Khoyru Nisya Salsabila Putri lulusan Terbaik Program Studi Teknik Sipil S-1n Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) ITN Malang pasa Wisuda ke-76 Periode II Tahun 2026

Kisah Khoyru Nisya Salsabila Putri, Wisudawan Terbaik Teknik Sipil ITN Malang yang LuwesBerorganisasi dan Rintis Karir Sejak Kuliah

Khoyru Nisya Salsabila Putri lulusan Terbaik Program Studi Teknik Sipil S-1n Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) ITN Malang pasa Wisuda ke-76 Periode II Tahun 2026. (Foto: Humas ITN Malang)


Malang, ITN.AC.ID – Di balik deretan wisudawan berprestasi Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) pada Wisuda ke-76 Periode II Tahun 2026, ada sosok Khoyru Nisya Salsabila Putri yang mencuri perhatian. Mahasiswi asal Kota Batu, Jawa Timur ini berhasil menyandang predikat Lulusan Terbaik Program Studi Teknik Sipil S-1 ITN Malang dengan IPK mengagumkan, 3.81. Saat ini, Putri sedang menjalani kontrak magang terbatas secara remote di Boon Technologies, Inc. (Boon AI), sebuah perusahaan berbasis di California yang berfokus pada dua sektor industri utama, yaitu Sektor Konstruksi serta Sektor Logistik & Operasi Armada.

Keberhasilan ini menjadi momen emosional bagi keluarga besarnya. Lahir sebagai anak tunggal dari pasangan Ahmad Purianto, seorang buruh tani, dan Evi Dwi Riskiah, seorang ibu rumah tangga, Putri akrab disapa tak kuasa menahan haru saat melihat orang tuanya meneteskan air mata bahagia.

“Reaksi orang tua bangga sekali, ayah dan ibu sampai menangis dan tidak bisa mengungkapkan perasaannya. Apalagi saya ini cucu pertama yang berhasil meraih gelar sarjana dari pihak ibu,” tutur Putri yang ikut diwisuda pada 19 September 2026 mendatang.

Baca juga: Dua Srikandi Teknik Sipil ITN Malang Ukir Prestasi di KBGI XVI 2025: Bawa Desain “Mahawastu Apartment” ke Final Tingkat Nasional

Perjalanan kuliah alumnus SMAN 3 Batu ini diraih melalui jalur penerima KIP Kuliah (KIP-K) Aspirasi. Pendidikan unggul di kampus teknik ternama ini memberi ruang bagi anak bangsa dari berbagai latar belakang untuk membuktikan kapasitasnya.

Selama menempuh studi, Putri dikenal sangat aktif. Di luar jam kuliah, ia ikut pengabdian masyarakat (abdimas) dosen, aktif di Himpunan Mahasiswa Teknik Sipil (HMS), hingga lolos ke babak final Kompetisi Bangunan Gedung Indonesia (KBGI) XVI Tahun 2025 serta ajang jembatan balsa. Masuk semester tujuh, ia bahkan sudah merambah dunia freelance sebagai drafter dan perancang perhitungan struktur.

Di sela kesibukan yang padat, Putri tak segan membantu ibunya menjaga warung di rumah. Memanfaatkan perangkat seadanya, ia juga membuka jasa cetak (print) dokumen untuk anak-anak sekolah di sekitar rumahnya.

“Kalau bagi waktu, tugas kuliah sebisanya saya selesaikan di kampus. Jadi di rumah tinggal mengerjakan sisanya. Saya sering di kampus sampai malam, mengerjakan tugas akademis sekaligus urusan himpunan,” ungkapnya.

Khoyru Nisya Salsabila Putri mahasiswa Teknik Sipil S-1 ITN Malang saat mengikuti babak final Kompetisi Bangunan Gedung Indonesia (KBGI) XVI Tahun 2025 (1)Khoyru Nisya Salsabila Putri mahasiswa Teknik Sipil S-1 ITN Malang saat mengikuti babak final Kompetisi Bangunan Gedung Indonesia (KBGI) XVI Tahun 2025. (Foto: Istimewa)

Pengalaman berorganisasi di HMS juga mengubah pribadi Putri yang dulunya pemalu. Dipercaya sebagai koordinator bidang melatih keberanian dan kemampuan pemecahan masalahnya (problem solving). “Dulu public speaking saya buruk sekali. Sejak aktif di himpunan, karena dituntut pintar bicara dan menyelesaikan masalah, di situlah saya betul-betul belajar. Ternyata organisasi tidak menghambat akademik, justru memperbanyak pengalaman,” kenang Putri.

Keaktifannya di KBGI pun berawal dari peran sederhana. Awalnya, ia hanya anggota tim pendukung (support team) kontingen. Melihat kegigihan para finalis berjuang memicu motivasinya hingga akhirnya ia mempersiapkan diri jauh-jauh hari dan berhasil lolos ke babak final.

Skripsi Angkat Teknologi Masa Depan Konstruksi: Pengendalian Jembatan Besuk

Kecerdasan akademis Putri tecermin kuat dalam tugas akhir skripsinya di bawah bimbingan Dr. Lila Ayu Ratna Winanda, ST., MT., dan Dr. Yosimson Petrus Manaha, ST., MT. Ia mengangkat judul “Analisis Pengendalian Waktu dan Biaya dengan Building Information Modeling (BIM) Berbasis Earned Value Management (EVM) Studi Kasus Jembatan Besuk Kabupaten Bondowoso”.

Dalam penelitiannya pada Proyek Pembangunan Jembatan Besuk Ruas Kota Bondowoso, Putri menerapkan pemodelan 3D menggunakan perangkat lunak Tekla Structures untuk menghasilkan quantity take-off otomatis. Data tersebut diintegrasikan dengan metode EVM melalui indikator Cost Performance Index (CPI) dan Schedule Performance Index (SPI).

Baca juga: Kolaborasi Manis Sipil-Arsitektur ITN Malang, Sabet Juara 2 di Undip Berkat Desain Hunian Darurat Multifungsi

“Di Jembatan Besuk belum ada pemodelan 3D. Saya membuat pemodelannya di Tekla Structures untuk menghitung volume secara lebih detail. Hasilnya, perhitungan volume dengan BIM terbukti lebih efisien dan hemat sekitar 0,013 dibanding perhitungan manual,” jelasnya.

Menariknya, penggunaan Tekla ini dipelajari Putri secara mandiri dari nol. Meski proses menggambarnya membutuhkan kecermatan tinggi, software ini memberikan hasil detail untuk evaluasi kinerja biaya dan waktu secara kuantitatif.

“Awalnya mau pakai Revit, tapi supaya lebih presisi saya pilih Tekla. Analisis EVM ini membantu mengetahui kinerja proyek secara real-time, apakah terlambat atau over budget. Di awal pelaksanaan proyek sempat ada keterlambatan, tapi di pertengahan progresnya bisa dipacu jadi lebih cepat dari perencanaan awal,” tambahnya.

Kini, setelah resmi menyandang gelar Sarjana Teknik, Putri tidak lantas berpuas diri. Sambil menjalani rangkaian tes rekrutmen kerja, ia tengah bersiap untuk berburu beasiswa demi melanjutkan studi ke jenjang S2. (Mita/Humas ITN Malang)




Aisyah Salsabila Ni'mah meraih penghargaan sebagai Best Paper ke-3 dalam Seminar Nasional “Call for Paper PADMA EKAPITA 2026” UPN Veteran Jawa Timur

Bawa Isu Ekonomi Hijau Kebun Teh Wonosari, Mahasiswi PWK ITN Malang Sabet Gelar Best Paper di UPN Veteran Jatim

Aisyah Salsabila Ni’mah mahasiswa PWK ITN Malang meraih penghargaan Best Paper ke-3 dalam Seminar Nasional “Call for Paper PADMA EKAPITA 2026” UPN Veteran Jawa Timur. (Foto: Yanuar/Humas ITN Malang)

 


Malang, ITN.AC.ID – Kabar membanggakan datang dari Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK), Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang). Aisyah Salsabila Ni’mah baru saja sukses meraih penghargaan sebagai Best Paper ke-3 dalam Seminar Nasional “Call for Paper PADMA EKAPITA 2026” yang digelar oleh UPN Veteran Jawa Timur. Bukan hanya membawa pulang gelar juara, artikel ilmiah hasil buah pikirannya ini juga dipastikan bakal diterbitkan di JDEP (Journal Dinamika Ekonomi Pembangunan) yang sudah terakreditasi Sinta 4.

Baca juga: Borong 8 Medali, Mahasiswa ITN Malang Unjuk Gigi di Malang Edu Fest 2026

Kompetisi ilmiah yang berlangsung daring lewat Zoom Meeting pada 19–21 Mei 2026 lalu ini terbilang ketat. Aisyah harus bersaing dengan peserta dari berbagai kampus di penjuru Indonesia. Prosesnya pun panjang, mulai dari seleksi abstrak, penyusunan makalah utuh, hingga harus melewati meja reviewer yang membedah kualitas isi, dan metodologi penelitian sebelum akhirnya diizinkan presentasi di hadapan dewan juri.

Alhamdulillah, sangat senang ketika mengetahui penelitian yang saya susun mendapat apresiasi sebagai best paper urutan ke-3,” ungkap Aisyah saat ditemui beberapa waktu lalu.

Dalam risetnya, Aisyah sengaja mengangkat Kebun Teh Wonosari, Kabupaten Malang sebagai objek kajian. Di matanya, destinasi wisata populer ini punya potensi komplit: mulai dari wisata alam, sektor perkebunan, hingga edukasi. Penggalian potensi ini didasari oleh realitas bahwa pengembangan agrowisata di pedesaan seringkali dihadapkan pada tantangan besar untuk menyeimbangkan antara eksploitasi ekonomi dan konservasi lingkungan. Melalui penelitian deskriptif kualitatif, Aisyah menggunakan analisis SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats) untuk memetakan kondisi eksisting, serta analisis Value Chain (Rantai Nilai) guna mengukur potensi penambahan nilai ekonomi bagi masyarakat lokal.

Aisyah Salsabila Ni'mah mahasiswa PWK ITN Malang meraih penghargaan Best Paper ke-3 dalam Seminar Nasional “Call for Paper PADMA EKAPITA 2026” UPN Veteran Jawa TimurAisyah Salsabila Ni’mah mahasiswa PWK ITN Malang meraih penghargaan Best Paper ke-3 dalam Seminar Nasional “Call for Paper PADMA EKAPITA 2026” UPN Veteran Jawa Timur. (Foto: Yanuar/Humas ITN Malang)

Sayangnya, menurut Aisyah, urusan aksesibilitas, infrastruktur, dan pengelolaan lingkungan di sana dirasa masih butuh banyak polesan. Nah, disinilah ia masuk dengan pendekatan ekonomi hijau agar aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan di Kebun Teh Wonosari bisa berjalan seimbang demi mewujudkan model pengembangan agrowisata berkelanjutan yang mampu memperkuat ekonomi pedesaan.

Menariknya, ia menawarkan sebuah model integrasi yang mengawinkan peran pengelola perkebunan (PTPN), pemerintah, dan warga lokal dalam menciptakan ekosistem pariwisata yang tidak hanya mengejar keuntungan semata, tetapi juga memulihkan ekosistem sekitar. Konsep nyata yang ia tawarkan meliputi pemanfaatan energi terbarukan skala mikro, pengelolaan limbah organik menjadi kompos, serta penerapan sistem pertanian rendah karbon. Integrasi ekonomi hijau dalam inisiatif agrowisata ini terbukti mampu meningkatkan pendapatan desa, menciptakan lapangan kerja ramah lingkungan (green jobs), dan memastikan ketahanan pangan melalui sistem diversifikasi tanaman.

Aisyah mengakui tantangan tersulit dari riset ini adalah mematahkan stigma. Ia harus bisa membuktikan secara ilmiah bahwa ekonomi hijau itu tidak hanya soal merawat alam, tapi juga bisa membuat perekonomian masyarakat sekitar semakin membaik, sekaligus mendukung ketahanan pangan. Solusinya, ia menekankan pentingnya diversifikasi tanaman dan pengolahan limbah agar nilai tambah produknya terdongkrak.

Baca juga: Esai Inklusif Mahasiswa PWK ITN Malang Sabet Juara 3 Nasional Geo Science 2025 UM

Melalui studi ini, ia menyimpulkan bahwa transisi menuju ekonomi hijau di tingkat desa merupakan faktor kunci dalam menghadapi era ketidakpastian global, di mana sinergi multisektoral di Kebun Teh Wonosari diharapkan dapat menjadi motor penggerak utamanya.

Dalam menyusun esai ilmiah tersebut, langkah Aisyah juga tidak lepas dari kolaborasi dan dukungan rekan-rekannya. Ia dibantu oleh Aura Eka Pratami, sesama mahasiswi PWK ITN Malang, serta Kevie Desderius, Asisten Dosen Studio Kota PWK ITN Malang

Lewat pencapaian manis ini, Aisyah punya pesan sederhana untuk teman-teman sesama mahasiswa yang masih ragu untuk memulai menulis.

“Menurut saya, jangan takut untuk memulai. Banyak ide bagus justru datang dari masalah sederhana yang ada di sekitar kita. Menang itu bonus, tetapi pengalaman dan pembelajaran yang didapat adalah hal yang paling berharga,” pungkasnya mantap. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)




Mahasiswa ITN Malang, borong juara Malang Edu Fest 2026. (2)

Borong 8 Medali, Mahasiswa ITN Malang Unjuk Gigi di Malang Edu Fest 2026

Mahasiswa ITN Malang, borong juara “Malang Edu Fest 2026”. (Foto: Yanuar/Humas ITN Malang)


Malang, ITN.AC.ID – Aula Kampus 1, Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) menjadi saksi prestasi dari mahasiswa ITN Malang, dan para juara “Malang Edu Fest 2026”, pada Minggu (24/05/2026). Tampil sebagai tuan rumah, delegasi ITN Malang sukses memborong total 8 medali dalam ajang nasional tersebut.

Mahasiswa ITN Malang raih lima medali Hardiknas Olympiad Batch 4 di Malang Edu Fest 2026.Mahasiswa ITN Malang raih lima medali Hardiknas Olympiad Batch 4 di “Malang Edu Fest 2026”. (Foto: Yanuar/Humas ITN Malang)

Mahasiswa Kampus Teknologi dan Inovasi ini berhasil menyisihkan ratusan mahasiswa dari seluruh Indonesia. Rinciannya, ITN mengamankan dua emas, satu perak, dan dua perunggu dari Hardiknas Olympiad Batch 4. Sementara dari Kompetisi Esai Naturaco Batch 2, tiga tim perwakilan kampus sukses membawa pulang satu medali emas dan dua medali perunggu. Ajang bergengsi yang diinisiasi oleh GYPEM – Riset Juara ini sukses terlaksana berkat dukungan dari IKA ITN Malang, dan Pemkot Malang.

Cerita Peraih Emas Hardiknas Olympiad, dari Mahasiswa Teknik Lingkungan

Salah satu cerita menarik datang dari Josephine Fransisca Agnes De Wangge. Mahasiswa Teknik Lingkungan S-1 ini secara mengejutkan menyabet Gold Medalist (medali emas) sekaligus meraih peringkat pertama di bidang Biologi, padahal ini adalah pengalaman pertamanya.

“Jujur, awalnya cuma penasaran, dan ingin menguji diri sendiri. Benar-benar kaget dan tidak menyangka hasilnya bisa sejauh ini,” cerita Josephine.

Mahasiswa ITN Malang raih tiga medali Kompetisi Esai Naturaco Batch 2 di Malang Edu Fest 2026Mahasiswa ITN Malang raih tiga medali Kompetisi Esai Naturaco Batch 2 di “Malang Edu Fest 2026”. (Foto: Yanuar/Humas ITN Malang)

Sebagai anak Teknik Lingkungan, Josephine mengaku terbantu karena akrab dengan materi ekosistem. Namun, ia tetap harus mencicil belajar materi biologi murni di tengah padatnya kuliah reguler.

“Kuncinya paham konsep, bukan menghafal. Dukungan dosen, orang tua, dan teman-teman yang membuat saya bertahan,” tambahnya. Ia berpesan agar mahasiswa lain jangan takut mencoba hal baru.

Selain Josephine, medali emas olimpiade bidang Matematika juga sukses diamankan oleh Muhammad Hirza Dhiya Ul Haq (Teknik Lingkungan S-1).

Baca Juga: Bersama GYPEM dan Riset Juara, ITN Malang Sukses Jadi Tuan Rumah Malang Edu Fest 2026, Rebutkan Piala Wali Kota Wahyu Hidayat

Soroti “Gaya Hidup Malam” Mahasiswa Malang Lewat Esai

Prestasi mentereng lainnya lahir dari tim Prodi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) yang digawangi oleh Dewi Kartika Sari, dan Yohanes de Britto Koda. Mereka menyabet medali emas lewat esai berjudul “Lampu Dunia Malam Lebih Terang daripada Masa Depan: Potret Ruang Pelarian Generasi Muda di Balik Identitas Kota Malang sebagai Kota Pendidikan.”

“Kami melihat menjamurnya hiburan malam di Malang bukan sekadar masalah sosial, tapi indikasi kurangnya wadah produktif bagi mahasiswa,” jelas Dewi. Sebagai solusi, mereka menawarkan konsep Midnight Growth Space untuk merevitalisasi aset kota menjadi ruang malam yang kreatif dan edukatif.

Di tengah padatnya tugas studio, mereka konsisten menyisihkan waktu berdiskusi. “Setiap hari kami meluangkan 10-15 menit untuk bertemu, membahas kesulitan, dan mencari solusi,” kata Dewi yang bersyukur atas bimbingan intensif dari dosen PWK, Mohammad Reza, serta Pak Krisna, dan Bu Reni.

Bukan Hanya Soal Menang, Tapi Ujian Mental

Ketua Panitia Malang Edu Fest 2026 dari ITN Malang, Krisna Febrian Anugerahputra, ST., MT., M.Sc., membeberkan, kampus memang selektif memilih delegasi, termasuk menyaring mahasiswa yang mempunyai modal persiapan di ajang On MIPA.

Baca juga: Serunya Malang Edu Fest 2026 di ITN Malang: Diapresiasi Wali Kota, Peserta Juara Dapat Diskon Kuliah 50%

Bagi Krisna, kemenangan ini adalah bonus. Target utama pihak kampus sebenarnya adalah investasi jangka panjang pada aspek mental mahasiswa.

“Semakin tinggi level lombanya, yang diuji bukan lagi hanya kemampuan akademik, tapi mental. Pengalaman dan mental baja inilah yang nanti bakal jadi modal paling berharga buat mereka saat lulus dan menghadapi dunia kerja,” pungkas Krisna. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)

Berikut Daftar Peraih Medali ITN Malang:
Hardiknas Olympiad Batch 4
1. Josephine Fransisca Agnes De Wangge (Teknik Lingkungan S-1) – Gold Medalist Biologi
2. Muhammad Hirza Dhiya Ul Haq (Teknik Lingkungan S-1) – Gold Medalist Matematika
3. Irena Mafdrian Naurah Firdaus (Teknik Elektro S-1) – Silver Medalist Matematika
4. Mochammad Rifki Fadilah (Teknik Sipil S-1) – Medali Perunggu Bahasa Inggris
5. I GD. MD. Ananda Sradha Prasantha (Teknik Kimia S-1) – Medali Perunggu Matematika

Kompetisi Esai Naturaco Batch 2
1. Prodi PWK: Dewi Kartika Sari & Yohanes de Britto Koda – Gold Medalist (Pembimbing: Dr. Mohammad Reza, ST., MURP)
2. Prodi Teknik Sipil: Rahim & Kayla Wildani Novia – Bronze Medalist (Pembimbing: Krisna Febrian Anugerahputra, ST., MT.,  M.Sc.)
3. Prodi Bisnis Digital: Helma Liana Putri & Angga Dwi Saputra – Bronze Medalist (Pembimbing: Reni Rupianti, SM., MM)




Deslyano Miyola Pratama lulusan terbaik Teknik Lingkungan S-1, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP), ITN Malang pada wisuda ke-75 periode I tahun 2026

Bawa Reaktor Pakai Motor ke Mojokerto, Deslyano Miyola Jadi Lulusan Terbaik Teknik Lingkungan ITN Malang

Deslyano Miyola Pratama lulusan terbaik Teknik Lingkungan S-1, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP), ITN Malang pada wisuda ke-75 periode I tahun 2026. (Foto: Yanuar/Humas ITN Malang)


Malang, ITN.AC.ID – Siapa sangka, di balik gelar lulusan terbaik Teknik Lingkungan S-1, Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang), ada cerita perjuangan unik dari Deslyano Miyola Pratama. Pemuda asli Wonogiri, Jawa Tengah ini rela menempuh perjalanan Malang-Mojokerto naik sepeda motor sambil membawa reaktor grease trap dan tumpukan botol sampel demi menyelesaikan skripsinya.

Kerja keras mahasiswa Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) ini terbayar tuntas. Cowok yang akrab disapa Ano tersebut lulus dalam waktu 3,5 tahun, dengan IPK 3,69. “Waktu itu saya bawa reaktor, bak penampung, sampai botol-botol sampel semuanya naik motor ke lokasi penelitian. Memang agak repot, tapi itu bagian dari proses. Saya dibantu teman ke sana,” kenangnya saat ditemui di Kampus 1 ITN Malang beberapa waktu lalu. Ano akan turut diwisuda pada wisuda ke-75 periode I tahun 2026, Sabtu (25/04/2026) nanti.

Solusi untuk Limbah Keripik Usus

Ketertarikan Ano pada isu lingkungan bukan sekadar ikut-ikutan. Ia punya misi besar ingin memperbaiki lingkungan salah satunya kualitas air bersih yang semakin terbatas. Hal ini ia buktikan lewat skripsi berjudul “Pemisahan Minyak Lemak dan TSS pada Air Limbah Pabrik Kripik Usus Ayam dengan Reaktor Grease Trap Skala Laboratorium”.

Baca Juga : SMA Wijaya Putra Surabaya Raih Juara 1 LKTI Elvion 34 ITN Malang, Tawarkan Solusi Kangkung untuk Limbah Sungai Benowo

Penelitiannya dilakukan di UD Ratna, Mojosari, Mojokerto. Ia melihat limbah pabrik keripik usus di sana sering menyumbat pipa karena kandungan minyak yang tinggi. Ano pun berinisiatif membuat alat pemisah minyak (grease trap) untuk membantu efektivitas pengolahan limbah. Ano mendapat bimbingan dari dosen Dr. Evy Hendriarianti, ST., M.MT.,  dan Candra Dwiratna Wulandari, ST., MT.

Deslyano Miyola Pratama mahasiswa ITN Malang saat melakukan penelitian di UD Ratna, pabrik keripik usus MojokertoDeslyano Miyola Pratama mahasiswa ITN Malang saat melakukan penelitian di UD Ratna, pabrik keripik usus Mojokerto. (Foto: Istimewa)

“Di sana pengolahan sedimentasinya sudah ada, tapi pemisah minyaknya belum. Akhirnya saya uji dengan tiga variasi kecepatan aliran. Hasilnya, kecepatan 2 meter/jam paling efektif menyisihkan minyak lemak sampai 88 persen,” jelas putra pasangan Mijo Tomosetiko, dan Sriyati ini.

Meski masih perlu penelitian lebih lanjut agar benar-benar sesuai baku mutu, hasil risetnya ini sudah berhasil menembus jurnal Sinta 4 di International Journal of Science and Environment (IJSE).

Aktif di Organisasi dan Penelitian Dosen

Selama kuliah, alumnus SMA Negeri 1 Wonogiri ini tidak hanya jadi “kupu-kupu” (kuliah-pulang). Ano aktif di Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan (HMTL) dan menjadi asisten Laboratorium Teknik Lingkungan. Pengalamannya makin kaya karena ia dilibatkan dalam penelitian dosen yang kelanjutan dari Proyek “Brantas Clean Industry Initiative” di Mojokerto, tempat dimana penelitian skripsinya dilakukan. Selain itu terlibat dalam kegiatan hasil kerja sama ITN Malang dengan Pemerintah Kabupaten Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) di bidang air limbah domestik, dan air minum.

Menurutnya, bergabung dalam penelitian atau proyek dosen adalah salah satu cara mahasiswa untuk menambah wawasan dan pengalaman praktik di lapangan. “Kalau ada tawaran proyek atau penelitian dari dosen, jangan ditolak. Terima saja, karena ilmunya sangat bermanfaat. Syukur-syukur bisa buat skripsi, bahkan kadang dibantu finansial juga,” saran Ano.

Baca Juga : ITN Malang Menjadi TUK, Fasilitasi Sertifikasi Kompetensi Kerja Tenaga Ahli Bidang Tata Lingkungan

Menurutnya, pengalaman ikut lomba juga sangat penting. Ano bersama tim sempat menyabet Juara 3 LKTI Creanomic 2024 di Universitas Brawijaya. Sertifikat-sertifikat seperti ini menurutnya sangat penting untuk memperkuat CV saat melamar kerja nanti sebagai pendamping ijazah.

Ditanya soal rahasia lulus 3,5 tahun dengan IPK cumlaude (dengan pujian), Ano punya kebiasaan sederhana tapi konsisten. Ia selalu mencatat atau menandai agenda yang akan dilakukan keesokan harinya agar waktunya terbagi rata antara organisasi dan kuliah.

“Satu lagi, jangan bolos kuliah. Nikmati saja prosesnya,” tuturnya, yang terkenang saat-saat sulit seperti praktikum kimia lingkungan di awal semester yang membuatnya sempat sulit beradaptasi.

Kini, dengan bekal ilmu pengolahan limbah dan pengalaman lapangan yang ia miliki, Ano siap melangkah ke dunia profesional untuk mewujudkan mimpinya menjaga kelestarian lingkungan Indonesia. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)




Anita Claudia Novedy, lulusan terbaik Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) S-1, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP), ITN Malang pada wisuda ke-75 periode I tahun 2026

Gali Kedalaman Materi: Resep Anita Claudia Jadi Lulusan Terbaik PWK ITN Malang

Anita Claudia Novedy, lulusan terbaik Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) S-1, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP), ITN Malang pada wisuda ke-75 periode I tahun 2026. (Foto: Yanuar/Humas ITN Malang)


Malang, ITN.AC.ID — Bagi Anita Claudia Novedy, menjadi lulusan terbaik Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) S-1, Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) bukan hanya mengejar nilai ijazah. Gadis asal Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah ini mempunyai prinsip sederhana tapi sangat tajam, “gali kedalaman materi”. Alih-alih langsung menutup buku begitu kelas usai, Anita terbiasa mengulang kembali setiap detail, mulai dari apa, mengapa, hingga bagaimana materi yang baru saja ia terima hari itu.

Kiat tersebut terbukti ampuh. Putri pasangan Tarah, dan Rani ini sukses meraih IPK 3.76 dengan masa studi 3,5 tahun. Bahkan ia berhasil menjadi lulusan terbaik di lingkungan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP), dan akan ikut diwisuda pada Wisuda ke-75 Periode I Tahun 2026, pada 25 April 2026 mendatang. Bagi Anita, memahami materi sampai ke akar-akarnya adalah modal utama agar bisa tetap “nyambung” saat bertukar pikiran di kelas, sekaligus memastikan setiap tugas yang dikerjakan hasilnya maksimal

Ketertarikan Anita pada dunia geografi dan kebumian memang sudah muncul sejak kecil. Tak heran jika saat lulus SMA Negeri 2 Sampit, ia langsung memantapkan diri memilih PWK ITN Malang. “Kurikulum dan dosen-dosen yang kompeten di sini benar-benar mewadahi minat saya,” kenangnya.

Baca Juga : Jauh-Jauh dari Banjarbaru, Siswa SMAIT Ar Rahman Intip Masa Depan Lewat Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) ITN Malang

Selama kuliah, Anita juga aktif diorganisasi. Ia pernah menjabat sebagai sekretaris Himpunan Mahasiswa PWK (HMPWK) selama dua periode, serta bergabung dalam Ikatan Mahasiswa Perencanaan Indonesia (IMPI) Korwil Jatim-Bali-NTB. Pengalaman ini melatihnya dalam hal kepemimpinan, kerja sama tim, hingga membangun koneksi yang berguna untuk dunia kerja nanti.

Bicara prestasi, ceritanya cukup panjang. Anita pernah menyabet Juara II Nasional Poster Competition di UGM (2023) hingga meraih penghargaan Karya Ilmiah Terbaik kategori Circular Blue Economy Development di East Java Plano Summit 2024. Baginya, ikut lomba adalah cara paling asyik untuk menguji kemampuan berpikir dan kreativitas dalam menyelesaikan masalah dari berbagai perspektif.

Anita Claudia Novedy, bersama tim mahasiswa PWK ITN Malang saat mengikuti East Java Plano Summit 2024Anita Claudia Novedy  (dua dari kanan), bersama tim mahasiswa PWK ITN Malang saat mengikuti East Java Plano Summit 2024. (Foto: Istimewa)

Tugas akhir atau skripsinya pun tak kalah menarik. Dalam skripsinya, Anita mengangkat topik yang sangat relevan dengan dinamika pembangunan saat ini, yaitu identifikasi aglomerasi perkotaan di Provinsi Kalimantan Timur. Di bawah bimbingan Dr. Ir. Ibnu Sasongko, MT, dan Endratno Budi Santosa, ST., MT, ia menggunakan model Intersection-Based Clustered Network (iCN). Metode ini tergolong baru dan mampu memotret interaksi ruang melalui titik persimpangan jalan tanpa terpatok pada batas administratif.

Anita menjelaskan, ketersediaan dan keterhubungan jaringan jalan adalah faktor kunci agar aktivitas perkotaan berlangsung efektif, apalagi dengan adanya transformasi masif akibat penetapan Ibu Kota Nusantara (IKN). Menggunakan data shapefile jaringan jalan eksisting dan rencana, ia mengolahnya dengan Nearest Neighbor Analysis dan metode DBSCAN untuk melihat di mana saja klaster pertumbuhan terbentuk.

“Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkembangan wilayah Kaltim cenderung berekspansi ke arah IKN, tepatnya di Kecamatan Sepaku dan Samboja. Sejalan dengan itu, muncul juga klaster-klaster pertumbuhan baru di wilayah lain yang posisinya ternyata sejalan dengan rencana sistem pusat permukiman dalam RTRW,” jelasnya.

Baca Juga : Lulus Bukan Berarti Putus: FTSP ITN Malang Lepas 56 Calon Wisudawan di Yudisium Periode I

Menurut Anita, penggunaan data sekunder dalam penelitiannya cukup memudahkan karena data diperoleh langsung melalui pihak kedua atau instansi penyedia data spasial. Namun, bukan berarti tanpa kendala. Tantangan muncul saat ia harus berhadapan dengan birokrasi perizinan di instansi pemerintahan, di mana proses administrasi dan permohonan data memakan waktu cukup lama. Situasi ini menuntutnya untuk pintar mengelola waktu antara mengejar progres skripsi dan mengejar jadwal sidang. Meski begitu, bagi Anita temuan ini sangat positif karena mengindikasikan adanya pemerataan ekonomi dan layanan di wilayah penyangga.

Tentu, perjalanan ini tak selalu mulus. Ada kalanya Anita merasa kewalahan saat tugas kuliah, urusan organisasi, dan target kompetisi menumpuk jadi satu, apalagi harus sambil memutar otak mengelola keuangan sebagai anak kos. Namun, didikan kemandirian dan kejujuran dari orang tuanya sejak kecil membuatnya tetap tangguh di perantauan.

“Motivasi terbesar saya adalah Tuhan dan keluarga. Harapan dan doa orang tua selalu jadi pengingat bagi saya untuk memberikan yang terbaik,” pungkas Anita yang kini tengah bersiap melanjutkan studi ke jenjang S-2. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)