Penawaran Tender Kantin Kampus 1 dan 2 ITN Malang

Dengan hormat,
Dengan ini disampaikan bahwa ITN Malang membuka kembali penawaran Pengelolaan Kantin Kampus 1 dan 2 yang dibuka untuk umum, dengan sistem tender untuk: Kampus 1: Stand Minuman (Jumlah: 1 stan) dan Stan Makanan (Jumlah: 4 stan), Kampus 2: Stand Minuman (Jumlah: 1 stan) dan Stan Makanan (Jumlah: 8 stan). Bagi yang berminat mengikuti Tender dimohon mengisi Formulir
Kesediaan dan Formulir Penawaran (terlampir) dengan ketentuan sebagai berikut:

1. Formulir Kesediaan Pendaftaran peserta dapat didownload melalui Website ITN Malang atau dapat diambil pada hari kerja dengan menghubungi:
Kampus 1  : Ibu Sulistiyani (Gedung T. Geodesi) No Hp: 081 2316 20777
Kampus 2 : Ibu Titik Rembati (Gedung Pengajaran T. Mesin Lt.1) No Hp: 081 9455 23005, dan dikumpulkan paling lambat hari Jumat, 16 Agustus 2019, Pukul: 14.00 WIB,

2. Formulir Penawaran diisi dan dimasukkan ke dalam amplop tertutup pada saat Pelaksanaan Tender.

3. Pelaksanaan Tender Stan Minuman Kampus 1 dan 2 pada:
Hari         : Senin, 19 Agustus 2019
Waktu     : 13.00 WIB
Tempat   : Ruang Rukun Ibu Kampus 1 ITN Malang

4. Pelaksanaan Tender Stan Makanan Kampus 1 dan 2 pada:
Hari       : Selasa, 20 Agustus 2019
Waktu   : 13.00 WIB
Tempat : Ruang Rukun Ibu Kampus 1 ITN Malang

Demikian penawaran tender ini, atas perhatian dan partisipasinya kami sampaikan terima kasih.




Anang-Muftiadi-Kerangka-Kerja-Logis-Permudah-Merancang-Program-dan-Proyek-732x549

Anang Muftiadi: Kerangka Kerja Logis Permudah Merancang Program dan Proyek

Menyusun Kerangka Kerja Logis (Logical Framework Analysis – LFA) akan sangat memudahkan dalam merancang program dan proyek. Umumnya kerangka kerja disusun mulai dari yang sifatnya sederhana atau umum hingga yang spesifik. Namun, Dr. R. Anang Muftiadi, SE., Msi berpendapat kerangka kerja logis bisa disusun dari menentukan goal atau tujuan terlebih dahulu. “Tujuan akan tercapai apabila ada output yang bisa dimanfaatkan. Pola ini bisa diterapkan untuk kerangka kerja apapun,” ujar dosen Ilmu Administrasi Bisnis FISIP Unpad dalam kuliah tamu di Program Studi Perencanaan Wilayah Kota (PWK) Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang, kampus I, Senin (1/4/19).

Anang Muftiadi membeberkan, untuk membuat rencana, langkah-langkahnya dimulai dari input, process, output, dan goal. Ia pun berbagi pengalaman membangun sektor air bersih dengan penerapan kerangka kerja logis. Goal-nya adalah penduduk yang sehat dan produktif, sedangkan output-nya adalah air bersih. Prosesnya dengan membangun instalasi (intake, pengelolaan, distribusi), memproduksi, dan mengelola. Imput-nya dari air baku, listrik, bahan kimia, bahan bangunan, pompa, dan pipa, SDM serta biaya operasional.

“Pada prosesnya, diantara output dan goal terdapat outcome yang akan mempengarui benefit, dan impact. Dalam pendekatan sistem ada yang bisa dikontrol oleh organisasi, dan ada faktor eksternal yang tidak bisa dikendalikan oleh organisasi. Input sampai output bisa dimonitoring, namun mulai outcome harus dievaluasi,” jelasnya.

Dosen yang pernah mengajar di PWK ITN Malang tahun 1995-1997 ini juga menjelaskan mengenai spektrum pemanfaatan logical framework. Ada empat kuadran yakni, public sector, private sector, empiric, dan academic. “Kalau anda-anda sekalian sukses studi dan melanjutkan ke S-2, maka stimulan akan memperkaya karena kalian mempunyai frame. LFA ini bisa menjadi alat untuk menentukan bagaimana berfikir logis dalam konteks akademis,” tegasnya. (me/humas)




Marsel-Y-W-Petu-Alumni-ITN-Malang-Kembali-Dilantik-jadi-Bupati-Ende-1-732x487

Marsel Y.W. Petu, Alumni ITN Malang Kembali Dilantik jadi Bupati Ende

Ir. Marsel Y.W. Petu – Drs. Djafar Achmad, resmi dilantik menjadi Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Ende oleh Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat. Upacara pelantikan dan pengambilan sumpah jabatan berlangsung di aula El Tari, Kompleks Kantor Gubernur NTT, Minggu (7/4/2019). Pelantikan tersebut secara resmi menandai periode kepemimpinan Ir. Marsel Y.W. Petu dan Djafar Achmad, untuk memimpin Kabupaten Ende periode 2019-2024.

Dilantiknya Ir. Marsel Y.W. Petu menjadi Bupati Ende kali kedua menjadi kebanggaan tersendiri bagi Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang. Pasalnya Marsel Petu merupakan alumni Teknik Arsitektur ITN Malang angkatan tahun 1983. Sebagai alumni yang berhasil membangun daerahnya, Marsel Petu tidak lupa akan almamaternya kampus biru. Terakhir mengunjungi ITN Malang saat ia diundang untuk memberi sambutan pada Wisuda ITN Malang ke-56 Periode II Tahun 2016.

Dicukil dari laman itnmalangnews.id, saat mengunjungi ITN Malang Marsel Petu mengajak ITN untuk bekerjasama membangun Kabupaten Ende. Menurutnya, daerah tempat pengasingan Sukarno tersebut membutuhkan orang-orang hebat dari ITN Malang untuk membangun. “ITN Malang harus menjadi tim teknologi dalam pembangunan Kabupaten Ende,” ujarnya, Sabtu (24/9/16).

Marsel-Y-W-Petu-Alumni-ITN-Malang-Kembali-Dilantik-jadi-Bupati-Ende-2

Sementara itu, diberitakan beritalima.com, pasangan Bupati dan Wakil Bupati Ende sebelumnya sudah menjabat sejak tanggal 7 April 2014. Selama masa kepemimpinan periode tahun 2014 – 2019 tersebut, berbagai program dan visi misi strategi sudah dijalankan dengan aktif, rukun, aman, dan damai. “Dari semua pembangunan yang kami kerjakan bertujuan untuk kepentingan daerah, dan masyarakat Kabupaten Ende. Jadi, tidak hanya sekedar bisa dilihat saja, tetapi sungguh – sungguh dirasakan oleh masyarakat Kabupaten Ende,” kata Bupati Ende terpilih, Marsel Petu, yang didampingi wakilnya, Djafar Achmad saat jumpa pers di Hotel Sasando, Jumat (5/4/19) malam. (me/humas)




Dr.Ir_.-Nusa-Sebayang-MT-kiri-bersama-penyiar-Idjen-Talk-tengah-dan-Diah-Ayu-Kusumadewi-kanan.-732x549

Parkir Vertikal Alternatif Parkir di Kota Malang

Rencana Pemerintah Kota Malang untuk membangun parkir vertikal (vertical parking) menjadi perbincangan hangat dalam Idjen Talk, City Guide FM, Rabu (10/4/19). Rencana ini dikuatkan pernyataan Diah Ayu Kusuma Dewi, Asisten 2, Pemkab Malang. Menurutnya, sudah ada tiga negara yakni Jerman, Cina, dan Singapura yang menyambut baik rencana tersebut. “Wali Kota Malang menggagas parkir vertikal, namun perkembangannya masih dalam kajian. Ajakan kerjasama perhitungkan dengan melihat budget yang ada,” terang Diah. Bahkan menurut Diah rencana pembangunan parkir vertikal sudah masuk dalam RBJMB dan rencana tata ruang kota.

Parkir vertikal memang menjadi salah satu solusi bagi Pemkot Malang. Mengingat lahan parkir di Kota Malang yang terbatas, sedangkan jumlah kendaraan semakin hari semakin bertambah. Parkir yang sering meluber ke badan jalan memicu kemacetan dibeberapa ruas jalan. Apalagi status Kota Malang sebagai pusat bisnis juga memiliki destinasi wisata kampung tematik. Salah satunya yang menjadi sorotan adalah kawasan Kampung Heritage Kayu Tangan.

Sementara, parkir yang diterapkan selama ini masih menggunakan parkir sistem seri atau pararel di pinggir-pinggir jalan. Hal ini ikut disoroti oleh Dr.Ir. Nusa Sebayang, MT pakar transportasi Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang. Menurutnya, Kota Malang lahan parkirnya sangat terbatas. Parkir dengan sistem horison (pararel/seri) sangat sulit diterapkan dengan lahan sempit sedangkan jumlah kendaraan banyak. “Cocoknya memang parkir vertikal, tapi akan berdampak pada cost (biaya) yang lebih mahal. Memang perlu ada kajian panjang untuk mewujudkan ini (parkir vertikal),” ujarnya, menanggapi rencana Pemkot Malang.

Menurut Nusa, parkir vertikal memang membutuhkan kajian, mulai studi kelayakan, penyusunan DED (Detail Engineering Design), keamanan dan kekuatan rancangan. Setelah beroperasi, masih ada analisis dampak lalu lintas. Jarak perjalanan antara tempat parkir dan obyek tujuan, prediksi jenis kendaraan yang akan parkir juga harus dikaji. “Harus memetakan kawasan yang nantinya bisa dilayani oleh tempat parkir itu sendiri. Ini semua dianalisis, jadi akan diketahui berapa space yang diperlukan. Kalau gedung maka berapa tingkat yang dibutuhkan dan yang diperbolehkan. Mengingat harus memperhitungkan tingkat keamanannya juga,” tambah alumnus doktoral UB ini.

Suasana-kawasan-parkir-roda-dua-di-kampus-I-ITN-Malang-dengan-menggunakan-parkir-vertikal-dua-lantai.

Kajianpun menurut Nusa tidak sesederhana itu, kelayakan ekonomi juga harus diperhitungkan. Perlu diukur juga jumlah pengunjung perhari, serta biaya maintenance. Ini bisa disimulasikan, menghitung berapa tarif yang harus dikenakan agar investasi tetap berjalan. Tak kalah penting juga adalah kesadaran masyarakat harus turut dibangun.

Nusa menambahkan, wacana parkir vertikal menjadi hal baru dan cocok diterapkan bagi Kota Malang. Mengingat potensi kunjungan wisata ke Kota Malang sangat tinggi, terlebih lagi Kota Malang memiliki kawasan heritage. “Masyarakat juga jangan hanya berkomentar ini (tarif parkir) mahal. Coba bersama-sama kita lihat bagaimana proses membangun serta benefit-nya. Kita harus rasional, kalau semua didemo maka kita tidak akan maju. Ide ini mari kita dukung sehingga Malang menjadi lebih baik lagi,” ujarnya, imbas dari banyaknya pengunjung pun nantinya akan meningkatkan perekonomian masyarakat Kota Malang. (me/humas)




Rumitnya-Atasi-Kemacetan-di-Kota-Malang-Perlu-Banyak-Rekayasa-Lalu-lintas-2-1-732x549

Rumitnya Atasi Kemacetan di Kota Malang, Perlu Banyak Rekayasa Lalu lintas

Karakteristik Kota Malang sebagai kota tua dengan memiliki ruas jalan pendek dan luas jalan terbatas menjadikan jalan-jalan di Kota Malang sulit untuk dilakukan pelebaran. Belum lagi moda transportasi kian bertambah, tidak memungkiri menambah kemacetan di Kota Malang. Mengatasi kemacetan itu tidak mudah, perlu ada rekayasa-rekayasa lalu lintas untuk mengurainya. “Kemacetan di Kota Malang biasanya berasal dari titik-titik persimpangan. Ada berbagai alternatif penyelesaian yang bisa dilakukan, kalau sudah parah bisa menggunakan fly over atau under pass,” terang Dr.Ir. Nusa Sebayang, MT pakar transportasi Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang, Selasa (19/3/19).

Menurut pakar ITN sekaligus Dekan Fakultas Sipil dan Perencanaan ini, ada dua parameter yang harus diperhatikan untuk mengurai kemacetan, yakni volume dan kapasitas. Untuk mengurangi volume maka perilaku pengguna kendaraan harus diubah, seperti dengan memakai angkutan umum/massal. Sedangkan peningkatan kapasitas bisa dengan melakukan pelebaran jalan, pelebaran simpang, manajemen ruas, dan menejemen simpang.

“Namun, tidak semudah itu untuk menambah kapasitas. Lagi pula, jalan-jalan di Kota Malang sulit untuk dilakukan pelebaran,” ujarnya dalam diskusi “Membedah Kemacetan di Kota Malang” yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Malang Raya, bekerjasama dengan Dishub Kota Malang, dan ITN Malang sebagai akademisi. Strategi yang bisa dilakukan untuk mengurangi volume menurut Nusa misalnya, dengan menentukan batas minimal mobil, beralih dari kendaraan pribadi ke kendaraan umum, pembatasan area parkir atau menaikkan tarif parkir.

Sedangkan Agus Moelyadi, Kabid Lalu Lintas Dishub Malang menjelaskan, sebenarnya kemacetan itu terjadi karena ketidakseimbangan antara supply (kapasitas jalan) dan demand (pertumbuhan kendaraan),. Sedangkan pertumbuhan jalan baru kecil sekali, sehingga menjadikan kota Malang sebagai kota termacet ke-3 setelah Jakarta dan Bandung.

Dishub Kota Malang sendiri sudah melakukan kajian terhadap kemacetan yakni, dengan mengalihkan jalan nasional sehingga tidak membelah kota, salah satu solusi adalah pembuatan jalan lingkar timur sehingga bisa mengurangi volume jalan hingga 60%, pembuatan tol, serta dilakukan ruislag (tukar guling) untuk alih status jalan. Karena selama ini status jalan juga menyumbang kemacetan. Jalan nasional yang melintas di tengah kota semestinya menjadi pengelolaan kota. Sehingga kendaraan yang akan melintas antar kota bisa menggunakan jalan nasional yang posisinya di pinggir. “Idealnya jalan nasional tidak membelah kota. Hingga saat ini belum ada kelanjutannya (ruislag), meski sudah diajukan ke pusat,” ujar Agus. (mer/humas)