WhatsApp Image 2026-07-15 at 4.26.53 PM

Satu Hari Bersama Program Studi Teknik Lingkungan ITN Malang

Tanya-tanya dan ngobrol langsung untuk melihat bagaimana mahasiswa belajar menghadirkan solusi bagi berbagai tantangan lingkungan.

🗓️ Kamis, 16 Juli 2026
📍 Live Instagram dan TikTok Pukul 13.00 WIB

Jangan lewatkan kesempatan untuk mengenal lebih dekat dunia Teknik Lingkungan yang berkontribusi bagi kualitas hidup masyarakat.




WhatsApp Image 2026-04-23 at 8.35.20 AM

FTSP CUP 2026: Bangkitkan Semangat Sportivitas dan Solidaritas Mahasiswa

Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) kembali menghadirkan ajang olahraga bergengsi tahun ini, FTSP CUP 2026. Kegiatan ini merupakan wadah bagi seluruh mahasiswa untuk menyalurkan bakat di bidang olahraga, mempererat tali persaudaraan, serta menjunjung tinggi nilai sportivitas antar mahasiswa di lingkungan ITN Malang.

Detail Pelaksanaan:

  • Masa Pendaftaran: 22 – 24 April 2026

  • Lokasi: Kampus ITN Malang

  • Biaya Pendaftaran: Mulai dari Rp50.000

Cabang Lomba & Pendaftaran: Pendaftaran dilakukan dengan melakukan Scan QR Code yang tertera pada poster resmi sesuai dengan cabang lomba yang diikuti. Pastikan bukti pembayaran dan data anggota tim sudah siap sebelum melakukan pemindaian kode tersebut.

Layanan Informasi (Narahubung): Jika terdapat kendala saat melakukan pemindaian QR Code atau membutuhkan informasi lebih lanjut mengenai teknis perlombaan, silakan menghubungi panitia melalui:

  • Ka Rina: 0822 2740 0507

  • Ka Nadin: 0812 4802 2564

Informasi selengkapnya juga dapat diakses melalui akun Instagram resmi di @itnmalang.official

Siapkan tim terbaik, rebut hadiah menarik, dan jadilah saksi lahirnya juara baru di FTSP CUP 2026!




Deslyano Miyola Pratama lulusan terbaik Teknik Lingkungan S-1, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP), ITN Malang pada wisuda ke-75 periode I tahun 2026

Bawa Reaktor Pakai Motor ke Mojokerto, Deslyano Miyola Jadi Lulusan Terbaik Teknik Lingkungan ITN Malang

Deslyano Miyola Pratama lulusan terbaik Teknik Lingkungan S-1, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP), ITN Malang pada wisuda ke-75 periode I tahun 2026. (Foto: Yanuar/Humas ITN Malang)


Malang, ITN.AC.ID – Siapa sangka, di balik gelar lulusan terbaik Teknik Lingkungan S-1, Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang), ada cerita perjuangan unik dari Deslyano Miyola Pratama. Pemuda asli Wonogiri, Jawa Tengah ini rela menempuh perjalanan Malang-Mojokerto naik sepeda motor sambil membawa reaktor grease trap dan tumpukan botol sampel demi menyelesaikan skripsinya.

Kerja keras mahasiswa Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) ini terbayar tuntas. Cowok yang akrab disapa Ano tersebut lulus dalam waktu 3,5 tahun, dengan IPK 3,69. “Waktu itu saya bawa reaktor, bak penampung, sampai botol-botol sampel semuanya naik motor ke lokasi penelitian. Memang agak repot, tapi itu bagian dari proses. Saya dibantu teman ke sana,” kenangnya saat ditemui di Kampus 1 ITN Malang beberapa waktu lalu. Ano akan turut diwisuda pada wisuda ke-75 periode I tahun 2026, Sabtu (25/04/2026) nanti.

Solusi untuk Limbah Keripik Usus

Ketertarikan Ano pada isu lingkungan bukan sekadar ikut-ikutan. Ia punya misi besar ingin memperbaiki lingkungan salah satunya kualitas air bersih yang semakin terbatas. Hal ini ia buktikan lewat skripsi berjudul “Pemisahan Minyak Lemak dan TSS pada Air Limbah Pabrik Kripik Usus Ayam dengan Reaktor Grease Trap Skala Laboratorium”.

Baca Juga : SMA Wijaya Putra Surabaya Raih Juara 1 LKTI Elvion 34 ITN Malang, Tawarkan Solusi Kangkung untuk Limbah Sungai Benowo

Penelitiannya dilakukan di UD Ratna, Mojosari, Mojokerto. Ia melihat limbah pabrik keripik usus di sana sering menyumbat pipa karena kandungan minyak yang tinggi. Ano pun berinisiatif membuat alat pemisah minyak (grease trap) untuk membantu efektivitas pengolahan limbah. Ano mendapat bimbingan dari dosen Dr. Evy Hendriarianti, ST., M.MT.,  dan Candra Dwiratna Wulandari, ST., MT.

Deslyano Miyola Pratama mahasiswa ITN Malang saat melakukan penelitian di UD Ratna, pabrik keripik usus MojokertoDeslyano Miyola Pratama mahasiswa ITN Malang saat melakukan penelitian di UD Ratna, pabrik keripik usus Mojokerto. (Foto: Istimewa)

“Di sana pengolahan sedimentasinya sudah ada, tapi pemisah minyaknya belum. Akhirnya saya uji dengan tiga variasi kecepatan aliran. Hasilnya, kecepatan 2 meter/jam paling efektif menyisihkan minyak lemak sampai 88 persen,” jelas putra pasangan Mijo Tomosetiko, dan Sriyati ini.

Meski masih perlu penelitian lebih lanjut agar benar-benar sesuai baku mutu, hasil risetnya ini sudah berhasil menembus jurnal Sinta 4 di International Journal of Science and Environment (IJSE).

Aktif di Organisasi dan Penelitian Dosen

Selama kuliah, alumnus SMA Negeri 1 Wonogiri ini tidak hanya jadi “kupu-kupu” (kuliah-pulang). Ano aktif di Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan (HMTL) dan menjadi asisten Laboratorium Teknik Lingkungan. Pengalamannya makin kaya karena ia dilibatkan dalam penelitian dosen yang kelanjutan dari Proyek “Brantas Clean Industry Initiative” di Mojokerto, tempat dimana penelitian skripsinya dilakukan. Selain itu terlibat dalam kegiatan hasil kerja sama ITN Malang dengan Pemerintah Kabupaten Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) di bidang air limbah domestik, dan air minum.

Menurutnya, bergabung dalam penelitian atau proyek dosen adalah salah satu cara mahasiswa untuk menambah wawasan dan pengalaman praktik di lapangan. “Kalau ada tawaran proyek atau penelitian dari dosen, jangan ditolak. Terima saja, karena ilmunya sangat bermanfaat. Syukur-syukur bisa buat skripsi, bahkan kadang dibantu finansial juga,” saran Ano.

Baca Juga : ITN Malang Menjadi TUK, Fasilitasi Sertifikasi Kompetensi Kerja Tenaga Ahli Bidang Tata Lingkungan

Menurutnya, pengalaman ikut lomba juga sangat penting. Ano bersama tim sempat menyabet Juara 3 LKTI Creanomic 2024 di Universitas Brawijaya. Sertifikat-sertifikat seperti ini menurutnya sangat penting untuk memperkuat CV saat melamar kerja nanti sebagai pendamping ijazah.

Ditanya soal rahasia lulus 3,5 tahun dengan IPK cumlaude (dengan pujian), Ano punya kebiasaan sederhana tapi konsisten. Ia selalu mencatat atau menandai agenda yang akan dilakukan keesokan harinya agar waktunya terbagi rata antara organisasi dan kuliah.

“Satu lagi, jangan bolos kuliah. Nikmati saja prosesnya,” tuturnya, yang terkenang saat-saat sulit seperti praktikum kimia lingkungan di awal semester yang membuatnya sempat sulit beradaptasi.

Kini, dengan bekal ilmu pengolahan limbah dan pengalaman lapangan yang ia miliki, Ano siap melangkah ke dunia profesional untuk mewujudkan mimpinya menjaga kelestarian lingkungan Indonesia. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)




Anita Claudia Novedy, lulusan terbaik Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) S-1, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP), ITN Malang pada wisuda ke-75 periode I tahun 2026

Gali Kedalaman Materi: Resep Anita Claudia Jadi Lulusan Terbaik PWK ITN Malang

Anita Claudia Novedy, lulusan terbaik Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) S-1, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP), ITN Malang pada wisuda ke-75 periode I tahun 2026. (Foto: Yanuar/Humas ITN Malang)


Malang, ITN.AC.ID — Bagi Anita Claudia Novedy, menjadi lulusan terbaik Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) S-1, Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) bukan hanya mengejar nilai ijazah. Gadis asal Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah ini mempunyai prinsip sederhana tapi sangat tajam, “gali kedalaman materi”. Alih-alih langsung menutup buku begitu kelas usai, Anita terbiasa mengulang kembali setiap detail, mulai dari apa, mengapa, hingga bagaimana materi yang baru saja ia terima hari itu.

Kiat tersebut terbukti ampuh. Putri pasangan Tarah, dan Rani ini sukses meraih IPK 3.76 dengan masa studi 3,5 tahun. Bahkan ia berhasil menjadi lulusan terbaik di lingkungan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP), dan akan ikut diwisuda pada Wisuda ke-75 Periode I Tahun 2026, pada 25 April 2026 mendatang. Bagi Anita, memahami materi sampai ke akar-akarnya adalah modal utama agar bisa tetap “nyambung” saat bertukar pikiran di kelas, sekaligus memastikan setiap tugas yang dikerjakan hasilnya maksimal

Ketertarikan Anita pada dunia geografi dan kebumian memang sudah muncul sejak kecil. Tak heran jika saat lulus SMA Negeri 2 Sampit, ia langsung memantapkan diri memilih PWK ITN Malang. “Kurikulum dan dosen-dosen yang kompeten di sini benar-benar mewadahi minat saya,” kenangnya.

Baca Juga : Jauh-Jauh dari Banjarbaru, Siswa SMAIT Ar Rahman Intip Masa Depan Lewat Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) ITN Malang

Selama kuliah, Anita juga aktif diorganisasi. Ia pernah menjabat sebagai sekretaris Himpunan Mahasiswa PWK (HMPWK) selama dua periode, serta bergabung dalam Ikatan Mahasiswa Perencanaan Indonesia (IMPI) Korwil Jatim-Bali-NTB. Pengalaman ini melatihnya dalam hal kepemimpinan, kerja sama tim, hingga membangun koneksi yang berguna untuk dunia kerja nanti.

Bicara prestasi, ceritanya cukup panjang. Anita pernah menyabet Juara II Nasional Poster Competition di UGM (2023) hingga meraih penghargaan Karya Ilmiah Terbaik kategori Circular Blue Economy Development di East Java Plano Summit 2024. Baginya, ikut lomba adalah cara paling asyik untuk menguji kemampuan berpikir dan kreativitas dalam menyelesaikan masalah dari berbagai perspektif.

Anita Claudia Novedy, bersama tim mahasiswa PWK ITN Malang saat mengikuti East Java Plano Summit 2024Anita Claudia Novedy  (dua dari kanan), bersama tim mahasiswa PWK ITN Malang saat mengikuti East Java Plano Summit 2024. (Foto: Istimewa)

Tugas akhir atau skripsinya pun tak kalah menarik. Dalam skripsinya, Anita mengangkat topik yang sangat relevan dengan dinamika pembangunan saat ini, yaitu identifikasi aglomerasi perkotaan di Provinsi Kalimantan Timur. Di bawah bimbingan Dr. Ir. Ibnu Sasongko, MT, dan Endratno Budi Santosa, ST., MT, ia menggunakan model Intersection-Based Clustered Network (iCN). Metode ini tergolong baru dan mampu memotret interaksi ruang melalui titik persimpangan jalan tanpa terpatok pada batas administratif.

Anita menjelaskan, ketersediaan dan keterhubungan jaringan jalan adalah faktor kunci agar aktivitas perkotaan berlangsung efektif, apalagi dengan adanya transformasi masif akibat penetapan Ibu Kota Nusantara (IKN). Menggunakan data shapefile jaringan jalan eksisting dan rencana, ia mengolahnya dengan Nearest Neighbor Analysis dan metode DBSCAN untuk melihat di mana saja klaster pertumbuhan terbentuk.

“Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkembangan wilayah Kaltim cenderung berekspansi ke arah IKN, tepatnya di Kecamatan Sepaku dan Samboja. Sejalan dengan itu, muncul juga klaster-klaster pertumbuhan baru di wilayah lain yang posisinya ternyata sejalan dengan rencana sistem pusat permukiman dalam RTRW,” jelasnya.

Baca Juga : Lulus Bukan Berarti Putus: FTSP ITN Malang Lepas 56 Calon Wisudawan di Yudisium Periode I

Menurut Anita, penggunaan data sekunder dalam penelitiannya cukup memudahkan karena data diperoleh langsung melalui pihak kedua atau instansi penyedia data spasial. Namun, bukan berarti tanpa kendala. Tantangan muncul saat ia harus berhadapan dengan birokrasi perizinan di instansi pemerintahan, di mana proses administrasi dan permohonan data memakan waktu cukup lama. Situasi ini menuntutnya untuk pintar mengelola waktu antara mengejar progres skripsi dan mengejar jadwal sidang. Meski begitu, bagi Anita temuan ini sangat positif karena mengindikasikan adanya pemerataan ekonomi dan layanan di wilayah penyangga.

Tentu, perjalanan ini tak selalu mulus. Ada kalanya Anita merasa kewalahan saat tugas kuliah, urusan organisasi, dan target kompetisi menumpuk jadi satu, apalagi harus sambil memutar otak mengelola keuangan sebagai anak kos. Namun, didikan kemandirian dan kejujuran dari orang tuanya sejak kecil membuatnya tetap tangguh di perantauan.

“Motivasi terbesar saya adalah Tuhan dan keluarga. Harapan dan doa orang tua selalu jadi pengingat bagi saya untuk memberikan yang terbaik,” pungkas Anita yang kini tengah bersiap melanjutkan studi ke jenjang S-2. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)




Imanuel Ardiemas Sindhunata S., mahasiswa Arsitektur S-1, ITN Malang Juara 2 Sayembara Gagasan Desain Altar GKJW Tunjungsekar Malang 2026

Sentuhan Budaya Jawa Timur di Altar GKJW, Mahasiswa Arsitektur ITN Malang Raih Juara 2 Sayembara Desain

Imanuel Ardiemas Sindhunata S., mahasiswa Arsitektur S-1, ITN Malang Juara 2 Sayembara Gagasan Desain Altar GKJW Tunjungsekar Malang 2026. (Foto: Yanuar/Humas ITN Malang)


Malang, ITN.AC.ID – Membawa nafas budaya Jawa Timur ke dalam ruang suci, Imanuel Ardiemas Sindhunata S., mahasiswa Arsitektur S-1, Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang), sukses meraih posisi Juara 2 dalam Sayembara Gagasan Desain Altar GKJW Tunjungsekar Malang 2026. Kompetisi tingkat Jawa Timur ini mencapai puncaknya pada sesi awarding yang digelar untuk merayakan perayaan ulang tahun ke-30 gereja tersebut, Minggu (12/04/2026).

Langkah Sindu, sapaan akrabnya menuju podium juara tidaklah mudah. Dari total 69 pendaftar, ia berhasil menembus babak 4 besar dan bersaing ketat di final melawan peserta dari UPN “Veteran” Jawa Timur yang meraih Juara 1, serta Petra Christian University Surabaya yang membawa pulang gelar Juara Favorit. Menariknya, ITN Malang sebenarnya loloskan dua wakil di final, namun rekan Sindu, Nuhi Mahendra, harus puas menempati urutan keempat.

Baca Juga : Nippon Paint Ajak Mahasiswa Arsitektur ITN Malang Unjuk Gigi di AYDA Awards 2026

Meski Sindu penganut Katolik, ia merasa tertantang menerjemahkan identitas teologis Kristen Protestan (GKJW) ke dalam desainnya. Ia mengusung tema “Sabda Kang Madhangi lan Nunggali Ing Tanah Jawi”. Pesan yang ingin disampaikan sangat dalam. Yakni, meski Yesus tidak lahir di tanah Jawa, namun firman dan kehadiran-Nya menyatu serta diterima sepenuhnya oleh masyarakat Jawa.

“Desain saya mencoba menyatukan simbolisme budaya Jawa Timur dengan tradisi Kekristenan tanpa mengaburkan makna teologis altar itu sendiri,” ungkap Sindu saat ditemui di Kampus 1 ITN Malang, Selasa (14/04/2026).

Desain altar GKJW Tunjungsekar Malang karya mahasiswa Arsitektur ITN MalangDesain altar GKJW Tunjungsekar Malang karya mahasiswa Arsitektur ITN Malang. (Foto: Yanuar/Humas ITN Malang)

Visualisasi ini ia tuangkan dalam bentuk pusat altar yang berundak. Mengadopsi konsep “Meru” dari adat Jawa. Meru merupakan simbol kehidupan spiritual yang kian menguat dan bijak seiring usia. Di sisi kiri dan kanan, terdapat 12 tiang kayu yang melambangkan para rasul setia Kristus.

“Karena di gereja Kristen tidak menggunakan patung, saya menghadirkan representasi Yesus melalui salib dengan kain putih yang ikonik,” kata mahasiswa angkatan 2024 ini.

Menurutnya, proses final terasa cukup menegangkan. Sindu harus mempresentasikan karyanya selama 10 menit di depan lima juri lintas disiplin. Mulai dari praktisi Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) yang juga alumni ITN Malang, pakar DKV dari Petra dan Binus, hingga dua orang pendeta. Sesi tanya jawab pun berlangsung dinamis selama 15 menit tanpa batasan jumlah pertanyaan, dan disaksikan langsung oleh para jemaat gereja.

Imanuel Ardiemas Sindhunata S., mahasiswa Arsitektur S-1, ITN Malang saat presentasi lomba Sayembara Gagasan Desain Altar GKJW Tunjungsekar Malang 2026Imanuel Ardiemas Sindhunata S., mahasiswa Arsitektur S-1, ITN Malang saat presentasi lomba Sayembara Gagasan Desain Altar GKJW Tunjungsekar Malang 2026. (Foto: Yanuar/Humas ITN Malang)

“Tantangan tersendiri bagi saya ada di bagian struktur dan interior yang harus benar-benar matang agar selaras dengan bangunan gereja yang sudah ada,” tuturnya jujur.

Amar Rizqi Afdholy, ST., MT., dosen pembimbing saat ditemui di waktu yang sama memberikan apresiasi tinggi atas pencapaian anak didiknya. Menurutnya, konsep yang dibawa Sindu sudah sangat jelas dan kuat. Amar hanya menekankan pentingnya teknik penyajian data agar visualisasi desain semakin menarik di masa depan.

Baca Juga : ITN Malang dan GKJW Jalin Kemitraan Strategis untuk Digitalisasi dan Pengembangan SDM

“Desain para finalis sebenarnya rata bagusnya. Saya selalu berpesan, khususnya untuk mahasiswa Arsitektur, perbanyaklah mengikuti sayembara untuk mengasah mental dan kreativitas,” pungkas Amar. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)