.

Baca juga: Mantapkan Sistem Informasi Ruang Laut, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dan ITN Malang Gelar Workshop Finalisasi Data

“Kami dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur tidak ragu bekerja sama dengan ITN Malang. PWK di Jatim yang pertama berdiri itu di ITN, baru kampus lainnya mengikuti. Sebagai senior, saya yakin ITN bisa mengawal kegiatan skala provinsi,” puji Priyo.

Priyo juga menyoroti sinergi lintas sektor yang dimiliki ITN Malang, termasuk kolaborasi kampus bersama Ditjen Penataan Ruang Laut KKP. Menurutnya, tata ruang darat dan laut memang sudah seharusnya saling melengkapi.

Dari laporan yang disampaikan untuk peta dasar RTRW Jatim, Priyo menilai seluruh proses pengerjaan sudah on the track dan sesuai Kerangka Acuan Kerja (KAK) yang disepakati, termasuk asistensi teknis bersama BIG yang sudah berjalan tiga kali. Melihat performa positif ini, DPRKPCK Jatim bahkan sudah bersiap memperluas jangkauan kerja sama dengan ITN Malang, mulai dari tahap Peninjauan Kembali (PK) RTRW hingga peluang pelaksanaan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) bagi para ASN.

Suasana paparan Laporan Antara Penyusunan Peta Dasar Provinsi Jawa Timur dihadiri oleh tim ahli ITN Malang serta perwakilan dari DPRKPCK Provinsi Jatim di Ruang Workshop LPKU ITN MalangSuasana paparan Laporan Antara Penyusunan Peta Dasar Provinsi Jawa Timur dihadiri oleh tim ahli ITN Malang serta perwakilan dari DPRKPCK Provinsi Jatim di Ruang Workshop LPKU ITN Malang (Foto: Humas ITN Malang)

“Gayung bersambut, kami di pemerintahan dituntut memenuhi sertifikat minimal 20 JPL per tahun. Kami mengidentifikasi kebutuhan diklat seperti penilaian perwujudan RDTR dan peruntukan tata ruang. Harapan kami, ini bisa kita dikerjasamakan kembali dengan ITN Malang,” tambah Priyo.

Menanggapi kepercayaan besar tersebut, Kepala LPKU ITN Malang, Ir. Ardiyanto Maksimilianus Gai, ST., M.Si., MM., menegaskan komitmen penuh institusi untuk mengawal proyek hingga tuntas, termasuk memastikan peta dasar tersebut mengantongi rekomendasi resmi dari BIG.

Baca juga: Percayakan Peta Dasar RTRW Jatim ke ITN Malang, DPRKPCK Wanti-Wanti Soal Reklamasi Ilegal

“Terima kasih atas kepercayaan Pemprov Jatim kepada ITN Malang. Bapak Rektor secara khusus berpesan dan berkomitmen mengawal kegiatan ini karena level tanggung jawabnya sangat besar. Kami pastikan tim tidak hanya menyerahkan peta jadi, tetapi akan terus mendampingi prosesnya sampai rekomendasi resmi dari BIG keluar,” tegas Ardiyanto.

Keterlibatan ITN Malang dalam pemutakhiran peta dasar Jawa Timur hingga penyiapan SDM daerah ini semakin mengukuhkan peran ITN Malang sebagai kampus yang berdampak nyata, di mana keahlian akademis dan riset perguruan tinggi memberikan solusi riil dan kontribusi langsung bagi pembangunan daerah. (Mita/Humas ITN Malang)




Dosen PWK ITN Malang menjadi co-host, dan pembicara dalam perayaan World Rural Development Day 2026

Bawa Konsep “Future Village Ecosystem” ke Panggung Dunia, ITN Malang Jadi Co-Host Helatan World Rural Development Day

Dosen PWK ITN Malang menjadi co-host, dan pembicara dalam perayaan World Rural Development Day 2026. (Humas ITN Malang)


Malang, ITN.AC.ID – Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) kembali membuktikan eksistensinya di kancah internasional. Kampus teknologi dan inovasi ini didapuk menjadi co-host dalam perayaan World Rural Development Day bersanding dengan institusi global seperti ARMTI Nigeria, USTM Meghalaya, dan Global Forum for Sustainable Rural Development (GFSRD). Kehadiran ITN Malang dalam forum ilmiah ini menjadi penegasan bahwa kontribusi pemikiran dari Indonesia diakui dunia luar dalam mengawal masa depan pembangunan kawasan perdesaan secara berkelanjutan.

Gagasan Visioner Future Village Ecosystem Framework Dosen PWK ITN MalangGagasan Visioner Future Village Ecosystem Framework Dosen PWK ITN Malang

Kontribusi Strategis Akademisi PWK di Kancah Global

Keterlibatan strategis ini tidak lepas dari peran aktif para akademisinya di Prodi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) yakni Dr. Maria Christina Endarwati, ST., MIUEM., dan Dr. Ir. Agustina Nurul Hidayati, MT. Posisi aktif ITN di tingkat global diperkuat oleh rekam jejak Maria sebagai salah satu pendiri Asia Pacific Country Director di lembaga GFSRD. Sementara, Agustina Nurul Hidayati dalam kesempatan tersebut turut menjadi pembicara.

“Awal mula ITN bisa bersanding dikarenakan saya adalah salah satu founder GFSRD dan juga direktur untuk wilayah Asia Pasifik, sehingga ITN merupakan salah satu institusi yang sangat aktif terlibat dalam kegiatan pembangunan perdesaan,” ungkap Maria saat dihubungi lewat sambungan WhatsApp beberapa waktu lalu.

Maria menambahkan, keterwakilan ini mencerminkan komitmen penuh Prodi PWK ITN Malang untuk mempromosikan implementasi pembangunan berkelanjutan. “Sebagai co-host, tentunya keterlibatan kami mencerminkan bahwa PWK ITN Malang berkomitmen terlibat aktif dalam mempromosikan bagaimana kampus mengimplementasikan pembangunan berkelanjutan dengan men-sharing pengalaman-pengalaman kami,” tuturnya.

 Rekam Jejak Internasional dan Rencana Aksi Pasca-Simposium

Baca juga: Rancang Kota Baru Pariwisata Wawiyai, ITN Malang dan Pemkab Raja Ampat Resmi Teken MoU

Rekam jejak ITN Malang di panggung internasional memang bukan hal baru. Sebelum perhelatan akbar ini, Maria juga dipercaya menjadi pembicara utama dalam ajang International Webinar pada 16 Mei 2026 yang diselenggarakan atas kolaborasi bersama The Federal Polytechnic Offa Nigeria serta GFSRD. Melalui jembatan ini pula, ITN Malang mengambil peran ganda, membawa nama Indonesia di tingkat global sekaligus mempromosikan peran aktif kampus dalam mengawal ruang hidup perdesaan.

Menurut Maria, bagi Prodi PWK ITN Malang sendiri, simposium ini menjadi wadah untuk menyuarakan tiga pilar utama mereka ke level Asia-Afrika, yakni hasil riset tata ruang di Jawa Timur dan NTT, integrasi kurikulum berbasis SDGs, serta aksi nyata lewat KKN Tematik di desa binaan. Dampaknya, pemikiran-pemikiran dari ITN Malang mulai dilirik secara global, terbukti dengan diundangnya Maria secara langsung sebagai pembicara seminar internasional di Ilorin University, Afrika.

Ditambahkan, melangkah pasca-simposium, pihaknya sudah menyiapkan target yang konkret. Sebagai pemegang mandat GFSRD-Asia Indonesia, ITN berencana mengadaptasi 2-3 model desa tangguh dari Nigeria dan India untuk diterapkan di 5 desa binaan di Malang Raya. Selain itu, ada target besar untuk mendirikan GFSRD-Asia Hub di ITN Malang sebagai pusat data perdesaan se-Asia Tenggara, sekaligus menyusun kurikulum bersama (Rural Development Planning) lintas negara dengan USTM dan ARMTI. Kemitraan masa depan ini akan membuka peluang emas bagi mahasiswa dan dosen lewat program joint research serta student exchange ke luar negeri.

Gagasan Visioner Future Village Ecosystem Framework

Baca juga: Sinergi ITN Malang Hasilkan Produk Hukum Legalitas Industri Kecil dan Menengah Manggarai Timur

Sementara pada simposium kali ini, Dr. Ir. Agustina Nurul Hidayati, MT., memaparkan sebuah artikel ilmiah yang menawarkan gagasan visioner bertajuk “Future Village Ecosystem Framework”. Kerangka kerja ekosistem desa masa depan ini dirancang sebagai model terintegrasi yang menggabungkan pertumbuhan hijau (green growth), pengembangan endogen berbasis potensi lokal, pemberdayaan masyarakat, hingga inovasi digital. Melalui model ini, komunitas perdesaan didorong untuk berubah dari wilayah pinggiran menjadi motor penggerak utama pembangunan berkelanjutan yang memiliki dampak global.

Nurul, yang biasa akrab disapa menjelaskan, penelitian yang dibawakannya merupakan akumulasi dari pengabdian panjang rekan-rekan dosen ITN Malang. Riset tersebut mencakup studi di kawasan perbatasan Kecamatan Entikong (Kabupaten Sanggau) dan perdesaan Long Apari (Kabupaten Mahakam Ulu), Nusa Tenggara Timur, hingga pendampingan kampung kota serta desa di Malang Raya.

“Saya menyampaikan pengalaman yang pernah saya dan teman-teman dosen lakukan dalam penelitian dan pengembangan pada beberapa kawasan perdesaan. Pada simposium yang akan datang, saya berharap teman-teman dosen  ITN Malang dapat berbagi pengalaman penelitian, rencana pengembangan dan pengabdian masyarakat pada kawasan perdesaan, secara langsung,” tutur Nurul penuh harap.

Ia juga menambahkan bahwa materi-materi berharga yang didapat dari simposium internasional ini akan  diintegrasikan untuk memperkaya mata kuliah penting di PWK, seperti Community Development, Perencanaan Perdesaan, Perencanaan Kawasan, hingga Pengelolaan Kawasan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)