Ar. Rani Yuni Wulandari, IAI., Director MDS Architects, sekaligus alumnus Arsitektur S-1, ITN Malang angkatan 2013.

Arsitek vs AI: Alumnus Arsitektur ITN Malang Rani Yuni Wulandari Tegaskan Sentuhan Manusia Tak Tergantikan

Ar. Rani Yuni Wulandari, IAI., Director MDS Architects, sekaligus alumnus Arsitektur S-1, ITN Malang angkatan 2013. (Foto: Yanuar/Humas ITN Malang)


Malang, ITN.AC.ID – Kecerdasan buatan atau AI memang berkembang sangat pesat, namun dalam hal merancang bangunan, sentuhan serta kepekaan seorang arsitek tetap memiliki sisi personal yang tidak mudah digantikan. Pesan inilah yang membakar semangat mahasiswa dalam gelaran Nata Karya 7.0 yang diadakan oleh Prodi Arsitektur S-1, Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) pada Selasa, (23/06/2026). Berpusat di Studio 4A Gedung Arsitektur sesi talkshow sukses menjadi magnet, tidak hanya bagi seluruh angkatan mahasiswa arsitektur, tetapi juga dikunjungi mahasiswa dari kampus lain.

Nata Karya 7.0 Arsitektur ITN MalangNata Karya 7.0 Arsitektur ITN Malang. (Foto: Istimewa)

Hadir sebagai narasumber, Ar. Rani Yuni Wulandari, IAI., alumnus Arsitektur S-1, ITN Malang angkatan 2013 yang kini menahkodai Monarc Design Studio (MDS Architects). Di hadapan para juniornya, arsitek yang berbasis di Pasuruan ini membedah topik hangat yang sedang dihadapi dunia profesional saat ini, yakni bagaimana arsitek harus berdampingan dengan teknologi tanpa kehilangan jati diri.

“Kami banyak melakukan percobaan pakai AI untuk tata ruang atau mencari konsep fasad. Apalagi sekarang klien kami sering meminta satu tipe rumah dengan lima fasad berbeda, AI sangat membantu mempercepat proses generate itu. Tapi, ada hal yang tidak bisa digantikan oleh AI secanggih apapun, yaitu psikologi manusia dan rasa (feeling). Di dunia kerja nyata, analisis keilmuan dan kepekaan rasa kitalah yang memenangkan desainya,” ungkap Rani terbuka.

Rani juga membagikan tips menghadapi tantangan klasik arsitek, yaitu ketika menghadapi klien yang menuntut proyek “murah, bagus, dan cepat,” atau bahkan mereka yang mempertanyakan mengapa tarif desain arsitek mahal padahal sekarang sudah ada AI.

Baca Juga: Konsep Kedai Kopi Sukun dan Sentuhan Harley Davidson Hidupkan Pameran Nata Karya 7.0 Arsitektur ITN Malang

“Kuncinya, arsitek harus percaya diri dengan apa yang akan disampaikan. Edukasi klien sejak awal. Kalau sudah punya sertifikasi, kita bisa pakai itu sebagai nilai tawar, kalau belum ya lewat kesepakatan-kesepakatan yang jelas,” tambahnya.

Membagikan perjalanan karirnya, Rani mengaku sudah mulai curi start dengan menjadi freelancer sejak kuliah semester 3 dan 4 demi mencari pengalaman. Mulai dari proyek kecil tak dibayar hingga menggarap rumah tinggal berukuran besar. Lulus tahun 2017, ia sempat bekerja sebagai Fasilitator Teknik di Dinas PUPR Kabupaten Pasuruan (2018-2019), bergabung di PT Archimetric (2019-2020), hingga kini menjabat sebagai Senior Arsitek di PT Patraland Group sejak 2023. Sambil terus bekerja di perusahaan, setelah mendapatkan sertifikasi pada tahun 2021 ia mendirikan MDS bersama rekan sesama alumni ITN Malang.

“Awalnya Monarc Design Studio terdiri dari 4 anggota tim yang tersebar di Jawa Timur. Di usia produktif, memang paling berat menyamakan visi dan misi di tengah jalan, sampai akhirnya berbeda arah. Tapi kami tetap berhubungan baik, dan kemudian pada tahun 2023  resmi melakukan rebranding sebagai MDS Architects dengan personel baru 5 orang yang tersebar di Jawa Timur dan Kalimantan Selatan,” ungkap Rani.

Ar. Rani Yuni Wulandari, IAI., Director MDS Architects, saat memberi materi pada Nata Karya 7.0. Arsitektur ITN Malang (2)Ar. Rani Yuni Wulandari, IAI., Director MDS Architects, saat memberi materi pada Nata Karya 7.0. Arsitektur ITN Malang. (Foto: Yanuar/Humas ITN Malang)

Saat ini timnya tengah menggarap proyek masif Master Plan Real Estate Mutiara Land Residence seluas 6,8 hektare. Hebatnya, rata-rata tim MDS masih melakoni double job dan kerap lembur di depan komputer hingga rapat malam hari demi membangun relasi dan memperluas jaringan.

Pesan Rani untuk mahasiswa saat ini sangat jelas dengan memanfaatkan teknologi, dan menjadikannya mitra berdampingan. Mahasiswa arsitektur zaman sekarang dituntut memiliki kemampuan berpikir kritis (critical thinking), rajin ikut sayembara, aktif di seminar, dan peka terhadap isu teknologi agar cepat beradaptasi saat masuk dunia kerja nanti.

“Perjalanan arsitek itu panjang, mahasiswa harus tahan banting dan punya semangat juang. Untuk branding sekarang sudah gampang, tinggal tunjukkan kemampuan lewat media sosial,” tegasnya.

Inspirasi ini ditangkap oleh peserta, salah satunya Casmira Carla Ina Prada, mahasiswi angkatan 2025 asal Larantuka, Flores, Nusa Tenggara Timur. Carla sengaja merantau jauh ke Malang dengan misi besar, ingin membawa perubahan di daerah asalnya.

Baca Juga: Dari Tambang hingga Dunia Pendidikan, Alumni Teknik Industri ITN Malang Buktikan Lulusan Teknik Industri Bisa Masuk ke Semua Sektor

“Di Flores, profesi arsitek belum begitu dipercaya masyarakat, mereka lebih percaya tukang. Bahkan ada yang aslinya arsitek tapi akhirnya terpaksa mencari kerja ke Jawa atau Bali. Saya ingin mempelajari bagaimana caranya agar karya arsitek lokal bisa diterima di sana,” tutur Carla.

Carla lalu bercerita tentang awal mulanya terdampar di kampus ITN Malang. Ia menyukai dunia gambar sejak SMA karena impiannya bisa bekerja dari rumah, namun sempat kebingungan mencari kampus arsitektur. “Waktu lagi scroll TikTok, saya tidak sengaja melihat live TikTok ITN Malang. Begitu tahu ada prodi Arsitektur, saya langsung putuskan kuliah di sini, padahal awalnya saya sama sekali tidak tahu Kota Malang itu ada di sebelah mana,” kenangnya sambil tertawa.

Masuk ke dunia perkuliahan sempat mematahkan ekspektasinya. Carla awalnya mengira gambar arsitektur harus sangat estetik dan penuh seni tingkat tinggi. “Ternyata tidak begitu. Yang paling penting dari gambar arsitek adalah bagaimana orang lain bisa paham pesan dan maksud yang ingin kita sampaikan,” pungkasnya optimis. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)




Saipul Muklas, Unit Head Mine Survey PT Saptaindra Sejati (SIS) - Group PT AlamTri Geo, alumni Teknik Geodesi S-1 ITN Malang angkatan 2012 (2)

Pengalaman Lembur di Kampus Jadi Modal Saipul Muklas Taklukkan Industri Pertambangan

Saipul Muklas, Unit Head Mine Survey PT Saptaindra Sejati (SIS) – Group PT AlamTri Geo, alumni Teknik Geodesi S-1 ITN Malang angkatan 2012. (Foto: Humas ITN Malang)


Malang, ITN.AC.ID – Saipul Muklas, masih ingat betul ritme kuliahnya dulu yang sarat dengan tugas studio. Pagi kuliah sampai sore, disambung lembur mengerjakan tugas dari malam hingga pagi lagi sudah menjadi makanan sehari-hari. Alumnus Teknik Geodesi S-1, Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) angkatan 2012 ini mengakui, tahan lembur adalah syarat mutlak anak teknik.

Namun, siapa sangka tempaan fisik dan mental di kampus itulah yang kini membawanya menduduki posisi strategis sebagai Unit Head Mine Survey di PT Saptaindra Sejati (SIS) – Group PT AlamTri Geo, salah satu raksasa kontraktor pertambangan di Indonesia.

Pria asal Tumpang, Kabupaten Malang ini bercerita, bahwa dunia kerja menuntut target operasional yang ketat. “Ternyata pengalaman ditempa seperti ini sangat berguna didunia kerja. Saat kerja dituntut dateline target operasional atasan. Kami pernah pada masa itu,” ujar alumnus MAN 3 Jombang ini saat ditemui di Kampus 1 ITN Malang beberapa waktu lalu.

Baca juga: Teknik Geodesi ITN Malang Terima Hibah Laser Scanner Standar Industri Tambang dari PT Saptaindra Sejati (SIS)

Ternyata pengalaman mengerjakan tugas, dan lembur itu sangat berguna saat bekerja. Menurutnya, lulusan ITN Malang dikenal tangguh dan cepat beradaptasi. Itu karena praktik di kampus memang dibuat semirip mungkin dengan kondisi medan yang sulit di lapangan.

Perjalanan karier Syaiful tidak langsung mulus di pertambangan. Usai lulus, ia sempat mencari pengalaman di dunia konstruksi pada 2017-2018 di PT Wijaya Karya Persero (Wika). Baru setelah itu, ia berhasil menembus industri tambang di PT Indo Tambangraya Megah (ITM) selama hampir tiga tahun, sebelum akhirnya berlabuh di PT Saptaindra Sejati (SIS) hingga sekarang. Baginya, keberanian untuk keluar dari zona nyaman adalah kunci jika ingin mencari jenjang karir dan pelatihan yang lebih menunjang.

Kini, hari-hari Saipul dihabiskan di lokasi pertambangan yang cukup terisolasi di Kalimantan, mulai dari Balangan, Tanjung Tabalong, hingga Murung Raya. Lokasinya benar-benar di tengah hutan tanpa pemukiman penduduk, dengan pola kerja 42 hari masuk, dan 18 hari libur. Meski fasilitas lengkap, tantangan tetap ada, seperti pernah kehilangan sinyal total selama dua hari di tengah rimba.

Saipul Muklas, Unit Head Mine Survey PT Saptaindra Sejati (SIS) - Group PT AlamTri Geo, alumni Teknik Geodesi S-1 ITN Malang angkatan 2012 saat berada lokasi pertambangan

Saipul Muklas, Unit Head Mine Survey PT Saptaindra Sejati (SIS) – Group PT AlamTri Geo, alumni Teknik Geodesi S-1 ITN Malang angkatan 2012 saat berada lokasi pertambangan. (Foto: Istimewa)

Sebagai Unit Head Mine Survey, Saipul bertanggung jawab memimpin 5 tim yang masing-masing terdiri dari lima orang. Tugasnya mencakup koordinasi tim topografi, desain tambang, reklamasi, pengolahan data, hingga tim UAV (drone) dan blasting. Namun, bagi Saipul, memimpin bukan soal perintah kaku. Ia lebih memilih pendekatan emosional melalui coaching dan diskusi setiap pagi.

Saipul tidak segan merinci tugas masing-masing tim di bawah komandonya untuk memberikan gambaran nyata dunia kerja pertambangan. Mulai dari tim topografi yang bertugas menghitung volume cut and fill (gali-timbun) serta progres harian, hingga tim desain yang memastikan operasional tambang berjalan presisi sesuai rencana.

Ada pula tim reklamasi yang mendampingi unit disposal untuk memastikan area tutupan lahan sesuai dengan perencanaan lingkungan. Sementara itu, untuk efisiensi data, tim UAV bertugas memperbarui perubahan kondisi tambang melalui foto udara secara real-time, yang datanya kemudian diolah oleh tim data processing. Terakhir, ada tim blasting yang menjadi pemandu bagi operasional peledakan dalam menentukan titik-titik area yang akan dieksekusi di lapangan.

Setiap pagi, rutinitas Saipul diawali dengan pertemuan tim yang untuk membahas target harian perusahaan. Pada momen inilah ia juga membangun kedekatan emosional dengan mendengarkan kendala lapangan, kebutuhan kru, hingga mencari solusi bersama. Saipul juga rutin melakukan coaching dan screening untuk meninjau kinerja personel secara personal, sekaligus memberikan gambaran target ke depan.

Baca juga: Belajar Survive di Dunia Kerja, Mahasiswa Arsitektur ITN Malang “Ngaji” Proyek ke Biro Alumni

“Dari rangkaian pertemuan itu, akhirnya terbangun chemistry. Saya harus bisa memposisikan diri, tidak terlalu kaku tapi tetap tegas pada aturan. Dengan begitu, tim akan merasa dihargai dan tidak sungkan menyampaikan kendala apa pun yang mereka hadapi,” ungkapnya membeberkan kunci solidnya tim di tengah hutan.

Kepada mahasiswa ITN Malang, khususnya mahasiswa Teknik Geodesi, Saipul berpesan agar tidak hanya menguasai teori dasar, tapi juga harus melek teknologi. Ia mencontohkan penggunaan drone yang kini menjadi kebutuhan primer di lapangan pertambangan, jauh melampaui ekspektasinya saat masih kuliah dulu.

“Dunia kerja berkembang sangat cepat. Jangan menutup diri dari teknologi baru. Dan yang paling utama, jaga integritas. Hasil ukuran geodesi itu harus akurat dan presisi, karena itu adalah jati diri seorang surveyor,” pungkasnya. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)




Ikatan Alumni Teknik Sipil (IATS) ITN Malang melakukan aksi sosial pembagian takjil di bulan Ramadan.

Kompak! Alumni Teknik Sipil ITN Malang “Turun Jalan” Bagikan Takjil di Depan Kampus 1

Ikatan Alumni Teknik Sipil (IATS) ITN Malang melakukan aksi sosial pembagian takjil di bulan Ramadan. (Foto: Istimewa)


Malang, ITN.AC.ID – Wajah depan Kampus 1, Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) kini tampak lebih segar dan berbeda. Memanfaatkan momen bulan suci ini, alumni ITN Malang yang tergabung dalam Ikatan Alumni Teknik Sipil (IATS) memutuskan untuk “kembali ke rumah” melalui aksi sosial pembagian takjil bertajuk “Mari Berbagi di Bulan yang Penuh Berkah”.

Kegiatan ini dijadwalkan berlangsung sebanyak empat kali selama Ramadan 1447 H, yakni pada hari Minggu, 22 Februari, 1 Maret, dan 8 Maret, serta ditutup pada Sabtu, 14 Maret 2026. Setiap sore mulai pukul 16.30 WIB, sebanyak 200 paket takjil disiapkan untuk diberikan kepada pengguna jalan, mulai dari ojek online, mahasiswa, hingga masyarakat umum yang melintas di depan gerbang Kampus 1 ITN Malang.

Baca Juga : “Dalam Doa Kita Setara”: Saat Alumni IKA Surya ITN Malang Memeluk Hangat Anak-Anak Istimewa di Gresik

Koordinator kegiatan, Ir. Bambang Wedyantadji, MT., menjelaskan, bahwa misi utama IATS adalah berbagi kenikmatan bagi mereka yang sedang menjalankan ibadah puasa. “Selain itu, harapan kami sebagai alumni keberadaan kampus ITN Malang, khususnya Teknik Sipil, semakin dikenal luas dan dekat di hati masyarakat,” ujar alumnus angkatan 1978 ini saat dihubungi lewat sambungan whatsapp pada Senin (02/03/2026).

Ada cerita menarik di balik pemilihan lokasi pembagian. Salah satu pengurus IATS, menceritakan bahwa awalnya sempat ada rencana membagi tim di dua titik. Namun, setelah mempertimbangkan berbagai hal, diputuskan untuk fokus di depan kampus 1.

“Harapannya, masyarakat dan pengguna jalan bisa lebih memperhatikan wajah ITN Malang yang sekarang sedang berbenah dan tampil beda. Dana kegiatan ini pun murni hasil patungan para donatur alumni Teknik Sipil sendiri,” ungkapnya.

Diguyur hujan Ikatan Alumni Teknik Sipil (IATS) ITN Malang membagikan takjil di depan kampus 1 ITN MalangDiguyur hujan Ikatan Alumni Teknik Sipil (IATS) ITN Malang membagikan takjil di depan kampus 1 ITN Malang. (Foto: Istimewa)

Meski cuaca sempat tidak menentu, seperti pada hari pertama yang diguyur hujan, semangat para alumni tidak luntur. “Namanya sudah niat, ya kami jalankan sesuai rencana. Alhamdulillah pada pembagian hari kedua kemarin cuaca sangat cerah. Isian takjilnya pun kami buat beda-beda setiap hari, seperti kemarin ada tiga macam kue, dan air mineral,” tambahnya.

Uniknya, IATS sengaja memilih hari libur (Sabtu dan Minggu) agar tidak mengganggu jadwal kerja para alumni yang berprofesi beragam, mulai dari kontraktor hingga dosen. Setiap aksi bagi takjil juga melibatkan mahasiswa aktif. Tujuannya agar tidak ada sekat antara senior dan junior, sehingga mahasiswa merasa lebih dekat dengan para pendahulunya.

Baca Juga : Lab Transportasi dan Jalan Raya ITN Malang Resmi Mandiri, Siap Genjot Kerja Sama Industri dan Skill Mahasiswa

Setelah bagi-bagi takjil selesai, acara biasanya dilanjut dengan buka puasa bersama. Momen ini menjadi ruang diskusi santai bagi para alumni yang jarang bisa berkumpul karena kesibukan masing-masing. Melalui gerakan ini, IATS berharap bisa memantik semangat alumni lain untuk ikut berpartisipasi dalam Bulan Ramadan, dan kembali menengok “almamater biru” yang kini sedang terus bersolek. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)




Muhammad Rafiqy Farhan, alumnus Teknik Sipil S-1 ITN Malang, angkatan 2021

Bukan Sekadar Kuliah, Farhan Buktikan Skill Sipil dan “Common Sense” Jadi Kunci Cepat Diserap Dunia Kerja

Muhammad Rafiqy Farhan, alumnus Teknik Sipil S-1 ITN Malang, angkatan 2021. (Foto: Mita/Humas ITN Malang)


Malang, ITN.AC.ID – Bertemu Muhammad Rafiqy Farhan di tengah acara Sharing Session Creation 3.0 Himpunan Mahasiswa Sipil (HMS), Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) pada Januari 2026 lalu, kita akan melihat sosok alumnus yang tidak hanya mengandalkan ijazah. Baru saja diwisuda pada September 2025, Farhan kini tengah disibukkan dengan perannya sebagai Junior Engineer di PT Surya Tripta Rekayasa, sebuah konsultan perencana ternama di Kota Malang.

Alumnus Teknik Sipil S-1, angkatan 2021 ini memang bukan mahasiswa “biasa”. Saat masih di kampus, namanya langganan masuk daftar mahasiswa berprestasi. Tapi baginya, IPK 3,36 berkat Beasiswa Kaltim Tuntas sejak semester 3 hanyalah satu sisi mata uang. Sisi lainnya adalah jam terbang lapangan yang ia geluti sejak dibangku kuliah.

Baca Juga : Persiapan Mepet Bawa Mahasiswa Teknik Sipil ITN Malang Raih Juara 3 National Tender Competition

Skill gambar kerja dan bikin RAB itu sudah saya asah jauh sebelum lulus,” kenang alumnus SMAN 1 Samarinda ini. Bayangkan saja, di tahun 2023 saat baru selesai menjabat di himpunan, Farhan bersama tim sudah dipercaya menggarap proyek sanitasi di Papua. Ia juga sering dilibatkan oleh kerja sama ITN Malang untuk proyek-proyek strategis di Kalimantan Timur, dan Nusa Tenggara Timur, hingga pembangunan tiga rest area.

Belajar Hal yang Tak Diajarkan di Kelas

Saat kuliah Farhan juga dipercaya sebagai asisten Lab. Aplikasi Rekayasa Teknik Sipil, dan Lab. Manajemen Konstruksi. Bagi pria yang pernah menjadi asisten dosen mata kuliah Struktur Bangunan, dan Struktur Baja ini, dunia kerja saat ini juga bersinggungan dengan disiplin ilmu lainnya seperti arsitektur, mekanikal, elektrikal, dan lain-lain. Hal-hal tersebut terkadang tidak detail dibahas di bangku kuliah sipil.

“Kita harus rajin baca standar seperti SNI dan pedoman-pedoman lainnya. Kadang kita harus punya inisiatif buat belajar sendiri di luar posisi kita. Di proyek, kita bakal ketemu tim lain, jadi common sense dan kompetensi relevan itu harga mati kalau mau posisi strategis, karena kita sering diminta untuk mengambil keputusan dengan cepat,” tegasnya. Common sense adalah kemampuan untuk membuat keputusan yang baik berdasarkan pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki.

Muhammad Rafiqy Farhan, saat memberikan Sharing Session Creation 3.0 di Himpunan Mahasiswa Sipil (HMS) S-1, ITN MalangMuhammad Rafiqy Farhan, saat memberikan Sharing Session Creation 3.0 di Himpunan Mahasiswa Sipil (HMS) S-1, ITN Malang. (Foto: Mita/Humas ITN Malang)

Pengalaman Farhan terasah di meja kompetisi, dan bukan main-main. Ia pernah menyabet Juara 3 National Tender Competition CENS UI 2024, dan finalis kompetisi jembatan di UNY 2025. Baginya, ikut lomba tender adalah simulasi nyata dunia kerja. Di sana ia belajar kerumitan birokrasi dan dokumen administrasi proyek yang sangat kompleks.

Pesan untuk Mahasiswa: “Jangan Pasif!”

Aktif di organisasi selama dua periode di HMS hingga menjadi Ketua Pelaksana Kuliah Lapangan 2023, Farhan punya pesan kuat untuk adik tingkatnya. Ia mewanti-wanti agar mahasiswa jangan hanya jadi “kupu-kupu” (kuliah pulang-kuliah pulang).

Baca Juga : Creation 3.0 Teknik Sipil: Uji Pembebanan Jadi Bukti Ketangguhan Desain Jembatan Balsa Mahasiswa 

“Empat tahun itu singkat. Cari pengalaman di luar kelas karena masalah nyata ada di sana. Jangan pasif, cari exposure biar kelihatan. Perlu diingat, tidak semua lowongan kerja itu dipublikasikan secara umum, mencarinya butuh exposure, merawatnya butuh networking/relasi,” tambahnya berbagi tips.

Kedepannya, pria yang memilih Teknik Sipil karena prospeknya yang luas di bidang SDA, Struktur, hingga Manajemen Konstruksi ini, tidak mau berhenti belajar. Sambil meniti karir sebagai engineer, Farhan sudah memasang target tinggi untuk melanjutkan studi lanjut.

Bagi Farhan, perjalanan dari Samarinda ke Malang bukan sekadar mencari gelar, tapi membangun pondasi kuat untuk masa depan konstruksi Indonesia. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)




Mahasiswa Arsitektur ITN Malang foto bersama pemateri usai mengikuti Talk Show Nata Karya 6.0

Alumnus Arsitektur ITN Malang: Arsitek Harus Padukan Seni dan Keteknikan demi Hadapi Persaingan Global

Mahasiswa Arsitektur ITN Malang foto bersama pemateri usai mengikuti Talk Show Nata Karya 6.0. (Foto: Yanuar/Humas ITN Malang)


Malang, ITN.AC.ID – Menjadi seorang arsitek tidak hanya sekadar bergelut di bidang seni, namun juga wajib menguasai sisi keteknikan agar karya yang dihasilkan terukur dan fungsional. Hal ini ditegaskan oleh Ar. Adhi Firman Hidayat, IAI, alumnus Arsitektur S-1, Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) angkatan 94. Pemaparan tersebut disampaikan Adhi dalam acara Talk Show Nata Karya 6.0 yang diselenggarakan oleh Prodi Arsitektur S-1 pada Selasa (13/01/2026) di Kampus 1 ITN Malang.

Pendiri Selasar Kiwari Studio ini hadir untuk berbagi perspektif mengenai bekal yang harus dikuasai mahasiswa agar lebih mudah berproses saat terjun ke dunia profesional. Ia menilai bahwa kurikulum di ITN Malang saat ini telah mumpuni karena mengakomodir standar dari Asosiasi Pendidikan Tinggi Arsitektur Indonesia (APTARI) guna menjawab kebutuhan pasar industri.

Dalam sesinya, Adhi mengingatkan mahasiswa untuk waspada terhadap ketatnya daya saing di masa depan. Berbeda dengan era dahulu, saat ini jumlah perguruan tinggi yang memiliki jurusan arsitektur semakin banyak, yang berbanding lurus dengan meningkatnya jumlah lulusan sarjana arsitektur di Indonesia.

Baca juga : “Perzpective” di ITN Malang: Kupas Rumah Sehat & Material Arsitektur Berkelanjutan

“Daya saing sekarang jauh lebih tinggi. Mahasiswa harus meningkatkan kompetensi sejak dini. Apa yang diberikan di kampus harus dijalani dan dieksplorasi lebih dalam agar nanti lebih adaptif. Ingat, tools (perangkat lunak desain) bisa diakses siapa saja, namun mentalitas untuk terus belajar dan tidak menyerah adalah kunci utamanya,” ujar Adhi.

Ar. Adhi Firman Hidayat, IAI, alumnus Arsitektur S-1, ITN Malang memberikan materi pada Talk Show Nata Karya 6.0 Arsitektur ITN Malang

Ar. Adhi Firman Hidayat, IAI, alumnus Arsitektur S-1, ITN Malang memberi materi pada Talk Show Nata Karya 6.0 di Prodi Arsitektur ITN Malang. (Foto: Yanuar/Humas ITN Malang)

Lebih lanjut, Adhi mengamati saat ini tren area kerja arsitek sangat luas. Menurutnya, ada yang fokus pada pemrograman (programming) hingga menjadi konseptor dan ahli visualisasi. Banyak pula arsitek yang bergerak di bidang architecture engineering untuk menerjemahkan bangunan secara teknis. Beberapa di antaranya bahkan mengkhususkan diri pada sisi engineering dengan bekerja di sektor kontraktor, manajemen konstruksi, hingga pengawas lapangan.

“Ada juga yang memilih berhenti hanya di dunia desain. Namun, saya melihat akan sangat bagus jika seorang arsitek bisa menggeluti keduanya (desain dan teknik). Secara pribadi, saya memilih untuk mengambil keduanya,” tambah Adhi.

Ia juga menjelaskan batasan mendasar antara arsitektur dan seni murni. Meski keduanya dibekali ilmu dasar seni dan estetika bentuk, arsitektur memiliki fokus yang lebih spesifik pada massa bangunan (building design).

Baca juga : ITN Malang-UTAR Malaysia Gelar International Real Estate Development Forum, Bahas Inovasi & Keberlanjutan

“Mahasiswa arsitektur diajarkan masalah keteknikan agar mampu menciptakan suatu seni yang terukur. Baik terukur kemudahannya, kenyamanannya, hingga aksesnya. Fokus utama arsitektur adalah menciptakan ruang bagi makhluk hidup. Tidak hanya soal visual, tapi juga kenyamanan, sirkulasi, serta perasaan luas atau sempitnya sebuah ruang,” bebernya.

Sebagai praktisi yang sukses, Adhi Firman Hidayat melalui Selasar Kiwari Studio bersama rekan satu almamaternya Muhammad Chottob W, IAI, telah melahirkan berbagai karya ikonik di berbagai daerah, di antaranya: fasilitas umum Pasar Pon Trenggalek, Kantor Cipta Karya Provinsi Jawa Timur, taman kota, taman lansia, Taman Sekar Gadung, dll. Juga ada berbagai proyek private house di Bandung dan Kalimantan.

Melalui sharing session ini, diharapkan mahasiswa Arsitektur ITN Malang dapat lebih termotivasi untuk mengasah kepekaan desain sekaligus ketelitian teknik sebagai modal utama menjadi arsitek profesional yang adaptif terhadap perubahan zaman. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)